Bohong

1723 Kata
Pita: Bohong   Seperti yang gue bilang, pertengkaran kemaren bukan cuma jadi pertama buat kita berdua—gue dan Lucky. Selanjutnya, gue sama dia jadi lebih sering berantem. Kalau pasangan lain berantem kebanyakan dipicu sama cemburu atau orang ketiga, kita beda, bukan karena orang ketiga, keempat, kelima, tapi karena Mama. Iya, Mama gue yang menjadi penyebab utama pertengkaran gue dan Lucky. Lucky beneran menyewa satu rumah lagi—tepat di sebelah rumah kontrakan kita. Ukurannya lebih kecil karena Mama tinggal sendirian. Tapi bukan itu masalahnya. Mama nggak berhenti merengek ke Lucky karena tempat tinggalnya kecil, perabotannya cuma diisi tempat tidur, dan beberapa perabotan yang penting-penting aja menurut gue. Misalnya, kayak perlengkapan dapur. Cuma, ya gitu. Mama nggak berhenti mengomel soal isi perabotan. Dua hari yang lalu gue mendengar obrolan Lucky dan Mama secara nggak sengaja. Gue yang tadinya mau pergi ke dapur, jadi belok ke pintu belakang tempat jemuran. Mama dan suami gue kayak lagi ngobrol serius, gitu. Entah apa yang mereka obrolin. Cuma, yang gue denger, Mama menyebut mesin cuci dan AC. Kurang berterima kasih banget, sih! Udah dikasih tempat tinggal gratis, nggak perlu bayar, kadang makan masih Lucky yang beliin. Sekarang, malah minta dibeliin mesin cuci sama pasang AC. Gue aja, nih, belajar membuang semua kebiasaan gue waktu tinggal di rumah Papa. Karena apa? Karena gue harus sadar diri, gue nggak tinggal sama Papa lagi yang apa-apa selalu ada. Di rumah kontrakan nggak ada mesin cuci, kamar mandi yang besarnya ngalahin kamar gue sama Lucky, apa lagi AC! Gue emang bar-bar, gue suka bikin ulah dan bikin rusuh, tapi, gue masih punya otak buat nggak menyusahkan Lucky. Buat menghidupi gue aja, Lucky bela-belain kerja sepulang kuliah. Kadang, dia ambil tawaran nyanyi di kafe tempat temennya kerja. Terus, masa iya gue masih tega memeras tenaga sama pikiran Lucky cuma buat mengikuti gaya hidup gue yang dulu, sih? Obrolan Mama dan Lucky beberapa hari lalu tiba-tiba berhenti. Mama memandangi gue kesal kemudian pergi tanpa mengatakan apa pun. Gue menyilangkan kedua tangan di depan d**a lalu menanyakan soal obrolan mereka berdua. Gue tahu, Lucky nggak bakalan menjawab pertanyaan gue, dia pasti mencari alasan supaya gue nggak tahu kalau Mama minta barang-barang mahal. "Nggak, kok. Mama cuma minta tolong buat gantiin lampu di rumah sebelah," kata Lucky sambil mengusap belakang lehernya. "Bukannya udah diganti?" gue menyipitkan mata. Sepasang mata Lucky melebar seolah terkejut. "Oh, ya?" "Iya. Lo sendiri yang bilang kemaren," jawab gue, menyandarkan bahu ke dinding. Berada di posisi kayak gini, tuh, nggak enak. Di sisi lain gue tahu Lucky bermaksud baik. Dia nggak mau gue jadi anak yang durhaka sama orang tua. Tapi, lihat dulu orang tuanya, dong. Emang, Mama gue masih pantas disebut sebagai seorang Mama? Kalau kalian muak karena gue selalu mengulang-ulang cerita yang sama, Mama meninggalkan anak dan suaminya demi laki-laki lain. Nggak pernah memberikan kabar. Jangankan dateng ke pesta ulang tahun gue, buat telepon gue aja nggak pernah. Terus, kenapa gue harus repot-repot bersikap manis sama wanita itu? Gue bersikap sinis aja, Mama masih bisa ngelunjak. Apa lagi gue bersikap manis kayak Lucky. Yang ada gue makin diinjak-injak. "Mama bilang, lo berubah." Lucky menatap gue lurus-lurus. Entah sedang berusaha mengalihkan pertanyaan gue, atau emang Mama nanya beneran soal ini. "Lo nggak bisa bersikap baik sama Mama ya, Pit?" tanya Lucky hati-hati. "Dia sendiri yang bikin gue berubah." Nada suara gue terdengar dingin. "Kalau aja waktu itu dia nggak kabur sama laki-laki lain, mungkin gue nggak akan sebenci ini sama dia, Ky. Lo, nggak akan paham gimana sakitnya gue sama Papa." Kelima jari-jari gue bergerak mengusap pipi. "Sekarang, tahu-tahu dia dateng kayak nggak punya dosa. Maunya apa, sih? Lo, juga. Kenapa b**o, banget!" Kehidupan sederhana tapi bahagia gue mulai diganggu dengan kehadiran Mama di sini. Gue sama Lucky jadi sering berdebat, ya karena wanita itu. Kemaren merengek minta mesin cuci sama pasang AC, besoknya minta dibeliin ponsel. Besok, apa lagi? Biarpun Mama tinggal di rumah kontrakan yang beda, tapi Mama masih ikut makan di tempat gue. Sarapan, makan siang, sampe makan malem. Dan yang bikin gue makin kesel adalah, Mama selalu ngoceh soal menu makanan di meja makan. "Kok, cuma telur doang, sih?" "Ayam gorengnya mana?" "Ky, Mama lagi nggak pengin makan nasi. Sebagai gantinya, pesen pizza aja, ya?" Kalau aja meja makan di rumah kontrakkn gue nggak berat, udah gue balik! Supaya Mama tahu kalau gue terganggu sama semua rengekkan dan ocehannya itu. Gue, muak. Gue juga malu di depan Lucky, dan... Bang Lakka. Kenapa, Bang Lakka? Seminggu setelah kepindahan Mama di rumah sebelah. Gue dapet telepon dari Bang Lakka. Katanya, dia pengin ketemu sama gue untuk membahas sesuatu—cuma berdua. Gue bingung, kenapa Bang Lakka tiba-tiba ngajak gue ketemuan berdua doang tanpa Lucky, ya? Bang Lakka berbanding balik sama Lucky. Cowok berwajah cantik itu nggak terlalu banyak bicara, ngomong ala kadarnya, kadang yang keluar malah kata-kata nyelekit. Jadi, bisa dipastikan kita nggak deket sama sekali. Tiap ketemu aja, nih, kadang gue nggak nyapa. Cuma duduk di sofa sambil menunggu Lucky kelar ngobrol sama abangnya. "Bukannya gue mau ikut campur masalah rumah tangga lo berdua," Bang Lakka menatap gue datar. "Gue tahu lo masih remaja, tapi bukan berarti lo nggak punya pikiran." "Intinya aja, Bang," kata gue tanpa basa-basi. Gue tahu Bang Lakka bakalan mengeluarkan kata-kata pedasnya. Jadi, sebelum gue makin kesel, gue minta Bang Lakka bicara langsung aja. Nggak perlu muter ke mana-mana apa lagi mengatakan sesuatu yang nggak enak didenger. "Lucky ambil cuti kuliah." Mata gue membeliak, "Hah?" "Lo nggak tahu, kan?" tanya Bang Lakka. Gue menggelengkan kepala, pelan. "Gue nggak tahu alasannya apa. Tapi, gue yakin pasti dia cuti kuliah supaya bisa fokus kerja, dan memenuhi gaya hidup lo yang mungkin aja belum berubah." Detik itu, gue merasa disudutkan sama Bang Lakka. Dari kata-katanya seolah mengatakan kalau gue cuma bisa merepotkan Lucky, bikin susah Lucky. "Lo udah nikah, Pit. Lo nggak bisa lagi hidup kayak waktu tinggal sama Papa lo, yang apa-apa selalu ada. Lo tahu, kan, setelah menikah sama lo, Lucky udah nggak mau pake fasilitas apa pun dari keluarga. Dia berusaha memenuhi kebutuhan lo ya emang dari hasil kerja keras dia sendiri." Bang Lakka menaikkan letak kacamatanya yang sedikit turun, kemudian melanjutkan, "Lucky aja mau berubah. Masa, lo nggak bisa? Pulang kuliah dia masih ngajar les buat anak-anak, kadang nyanyi-nyanyi di kafe. Adek gue nggak pernah susah selama ini, tapi setelah dia memutuskan buat nikah sama lo, dia mau memulai semuanya dari awal. Bahkan gue tahu itu masih nggak cukup buat memenuhi kebutuhan lo." Harusnya Bang Lakka tanya apa aja yang udah gue lakuin selama menjadi istrinya Lucky. Gue berusaha berubah dengan meninggalkan kehidupan gue yang mewah. Gue mau belajar makan apa aja yang ada walaupun awalnya nggak mudah. Kalau biasanya gue pergi ke sekolah naik taksi, gue berangkat naik bus, kadang jalan kaki. Bukan cuma kebiasaan-kebiasaan gue doang yang berubah, tapi lingkungan pertemanan gue juga iya. Bang Lakka nggak tahu aja sekarang gue dijauhin sama temen-temen gue karena udah nggak setara sama mereka. Ya, mereka nggak tahu sih kalau gue udah nikah. Setiap kali gue diajak nongkrong atau ngemal, gue selalu menolak. Pas ditanya kenapa, gue jawab aja, "Papa gue bangkrut!" Dan, nggak lama, mereka pada ngejauhin gue. Jadi, apa itu bukan termasuk perubahan juga? Setelah hubungan gue dan Lucky jadi sering bermasalah, sekarang, gue dimusuhin sama Abang ipar gue sendiri. Bang Lakka mengira alasan Lucky memilih cuti kuliah gara-gara pengin fokus kerja supaya bisa memenuhi kehidupan gue yang hedon. Padahal, gue yakin ini semua karena Mama. Kembalinya Mama di kehidupan gue membuat semuanya jadi lebih kacau. Bisa gue bunuh aja nggak, sih?! *** "Kaki lo, kenapa?" tanya gue saat melihat Lucky duduk di kursi makan sembari meluruskan kedua kakinya. "Nggak apa-apa, cuma pegel aja," jawabnya. Gue masuk ke dapur untuk mengambil air minum. Gue melirik jam di dinding menunjukkan pukul tengah malam dan Lucky belum tidur sama sekali. Oh, sebentar, kayaknya Lucky baru aja pulang, deh. Sebelum gue memutuskan untuk pergi dulu, Lucky emang belum pulang. Nomornya gue telepon pun nggak aktif. "Pulang jam berapa lo?" Gue keluar dapur lalu memilih berdiri di dekat meja makan. "Hmm," Lucky menggaruk telinganya. "Barusan, kan?" tanya gue, sinis. "Gue ada tugas kelompok, Pit," sela Lucky. "Saking fokus ngerjain tugas sama temen-temen gue, gue jadi lupa." Diakhir kalimatnya, Lucky nyengir. "Tugas kelompok, atau kerja rodi?" Gue balik badan meninggalkan Lucky. "Hah?" Lucky bengong. Cowok itu beranjak dari kursi dan menyusul gue masuk ke dalam kamar. Gue berusaha nggak mempedulikan Lucky. Setelah meletakkan gelas ke atas meja, gue naik ke ranjang hendak melanjutkan tidur. Gue tidur memunggungi Lucky. Rasanya, kesel, banget. Dia nggak cerita sama sekali soal cuti kuliahnya. Gue, istrinya, kan? Kalau emang dia masih menganggap gue sebagai istrinya, harusnya dia bilang dulu ke gue. Minta pendapat gue. Bukannya mengambil keputusan secara sepihak. "Akhir-akhir ini lo sibuk sama urusan sendiri," Gue bergumam dengan mata memejam. "Selalu pulang jam segini, bahkan kemaren lo pulang hampir pagi. Lo ngapain, sih? Sibuk nugas atau cari gandengan baru?" Dengan sengaja gue memancing emosi Lucky. Kalau dia kesel karena gue tuduh cari cewek lain, mungkin aja dia keceplosan. Gue pengin tahu apa aja aktivitas dia setelah cuti kuliah. "Kok, lo ngomong gitu sih, Pit?" Lucky merangkak naik ke atas ranjang dan duduk di samping gue yang sedang berbaring. "Gue beneran nugas!" Gue balik badan. "Nugas apaan sampe lo pulang semalem ini? Terus, ini, apa?" Gue menarik kemeja Lucky yang lusuh, wajahnya yang tampak lelah. "Lo bisa tanya Aree—" "Halah! Aree sama lo, kan, sama aja. Kalau gue tanya Aree, berarti gue g****k banget." Iya, kan? Gue nggak salah bilang kayak barusan, dong? Kalau gue tanya ke Aree, ya jelas dia bakalan bohong. Nggak diminta, pun, yang keluar dari mulut Aree cuma bualan doang. Apa lagi kalau disuruh bohong sama Lucky. "Gue beneran nugas, Pita!" Posisi berbaring gue berubah menjadi duduk di atas ranjang. "Kalau emang nugas, kenapa nggak ngajak gue aja sekalian? Supaya gue tahu kalau lo emang beneran nugas. Bukan pacaran sama cewek di kampus lo." "Sumpah, Pit. Gue cuma nugas." Gue mendengus keras-keras. Rasanya percuma berdebat sama Lucky. Cuma buang-buang tenaga sama pikiran doang. "Semau lo aja deh, Ky." "Pit..." Gue kembali berbaring memunggungi Lucky. "Mendingan lo pergi mandi, terus makan. Sebelum tidur, gue udah bikin nasi goreng buat lo. Lo makan ya silakan, nggak mau, ya lo buang aja." "Lo marah, Pit?" tanya Lucky, pelan. "Gue capek, Ky. Gue butuh tidur," balas gue, nggak kalah pelan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN