Memilih Benci

2937 Kata
Pita: Memilih Benci   Kebiasaan buruk gue tidur di kelas mulai kambuh lagi. Entah karena emang kurang tidur, atau dipicu sama mood yang berantakan. Mata gue memejam, tapi gue bisa mendengar suara guru yang tengah menjelaskan mata pelajaran di depan papan. Gue menguap lebar, kemudian menelungkupkan kepala ke atas meja. Sebodo amat kalau ntar gue dihukum gara-gara ketahuan tidur di kelas pas jam pelajaran. Daripada gue masih melek tapi bikin huru-hara, kan? "Mau ke mana kamu?" tanya Pak guru begitu gue beranjak dari kursi berniat meninggalkan kelas. "Ke UKS, kepala saya sakit, Pak!" Temen-temen di sekeliling gue pada kompak menatap ke arah gue termasuk guru di depan sana. Dari tatapan mereka aja, gue tahu kalau mereka nggak percaya. Seluruh penghuni di sekolah paham banget siapa gue dulu. Pita—murid perempuan biang rusuh, suka bikin huru-hara dan pembangkang. Gue berubah, pun, mereka nggak akan ada yang percaya. Seperti yang gue bilang waktu itu. Setelah gue menikah sama Lucky, gue berusaha untuk merubah diri ke hal yang lebih baik. Gue kurang-kurangin bolos, bikin rusuh, tidur di kelas. Ya nggak bisa secara langsung, sih. Bertahap gitu, supaya penghuni sekolah pada nggak kaget aja. Dulu gue yang anti banget pergi ke perpus, sekarang udah nggak lagi. Kadang gue belajar sambil menghabiskan waktu istirahat, atau sekadar baca-baca buku supaya otak gue nggak g****k lagi. Gitu aja, nih, orang-orang pada bingung kenapa tiba-tiba aja gue berubah. Ada yang bilang pencitraanlah, gue berubah karena Papa gue bangkrut—padahal nggak. Itu rumor yang gue ciptakan sendiri supaya berhenti diajak nongkrong sama temen-temen gue—yang hidupnya hedon banget. Bukannya gue nggak mau mengakui perubahan gue karena nikah sama Lucky, bukan. Mereka-mereka aja nggak tahu status gue sekarang, jadi mana mungkin gue bilang ke orang-orang kalau gue udah bersuami. Gue nggak pernah malu punya suami kayak Lucky, kok. Kenapa harus malu? Karena Lucky nggak punya banyak uang atau kendaraan mewah? Nggak, tuh! Gue nggak pernah masalah biarpun cuma diajak jalan kaki doang sama dia. Dia cakep, dia baik, dia pengertian, dia suami terbaik—meskipun sekarang gue lagi sebel sama dia. Di balik itu semua, gue bangga jadi istrinya Lucky. "Alasan aja," dengus Pak Rama. "Ya udah, sana!" kata Pak Rama, lebih mirip kayak orang ngusir. Gue berusaha mengabaikan tatapan temen-temen di kelas. Bisa gue lihat empat temen—ah, mantan temen maksud gue, sedang menatap ke arah gue sinis sesekali berbisik dengan tatapan mengejek. Gue berjalan melewati meja mereka dengan cuek. Gue mengangkat kepala, angkuh, seolah menunjukkan kalau gue sama sekali nggak terpengaruh sama tatapan mengintimidasi mereka. Mereka harus inget siapa gue. Jangan kan mencakar wajah mereka, buat melempar mereka berempat secara langsung dari jendela kelas, pun, gue masih sanggup. *** Biarpun kepala gue pusing, gue nggak bener-bener pergi ke ruang UKS seperti yang gue bilang ke Pak Rama. Setelah keluar dari kelas, gue papasan sama Jandy dan temen-temennya. Jandy—adalah salah satu murid paling rusuh di sekolah. Gue harus menyebut bagaimana, ya? Masalahnya, Jandy bukan cuma biang rusuh, tapi lebih cocok dibilang mirip preman. Siapa sih yang nggak takut kalau berhadapan sama cowok kayak Jandy? Udah badannya tinggi, kasar, dan suka malak murid-murid lain. Jandy menyapa gue, akrab. Ya emang gitu, sih. Gue sama Jandy saling kenal baik. Alasan temen-temen sekolah nggak berani sama gue—bukan karena gue anak orang berpengaruh atau karena gue biang rusuh. Tapi, salah satunya, ya, Jandy ini. Siapa pun yang berani menyentuh gue, orang itu harus berhadapan sama Jandy. "Rokok gue, itu!" tunjuk Jandy saat gue menarik rokok dari bibirnya. "Diem lo," kata gue lalu menjejalkan ujung rokok ke bibir gue sendiri. Gue memberi isyarat ke Jandy untuk memberikan koreknya. Jandy merogoh saku seragam atasnya kemudian menyodorkan koreknya dengan ogah-ogahan. Gue menariknya kasar, bisa gue lihat dia terkekeh kemudian berdiri di samping gue dan bersandar ke dinding. "Kumat lagi lo," kata Jandy menoleh ke gue. Gue menarik tengah-tengah rokok dengan dua jari gue dan meniupkan asap dengan santai. Ah, udah berapa lama gue nggak merokok, sih? Rasanya kenapa jadi aneh dan canggung sekarang. Gue terkekeh kecil, setengah mengejek diri sendiri. "Ada masalah sama bokap lo? Berantem?" tebak Jandy. Di antara temen-temen gue, Jandy adalah tempat gue bercerita—dulu—sebelum gue ketemu Lucky dan menikah sama cowok itu. Bukannya gue mau membatasi lingkungan pertemanan gue, tapi rasa-rasanya nggak pantes aja kalau gue masih nempel-nempel sama cowok lain, sedangkan gue udah nikah. Biarpun Jandy cuma sebatas temen, gue masih punya pikiran buat nggak sembarangan nempel cowok sana-sini. "Nyokap gue balik," gumam gue, dingin. Jandy segera menarik punggungnya dari dinding dan menatap gue terkejut. "Nyokap kandung lo? Serius?" Gue menoleh ke Jandy, kemudian mengangguk. "Woah!" Jandy menggeleng-gelengkan kepalanya. Asal kalian tahu aja, ya. Gue sempat meminta bantuan Jandy dan temen-temennya untuk mencari informasi tentang keberadaan Mama gue. Waktu itu rasa benci gue nggak sedalam kayak sekarang. Gue masih berpikir secara positif. Mungkin aja Mama lupa jalan pulang ke rumah Papa, atau mungkin aja Mama nggak diperbolehkan Papa buat ketemu sama gue. Atau, bisa aja Papa mengancam Mama supaya nggak menemui gue. Naif banget, kan? Dengan bantuan Jandy, akhirnya gue berhasil menemukan di mana tempat tinggal Mama. Jandy memberikan alamat Mama gue lewat secarik kertas. Gue pergi ke sana sendiri, sengaja. Gue nggak mau ditemani siapa pun termasuk Jandy. Gue butuh ngobrol berdua sama Mama, mau nanya kenapa Mama nggak pernah muncul selama dia pergi. Atau seenggaknya dia telepon gue dan ngasih tahu kalau dia baik-baik aja, nggak perlu mencemaskan Mama setiap hari. Gue selalu mikir, kalau Mama nggak tinggal lagi sama Papa, Mama tidur di mana? Mama makan apa? Mama kedinginan nggak? Atau, Mama makan makanan enak kayak yang gue makan, nggak? Selalu pertanyaan-pertanyaan itu yang muncul di dalam kepala gue. Tapi, nggak tahunya, Mama hidup bahagia tanpa gue. Berbekal secarik kertas berisikan alamat yang gue dapat dari Jandy, gue pergi ke sana. Gue diem di depan rumah besar berpagar keemasan. Gue memandangi lebih dari sepuluh menit sambil mikir, ini rumah siapa? Mama beneran tinggal di rumah ini? Kira-kira, Mama ngenalin gue nggak, ya? Baru aja gue mau mendekati pagar hendak menekan bel, seorang wanita keluar bersama anak cowok dan laki-laki yang mungkin aja seusia Papa, atau lebih muda dari Papa gue. Gue buru-buru mencari tempat bersembunyi, gue memerhatikan interaksi ketiga orang tersebut. Anak cowok yang gue perkirakan berusia enam atau tujuh tahun tampak sibuk sendiri dengan mainan di tangannya. Sedangkan Mama asyik mengobrol bersama si laki-laki. Mama tampak bahagia, Mama sama sekali nggak kelihatan sedih kayak gue. Dia bahagia sama keluarga barunya, dan gue benci sama mereka. Seketika muncul perasaan iri yang bikin kemarahan gue memuncak, apa lagi setelah Mama bilang, "Aku udah lupain mereka. Kamu nggak perlu membahas mantan suami dan anakku." Gue mengamati mereka nggak jauh dari tempat mereka berdiri. Kanan dan kiri gue sepi, mereka ngobrol dengan suara yang lumayan keras. Gue merasa ada yang terbakar di dalam d**a. Rasanya sesak. Bahkan gue nggak sadar kalau gue nangis. "Kalau aku disuruh memilih kembali sama mereka atau mati, aku pilih mati," kata Mama, terdengar kejam. Gue meremas kertas pemberian Jandy, kuat. Air mata gue nggak berhenti berjatuhan setelah mendengar kata-kata Mama yang kejam. Bisa-bisanya Mama bilang kayak barusan? Seburuk apa gue sama Papa di mata wanita itu? Gue bikin kesalahan apa sampe Mama nggak mau kembali dan lebih memilih mati? Hah! Kayaknya sia-sia gue merindukan orang yang sama sekali nggak rindu sama gue. Sakit, ya. Sakit, banget. "Lo, seneng?" tanya Jandy hati-hati. Gue mendengus keras. "Sejak hari itu, gue memutuskan untuk benci sama nyokap gue seumur hidup," kata gue, sinis. "Dia sendiri yang bilang lebih baik mati ketimbang balik sama suami dan anaknya. Kenapa sekarang tiba-tiba muncul? Kan, g****k!" Jandy menatap gue gusar. Dia tahu kalau saat ini gue sedang marah, tapi nggak bisa melampiaskannya. Gue inget kata-kata Jandy setelah gue mengingkrarkan bahwa pada hari itu, gue akan memilih membenci Mama. "Sebenci apa pun lo sama nyokap, gue yakin ada sedikit rasa sayang biarpun cuma satu persen," kata Jandy kala itu. "Rasa benci lo nggak akan sebanyak lo sayang ke nyokap." Gue mendengus mendengar kata-katanya. Dia aja g****k kayak gue sok pake nasihatin. Hidup dia nggak jauh beda dari gue, tapi sok bijak. Dia nggak akan tahu gimana rasanya nggak diakui sama Mama kandungnya sendiri. Dia nggak akan paham gimana sakitnya nggak diharapkan sama orang tuanya sendiri. Dia nggak akan tahu selama dia nggak mengalami secara pribadi. "Nih, makasih rokoknya!" Gue mengangsurkan sisa rokok yang tinggal setengah ke Jandy. "t*i lo, Pit!" maki Jandy. "Paling nggak lo beliin gue rokok yang utuh." Gue membalikkan badan dan menatap Jandy. "Gue lagi kere sekarang!" Jandy mendengus, "Kere beneran, mampus lo!" umpat Jandy, dan gue balas dengan lambaian tangan mengejek. *** Gue duduk di bangku halte bersama orang-orang yang juga ikutan berteduh. Kepala gue menengadah memandangi langit yang gelap padahal ini masih sore. Gue melirik arloji yang melingkari pergelangan tangan gue lalu mendesah. Lebih dari dua jam gue duduk dan menunggu, siapa tahu sebentar lagi reda, kan. Nggak tahunya malah makin deras sampe bikin kepala gue makin pusing. "Sialan," umpat gue, kemudian menunduk memandang sepatu gue yang basah. Di samping kanan dan kiri gue sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang mainan ponsel, nyetel musik sambil menikmati udara dingin dan rintikan hujan yang makin tebal. Beberapa dari mereka yang nggak sendiri tengah mengobrol asyik, menggosipkan teman kerja mereka di kantor. Gue mendengus, dalam hati gue bertanya-tanya, ini orang-orang nggak punya beban hidup atau gimana, sih? Kayaknya pada sumringah banget biarpun terjebak sama hujan. Gue aja rasanya pengin marah-marah mulu, senewen mulu. "Ish!" Gue dikejutkan dering ponsel yang berbunyi. Lucky. Helaan napas gue lebih panjang begitu melihat nama Lucky muncul di layar ponsel. Antara males, tapi kangen. Udah berapa lama gue bersikap dingin sama dia, sih? Satu minggu? Dua minggu? Intinya, selama itu gue nggak banyak ngomong sama dia, gue lebih sering menghindari ngobrol sama Lucky, daripada emosi gue makin tersulut dan bikin semuanya makin memburuk. Lebih baik gue diem, kan? Toh, gue ngomong, pun, Lucky selalu melakukan semuanya sendiri tanpa nanya atau minta saran ke gue sebagai istrinya. Jelas aja, gue tersinggung. Gue menggeser layar untuk mereject panggilan telepon dari Lucky. Sumpah, ya, mood gue jelek banget sekarang. Kalau bisa gue teriak, gue teriak sekarang. "AKHHHH b*****t, EMANG! SIALAN! WANITA SIALAN!" Dan, gue beneran teriak dong. Orang-orang yang tadinya sibuk sekarang menoleh ke gue dengan kompak. Gue mendesah, memegang tali tas gue erat-erat kemudian menerobos hujan yang makin deras. Gue malu, anjir. Gue teriak sekenceng itu mirip orang nggak waras. Daripada gue malu, mending gue pergi, sebelum gue bertindak semakin gila. *** Hari ini gue merasa lelah, banget. Suasana hati yang buruk berhasil membuat gue menerobos hujan yang lagi deras-derasnya dan pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Saat itu gue lagi mikir butuh melampiaskan kekesalan gue. Mungkin aja kalau gue jalan kaki dari halte ke rumah sambil hujan-hujanan bisa bikin gue lebih baik. Nggak tahunya, gue malah demam. Lucky menunggu di depan teras rumah sambil berjalan mondar-mandir. Cowok itu tampak cemas, dari kejauhan gue bisa melihat Lucky nggak berhenti menghubungi seseorang lewat ponselnya. "Pita!" seru Lucky begitu melihat gue pulang ke rumah dalam keadaan basah kuyup. Cowok itu berjalan keluar menghampiri gue, kemudian menarik gue hingga masuk ke dalam rumah. Lucky membawa gue sampe di depan kamar mandi sedangkan dia masuk ke dalam kamar untuk mengambil handuk dan baju ganti. "Mandi gih, terus ganti." Lucky mengangsurkan handuk dan baju ganti ke gue. Lucky mengelus puncak kepala gue yang basah. Walaupun gue bersikap dingin sama dia akhir-akhir ini, Lucky masih aja sabar dan nggak protes sedikit pun. Malahan si Aree yang heboh, nanya mulu kenapa gue jadi ketus sama Lucky. Sedangkan Lucky kayak pasrah, nerima aja gitu. "Sambil nunggu lo selesai mandi, gue bikinin lo s**u anget, deh." Lucky menarik tangannya menjauh dari puncak kepala gue lalu berbalik memunggungi gue hendak pergi ke dapur. Gue menunduk, menggigiti bibir bawah, lalu mengangkat kepala dan memandangi punggung Lucky yang dibungkus dengan kemeja berwarna abu-abu berlengan pendek. Setahu gue, pagi tadi Lucky nggak pake kemeja itu, deh. Apa, Lucky mau pergi, tapi nggak jadi karena nunggu gue pulang dulu? Pandangan mata gue terarah ke tas hitam Lucky yang diletakkan di atas meja. Gue melangkah cepat menghampiri Lucky dan memeluk cowok itu dari belakang. Lucky sempat kaget, bisa gue rasakan tubuhnya menegang selama beberapa detik. Tapi nggak lama, Lucky mengusap kedua tangan gue yang melingkari perutnya. "Mandi dulu, Pit," gumam Lucky menahan kekehannya. "Kenapa? Takut baju lo ikutan basah?" gue mendongakkan kepala dan menatap wajah Lucky dari samping. "Ya kalau basah tinggal ganti lagi, Pita," kata Lucky memiringkan wajahnya. "Tapi gue sengaja bikin baju lo basah supaya lo nggak pergi ke mana-mana," bisik gue, lantas Lucky melepaskan tangan gue dan membalikkan badannya. "Kalau perlu baju-baju lo di lemari gue basahin sekalian!" Lucky menangkup kedua pipi gue, gemas. "Gue emang nggak mau ke mana-mana hari ini." Gue menoleh ke meja makan dan menunnjuk tas hitam punya Lucky. "Itu, apa? Lo mau pergi lagi, kan?" tuduh gue ke Lucky. "Iya, tadinya gitu," jawab Lucky ikut menatap tasnya di meja. "Tapi nggak jadi karena hujannya nggak reda juga. Gue udah telat banget kalau mau pergi." "Mau ke mana?" tanya gue ke Lucky. "Pergi bentaran. Mau cari bahan buat tugas." "Sendiri?" "Sama Aree. Tapi kita ketemuan di tempatnya langsung karena dari semalem dia nggak pulang, kan." Gue mendesah kecewa. Lucky masih aja nggak mau memberitahu gue soal dia yang mengambil cuti kuliah. Gue pengin dia sendiri yang ngasih tahu, nggak perlu gue tanya-tanya lagi. Apa pun alasan Lucky, gue bakal berusaha mengerti walaupun nggak gampang. Cuma, paling nggak, si Lucky cerita ke gue, ngasih tahu ke gue. "Kalau hujannya reda, lo jadi pergi dong?" tanya gue, melas. Lucky mencium bibir gue dengan kilat. "Nggak jadi." "Kenapa?" tanya gue balik. "Eh? Kok, badan lo anget," kata Lucky, kemudian memegangi kening gue dengan punggung tangannya. "Buruan mandi, terus ganti baju dan makan." Lucky mendekap kedua bahu gue dan membawa gue mendekat ke pintu kamar mandi. "Jangan ke mana-mana tapi!" Gue menunjuk Lucky dengan satu jari. Lucky mengangguk, mengiakan. "Iya. Sana buruan mandi." *** "BAWA PERGI SATE LO, AREE SETAN!" jerit gue keras-keras di depan pintu kamar Aree. Tiba-tiba aja perut gue mual, gue nggak tahan sama bau sate sama gule kambing yang dibawa pulang sama Aree. Gue memegangi perut lalu berlari pergi ke kamar mandi agar bisa memuntahkan seluruh isi perut gue. Yang gue muntahin dari tadi cuma air doang. Kepala gue pusing, rasa mual yang gue rasain semakin menjadi-jadi. Badan gue lemes, banget. Hampir aja terjungkal ke belakang, untung aja Lucky muncul dan menahan punggung gue dengan sebelah tangannya. "Masih mual?" tanya Lucky sembari menempelkan punggung tangannya ke kening gue. "Nih, gue beliin minyak kayu putih." Buru-buru gue mengeluarkan minyak kayu putih dari dalam kantong kresek hitam. Lucky mengambil minyak kayu putih berukuran paling kecil dan membantu gue membuka kemasan plastik dari tutup botol. "Haaa...." Gue menarik napas lega begitu menghirup aroma dari minyak kayu putih yang gue deketin ke hidung. "Kenapa, sih? Kok bisa mual gara-gara sate sama gule kambing," gumam Lucky. "Nggak tahu," Gue menggeleng, lesu. "Tiba-tiba aja gue benci sama baunya. Bikin perut gue mual!" Lucky menggandeng gue keluar dari kamar mandi. Sambil menempelkan ujung tutup minyak kayu putih ke hidung gue, gue melirik Aree sinis. Cowok itu duduk di kursi makan sembari mendengarkan musik dari ponselnya. "Bisa sakit lo?" tanya Aree dari tempat duduknya. "Buang sate sama gulenya dulu, g****k!" maki gue menutupi hidung dengan sebelah tangan. Aree berdecak, "Ngapain dibuang? Gue beli, ya. Nggak minta. Lagian gue beli juga buat dimakan rame-rame!" "TAPI GUE NGGAK SUKA BAUNYA, AREE! GUE, MUAL!" jerit gue di telinga Aree. Aree mendorong pipi gue, cowok itu balas menatap gue nggak kalah sinis. "Ya tinggal masuk kamar aja." "Sama aja. Gue masih bisa cium baunya dari dalem kamar." Lucky memijat keningnya pelan. Melihat gue sama Aree adu bacot bikin dia makin pusing. Tapi Aree emang ngeselin, sih. Harusnya kalau dia tahu gue mual, ya simpen ke mana gitu makanannya. Ke dalam panci kek, kulkas kek, atau kasih ke mana gitu. Bukannya malah sengaja ditaruh di atas meja. "Lama-lama gue bisa pingsan sama baunya doang," gerutu gue lalu mendorong kursi Aree kuat-kuat. Aree mengumpat, sedangkan gue buru-buru masuk ke dalam kamar sebelum cowok itu balas mendorong gue. "Tidur sana, besok sekolah." Lucky menyusul masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya kembali. "Gue mau bolos aja," kata gue sambil memeluk Lucky dari samping. "Kepala gue pusing, badan gue lemes banget, Ky." Lucky menjauhkan wajahnya dan memandangi gue, "Masa? Jangan alasan. Bilang aja males pergi ke sekolah." Gue mengerucutkan bibir. "Beneran," kata gue. "Akhir-akhir ini gue sering mual, kepala gue pusing, bawaannya pengin makan yang seger-seger gitu." Cowok itu menarik kepala gue dan menyandarkan ke dadanya. Jari-jari Lucky mengelus rambut panjang gue yang digerai. "Pengin makan apa, sih?" tanya Lucky pura-pura gemas sama gue. "Apa, ya?" gumam gue, "Buah yang manis, gitu. Apa kek. Mangga, atau apa aja pokonya yang penting manis, terus seger." "Mau beli mangga?" tanya Lucky. Gue mengangguk-angguk antusias. "Mau. Tapi harus yang manis." "Ya udah, besok gue beliin." Gue mengerucutkan bibir. "Sekarang, Ky!" "Hah?" Lucky malah bengong dan melihat jam di dinding. "Ini udah malem, Pit. Besok aja, ya?" bujuk Lucky. "Penginnya sekarang!" Gue menarik ujung kaus Lucky. "Lagian belum terlalu malem banget, Ky. Pasti masih ada kios buah yang masih buka." "Harus banget sekarang, ya?" tanya Lucky. "Iya." Gue mengangguk-angguk. "Kalau besok, udah nggak pengin lagi." "Kok, gitu?" "Nggak tahu, ih!" rengek gue. Lucky melepaskan pelukannya lalu turun dari ranjang dan mengambil jaket yang tergantung di belakang pintu kamar. "Mau ke mana?" tanya gue ikut-ikutan turun dari ranjang. "Katanya mau mangga," jawab Lucky sambil menarik resleting jaketnya ke atas. "Ikut!" seru gue. "Ikut pokoknya!" buru-buru gue menyela Lucky yang akan mengeluarkan suaranya. "Iya, iya," sahut Lucky, pasrah. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN