Jatah Cuci Piring
"Banyak sekali piring-piringnya."
Aku menatap tumpukan piring kotor di hadapan, menyusul suara tawa dari ruang tengah di rumah mertuanya. Semua orang tampak sibuk menikmati makanan, berbincang hangat.
Sementara aku sendiri, hanya berdiri di dapur, berteman piring-piring yang menunggu untuk dicuci. Baru saja aku hendak memulai, kakak iparku, Rima, masuk sambil menenteng beberapa gelas.
"Embun, kamu masih di sini? Baguslah, ya."
Rima tersenyum tipis sambil menaruh gelas-gelas itu ke wastafel.
"Kamu bisa bantu cuci piring ini. Kan, kamu yang paling nggak repot di antara kami semua."
Aku menahan perasaan tidak nyaman yang menggelitik d**a, tapi ia tetap tersenyum meski hatinya tersinggung.
"Iya, Mbak Rima. Aku bantu bersih-bersih aja di sini."
"Oh, ya dong." ucap Rima tertawa kecil sambil melirikku.
"Kalau nggak kamu, siapa lagi? Aku sama Nia kan sibuk urus anak-anak. Kamu sendiri, ya enak, kan? Nggak perlu mikirin yang lain."
Embun mengangguk perlahan, meski hatinya mengerut mendengar sindiran itu. Baru saja ia mengalihkan pandangannya ke piring yang harus dicuci, Nia, adik iparnya, masuk ke dapur sambil membawa piring lain dengan senyum mencemooh.
"Wah, untung ada Mbak Embun. Kalau nggak, siapa yang bantu kita urus semua ini?" kata Nia sambil meletakkan piring-piring kotor di tumpukan.
"Mbak Embun itu kayaknya paling santai di sini, ya. Kalau kami mah nggak ada waktu buat duduk istirahat. Udah repot sama anak-anak yang nggak bisa diam."
Aku menelan ludah, menahan diri agar tidak terpancing.
"Aku memang nggak punya anak, Nia. Tapi bukan berarti aku bisa dianggap bebas atau santai begitu saja. Aku juga ada capeknya."
"Capek apanya? Kamu tuh nggak tahu, Mbak."
Nia tertawa sambil melipat tangannya di d**a.
"Kalau kamu udah punya anak nanti, baru tahu rasanya repot. Mungkin kamu bakal ngerti kenapa kami butuh bantuan."
Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam emosi yang mulai bergolak di dadanya.
"Aku paham kalian lelah. Tapi aku juga ingin dihargai, bukan malah dianggap lebih rendah hanya karena... aku belum punya anak."
Rima melirik Nia sambil tersenyum sinis.
"Yah, itu mungkin kenapa kamu bisa lebih bebas di sini, Bun. Kamu kan nggak perlu mikirin anak atau keluarga lebih besar, seperti kita."
Aku mengeratkan pegangannya di tepi wastafel, menahan perasaan sakit yang makin menusuk. Hatiku terluka dengan setiap kata yang mereka lontarkan. Seolah ia benar-benar tak ada artinya hanya karena belum memiliki keturunan.
"Kalian mungkin menganggap aku nggak repot, tapi aku juga punya perasaan. Aku juga ingin merasa diterima di keluarga ini."
Nia menggeleng sambil tertawa, "Aduh, jangan baper, dong, Mbak. Kami cuma bercanda. Emangnya kamu tersinggung ya?"
"Ya, tentu saja aku bisa tersinggung," suaraku bergetar, meski ia berusaha terdengar tenang.
"Kalian tahu aku sudah mencoba bertahun-tahun untuk memiliki anak, tapi seolah-olah kalian masih menganggapku tak layak."
Rima mendesah, berpura-pura kasihan.
"Maaf, Embun, tapi kenyataannya memang begitu. Kami juga nggak mau kamu merasa rendah. Tapi faktanya, kami yang repot di sini karena anak-anak. Mungkin memang lebih baik kamu yang bantu lebih banyak."
Embun berusaha untuk tersenyum, meskipun hatinya terasa sesak.
"Aku paham kalian punya tanggung jawab, tapi setidaknya jangan memperlakukan aku seperti ini. Aku hanya ingin sedikit dihargai."
Nia mencibir sambil memutar matanya.
"Iya-iya, terserah Mbak Embun aja. Tapi, ya, sebaiknya Mbak sadari posisi di sini. Bantu-bantu lebih banyak itu sudah sewajarnya."
Embun mengangguk, mengakui bahwa kata-kata itu benar-benar membuatnya merasa kecil. Seolah-olah dirinya hanyalah tambahan yang bisa disuruh-suruh.
"Baiklah, aku akan selesaikan ini," ucapnya, mencoba terdengar tegar.
Rima menepuk bahunya dengan seringan mungkin, namun Embun merasakan sikapnya penuh dengan nada mengejek.
"Nah, gitu, dong. Terima kasih ya, Bun. Keluarga ini beruntung banget punya kamu yang selalu siap bantu."
Nia tersenyum puas sebelum mereka berdua meninggalkan dapur, membiarkan aku sendirian dengan pikirannya yang kacau. Aku merasakan d**a yang sesak. Tangan ini gemetaran saat kembali mencuci piring-piring kotor itu.
Hati kecilku berteriak, mempertanyakan apakah semua ini layak aky terima hanya karena belum mampu memberi keturunan. Tapi aku tetap diam, menyimpan sakitnya sendirian.
Aku menyelesaikan tumpukan piring dengan tangan yang mulai terasa lelah. Namun yang lebih lelah lagi adalah hatiku.
Berulang kali, aku mencoba memahami dan memaafkan sikap keluarga Mas Awan, berharap mereka suatu hari bisa menghargai keberadaanku. Tapi setiap kali ada acara seperti ini, aku hanya dijadikan bahan olokan.
Aku menghela napas panjang, menahan air mata yang sudah menggenang di sudut mata.
"Lama amat di dapur, Bun?"
Suara ibu mertua tiba-tiba terdengar dari arah pintu dapur, membuat aku sedikit terkejut. Ibu mendekat dengan wajah serius, memandang piring-piring yang telah dicucinya dengan tatapan tak puas.
"Iya, Bu, sebentar lagi selesai," jawabku pelan sambil menunduk dan berusaha tetap sopan. Aku tetap menghargai beliau walau kadang-kadang perlakuan dan ucapannya menyakiti hati. Semua demi menjaga nama baik Mas Awan.
"Apa segitu susahnya, Bun, bantu-bantu keluarga? Harusnya kamu yang lebih banyak kerja di sini. Kamu kan nggak punya kesibukan di rumah, nggak kayak menantu-menantu yang lain," kata ibu mertuaku tanpa sedikit pun menahan nada sinis.
Aku berusaha tetap tenang meski setiap kata yang diucapkan ibu mertua terasa seperti belati yang mengiris hati. Aku hanya mengangguk dan kembali pada piring-piring yang tersisa.
"Kamu pikir, setelah bertahun-tahun menikah, kami nggak kecewa karena belum ada cucu dari kamu?" lanjut ibu mertua. Kali ini nadanya terdengar lebih menusuk. "Kamu sudah banyak diberi kemudahan, tapi apa hasilnya?"
Aku diam, tak ingin memperkeruh suasana. Aku tahu, berdebat dengan ibu mertua hanya akan memperburuk keadaan. Namun dalam hati, aku tak tahan lagi dengan semua ini. Setiap hari, aku diperlakukan seperti orang yang tak punya arti, seolah-olah aku adalah penyebab semua masalah.
"Maaf, Bu, saya sudah berusaha... tapi mungkin belum waktunya," jawabku pelan, mencoba menahan emosi.
"Belum waktunya? Atau kamu yang tidak sungguh-sungguh berusaha?" balas ibu mertua dengan tatapan tajam. "Kalau saja kamu bisa memberi keturunan, mungkin semua ini tidak perlu terjadi."
Aku menggigit bibir, menahan diri untuk tidak menangis. Aku tak tahu harus berbuat apa lagi untuk membuktikan diri, untuk menunjukkan bahwa aku juga pantas dihargai. Namun, satu hal yang tiba-tiba muncul di pikirannya adalah-apakah ini benar-benar hidup yang ia inginkan?
Dengan hati yang tersayat, aku menyelesaikan piring terakhir. Saat hendak keluar dari dapur, aku tak sengaja mendengar percakapan di ruang tamu. Aku melihat Rima dan Nia membisikkan sesuatu kepada ibu mertua, lalu mereka tertawa kecil.
"Apa iya, Mas Awan sudah mulai melirik yang lain?" bisik Rima pelan namun terdengar jelas di telingaku.
Deg.
Aku berhenti sejenak dengan tubuh yang menegang. Napasku terasa sesak. Rasa sakit dan duka di hati kini tergantikan oleh keterkejutan yang lebih dalam. Aku tak percaya pada apa yang baru saja kudengar.
Mas Awan melirik yang lain? Siapa wanita itu?