Bisa Pakai Kontrasepsi KB

1519 Kata
"Aku udah ngomong mau tinggal di asrama bareng kalian." "Serius, Sa?" Alifa dan Rahma berbarengan melempar tanya. "Iya." "Terus?" "Diijinin gak?" Salsa diam. "Gak kan?" Rahma menebak. "Mana mungkin di ijinin." Alifa juga menerka hal sama. "Kalian benar. Aku gak di ijinin sama semuanya. Dimarahin pula sama Bapak." "Lagian, udah ada suami juga." Alifa terkekeh pelan sambil menutup mulut. "Tapi, aku kan pengen ngerasain masa-masa kaya kalian." "Sekarang status kamu udah beda, Sa. Gak bisa sama kaya kita lagi." Rahma berujar. "Gara-gara kamu, tau." "Loh, kok nyalahin aku?" "Iya, gara-gara ajakan kamu itu aku jadi tergoda lagi untuk menetap di asrama." "Yee, tapi, kamunya harus nyadar diri kali, Sa. Bukan malah baper. Sekabawa-bawa." Gadis itu jadi terlihat bete. Andainya mereka tahu, pernikahan itu bukan maunya. Dia masih ingin menyandang status lajang seperti mereka. Bukan status sudah kawin. "Justru aku suka nebak-nebak gimana rasanya jadi kamu, Sa. Ada yang nafkahin, ada yang merhatiin, juga tidur ada yang nemenin. Apa gak enak tuh?" "Di balik itu semua ada tanggung jawab yang besar, Fa." Juga, tuntutan dan rasa terkungkung. Salsa lebih merasakan itu ketimbang hal-hal lainnya yang seperti Alifa katakan. "Apapun itu, kamu harus bersyukur, Sa. Suami kamu baik dan dewasa. Kata orang suami yang umurnya jauh di atas kita, dia bisa sabar banget, gak mudah marah dan suka mengalah." Alifa berpendapat. "Karna emosinya udah stabil, jadi gak meledak-ledak kaya remaja. Satu lagi yang paling penting. Biasanya laki-laki dewasa itu sangat bertanggung jawab," sambungnya lagi yang disambut anggukan kecil Rahma. Pertanda gadis itu pun sepemikiran. Salsa termenung. Bukankah itu semua ada pada Imam? "Bukannya suami kamu juga begitu, Sa?" Salsa hanya tersenyum tipis pada Rahma. Alifa melihat pada jam di pergelangan tangan. "Sebentar lagi kita masuk kelas, Ma." "Oh, iya. Ayuk pergi." Rahma dan Alifa beranjak dari kursi. "Temen kamu si Liana belum datang, Sa?" "Belum, Fa." "Tumben, ya." "Gak tau." "Sa, duluan. Atau mau bareng?" Mereka pamit. "Duluan aja." Keduanya pergi. Hanya tinggal Salsa yang duduk di bangku taman. Menunggu Liana yang belum datang. Tidak menyangka yang datang menghampiri malah Albyan. Salsa kikuk lelaki itu duduk di dekatnya. "Liana sakit, gak bisa masuk kampus." Salsa yang baru akan pergi tidak jadi. Ucapan Albyan mampu menahannya. "Sakit apa, Kak?" "Demam." Pantas nomornya tidak aktif dan pesan yang dikirimkan Salsa hanya centang satu. Gadis itu menatap ponselnya melihat riwayat chat ke Liana. Mungkin karna sedang tidak enak badan temannya itu tidak menghidupkan data perangkat. "Bilangin sama dosen pengajar Liana sakit." "Eh, iya, Kak. Nanti aku sampein." "Ini." Albyan menyodorkan ponselnya sendiri ke hadapan Salsa. "Save nomor aku, ya." Gadis itu diam memperhatikan angka-angka dari layar ponsel berlogo apel, yang ditaksirnya berharga mahal. "Yaudah, sini hape kamu." Albyan mengambil ponsel milik Salsa yang tengah dipegang. Mengetik nomornya sendiri dan miscall. "Sudah ada nomorku di situ." Dia kembalikan ponsel Salsa ke tangannya lalu menyimpan nomor gadis itu yang juga sama ada diponselnya. "Udah, ya, Kak. Aku pergi dulu." Salsa memasukkan ponsel dalam tas. Tidak nyaman mahasiswa lain mulai memperhatikan. "Kenapa, Sih?" Albyan menarik tangan Salsa yang baru beranjak dari kursi. "Gak usah buru-buru pergi. Emangnya aku senyeremin itu, ya?" "Nggak." Salsa melepaskan tangannya. "Permisi." Albyan tersenyum melihat kepergiannya. Dia semakin tertarik dan tertantang. Gadis itu berbeda. Tangan bekas menyentuh Salsa dia hirup dalam-dalam sambil memejam. *** "Bapak belum pulang, Bu?" Rasidah yang sedang fokus menggoreng Ikan Mas sedikit terperanjat dan menoleh. Didapatinya Imam tidak jauh di belakang. "Belum. Masih di pasar." "Si Robby?" "Kerja sif siang. Tidak ada di rumah sekarang." Adiknya jarang terlihat di rumah lebih sering di luar dengan kesibukannya. Robby bukan pemuda manja yang hanya ongkang kaki saja yang bisanya cuma minta ke orang tua. Anak laki-laki Rasidah dan Kholid, berbudi pekerti semua. Imam menarik kursi. Hidangan makanan di meja menggugah seleranya. "Makan, Mam." "Ya, Bu." Lelaki itu duduk. Ibunya menghampiri menunda goreng ikan. "Tidak perlu, Bu. Imam ambil sendiri aja." Imam mengambil piring dari tangan Rasidah yang mau menyendokkan nasi untuknya. Lelaki itu mengambil sendiri beserta lauk dan sambal. "Yasudah, makan yang kenyang." Rasidah kembali mendekati wajan. Mengangkat ikan yang matang ke serokan. "Ibu gak makan, Bu?" Imam beranjak ke westafel sebentar cuci tangan. Setelahnya kembali duduk. "Nanti saja." Lelaki itu menyantap makan lahap. Hati-hati menyingkirkan duri ikan, meraih tahu goreng, juga mencoel lalapan timun pada sambal. Rasidah mengisi mangkuk kecil dengan air dari keran juga mengambil serbet bersih, lalu diletakkan pada meja untuk Imam cuci tangan setelah makan. "Gak usah, Bu." Imam berkata dengan mulut penuh makanan. "Sudah, biar saja. Bapakmu juga suka begitu. Kalau dirasa kurang bersih baru ke westafel." Sungguh istri idaman Ibunya itu. Melayani totalitas keluarga. Imam jadi kepikiran Salsa, timbul harapan sama bisa seperti perempuan yang telah melahirkannya. Selesai makan dan membersihkan tangan, Imam mengeluarkan uang 25 ribu dari kantong celana. Meletakkan di meja di hadapan Rasidah yang baru bergabung duduk setelah beres-beres cuci piring. Perempuan itu mengeryit menatap tanya padanya. "Buat bayar makan siangku, Bu." "Apa-apaan kamu, Mam. Kaya ke orang lain aja. Kamu itu anak Ibu." "Imam gak enak masih sering numpang makan di sini, padahal udah gak tinggal sama Ibu lagi." "Gak usah. Sekarang kamu itu udah ada istri, harus nafkahin tiap hari, belum lagi biayain kuliah juga. Udah, simpan aja." "Tapi, Imam tetep gak enak, Bu. Sering makan di sini. Harus ngasih ke Ibu juga." Pada Ibu Salsa Imam memberi uang jatah makan setiap harinya. Lebih banyak dari itu karna untuk berdua dengan istri. Dia merasa harus melakukan hal sama pada Ibunya. Meski untuk sekali makan. "Ibu bukan warteg yang wajib bayar. Ibu ada, dari hasil jualan Bapak kamu, dari kontrakan, cukup." Rasidah mengepalkan uang di meja ke tangan Imam. "Buat kebutuhan Salsa saja." Lelaki itu pun memasukkan kembali uangnya ke kantong. "Imam berterimakasih sekali. Selama ini Ibu gak bebanin bayar sewa bengkel, gak minta hasilnya juga. Uang yang Imam kasih selama ini disimpan dan diserahkan lagi saat Imam menikah." "Ibu hanya membantu. Gak ngarepin apa-apa, kecuali satu, pernikahan kamu dengan Salsa bisa langgeng dan bahagia." Imam mengangguk. Dia bertekad untuk meraih itu. Apapun yang terjadi akan tetap mempertahankan pernikahannya dengan Salsa. Meski sampai sekarang gadis itu masih menjaga jarak. "Sekarang Imam gak nyerahin lagi uang kerja keras Imam ke Ibu. Maaf, Bu ...." "Gak apa-apa, Mam. Tabung saja yang banyak uangnya, buat masa depan." Rasidah mendesah kecil dengan pandangan menerawang ke atas. "Rasanya Ibu pengen cepet punya cucu dari kamu, dari anak pertama Ibu." Imam yang baru meraih gelas tersedak minum. *** Imam sudah menunaikan solat isya di masjid. Berpisah dengan jamaah Bapak-bapak di jalan. Dia berbelok memasuki rumah. Tidak ada siapa-siapa di ruang tamu. Ibu Mertua tidak terlihat, sedangkan Ma'ruf masih di Masjid bersama tetua lainnya. Lelaki itu langsung masuk kamar. Di dalam, Salsa baru selesai solat sedang melipat mukena bagian atas. Gadis itu melihatnya sekilas. Imam mendekat sambil membuka peci. Dia memperhatikan di belakang Salsa. Rambut panjang gadis itu tersampir di sisi bahu. Ketiaknya terlihat tanpa bulu saat tangan gadis itu terangkat. Sama mulusnya dengan lengan. "Gerah, Sa?" tanya Imam terus menatapnya lurus. Salsa hanya memakai tangtop hijau botol. "Iya." Dia menjawab tanpa melihat padanya. Gadis itu melorotkan rok mukena. Sama dilipat. Pandangan Imam dari punggung Salsa turun perlahan. Gadis itu memakai leging abu-abu ketat semata kaki. Lekukan bawah tubuhnya tercetak jelas. Terutama belahan di bagian pinggul. Bongkahan itu tampak berisi dan menantang. Salsa sudah tidak malu-malu berpenampilan terbuka dan cuek saja. Lain bagi Imam, tubuh sintalnya cukup mengundang. Hawa panas juga mendadak menyergap Imam. Kipas yang terus berputar dipojokan mendadak tak terasa. Satu persatu kancing koko di buka, melepas, menyisakan kaos oblong putih. Begitu pun dengan sarungnya. Hanya tinggal celana bahan hitam cingkrang. Pakaian solat itu disampirkan pada gantungan di dinding. Salsa juga selesai melipat sajadahnya. Dia berbalik mendapati Imam yang menatapnya tak berkedip. Gadis itu berpaling, hendak mengambil gamisnya yang tersampir di gantungan. "Sa." "Apa?" Tangan gadis itu menunda meraih baju. "Salim sama Aa." Imam mengulurkan tangan. Salsa mengeryit. "Kita kan gak solat berjama'ah." "Gak apa-apa, sama aja. Aa kan baru pulang dari masjid." Menurut Salsa aneh. Tidak biasanya. Itu bukan ritual rutin mereka. Dia sungkan, kecuali sengaja menyambut. Melihat istrinya diam saja, Imam lebih dulu mendekat. Tetap sambil mengulurkan tangan. Salsa akhirnya meraih tangan itu ragu-ragu dan mengecupnya. Lalu menegapkan tubuh kembali. Melebarkan mata saat Imam tidak melepaskan. Lelaki itu balas mengecup punggung tangan Salsa juga mengusap-usap. "Aa?" "Ya, Sayang?" Dipanggil dan ditatap lembut seperti itu Salsa jadi sedikit ngeri. Apa Imam sudah tergoda dengan penampilannya? Salsa menebak dalam hati dan dia menyesal sudah cuek terbuka seperti ini. Belahan d**a atasnya bahkan terlihat, suaminya sedang fokus ke sana. "Lepasin A." "Nggak, Sa. Aa betah." Imam menarik Salsa memangkas jarak yang ada. Lelaki itu mencium kening dan pipinya. "Aa ih." Salsa mendorongnya hingga tercipta jarak kembali. "Aa kenapa?" "Aa mau, Sa ...." "Aku belum siap, A." Salsa berpindah. Duduk di tepi tempat tidur. Menarik selimut menutupi tubuhnya. "Takut sakit ... dan takut hamil." Imam ikut duduk di sebelahnya. "Kita bisa melakukannya pelan-pelan ...." Selimut yang menutupi Salsa mencoba dibukanya untuk tidak menghalangi pemandangan Indah. "Kamu bisa pakai kontrasepsi KB untuk nunda kehamilan." Lelaki itu berhasil menyingkirkan selimut meski ditahan tangan Salsa. Gadis itu menggeleng. Imam menarik tubuhnya begitu saja dalam pelukan. Mencium-cium pucuk kepala dan membelai punggung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN