Imam memberikan Salsa uang lima puluh ribu saat gadis itu bersiap memakai tas. Jatah hariannya semenjak jadi istri Imam. Tanpa protes, Salsa memasukkan uang tersebut.
"Aa gak bisa ngasih banyak-banyak. Segitu tiap harinya. Tapi, kalau kurang atau ada keperluan lain dan ada sesuatu yang mau dibeli, minta lagi aja."
Sebenarnya cukup untuknya seorang diri. Suka sisa malah dan Salsa simpan. Hidup di perkampungan membeli sesuatu tidak semahal di kota.
"Untuk kebutuhan makan, seperti biasa Aa udah kasih ke Ibu. Itu husus untuk keperluan pribadi kamu, Sa. Aa juga usahain sehari nabung segitu."
Salsa meliriknya yang sama-sama bersiap untuk pergi. Tas kecil hitam disorenkan di bahunya. Tubuh berbalut kaos hitam itu lalu dilapisi jaket kulit bewarna senada.
Salsa tidak tahu penghasilan hariannya berapa di bengkel. Dia juga tidak terlalu mau tahu. Terpenting ada buat dia. Salsa tidak meminta tapi Imam yang selalu lebih dulu memberi. Seperti pagi ini. Kadang malam hari.
Jujur saja, dia tidak kekurangan. Dibanding saat masih gadis dulu, kini lebih merdeka soal jatah. Waktu belum menikah uang jajannya tidak sampai segitu.
Uang kebutuhan makan yang diberikan Imam ke Ibunya, Salsa juga tidak mau tahu. Di samping membantu biaya kuliah, lelaki itu bisa nabung juga. Salsa akui perhitungannya sangat matang. Berbalik dengannya yang masih masa bodoh soal masa depan.
"Atau, mau sama kamu aja uang yang Aa kasih ke Ibu?"
"Eh, gak usah. Biar dibelanjain sama Ibu aja." Salsa langsung menolaknya. Dia tidak mau ribet mengurusi kebutuhan dapur.
Imam hanya tersenyum mendengarnya. Benar-benar masih berjiwa anak-anak yang belum mau dengan urusan orang dewasa. Dalam hal ini urusan rumah tangga.
Salsa tidak banyak menuntut. Tidak menyita pendapatan atau apa-apa musti lapor. Jika pun suatu saat dia menanyakan itu, tak masalah, pasti Imam akan beritahukan dan memasrahkan.
"Kalau udah ada anak nanti, pasti Aa tambahin."
Salsa tidak enak mendengar itu, dia berbalik membelakangi Imam. Tidak ingin membahasnya.
"Makasi, A. Aku keluar duluan." Gadis itu langsung pergi dari kamar.
Imam menarik napas dan mengembuskan pelan. Gadis itu selalu menghindar jika ada pembahasan anak.
Keduanya kini tengah berada di jalan. Mengendarai motor masing-masing. Salsa beberapa kali menoleh ke belakang karna diikuti Imam. Mulut gadis itu berdecak dari balik helem.
Dia menepikan motor. Imam juga ikut melakukan hal sama. Salsa turun, menghampiri suaminya. "Aa Mpi ngapain ikutin aku?"
"Mastiin kamu selamat sampai kampus."
"Gak perlu. Arah ke bengkel Aa berlawanan. Buang-buang bensin A."
"Gak apa-apa, kan ini kemauan Aa sendiri."
"Aku itu gak mau ngerepotin Aa."
"Gak ngerepotin kok."
"Aa ke bengkel aja."
"Iya nanti, kalau udah liat kamu sampe kampus."
"Ih, Aa mah ngeyel. Terserah deh." Salsa kembali lagi ke motornya, menstater mesin lalu pergi.
Imam membuntutinya lagi. Membawa motor sama pelan dengannya. Syukurlah, gadis itu tidak ngebut. Dia hawatir jika Salsa ugal-ugalan di jalan. Pengendara perempuan sangat tidak elok seperti itu.
Sampailah di tempat kuliah Salsa. Gadis itu menoleh sekilas pada Imam saat hendak memasuki gerbang. Lelaki itu memelankan laju motor, kemudian membawa kencang setelah memastikan Salsa ke dalam.
Lega perasaannya bukan sekedar sudah memenuhi amanat Bapak mertua. Melainkan karna kemauannya sendiri juga.
***
"Jadi, kamu itu adik sepupunya Kak Albyan ya?" tanya Rahma pada Liana.
"Iya."
"Pantas akrab," timpal Alifa.
"Berarti rumah kalian deketan?" tanya Rahma lagi.
"Enggak."
"Tapi, kok waktu itu bisa datang bareng?" Kali ini Salsa yang bertanya. Mereka sedang berkumpul di kantin kampus.
"Waktu itu Kak Al lagi nginap di rumah orang tuaku, Sa."
"Terus selama ini dia tinggal di mana?" Rahma masih penasaran terus bertanya-tanya. Aji mumpung ada saudaranya. Selama ini dia hanya kepo tapi tidak banyak bertanya-tanya pada siapapun. Sama dengan Alifa. Dua gadis itu hanya pengagum rahasia.
"Rumah Kak Al lumayan jauh. Dia di sini ngekos."
"Ngekos?"
"Iya, Sa."
Alifa dan Rahma kompak membuka mulut. "Oo ...."
"Tempat kosan Kak Al enak sih, bukan kosan biasa."
"Kosan elit, ya?"
"Iya, Fa. Ber-ace dan biaya sewanya aja gak murah."
"Wah, enak tuh." Rahma menyikut pelan lengan Alifa dan berbisik. "Orang tajir." Temannya itu mengangguk.
"Iyalah, dilihat dari motornya aja bukan motor besar biasa. Kawasaki Ninja ZX-25R, nyampe seratus jeti harganya kalo gak salah, dan masih keluaran terbaru." Alifa memaparkan yang diketahuinya sama berbisik pelan. Hingga hanya mereka berdua yang mendengarnya.
"Keren, ya. Berarti keluarga si Liana ini juga gak jauh beda dengan Kak Al."
"Pasti."
"Paan deh, bisik-bisik segala."
Keduanya menjauh dan nyengir kuda.
"Nggak kok, Sa."
"Bukan apa-apa."
Mereka menyeruput minum dari sedotan. Liana tersenyum tak acuh mengaduk minumannya. Tidak tertarik dengan apapun yang dibicarakan kedua teman Salsa.
"Hai, Sa." Albyan tiba-tiba datang. Menarik kursi kosong ikut bergabung duduk.
Rahma dan Alifa tersedak minum dekat dengan pemuda tampan itu. Baru saja mereka membicarakannya.
Salsa meliriknya sekilas. "Ya, Kak." Lalu menunduk pada piring makanannya.
"Mbak, satu minuman soda." Albyan mengangkat tangan berseru pada si Mbak penjaga kantin memesan minum.
"Dingin?"
"Iya."
Tidak lama si Mbak itu mengantarkan sekaleng minuman bersoda pada Albyan. Meletakkan di hadapanya.
"Makasi."
"Sama-sama."
Albyan membuka tutup kaleng minumannya dan meneguk sedikit. Rahma dan Alifa ikut menelan ludah karenanya. Salsa meliriknya lagi sekilas. Sementara Liana anteng memainkan ponsel. Tapi, bibirnya tetap melengkung senyum.
Entah mau apa lelaki itu ke sini. Dia kembali melihat Salsa. "Udah selesai makannya?"
"Emm, ya."
"Kenapa, mau nraktir?" tanya Liana. Meletakkan ponselnya dan menyedot minum yang tinggal sedikit. "Kalau iya, sekalian sama semua yang di sini termasuk aku."
Albyan menatap satu-satu gadis di dekatnya. Pada Rahma dan Alifa yang menunduk, terakhir Salsa. Dara yang paling menyita perhatiannya di sini hingga tertarik mampir. "Oke, aku traktir semua."
"Gaes, kalian dengerkan? Gak usah bayar, ya, biar sama Kak Al aja."
Rahma dan Alifa kembali saling sikut dengan pancaran mata berbinar, dan senyum yang masih ditahan. Karna terlalu malu jika langsung ditunjukkan. Salsa melihat pada Albyan. Dia mengeluarkan uang seratus ribu dari dompet meletakkan di meja, untuk membayar semua makanan yang telah dipesan.
"Kamu mau makan apa lagi, Sa? Pesan aja."
"Nggak, Kak, makasi." Salsa tak enak pada teman, Albyan lebih condong baik padanya.
"Duluan, ya." Liana beranjak dari kursi. "Kak Al makasi udah mau bayarin." Gadis itu lalu pergi.
"Kak Al makasi, ya, udah mau bayarin makanan kita."
Albyan melirik pada Rahma. "Nama kalian siapa?"
"Aku Rahma dan ini Alifa."
"Oh ... temen akrab Salsa?"
"Iya. Temen sekolah dulu." Alifa yang menjawab. "Tapi, kami lebih dulu masuk univ."
Albyan manggut-manggut. Dia kembali tertuju pada Salsa. Gadis itu sedang membaca pesan yang dikirimkan Imam.
[Kalau pulang jangan ngebut. Atau, mau dikawal lagi?]
Membaca itu seperti pengingat. Mendadak tidak enak, Albyan berada di dekatnya.
[Gak perlu] Salsa membalasnya.
"Makasi, Kak, traktirannya. Aku pergi dulu." Salsa beranjak dari kursinya. Rahma dan Alifa juga ikut-ikutan berdiri. Mereka semua pergi.
Albyan sedikit kecewa ditinggal Salsa, padahal tadi dia ingin meminta nomor ponselnya. Tiga temannya yang berdiri dekat akses masuk kantin, tertawa melihat dia kini sendiri.
***
"Mau mampir lagi gak, Sa, ke pondok?" Rahma mengajak Salsa saat hendak pulang.
"Tapi, harus pamit dulu mau kalo mau maen lagi ke asrama kita." Alifa mengingatkan.
Ketiganya menyusuri koridor terus berjalan beriringan hingga di halaman.
"Pengen." Salsa baru menjawab.
"Kamu tinggal sama kita lagi aja, Sa, di asrama. Pulang kuliahnya ke sana, kaya kita, ya, Fa? Biar kita bisa kumpul terus, mengaji dan mengerjakan tugas bersama."
Mata Salsa berbinar mendengarnya. Tertarik sekali dengan usulan Rahma. Gadis itu tersenyum dan mengangguk. "Mau, mau."
"Mana bisa? Salsa kan udah nikah, Ma. Gak bisa tinggal bersama kita lagi di asrama." Peringatan Alifa seketika membuat Salsa terdiam. Wajah cerianya hilang.
"Eh, iya, ya, Fa. Nanti kalo suaminya butuh saat malem bagaimana? Hehe."
"Mangkannya itu."
Mereka tidak tahu kalau dia masih perawan, belum bercampur dengan suami. Salsa berjalan lebih cepat meninggalkan keduanya.
"Eh, Sa. Tunggu!"
Seruan Alifa tidak didengarkan terus berjalan. Lagi-lagi dia dibuat kesal karna statusnya.
***
"Apa? Mau tinggal di asrama pesantren?" Masitah bertanya serius setelah mendengar apa yang sudah dibicarakan putrinya.
Salsa mengangguk sambil memilin-milin ujung jilbab. Rupanya dia terus kepikiran dan tergoda tinggal lagi di asrama, hingga berani mengutarakannya pada keluarga di rumah.
Ma'ruf tak suka putrinya serta menatap tajam. "Apa-apaan kamu, Sa? Lupa kamu sudah menikah?" suaranya menekan berusaha meredam untuk tidak sampai membentaknya.
Tahu dan sadar. Salsa hanya sedang menawar. Barangkali bisa. Namun, belum apa-apa, orang tuanya langsung tidak setuju.
"Bagaimana dengan Imam? Kamu mau meninggalkan suamimu?"
Salsa diam lagi.
"Apa kamu tidak malu sudah berkata seperti itu? Tidak pantas!" Hati Salsa bergemuruh, dia sudah memperkirakan ungkapan-ungkapan seperti itu akan didengarnya. "Mana suamimu, panggil kemari."
"Ya, Pak." Imam ke luar dari kamar menyadari sudah dipanggil.
"Kamu sudah memberitahunya, sudah minta ijin Imam?"
"Sudah, Pak." Salsa menjawab pelan.
"Lalu, bagaimana tanggapan kamu, Mam?" Imam duduk terlebih dulu kemudian menghela napas. Ma'ruf mengerti ekspresi menantunya itu. "Jangan terus menuruti Salsa, Mam. Jika dirasa keterlaluan."
"Imam ... keberatan."
"Tuh, dengar. Artinya suamimu gak setuju."
Wajah Salsa muram bercampur masam bersamaan. Gadis itu beberapa kali mendengus kecil menetralkan perasaan sedih juga marah. Diliriknya Imam, laki-laki itu melengos.
Salsa sudah membicarakan dengannya tapi dia enggan. Gadis itu kecewa lalu membicarakan lagi pada Ibunya, tapi ditentang keras Bapaknya.
"Sudah, kamu di sini saja bersama kami. Jangan ikut-ikutan temanmu tinggal di asrama. Imam sudah kasih kamu banyak kebebasan, Sa. Masa mau ditinggal?"
Salsa melirik Masitah. Kali ini tidak ada yang membelanya, tidak ada yang setuju, tidak ada yang mengerti. Gadis itu lalu berdiri. Pergi begitu saja masuk kamar.
Imam menyusulnya.
"Biarkan saja, Mam. Dasar anak tidak beradab."
Langkah Imam sempat terhenti mendengar itu lalu masuk ke kamar Salsa.
"Ngapain ke sini?"
"Kamu marah?"
"Kita gak ngapa-ngapain, A, harusnya--"
"Ya. Kita emang gak ngapa-ngapain." Imam menyela ucapan Salsa. Di dekatinya sang istri yang mematung di depan lemari. "Aa udah banyak ngalah, Sa. Kamu mau kuliah, mau di rumah orang tua, oke Aa turutin, tapi Aa gak rido kalau kamu mau ninggalin Aa tidur di tempat lain."
Salsa mendongak. Tidak hanya dia, Imam juga tampak marah. Perasaan lelaki itu terluka. Harga dirinya sebagai suami jatuh dalam jika Salsa nekad pergi. Keinginan istrinya itu kali ini berlebihan.
"Kamu pikir orang tua kamu akan setuju? Nggak Aa ijinin terus bilang ke mereka, gak kan?" Dua kali Imam menyampaikan keberatannya, kini lebih berani setelah tahu orang tua Salsa juga menentang.
"Masih untung Aa gak maksa kamu berhubungan, Sa."
Mata gadis itu membelalak. "Boleh kamu tinggal di asrama, tapi .... " Salsa deg-dekan. Apa yang akan selanjutnya Imam katakan?
"Seminggu dua kali kamu harus pulang. Tidur di kamar ini, layani kebutuhan biologis Aa."
"Ap-apa?"
"Apa kamu mau tetap pergi dari Aa?"
Salsa diam menunduk.
"Hem?" Imam maju selangkah. Mereka berhadapan dekat sekali. "Bagaimana?" disentaknya pinggang Salsa hingga merapat ke tubuhnya.
"I-iya, aku gak akan kemana-mana."