Teguran

1716 Kata
Perempuan memakai rok levis lebar memasuki bengkel setelah turun dari motor yang dikendarainya. Berhenti tepat di hadapan Imam yang tengah berjongkok memasang kerangka ban. "Assalamualaikum." "Wa'alaikumsa ... lam." Kata-kata Imam memelan di akhir kalimat setelah mendongak, mengetahui yang datang orang yang sangat dikenal, adalah mantan pacar. "Anita? Mau apa?" Laki-laki itu lekas berdiri. Anita tersenyum. "Mau ganti Oli, A." Wawan dan beberapa orang lainnya terarah pada mereka. Imam sedikit tidak nyaman Anita kemari. Dia sudah tenang dengan usaha bengkelnya tanpa kedatangan perempuan itu sekali pun. "Wan, mau ganti oli katanya." "Lagi nanggung, A, ditungguin sama yang punya pengen cepet." Iwan tengah menambal ban. "Sama A Imam aja," ujar Anita. "Yaudah. Mau ganti oli mesin atau oli gardan?" "Oli gardan A." "Merek apa?" "Yang itu A?" Anita menunjuk satu merek oli yang berjajar di etalase samping. Imam pergi ke sana. Perempuan itu mengikuti. "Yang ini bukan?" Imam mengambil botol oli, terkejut saat berbalik berhadapan langsung dengan Anita. "Iya A." "Permisi." Anita menyingkir sudah menghalangi jalan. Imam melewati mendekati motornya. Perempuan itu memandangi punggungnya yang menjauh lalu menyusul. Anita menarik satu kursi, duduk di hadapan Imam yang bersiap membongkar tempat penyimpanan oli pada motor. Lelaki itu menunduk serius mengerjakan. Anita mengulum senyum memperhatikan diam-diam. Imam semakin dewasa dari terakhir bertemu. Style rambut hal paling berbeda, lebih rapi. Tidak memanjang mencapai telinga seperti dulu. "Istri A Imam udah isi belum?" "Belum." "Pake KB, ya?" "Nggak." Imam risih ditanyai seperti itu. Apalagi sama perempuan. Terlebih, mantannya sendiri. Tidak dengan Anita, dia senang. Sesuatu dalam hatinya seperti terobati. "Denger-denger Salsanya kuliah, ya?" "Iya." Imam sedikit heran. Dari mana Anita tau? Tapi dia tidak ingin bertanya tetap fokus menyelesaikan keperluan perempuan itu ke tempat ini. Anita masih memandanginya. Menghela napas mendapati lelaki itu cuek sekali. Tangannya meremas rok, ingat dulu pernah sangat dekat. Berpegangan setiap bertemu bukan hal asing. Sekarang seperti tidak saling kenal. Bukan dia, tapi Imam yang seperti itu kepadanya. "Sepertinya A Imam sekarang sudah bahagia, ya?" Imam menghentikan kegiatannya sejenak. Baru melihat pada Anita. "Iya, sangat bahagia." Padahal, yang diucapkan berkebalikan dengan apa yang dirasakan. Entah, dia ingin memanas-manasi perempuan itu. "Oh, syukurlah." Anita menunduk sedikit muram. Imam tidak peduli, kembali menyelesaikan kegiatannya. Menuangkan botol oli baru setelah yang lama dikeluarkan. "Sudah." Lelaki itu bergegas berdiri ketika selesai. Tangannya kotor noda kehitaman. Tapi, itu sudah biasa. "Ini, A." Anita memberi selembar uang biru yang diambil dalam tas kecil. Kursi yang diduduki ditinggalkannya. Imam ke belakang etalase sebentar, mengambil kembalian dan menyerahkannya ke Anita. "Makasi, A." "Sama-sama." Perempuan itu pergi setelah menghidupkan mesin motor. Imam mematung melihatnya berlalu. Ada kelegaan dalam hati terbebas dari canggung dan segala rasa tak enak yang mendera atas kehadiran Anita di dekatnya. Sungguh, dia tidak nyaman tadi. Wawan mendekat memberikan uang pelanggan yang telah selesai dikerjakan keluhan pada motornya. "Yang tadi mantan A Imam kan?" "Udah, gak usah dibahas." *** Sudah larut sore. Salsa belum pulang. Kesekian kali Imam mengecek ponselnya dari depan rumah. Berharap ada balasan pesan tapi nihil, terakhir dia menanyakan sedang berada di mana, hanya centang satu. Mencoba melakukan panggilan biasa tanpa kuota internet. Gadis itu tetap tidak bisa dihubungi. Imam menurunkan lagi ponsel dari telinga, menggenggam dengan kedua tangan. Wajah lelaki itu cemas. Dia sudah menjemput ke kampus siang tadi, tapi tidak ada. Menanyakan pada mahasiswa lain, mereka bilang mata pelajaran kelas Salsa sudah berakhir dan sudah pada pulang. "Gimana, Mam? Sudah ada kabar belum dari Salsa?" Imam melirik Ibu mertuanya dan menggeleng. "Ke mana, ya, anak itu. Sudah sore belum pulang?" Masitah juga hawatir. "Apa main dulu ke tempat temannya?" Apa yang diucapkan perempuan paruh baya itu benar. Salsa ada bersama Rahma dan Alifa di asrama mereka tinggal. Ketiganya kompak tertawa sudah membahas sesuatu. Di hadapan masing-masing tergeletak buku-buku. Senang berkumpul bersama teman, tidak ingan yang di rumah. "Kerinduanku di pondok rasanya terobati. Sudah lama gak ikut ngaji seperti tadi." Salsa menetralkan wajahnya yang tampak bahagia dan berkata seperti itu. Dia sudah ikut kajian yang dulu merupakan kegiatan sehari-harinya. Sekarang para santri sedang beristirahat di kamar masing-masing. "Sering-sering ke sini, Sa." Gadis berjilbab ungu menimpali dari pojokan sambil membuka-buka kitab. Teman seangkatan sekolah, tapi tidak melanjutkan kuliah. Memilih fokus menuntut ilmu di pesantren, merangkap jadi ustazah membantu mengajar dan membimbing adik-adik kelas. Satu teman lain di hadapannya mengiyakan. "Pasti ke sini lagi kok." "Eh, kamu udah kabari yang di rumah kan, Sa?" Pandangan Salsa teralihkan pada Rahma. Dia diam. Mengecek ponselnya yang mati di tas. "Iya, ini udah sore banget loh." Alifa menyahut. "Kapan mau pulang?" Salsa merasa terusir mendapat pertanyaan itu. Alih-alih menjawab dia diam lagi. Waktu bersama mereka di sini tidak terasa. Salsa masih betah, tapi tau-tau hari sudah petang. "Yaudah, aku pulang dulu. Anterin keluar." "Ayuk." Kedua teman akrabnya menjawab kompak. Mereka bertiga ke luar kamar. Hendak mengantar Salsa ke luar area pondok. Salsa tiba di rumah pas azan magrib berkumandang. Dia diantar ojek online. "Salsa, ya ampuun ... dari mana saja baru pulang?" Masitah bergegas menghampiri setelah gadis itu turun dari motor. Ojek yang mengantarnya buru-buru pergi setelah menerima ongkos. "Dari pondok, Bu." "Kenapa gak bilang dulu sih? Kamu tau, Imam dari tadi nunggu kamu, nyariin kamu." Imam berdiri di hadapan pintu. Salsa mengulurkan tangan menyalami suaminya. Kemudian masuk begitu saja. Sang Ibu menyusul ke dalam. Mencecarnya lagi dengan pertanyaan-pertanyaan. Tinggallah Imam sendiri di luar. Mendongak ke atas mengembus napas menepis kesal. Salsa mengambil handuk langsung ke kamar mandi. Imam menyusul masuk kamar mengganti baju koko dan sarung. Mendengar suara guyuran air, diliriknya sekilas pintu ruangan kecil itu. Lelaki itu keluar kembali setelah memakai peci. Hendak ke masjid. Pintu kamar mandi dibuka Salsa perlahan dengan terlebih dahulu melongokkan kepala. Setelah memastikan tidak ada Imam, dirinya menampakkan diri seutuhnya hanya memakai handuk. Berjalan menuju lemari mengambil pakaian lengkap. Memakainya satu persatu. Beres mengenakan baju, gadis itu menggelar sajadah menunaikan solat tiga rakaat dalam balutan mukena. Imam kembali masuk kamar saat Salsa tengah berwirid menggulir tasbih. Telah selesai mengerjakan solat magrib. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Lirih Salsa menjawab. Sudut matanya melihat Imam kini duduk pada tepi ranjang. Dekat di sisinya. "Puas main di luarnya? Sampai lupa waktu, bahkan tidak mengabari suami sendiri." Imam bicara santai. Namun, Salsa menangkap ada gurat kemarahan tertahan di wajahnya saat melihat. "Hape aku mati sejak di kampus." Padahal dia bisa numpang cas saat tiba di asrama, atau pinjam ponsel temannya untuk sekedar mengabari. Tapi, tidak dilakukan. Gadis itu menunduk. "Sebegitu tidak berartinya Aa, ya, Sa?" Salsa cepat menoleh lagi. "Maaf ...." Gantian Imam yang menunduk, memainkan kuku-kuku jari. Dia lelah juga lapar. Saat pulang jam lima sore tadi, istrinya malah tidak ada. Ditambah tidak mengabari sama sekali. Imam tahu gadis itu terpaksa tapi tidak harus begitu juga. Setidaknya dengan memberi kabar dia merasa sedikit dihargai dan jauh dari berburuk sangka. "Aa nyariin kamu ke kampus, tapi gak ada." Salsa bangkit. Ikut duduk di samping Imam. "Aa masih marah?" Lelaki itu menghela napas panjang. "Besok-besok jangan sampai lupa kasih kabar. Biar Aa gak hawatir. Ibu kamu juga." Gadis itu diam. Meremas ujung mukena. Ada rasa bersalah di hati, tapi lebih dominan lagi perasaan terkungkung. Ketukan pintu sedikit menyentakkan keduanya yang jadi membisu. "Sa, ajak Imam makan dulu." "Iya, Bu." Salsa berdiri melepas kain mukena. "Ayo, makan dulu, A. Belum makan kan?" "Aa gak bisa menikmati makan kalau kamunya ngilang gitu aja." Imam lalu beranjak dari tempat tidur. Pergerakan tangan Salsa melipat mukena terhenti. Di tempat makan ada Ma'ruf yang lebih dulu menikmati hidangan di sana. Masitah menuangkan air untuk suaminya. Dia juga menyiapkan piring untuk Imam. Lelaki itu baru saja duduk bersebrangan dengannya. "Biarkan si Salsa yang ambilin, Bu." Masitah yang baru akan menyendokkan nasi tidak jadi. "Biar sama Imam sendiri, Pak." Sinduk nasi diambil Imam. "Sa, layani suamimu. Pergi gak bilang-bilang, pulang ke rumah bukannya melayani suami dengan benar." "Iya, Iya." Salsa merebut cepat sinduk nasi tersebut, yang baru berada di tangan Imam. Tidak tahan mendengar omelan Bapaknya. Menyerahkan sepiring nasi yang telah diambil pada Imam. Salsa juga menambahkan sepotong Ikan Mas dan menguah dengan sayur sup. Terakhir, dia mengambilkan sendok. "Makasi, Sa." "Iya." Salsa menjawab tanpa melihat suaminya. Lalu mengambil makanan untuknya sendiri. Mereka makan dalam diam. "Apa-apa kasih kabar dulu sama suamimu. Jangan se'enaknya sendiri." Salsa menghentikan mengaduk nasi di piring. Kenapa masih dibahas? Gadis itu tak suka. "Pak ... sudah. Salsanya kan sudah ada di rumah." "Biar saja, Bu. Anak itu perlu Bapak kasih tau." Ma'ruf kembali melihat Salsa yang diam menunduk. Di sampingnya Imam mengunyah makanan dengan lambat. "Kamu sudah bisa kuliah, Imam sudah kasih ijin, membiayai, setidaknya sambut saat dia pulang, bukan malah berada di luar tanpa kabar." "Bapak kenapa jadi bawel sih?" Salsa menunda sendok. Beranjak dari kursi lalu pergi. Selera makannya hilang. "Sa!" Masitah melihat makanan Salsa masih ada setengah. "Bapak sih, lagi makan juga." "Biar saja, Bu. Bapak itu malu sama Imam anak kita begitu." "Imam gak apa-apa kok, Pak. Sudah bicara juga dengan Salsa." "Tuh, denger sendiri kan Bapak? Imam sudah tidak mempermasalahkan, tapi Bapak ngungkit-ngungkit terus." "Biar gak ke ulang, Bu. Salsa kudu terus diingatkan." *** Salsa menekuk lutut dalam kamar. Menyeka kasar pipinya yang basah. Tiba-tiba tidak betah dalam rumah orang tuanya sendiri. Kenyamanan di tempat ini pun perlahan terkikis. Selain kagok dengan kehadiran Imam, Bapaknya juga dirasa beda. Semua tak sama semenjak menikah. Pernikahan membuatnya merasa sedikit sulit. Terjebak dalam peraturan-peraturan. Dia belum ingin itu. Imam kembali masuk dalam kamar. Salsa mencoba terlihat baik-baik saja. Meluruskan kaki dan mengambil bantal ke pangkuan. Dia sudah duduk di dekat Salsa. Menyeka jejak air matanya. Tahu perasaan gadis itu yang tidak berkenan ditegur Bapaknya. "Kenapa si, Aa gak nolak aja waktu dijodohin sama aku?" Gerakkan tangan Imam di pipi Salsa terhenti, diturunkan pelan. "Kamu sendiri kenapa gak nolak, Sa?" "Karna gak bisa." "Aa juga." "Aku mau karna ingin bisa kuliah. Bapak bilang aku bisa kuliah asal mau nikah sama Aa Mpi." Sementara Imam bukan karna itu. Dia mau lantaran hawatir dilangkahi adik laki-lakinya. Sudah cukup dilangkahi dua adik perempuan. Sebagai putra pertama tidak ingin menikah terakhir. Menyepakati dijodohkan dengan Salsa, juga karna ... tertarik padanya. "Maafin Aa yang gak bisa nolak." "Aku masih belum dewasa kaya Aa. Masih kekanak-kanakan." Tidak apa-apa terpenting tidak meminta cerai. Imam membatin sendiri. Dia akan mencoba sedikit-sedikit mengikis keras hatinya dengan bersabar terlebih dulu. Tidak akan selamanya gadis itu begitu. "Aa gak akan banyak menuntutmu, Sa. Kamu bebas mau bagaimana pun. Asal, masih ingat Aa." Salsa mendongak padanya. Lelaki itu tersenyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN