Salah Sasaran

1693 Kata
"Kak Al titip salam buat cewek berkerudung biru." Salsa ingat apa yang dikatakan Liana. Yang memakai hijab biru adalah dirinya. Rahma bewarna merah dan Alifa hitam. Dua temannya itu menatap syok ke arahnya, sontak tak percaya. Dia sendiri juga. Gadis itu menggeleng sambil tersenyum kecil. Kemudian tertunduk pada buku. "Kenapa, Sa?" Imam rupanya memperhatikan dari tepi tempat tidur. Dia melihat istrinya yang sudah melamun. Salsa menoleh ke samping sekilas. "Gak apa-apa kok." Suaminya menggeser duduk. Imam kini ada di dekatnya. Meja belajar itu tidak terlalu jauh dari ranjang. "Maaf, ya, hari ini Aa telat jemput." Salsa menoleh lagi. Itu ucapan maaf Imam ke dua kali setelah siang tadi tidak diresponnya. Wajah Salsa cemberut saat Imam datang menjemput. Menghentakkan kaki kesal saat memasuki rumah. Imam cukup menjengkelkan. Di WA centang satu, di telepon pun tidak diangkat. Albyan mengetahui saat Salsa mematung di luar gerbang, meliriknya. Terus melaju karna dia membawa boncengan teman laki-laki. Diikuti beberapa motor besar lain di belakang. Salsa menunduk menekan-nekan kembali layar ponsel ketika itu. "Kamu marah, ya, Sa?" "Cuma kesel. Paling gak suka nunggu." "Aa sedang menyervis motor, terus hape A juga mati lagi dicass. Besok A usahain gak akan telat lagi." "Besok aku bawa motor sendiri aja. Biar gak usah antar jemput. Aa Mpi kan sibuk. Fokus aja di bengkel." Salsa larut kembali pada buku-buku dengan wajah sedikit ketus. "Yaudah ...." Imam merebahkan diri. Melupakan sejenak kekesalan Salsa. "Sa ...." Dia melirik memanggil istrinya lagi. "Hmm." Salsa tidak berpaling dari buku yang dibaca. Membuka lembar halaman lain. "Kamu belum ngantuk?" tatapan Imam tertuju pada langit-langit. "Belum." "Di sini aja bacanya, Sa. Deket Aa." Pandangan keduanya bertemu. Mata Imam sayu karna kantuk dan lelah. Tapi, dia ingin ditemani Salsa. Laki-laki itu menguap menutup mulut. "Aa gak bakal ngapa-ngain kok. Aa udah ngantuk. Mau tidur tapi pengen deket Salsa." Gadis itu masih diam saja. "Sini, Sayang." Salsa merona dipanggil begitu dengan tatapan lembut dan senyuman lelah Imam. Dia berpaling, lagi-lagi pada buku. Kemudian ditutup dan diletakkan. Gadis itu beranjak dari kursi. Senyum Imam terurai lagi melihat istrinya mendekat. Salsa duduk di tepi kasur memunggunginya. "Kok di situ? Naik sini, di samping Aa." Salsa menoleh ke belakang lalu beranjak naik perlahan, duduk tepat di samping suaminya. Menekuk lutut diam. Hal itu sudah biasa baginya saat tidak tahu harus apa. "Gak dibawa bukunya?" Imam mendongak pada wajah sang istri yang tidak jauh di atasnya. Seperti biasa, mereka hanya tersekat guling. "Gak, ah. Udah malem." "Kita tidur, ya." "Tapi, belum ngantuk." "Yaudah Aa tidur duluan kalau gitu. Gak apa-apa kan?" Imam menguap lagi. Salsa melihatnya. "Tidur aja, A." Mata Imam dipejam. Pandangan Salsa lurus. Diam-diam merasa lega setiap malamnya dia masih terjaga dari jamahan lelaki itu. Meski selalu diawali cemas dan was-was ketika berada di dekatnya. Imam sedikit membuka mata, melirik Salsa, kemudian memejam lagi. Gadis itu terperanjat saat jari-jarinya yang tertaut di lutut diraih Imam. "Aa?" Salsa sedikit takut. "Sst, diem, Sa. Cuma pegang tangan kamu aja kok. Mudah-mudahan dengan begini bisa menghilangkan capek Aa. Biar Aa cepet pulas juga." Mata imam masih memejam. Sebelah tangan Salsa yang digenggam di taruh di dadanya. Ramainya pengunjung di bengkel cukup menguras tenaga. Lelaki itu sebenarnya ingin dipijat bagian tubuhnya yang pegal. Tapi, takut Salsa tidak berkenan. Jadi, seperti itulah yang dia lakukan. Salsa diam. Dia mengerti maksud ucapan suaminya. Tapi ... enggan. Tahu Imam capek. Gadis itu keberatan menawarkan diri. Lama-lama Salsa ikut merebahkan diri juga. Tangannya dilepas perlahan dari Imam. Sekarang lelaki itu nampak pulas. Napasnya terdengar teratur. Guling di tengah-tengah mereka Salsa ambil, didekap setelah memunggungi Imam. Belum lama mata gadis itu terpejam terbuka lagi lebar saat merasakan tubuhnya dipeluk. "Aa, ih!" Salsa langsung beranjak duduk menyingkirkan dengan kencang sebelah kaki yang menindihnya. Juga melepas tangan yang melilit di perut. Imam tersentak ikut bangun dengan mata yang memerah sedang kantuk-kantuknya. "Kenapa, Sa?" "Jangan peluk aku." "Aa cuma peluk guling." "Tapi, Aa meluk aku tadi." Imam melihat guling itu ada di samping Salsa. "Suruh siapa gulingnya diambil? Kan jadi kamu yang kena." "Ish." Salsa menaruh asal guling itu ke tengah-tengah lagi. Dia tidur kembali dengan posisi masih membelakangi Imam. Laki-laki itu menyusul merebahkan diri. Memejam dan tersenyum. *** "Bu, Ibuu!" "Ada apa, Sa? Teriak segala." "Motor Salsa ke mana? Kok gak ada." Jari telunjuk Salsa mengarah keluar. "Salsa mau berangkat kuliah. Mau bawa motor sendiri." Masitah melongok ke luar pintu. Di halaman hanya ada motor suami dan Bapaknya. "Tadi ada Faizal, pinjam motor." Ma'ruf datang dari arah dapur memberi tahu. "Kenapa gak dikasih pinjem punya Bapak sih? Kenapa harus motor matic Salsa?" "Kenapa memangnya, Sa? Jangan pelit sama sodara apalagi sama Kakakmu." Ma'ruf duduk dengan santai. Menikmati kopi dalam cangkir yang dibawanya. "Bukan begitu, Bapaak. Salsa mau berangkat kuliah dengan motor itu." "Kan ada Imam. Bisa diantar dia. Biasanya juga sama suamimu." Salsa berdecak. Bapaknya sengaja meminjamkan motornya pada Faisal. Supaya dia berangkat bersama Imam lagi. "Salsa tuh mau berangkat sendiri. Gak mau dianter jemput terus." "Sudah. Sekarang berangkat sama Imam dari pada kamu kesiangan." Ma'ruf meletakkan cangkirnya melihat Imam ke luar kamar sudah rapi. "Tuh, Imam juga mau berangkat." Masitah dan Salsa melihat padanya. "Mam, antar Salsa dulu, ya." "Iya, Pak." Dia melirik Salsa. "Ayo, Sa." ajaknya. Laki-laki itu keluar duluan setelah menyalami kedua orang tua Salsa. Gadis itu terpaksa mengikutinya. "Eh, salim dulu, Nak." Masitah menahan langkah Salsa hingga berbalik lagi untuk sekedar cium tangan. Gadis itu jengkel mau buru-buru pergi saja. Senyum Ma'ruf tampak menyebalkan saat dia menyalaminya. Semua ini memang ingin Bapaknya. "Assalamualaikum!" ucap Salsa ketus melewati pintu. Dijawab orang tuanya seraya menggelengkan kepala. Imam memakai helem, naik ke motor menghidupkan mesin. Salsa duduk menyamping di belakang. "Kok helemnya gak dipake, Sa?" Imam mengetahui dari spion. Salsa memegang helem itu dipangkuannya. "Males, ah." "Pake, Sa. Terus duduknya jangan nyamping begitu." "Aa nyebelin deh sama kayak Bapak." Imam kecipratan diomeli. Lelaki itu menghela napas sejenak. "Ke kampus dari sini lumayan jauh, Sa. Terus lewat jalan raya juga." Salsa tetap diam. "Yaudah, terserah deh." Imam menjalankan motor. "Aduu, lambat banget sih A bawa motornya? Lama nyampenya bisa telat." Setelah beberapa menit perjalanan Salsa protes. "Aa takut kamu jatuh, Sa." "Yaudah, stop, stop." "Loh, kenapa?" "Mau pake helem sama ganti posisi duduk." Iman menepi. Salsa turun memakai helem lalu naik lagi mengubah posisi menghadap depan. "Udah, jalan lagi." Motor melaju cepat. Salsa terkesiap lantas memeluk Imam. "Aa mah suka begitu deh!" Dicubit-cubitnya pinggang suaminya. Imam jadi sedikit tidak diam. "Aw! Biar cepet, Saa!" "Sengaja emang." Dibalas kekehan Imam. Saat sampai kampus posisi Salsa masih deketan dengan suaminya itu. Tangannya menyusup ke kantong jaket Imam. "Salsa!" Salsa segera mundur saat seseorang meneriaki namanya. Gadis itu melongo melihat Liana berada diboncengan Albyan. Melambaikan tangan dan melewati memasuki gerbang. Bibir Salsa lalu merapat saat saling tatap dengan kakak tingkat itu dari balik helem masing-masing. Kemudian dia berpaling. Albyan pun berlalu bersama Liana. "Turun. Malah diem lagi. Atau, mau ikut Aa aja ke bengkel?" "Nggak." Salsa bergegas turun membuka helem. Diserahkannya penutup kepala itu pada Imam. Gadis itu langsung pergi tanpa mengucap terimakasih atau salam. "Sa!" Panggilan Imam tidak dihiraukan terus berjalan cepat. Laki-laki itu menelengkan kepala melihat langkah Salsa yang tergesa. Memutar arah setelah menunda helem milik sang istri di depan motor. Salsa bertanya-tanya sendiri dalam hati melihat Liana datang bersama Albyan. Gadis berhijab gaul itu siapanya? "Salsa!" Baru saja dipikirkan, orang tersebut seketika menyapa. Menghentikan langkah Salsa. "Eh, Liana." Yang mengejutkan, di samping gadis bercelana kulot longgar itu ada Albyan. "Tadi dianterin siapa? Kakak kamu, ya?" "Ituu ...." "Iya, tau. Gak usah dijawab. Oh, ya, Sa. Kak Al mau kenalan nih sama kamu." "Hah?" "Hai, Sa." Albyan mengulurkan tangan tidak menghiraukan keterkejutan Salsa. "Kita emang udah ketemu sewaktu ospek. Boleh dong kenalan lagi." Dia tersenyum. Albyan salah satu Kakak pembina Salsa. Gadis itu masih mematung. Tangan yang terulur hanya ditatapnya. Di saat bersamaan, Rahma dan Alifa mengetahui. Mereka berbisik-bisik dari kejauhan. "Udah, terima aja, Sa." Liana meraih tangan Salsa mendekatkan ke tangan Albyan. Laki-laki itu menjabatnya. Sontak Salsa membelalak. Dua temannya yang sedang memperhatikan bereaksi sama. Mereka seperti gemas saling bertaut tangan sama lain. Kesempatan itu tidak pernah menghampiri pada mereka. Boro-boro kenalan. Menyapa pun tidak berani, hanya mengagumi dari kejauhan. Salsa menarik tangannya lagi melirik Liana yang tersenyum. Temannya sudah membuat dia malu dan jantungan. "Salsabila Putri kan nama lengkapnya?" tanya pemuda tampan itu. "Iya." "Satu Fakultas sama Liana?" Salsa mengangguk. "Kak Al tau dari Liana, ya?" "Liana itu adik sepupuku, Sa." Mulut Salsa sedikit membuka. "Oh ...." Mengatup rapat kembali setelah dilihat Albyan. Pantas. "Begitu rupanya." "Iya, Saa." Liana yang menyahut. Albyan terus memperhatikan Salsa. Kepalanya sedikit miring meniti penampilan tertutup sang dara. Tersenyum manis saat Salsa tertuju padanya. Gadis itu sedikit gelagapan dan berpaling. Muncul debar halus di d**a juga malu. Dia belum pernah diajak kenalan terang-terangan, berhadap-hadapan, serta bersentuhan tangan dengan laki-laki seperti Albyan. Di pondok meski ada putra-putra kiyai yang sama rupawan atau santri laki-laki, jarang Salsa lihat dan jauh. Tapi, di kampus ini ... berkeliaran bebas. Bahkan, menghampirinya. "Al! Sini, woy!" Albyan menoleh ke samping, pada beberapa teman laki-laki dan perempuan yang duduk berkumpul. Salah satu dari mereka sudah berseru memanggil. Lalu melirik lagi pada Salsa. "Pergi dulu, ya, Sa." Pamit dengan suara lembut. Salsa mengangguk kaku sembari melihatnya berlalu. Di dekat temannya Albyan disoraki, sudah bersama cewek junior. Mereka membicarakan sesuatu, entah apa lalu tertawa. "Duh, perutku tiba-tiba mules lagi." Liana meringis memegangi perutnya. "Aku duluan deh, Sa, mau ke toilet." Gadis itu pergi. Salsa sendiri hendak pergi. Namun, dihadang Rahma dan Alifa. "Tunggu, Sa. Bareng," seru Rahma menyentuh bahunya. Mereka sudah berlari kecil menghampiri. Ketiganya berjalan bersisian. "Kami tadi liat, kamu diajak kenalan sama Kak Albyan." "Gak nyangka tau, dia ngajak kamu kenalan, Sa." Salsa tersenyum tipis. Ternyata dua temannya melihat adegan itu. "Wajar sih, kamu lebih cantik dari kita. Ya, gak, Fa?" "Iya. Orang seperti Kak Albyan jadi tertarik." "Tapi, Kak Albyan salah sasaran. Salsa kan istri orang." Deg! Langkah Salsa terhenti. Baru saja dia melambung dengan pujian teman, merasa paling beruntung. Harus terhempas lagi. "Bener, tuh, Ma. Kalau sama kita sih, gapapa yaa. Hihi." Mereka terkikik melangkah bersama. Sedangkan jalan Salsa melambat hingga tertinggal di belakang. Terpaku pada kata 'istri orang'. Dia seperti merasa diejek. Dia tidak berhak. Salsa Tidak senang menyadari dirinya sudah terikat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN