Salsa baru menyadari semua. Dia meremas tepi meja di belakang. Napasnya memburu karena takut, berbeda dengan Imam diliputi hawa naffsu. Wajah laki-laki itu dekat sekali dengan wajahnya.
"Aku pake baju dulu." Salsa menyingkir. Membuka lemari meraih pakaian lengkap. "Aa mau makan? Aku temani."
"Mau makan kamu." Ingin Imam menjawab itu, tapi bungkam. Ingin memeluk. Dia menunduk memejam. Mengepalkan tangan. Lalu pergi ke kamar mandi dengan langkah cepat. Menutup pintu cukup kencang, sedikit mengagetkan Salsa.
***
Salsa menceritakan kabar membahagiakan itu pada kedua orang tuanya. Dia sampaikan dengan semangat membara.
"Syukurlah kamu sudah diterima, Sa. Ibu ikut seneng. Kamu bisa menggapai impian kamu."
"Iya, Bu. Salsa seneng banget akhirnya akan jadi mahasiswa. Udah lama loh, Salsa nunggu."
"Belajar yang bener pokoknya."
"Pasti dong."
Imam menyuapkan sendok nasi ke mulut diiringi senyum. Melihat Salsa sebahagia itu, dia ikut merasakannya juga.
"Nanti berangkat ke kampusnya bisa diantar jemput Imam." Ma'ruf menimpali setelah meneguk minum. Di saat semua tersenyum senang hanya dia yang biasa-biasa saja. "Kamu tidak keberatan kan, Mam? Pergi sama mahramnya kan lebih enak."
"Bisa, Pak."
"Salsa bisa bawa motor sendiri kok."
Entah mengapa mendapat penolakan Salsa hati Imam sedikit tercubit. Dia diam sedikit menunduk.
"Imam kan suami kamu lebih pantas berangkat sama dia."
Salsa mendengus kecil. Diliriknya suaminya itu. "Salsa gak mau ngerepotin Aa Mpi. Begitu maksudnya, Paak. Aa Mpi kan harus kerja."
Imam balas menatapnya, dia tidak keberatan sama sekali. Justru senang menemani perjalanan Salsa menimba ilmu dari pada membiarkannya sendiri.
"Untuk awal-awal kamu diantar Imam saja, Sa. Nanti ke sananya bisa berangkat sendiri." Masitah ikut berpartisipasi.
"Salsa tuh bukan anak kecil gak perlu dianter. Salsa hapal kok jalan ke kampus itu."
"Kamu bepergian harus atas ijin suamimu. Imam jelas-jelas tidak keberatan buat anter kamu."
"Gak apa-apa kan A, aku bawa motor sendiri?" Salsa langsung meminta ijin pada suaminya dari pada merespon ucapan Ma'ruf yang kontra kepadanya.
"Iya, boleh."
"Tuh, Aa Mpi juga ngijinin. Berarti gak masalahkan Salsa berangkat sendiri?" Gadis itu menyuapkan nasi setelah berkata dengan entengnya. Tanpa mempedulikan reaksi orang tuanya yang saling melirik dalam diam. Lalu tertuju pada Imam yang menunduk dalam sama menyuapkan makanan.
***
Masa ospek dengan beragam kegiatan sudah Salsa lalui setelah memasuki kampus. Kini dia resmi jadi mahasiswa baru yang siap mengikuti setiap mata pelajaran. Sesuai jurusan yang diambilnya di fakultas ekonomi.
Salsa berangkat bersama Imam. Seperti kata Ibunya awal-awal kuliah diantar suami dulu, Bapaknya menyepakati itu. Mau tidak mau Salsa menjalani dari semenjak ospek.
Imam menghentikan motor di depan gerbang universitas. Salsa turun tidak mempedulikannya yang menatap gedung tempatnya akan belajar. Gadis itu membuka helem.
"Besok-besok gak usah dianterin deh. Aa langsung ke bengkel aja. Dari pada harus ke sini dulu."
Dari pemandangan bangunan bertingkat itu Imam beralih pada Salsa.
"Aku akan bawa motor sendiri." Helem di tangan Salsa diserahkan padanya. "Jadi, gak usah antar jemput. Aa Mpi kayak tukang ojek kan jadinya kalo begitu."
Imam tersenyum mendengar itu. "Gak apa-apa jadi tukang ojek istri sendiri mah." Direspon Salsa dengan sedikit mengerucutkan bibir.
Gadis itu tampak menawan dengan stelan pakaian muslimahnya bewarna biru muda. Cerah. Kontras dengan wajahnya. "Yaudah, aku ke dalam dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Salsa berbalik.
"Sa."
Gadis itu memutar kembali menghadap Imam. "Ya?"
"Gak mau salim dulu?" tanya laki-laki itu penuh harap. Tangannya diulurkan. Selama mengantar ke tempat ini belum pernah istrinya cium tangan padanya. Di hari pertama Salsa belajar Imam ingin dia melakukan ritual itu dulu. Dia memberanikan diri menawarkan duluan karena gadis itu tak kunjung mengerti.
Salsa menerima uluran tangannya sedikit canggung. Hati Imam berbunga-bunga keinginannya dituruti, dia pikir gadis itu akan menolak. "Yaudah, aku pergi."
"Iya, Sa." Senyum terus mengiringi kepergian sang istri.
Tanpa mereka ketahui. Ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasi. Sosok di atas motor besar itu tertuju pada Imam setelah puas melihat kepergian Salsa.
Imam menutup kaca helem yang dipakainya. Menghidupkan mesin dan mengemudikan motor kembali di jalan. Sepasang mata tadi melihat kepergiannya. Orang itu lalu masuk area kampus meninggalkan dua temannya yang tengah mengobrol seru. Sesekali menggoda mahasiwi yang datang dengan bersiul.
"Sa!" Seorang gadis berhijab cream menghampiri Salsa. Menepuk bahunya sedikit mengejutkan.
"Liana? Duh, ngagetin."
"Hehe. Maaf." Liana sama-sama mahasiswa baru seperti Salsa. Mereka dari sekolah berbeda, tapi di fakultas yang sama dan sekelas. Akrab ketika masa ospek.
Keduanya berjalan kembali setelah terhenti. "Akhirnya kita bisa memulai belajar setelah melewati masa ospek yang merepotkan."
"Iya, Li." Salsa menimpali. Dia ingat Ibu dan suaminya ikut mempersiapkan di rumah setiap ada tugas. Membuat topi, papan nama, dan lain-lain. Sekarang masa itu sudah berakhir. Dia bisa mengenakan pakaian bebas bukan putih-hitam lagi seperti pada saat ospek.
Dua gadis lain yang sama berhijab berdiri dari kursi saat Salsa lewat di koridor. Keduanya berhenti mengobrol setelah saling sikut. "Salsa!" seru mereka melambaikan tangan padanya.
"Rahma, Alifa?"
"Sini!"
Salsa menoleh pada Liana. "Ayo ke sana. Mereka temenku." Gadis itu mengikuti langkahnya menemui Rahma dan Alifa.
"Salsaa. Akhirnya kita akan sering ketemu lagi di sini." Alifa memeluk Salsa. "Seneng deh."
"Aku juga, Fa." Pelukan keduanya terlepas. Salsa gantian memeluk Rahma.
"Gimana nih, udah isi belum?" Pertanyaan Rahma menyurutkan senyum Salsa.
"Gak usah bahas itu deh, ya."
"Isi? Isi apaan?" tanya Liana. Dia belum tahu Salsa sudah menikah. Sementara Rahma dan Alifa tahu karna datang ke resepsi. Di sini mereka kakak tingkat setahun lebih dulu. Mereka teman Salsa sewaktu di asrama pondok pesantren.
"Oh, ya. Rahma, Alifa, kenalin ini Liana temen satu jurusan denganku." Salsa lebih memilih mengenalkan ketimbang menjawab pertanyaan gadis itu. Dia risih sudah ditanya perihal apakah sudah hamil atau belum oleh Rahma.
"Aku Rahma."
"Aku Alifa."
Mereka saling berjabat tangan dengan Liana seraya tersenyum. Gadis itu sama menyebutkan nama juga.
"Kita semua berteman, ya." Ketiganya mengangguk sepakat merespon Salsa. "Ayo!" Para dara itu pergi bersama-sama sambil berbincang ringan. Sesekali tertawa kecil saat membicarakan hal seru.
Mereka tidak tahu ada yang memperhatikan dari kejauhan. Sosok itu lebih banyak tertuju pada Salsa. Dia yang sedari di luar melihatnya.
***
"Untuk apa si Salsa kuliah?" Rasidah bertanya seraya menatap putranya yang sedang makan. Imam biasa pulang ke kediaman orang tuanya saat merasakan lapar menjelang siang. Tinggal jalan kaki ke belakang dari bengkel.
"Belajar lah, Bu." Tanpa melihat pada Ibunya Imam menjawab.
"Maksud Ibu dia kan sudah menikah. Istri itu paling ujung-ujungnya ya diem di rumah, melayani suami, mengurus anak. Kayak Ibu nih. Sayangkan itu ijazah sarjananya nanti dianggurin."
Imam tersenyum mendapati pemikiran kolot sang Ibu. "Ya bagus, Bu. Anak-anakku nanti bisa dididik oleh seorang Ibu berpendidikan dan berwawasan luas." Meski itu belum yakin terjadi Imam senang mengatakannya. Setidaknya ada perasaan Ibunya yang terjaga.
"Yang biayain siapa, kamu Mam?"
"Iya. Tidak semua dari Imam sih. Bapak Salsa ikut membantu."
"Padahal, kata Ibu buat apa dia kuliah. Kamu juga gak kuliah."
"Salsa kan punya cita-cita tersendiri, Bu. Apa Ibu gak bangga menantunya bergelar sarjana?"
"Gak terlalu penting buat ibu. Justu Ibu hawatir kegiatannya itu jadi melalaikan kamu, Mam."
"Insya'allah enggak bakal." Dalam hati Imam sebenarnya ada rasa ragu. Tapi, dia mencoba berpikiran posisif.
"Bener-bener sayang kalo kata Ibu mah. Kecuali si Salsa mau jadi wanita karir. Tapi, dia gak harus begitu. Toh, nafkah dari kamu cukup kan?"
"Imam akan terus mengusahakan buat Salsa supaya tercukupi. Salsa itu selain menuntut ilmu juga cari pengalaman. Bagaimana pun dia masih terlalu muda. Beda dengan Imam."
Rasidah tidak bicara lagi membiarkan Imam fokus menghabiskan sisa makanan. Gelas kosongnya dia isi lagi dari teko plastik.
"Makasi, Bu."
Rasidah menatapnya lagi. "Harusnya kamu ditemani Salsa. Dijamu dia."
"Gak apa-apa kok. Kalo Ibu gak mau nemenin Imam, Imam bisa makan sendiri atau beli di luar."
"Apaan kamu, Mam. Mana bisa Ibu ngebiarin kamu begitu aja."
Imam tersenyum kemudian meneguk minum.
***
Mata kuliah terakhir telah selesai. Salsa lebih dulu keluar ruangan meninggalkan Liana yang diajak berbincang dua gadis tidak berhijab.
Di halaman dia bertemu lagi dengan Rahma dan Alifa yang sama akan pulang.
"Udah selesai, Sa?"
"Udah, Fa."
"Pulang dijemput siapa, Sa. Bawa motor sendiri atau gak?" tanya Rahma.
"Biasa juga dijemput suaminya kan?" sambung Alifa.
Salsa mengangguk. Tapi, dia belum mengabari Imam. Ponsel dalam tasnya di keluarkan. Berniat memberi tahu Imam dia sudah pulang.
"Eh, Fa, liat!"
"Apa?"
"Itu Kating kita."
"Ah, iyaa."
Kating? Salsa mengeryit merasa asing mendengar satu kosa kata itu. "Kating apaan?" Dia tetap melanjutkan mengetik pesan untuk dikirim pada Imam.
"Kakak tingkat, Sa ... ya ampun, gitu aja gak tau. Dasar kudet."
"Emangnya kenapa si?" Salsa menatap pada kedua sahabatnya. Mereka tengah terkesima.
"Tuuh, ada Songjong Ki KW." Tubuh Salsa dibalikkan Rahma menghadap depan. "Itu Kakak tingkat kita. Albyan Mahesa."
"Aku gak lupa tahun kemaren sewaktu ospek di bimbing dia."
"Iya, Fa. Aku juga masih ingat. Orangnya baik ya."
"Iya, Ma. Ganteng pula. Masya'allah deh."
"Sebelas dua belaslah sama Songjong Ki kata aku juga." Rahma menyamakan lagi dengan sosok artis populer Korea.
Salsa tertegun. Tidak dipedulikan celotehan dan kekaguman mereka melihat lawan jenis di depan. Pemuda itu memang tampan sekali. Hatinya mengakui. Tidak heran jika dikelilingi teman-teman. Baik Laki-laki mau pun perempuan.
Liana ada di sana. Tampak mengobrol akrab dengan Kakak tingkat itu. Salsa heran dibuatnya.
"Dia itu salah satu Kating populer di sini." Rahma berujar lagi.
"Iya, orang kayak dia mah sudah pasti banyak yang suka." Alifa menimpali. Pandangan keduanya masih berbinar pada sosok itu. Mereka sejenak abai untuk gadhul bashar.
"Itu kan temenmu, Sa? Kok bisa akrab yah dengan para Kating di sana?" Rahma menyikut lengan Salsa. Gadis itu mengedikkan bahu tak tahu.
Liana menoleh ke arah mereka dan melambaikan tangan. Albyan ikut terarah pada ketiganya. Entah dia berbicara apa dengan Liana. Gadis itu mengangguk. Kemudian pergi menghampiri Salsa, Rahma, dan Alifa.
"Hai."
"Li, kirain masih di kelas."
"Gak kok, Sa. Begitu kamu keluar aku langsung nyusul."
"Kok kamu bisa sama Kak Albyan sih, Li?" tanya Alifa tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran.
"Emangnya kenapa, gak ada salahnya kan akrab sama Kakak tingkat kita?" Jawaban gadis itu masih kurang memuaskan. Dirasa janggal. Jarang ada mahasiswa baru mau mendekati Kakak tingkat mereka. Apalagi cukup populer. Pasti malu-malu dan tidak berani.
Apa yang diucapkan Liana selanjutnya mampu membuat ketiga dara itu terkejut mendengarnya. Terutama Salsa, matanya membelalak, lalu meniti penampilan sendiri.
"Kak Al titip salam buat cewek berkerudung biru."