Kanaya terus menekuk wajahnya. Satu jam sudah Kanaya buang waktunya sia-sia. Hanya untuk menunggu Romi, kakaknya. Sebenarnya Kanaya sendiri paling tidak suka menunggu. Tapi Lilis terus meminta Kanaya untuk sabar menunggu Romi. Satu jam lebih akhirnya orang yang ditunggu muncul juga. Senyum yang biasanya selalu menghiasi wajah cantik Kanaya seakan musnah tertutup rasa kesalnya. Senyum yang biasanya manis berubah menjadi rasa asam. “Kak Romi teh ngapain aja sih? Mandi aja lama banget! Ngalah-ngalahin perempuan saja! Kay yang perempuan mandinya teh gak selama itu!” Kanaya terus menekuk wajahnya. “Ya mandi lah! Mandi teh harus bersih, jangan asal-asalan! Lagian kamu teh ikhlas gak sih ajak Kakak ke pabrik? Kalau gak, Kakak kembali ke kamar aja ini! Dari pada Kakak ikut, mulut kamu teh nyero

