BAB 13 : PANGGILAN BARU

1619 Kata
Nada bangun lebih dulu, sudah menjadi kebiasaannya untuk bangun di saat langit masih gelap, bermaksud untuk segera bangun untuk menunaikan ibadah sholat subuh. Saat netranya sudah benar-benar bangun, ia di suguhkan dengan pemandangan indah pagi itu. Galeo terlihat sangat melindungi Aira agar bayi mungil itu tidak jatuh, bahkan Nada tidak merasakan bila Galeo tidak lagi tidur disampingnya melainkan tidur di sofa dengan posisi menyandarkan tubuhnya pada badan sofa sembari memangku Aira yang tertidur lelap pada dekapannya. Senyum Nada menguar melihat Ayah dan Anak posisi tidurnya hampir sama persis, mulut cemberut lucu. Kasihan melihat posisi tidur Galeo yang bila nanti bangun ia yakin tubuhnya akan merasakan pegal-pegal. BangAbang? panggil Nada dengan suara sepelan mungkin Bang Galeo? Nada masih mencoba membangunkan Galeo tanpa menyiptakan suara keras sehingga membuat keduanya kaget Ehmm gumam Galeo dengan menggubah posisi tidurnya Ayo pindah ke kasur, ajak Nada masih dengan suara lembut Nada baru tahu bila suami tampannya itu amat sangat susah di bangunkan, jam masih menunjukkan setengah lima, masih ada waktu untuk membangunkan Galeo agar bisa ia ajak untuk sholat berjamaah. Sepertinya Nada memang harus mengambil Aira terlebih dahulu sebelum kembali membangunkan Galeo untuk bangun. Pelan-pelan Nada membawa Aira lepas dari dekapan sang Papa, Aira itu adalah tipe bayi yang di ganggu tidurnya akan meringik kesal, apalagi saat tidurnya nyaman dengan sang Ayah, Nada saja terasa seperti di lupakan, tapi syukurlah ikatan Aira dan Galeo terjalin erat. Meski ada gerakan kecil Nada segera kembali mengelus kepala Aira yang masih kecil itu dengan usapan lembut, sungguh suaminya itu juga tak segera sadar padahal saja Aira terenggut dari dekapan, sepertinya Galeo benar-benar terasa lelah. Dengan hati-hati Nada meletakan Aira pada box bayinya, Nada sengaja menyiptakan gerakan sehalus mungkin agar Aira tak merasa banyak guncangan yang kemudian membuat suara ringikan ala Aira akan mengudara. ΩΩΩ Selesai dengan Aira, yang notabandnya adalah anak sambungnya itu, setelah itu Nada kembali membangunkan Galeo, bila ia tak bisa juga membangunkan Galeo ia menyerah dan memilih untuk segera melaksanakan sholat sendiri. “Bang, Bang Galeo, bangun,” Nada membangunkan dengan suara lirih tepat di telinganya Udah masuk waktu subuh loh, Bang. Ehmm pelan namun pasti mata itu mengedip-ngedipkan matanya untuk membiasakan penglihatannya Jam berapa? Tanya Galeo dengan suara serak khas bangun tidur Hampir jam lima subuh, ayo bangun kita sholat barengan. ajak Nada Loh Aira mana? Galeo tersadar bahwa putrinya tak lagi dalam dekapannya Itu Nada menunjukkan box tidur Aira Tumben nggak nangis Aira. Yang ngangkat dia kan pake perasaan sih, ujar Nada dengan berlalu kekamar mandi ΩΩΩ Pagi itu menjadi pagi pertama untuk sepasang pengantin baru dalam menjalankan ibadah bersama, subuh pertama untuk Nada dan juga Galeo melakukan sholat subuh bersama dengan Galeo yang menjadi imam Nada sedangkan Nada menjadi makmum Galeo, indah bukan pemandangan pagi itu hanya saja perasaan mereka masih terasa terombang-ambing tak tentu arah. Selesai dengan ibadah subuh, Galeo kembali memimpin sebuah doa, meskipun Galeo masih asing dengan kehidupan baru yang awalnya menikah, kemudian kehilangan mendiang istrinya dan kembali menikah dengan perempuan yang memiliki satu darah dengan mendiang istrinya, Galeo tetap menghormati Nada sebagai istrinya, Nada miliki hak yang sama seperti Nadi dulu. Hanya saja Galeo tak ingin memberikan banyak pengharapan pada Nada saat ini mungin seiring berjalannya waktu. Bukannya cinta datang karena terbiasa, apalagi melihat sikap Nada yang menjadi sosok penyayang, tak sulit membuat Galeo jatuh hati pada istrinya. Nada juga tak kalah cantik dengan Nadi, hanya saja dulu orang-orang ketika mereka masih merasakan bangku sekolah mereka semua terlalu terpak pada sosok Nadi yang cantik dan populer dan mereka juga melupakan Nada yang tak kalah cantik. Galeo mengulurkan tangannya keatas kepala Nada, Galeo membacakan beberapa doa suami-istri, tanpa Galeo tahu hati Nada begitu berbunga ternyata ketakutannya tak terbukti melihat tingkah Galeo yang perlahan menerima keadaan mereka. Nada pun menyadari bahwa pernikahan ini pasti membuat Galeo merasa aneh, namun sebuah keyakinan bahwa Galeo pasti akan ada saatnya melihatnya dengan tatapan cinta. Setelah mencium punggung tangan Galeo, keduanya melihat sajadah yang baru saja mereka buat alas ibadah. Bang Galeo mau aku bikinin apa? “Teh hangat saja, saya mau jogging dulu sebentar. Oh okeemm sarapannya mau apa? Apapun yang kamu masak saya nikmati, Nada. Balas Galeo dengan senyum sumringahnya Baiklah, aku kebawah dulu Bang, Nada? panggil Galeo dengan menahan lengan Nada Ya? Jangan panggil Abang lagi. Pinta Galeo dengan tatapan menolak Terus aku harus panggil Abang apa? Kalo panggil Mas aja gimana? Kamu keberatan? tanya Galeo dengan tanpa sadar menggaruk kepalanya tak gatal Nggak sama sekali, cengir Nada dengan senyum merekah senang emmkalo gitu, aku kebawah dulu ya, M—Mas.” Galeo mengangguk canggung. “Iya.” ΩΩΩ Pagi ini juga menjadi, pagi pertama Nada menyiapkan sajian sarapan untuk sang suami, ya suami—baru kemarin ia dan Galeo bertukar sapa seperti orang canggung sekarang ia malah menjadi istrinya, meski kenyataannya ia menjadi istri sambung bagi Aira ia sudah cukup bahagia apalagi ia akan selalu dekat dengan keponakaan cantiknya yang sekarang menjadi anaknya. Dengan di bantu dengan beberapa pembantu di rumah orangtuanya, Nada mulai menyiapkan untuk orang rumah semua, berhubung beberapa keluarga dari Mamanya masih menginap di rumah, Nada membuat menu makanan melebihi dari biasanya. Duhpagi-pagi pengantin baru udah berkutat aja di dapur, Ledek Mila pada Nada yang sedang asik mencuci sayur Mama! Kenapa sih? kekeh Mila setelah mendapat balasan malu-malu Nada Jadi gimana malam pertamanya, sukses? lagi, Mila masih menggoda Nada Sukses besar dong Ma, apa nggak tahu semalam tangisan Aira luar biasa membuat Bunda sama Papanya begadang. Polos Nada berganti membuat Mila kesal dengan jawabannya Penonton kecewajadi hari ini kita masak apa? Masak banyak yang pasti. Ujar Nada cepat Oke! setuju Mila Mbok udah masak Air? Soalnya pasukan makan pagi ini rame banget. Sudah Bu, sudah beres semua soal minuman pagi ini, tinggal masak sajanasi sudah masak. Mbok Sarinah menjelaskan Bagus dehpara monster kalo pagi suka rese, bisik Mila dengan menjalankan tangannya membantu Nada Dian nanti belanja ke supermarket ya, catatannya nanti saya tuliskan dulu. Pesan Mila Siap, Bu. ΩΩΩ “Nanti nganterin Mami kebandara kan Mas?” tanya Nada saat memakaikan baju pada Aira “Iya, kenapa? Kamu ada tugas?” tanya balik Galeo “Enggak cuman nanya kok, lagian aku kan udah ijin cuti.” Galeo mengangguk “Aira kita ajak ya, Nad. Mami tadi pesen mau ketemu cucunya sebelum balik ke Surabaya. Iya Mas, ini makanya aku gantiin gaun yang cantik. Nada membalas Galeo dengan perhatian masih terfokus pada Aira Nah Aira udah cantik, gantian Bunda yang mandi ya Sayang, Aira sama Papa dulu. Oceh Nada pada Aira kemudian mengangkat Aira ke arah Galeo Galeo mendongakkan kepalanya menatap bingung pada Nada dengan menaikkan alisnya. Jagain dulu, aku mau gantian manditakut nanti telat. Ya sudah, bawa sini. Nada dan Galeo serta Aira mengantar kepulangan orangtua Galeo ke bandara, melihat Bilqis yang enggan melepaskan Aira sedari tadi membuat haru Nada. Bilqis menimang Aira tak bisa terus-terusan memeluk bayi munggil itu karena jarak antara Jakarta dan juga Surabaya, namun Nada suatu saat akan membawa Aira berkunjung kesana, di tempat dimana suaminya lahir, tanah kelahiran Galeo. Aira jangan lupa harus ke Surabaya ya nanti kerumah Oma sama Opa, Oma tunggu ya. Bilqis menyindir Galeo Iya, Oma, nanti Aira main ke rumah Oma dan Opa, Nada membalaskan keinginan Bilqis Harus dong, biar tahu suasana disana juga, ya. Siap Mami, pasti kita kesana. “Nada, titip Aira dan Galeo lagi yajangan kekurangan sabar buat suami yang tidak pekamu ini. Pinta Abraham Papi. “Sudahlah, ayo semua kita segera masuk. Ajak Abraham Pi, Ica enggak ikutan pulang? tanya Galeo saat tahu adik bungsunya itu masih tertinggal di sebelah Nada Abang lupa ya? Jaga adikmu, Galeo! pesan Abraham kemudian kembali melanjutkan jalannya “Ica kan mau ada penelitian disini, Mas. Nada membantu menjelaskan Terus kamu tinggal dimana? tanya Galeo dengan menggoda Sama Mbak Nada dong, yakan Mbak Nada. Iya, Ayo pulang. Ajak Nada Jangan nyusahin Mbak Nada, Ca. Enggak kok, nanti Ica bakal sibuk sama penelitian Ica sama temen-temen. Ica segera menepis anggapan Galeo Sudah Mas, aku nggak ngerasa di susahin kok. tepis Nada juga Kan kamu udah repot sama Aira dan aku, jangan nyus Kenapa Mas Leo jadi bawel? potong Ica setelah mereka berada di depan mobil sedangkan Galeo hanya berdecak kesal ΩΩΩ Keikutsertaan Ica adik bungsu Galeo membawa suasana ceria di rumah besar Nada, meski tetap rame dengan suara tengil Javier namun karena Javier sudah jarang berada di rumah dan lebih banyak menghabiskan harinya di rumah sakit dirumah megah itu berasa sepi, dengan kehadiran Ica di rumah orangtua Nada membawa suara ceria kembali tercipta. Anggap rumah sendiri ya, Nak Icakalo mau perlu apa-apa bisa minta bantuan Mbok Sarinah, Dian, atau Ima ya. Mila memberitahu kepada Ica ada siapa saja ia bisa meminta bantuan bila ia kesulitan Terima kasih sekali tante, maaf kalo Ica merepotkan. sungkan Ica Jangan sungkan, Ica disini santai saja ya, imbuh Bachtiar Terima kasih Om, Tante. Istirahat dulu, Ca. Kamar kamu yang deket tangga ya, udah Mbok Sarinah ganti sprainya, semoga betah. ujar Nada keluar dari kamar yang tadi ia tunjuk Wahhterima kasih Mbak Nada, sumringah Ica Nada mengangguk senang. Sama-sama, istirahat dulu. Mbak mau ijin dulu, Ica mau langsung ke TKP aja temen-temen udah disana. Walah kok begitu, ya sudah buruan berangkat Ca. Mila menyela Kamu berangkat sama siapa? Naik Grab aja gapapa cepet ini, Mbak. Jangan, pakai mobil Mbak ajakamu bisa nyetir kan? Ica mengangguk. Jangan deh Mbak, biar aku Grab aja biar sekalian ngapalin jalan Jakarta. Beneran nggak apa-apa? Apa di antar Mang Edi saja? Nggak usah tante, beneran nggak apa-apa kok. sungkan Ica Apa di antar Mas Galeo aja, Ca. ujar Nada lagi Ica meringis dalam tawanya. Gamau Mbak, Mas Leo kalo ngaterin aku suka di kasih khotbah, tolak Ica Ya sudah hati-hati, Nak Ica. Siap OmIca pamit Om, Tante, Mbak Nada, titip salam sama si bayik kecil ya, Assalamualaikum. Waalaikumsalam. ΩΩΩ
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN