Sepertinya rencana bulan madu untuk Galeo dan Nada akan mereka coret dari daftar keinginan mereka saat ini, mengingat ia dan Nada saat ini masih repot mengurus hal-hal yang lebih penting terdahulu.
Mengatur rumah yang di renovasi Galeo habis-habisan, Galeo menginginkan suasana baru di kehidupan babak barunya bersama Nada ini. Galeo memang belum memberitahu prihal renovasi rumahnya dengan Nada, niatnya laki-laki tampan itu nanti saat semuanya sudah benar-benar selesai paling tidak keadaan rumahnya sudah lebih baik ia akan jujur.
Untuk saat ini Galeo dan Nada masih bertahan di rumah orangtua Nada. Saat ini Nada dan juga Galeo memang mengambil jatah cuti dari pekerjaannya terhitung dari acara pernikahan mereka.
Waktu Galeo banyak ia habiskan dengan putri cantiknya atau paling tidak ia akan medekamkan dirinya di perpustakan milik Papa mertuanya yang bisa ia akses kapanpun. Untuk mengakrabkan dengan Nada Galeo masih mencoba agar tak terjadi suasana canggung antar keduanya, apalagi saat malam adalah dimana ia di permainkan dengan kelakukan Nada yang membuatnya ia pusing, pasalnya istri barunya itu sangat pandai membuat emosi gairahnya meletup-letup tanpa tahu bagaimana cara ia menyalurkannya.
Siang itu, Galeo dan Nada serta Aira yang ikut ambil bagian di antara Papa dan juga Bundanya, ikut menemani kedua Papa dan Ibu barunya itu menikmati waktu.
Ada masalah? tanya Galeo saat menyadari Nada bolak-balik meneliti layar ponselnya
Enggak ada kok Mas, aku lagi nunggu Mbak Sinta mau anter air ASInya siang ini, takutnya pas dia chat aku enggak tahu.
Sinta adalah pendonor ASI untuk Aira, kebetulan Sinta memiliki ASI yang lancar maka dari itu ia mendedikasikan dirinya untuk mendonorkan ASInya untuk Aira, Nada bersyukur kakak sepupunya itu mau berbagi ASInya itu pada Aira yang memang masih membutuhkan ASI.
Ya nanti juga ponselmu getar Nada. sahut Galeo masih dengan mengelus punggung Aira Atau kamu memang lagi nunggu seseorang?
Suudzon aja jadi orang! sarkas Nada yang kemudian bangkit dari tidurnya
“Bundamu marah, Ra—masak gitu aja marah sama ngambek.” bisik Galeo pada Aira
“Aku masih dengar ya, Mas!”
ΩΩΩ
Sore itu Nada dan juga sedang bersantai di taman belakang tak lupa lagi adik ipar Nada yang juga turut menikmati sore bersama Nada dan juga Aira. Nada dan Ica bukanlah dua orang yang sulit di kenalkan, di perkenalan pertama mereka saja sudah akrab seperti sahabat lama yang tak pernah berjumpa.
Awalnya Galeo sedikit cemas dengan Nada dan Ica, takut Ica tak bisa menerima Nada menjadi istri keduanya, ternyata kecemasan Galeo sama sekali tak berarti, mereka berdua benar-benar akrab.
Meski Nada menjadi anggota baru di keluarga Galeo, ia mampu mengakrabkan diri dengan para anggota keluarga Galeo meski hanya beberapa keluarga yang bisa hadir, kehadiran Nada di tengah-tengah amat sangat di terima dengan lapang d**a.
“Beberapa hari jadi istri Bang Galeo, gimana rasanya Mbak? Sudah merasakan bibit-bibit kebawelannya belum? tanya Ica saat ikut menemani Nada menikamati sore
Alhamdulillah belum, ringis Nada
Nantikan kebawelan Abang, Mbak.
Aku akan menantikan Ca kekeh Nada
Mbak Nada ini beda ya sama Mbak Nadi yang lebih ceriaeh maaf mbak bukan maksud menyamakan, Mbak Nada malah lebih ketenang tapi langsung tindakan. jujur Ica langsung
Nggak apa-apa, ya begitulah kami Ca, meskipun kembar tapi kepribadian kamu berbeda, meskipun aku tenang aku nggak cuek kokhanya saja rasa canggung lebih banyak.
YaIca paham kok, maaf ya Mbak, Ica bukan maksud mau bandingin. Ica kembali meminta maaf tak enak tapi, kalian berdua sama-sama cantik banget! jujur Ica hiperbola
Hahahahahahabisa aja kamu, Ca. kekeh Nada dengan mengelus kepala Ica persis perlakuan kakak pada adiknya Masuk yuk, mau bantuin Mbak bikin cemilan? ajak Nada pada Ica yang sedang memperhatikan Aira tertidur
“Boleh, yuk Mbak.” semangat Ica
ΩΩΩ
Galeo dan Javier masuk ke rumah bersamaan, namun tujuan mereka berbeda. Galeo dari rumahnya untuk melihat sampai mana renovasi berjalan sedangkan Javier baru saja kembali dari rumah sakit. Keduanya masuk dengan saling sapa ala laki-laki.
Semenjak Galeo dan Nada resmi menikah, Javier tak boleh lama-lama bersantai karena harus kembali berkerja, membuat waktu bersama-sama teman-temannya harus ia relakan. Apalagi saat ini Galeo juga sedang mengambil cutinya, mau tak mau Javier harus memasang badan untuk sementara menggantikan Galeo.
Rumah sakit lagi urgent banget, Jav?
Ya begitulah, Le. Capek banget gue, mau tidur abis ini, sampe waktu buat pacaran aja susah banget. adu Javier dengan wajah dibuat-buat
“lebay, banget lo.
Eh lo nggak ngerasain sih gimana nahan rindu yang beberapa hari ini nggak dipertemukan,
Astaga omongan lo kalo lagi capek dangdut banget ya, Jav. Galeo mengernyit geli
Lo belum rasain sih menahan bara rinduastaga! Nada! teriak Javier
NadaIca?! Kalian ngapain?
Ica meringis malu begitupun dengan Nada. Bikin cemilan berakhir begini, Banghehehehe ringis Ica menjawab
Aira kemana? Kamu tinggal sendiri diatas? tanya Galeo lagi
Itu dia anteng, di kereta goyangnya, ujar Nada polos
Astaga Galeoolo nggak salahkan nikahin adik gue, selain suka diam, dia konyol juga. ledek Javier pada Galeo
Galeo menggelang takjub. Sekarang kalian bersih-bersih, mandiminta Diana yang bersihin. Pinta Galeo sembari mengambil Aira dari kereta doronnya
Iya jawab Ica dan Nada berengan
Sepeninggal Javier dan Galeo lebih dulu, Ica dan Nada kembali tertawa bersama menertawai kegiatan konyol mereka, persis mereka seperti kakak beradik yang saling sayang dan nyatanya Nada memang sayang pada adik iparnya itu.
“Nanti kita beli aja cemilan di bakrey langganan Mbak ya—tapi kita mandi dulu.” ajak Nada
“Siap, Mbak!” Ica mengacungkan jempolnya tanda ia sangat setuju
ΩΩΩ
Nada masuk kekamarnya untuk kembali mandi, mengetahui seluruh bajunya begitu penuh dengan tepung-tepung yang tadi mereka mainkan, saat ia masuk ke kamarnya Nada kembali di hadapkan dengan Galeo yang sudah asik dengan Aira.
Mandi, Nada.
Ahiya, Mas.
Nanti kalo sudah selesai mandi, saya mau ngomong. Nada mengangguk tanda mau
Lima belas menit berlalu, dan Nada baru selesai dari mandi sorenya. Bahkan ia sudah melihat Aira bangun dari tidurnya dan kembali menemukan empat ternyamannya.
Nada menarik bajunya dari lemari, karena ia ada janji dengan Ica akan mengajak gadis itu keluar untuk membeli cemilan. Nada membawa kembali baju gantinya ke kamar mandi, rasanya masih aneh untuk berganti baju di depan Galeo meskipun laki-laki itu halal untuk tapi tetap saja hubungan mereka belum sebaik mungkin, ini masih hubungan di awal yang mereka bangun.
Selesai dari acara ia ganti baju, Nada menuju ke arah tempat kaca riasnya, meraih hairdryer yang membantu mengeringkan rambut panjangnya itu. Entah perasaan Nada atau apa, ia merasa ada yang memperhatiakan dengan sesama, akhirnya Nada memutarkan badannya dan benar saja Galeo memang sedang menatapnya tanpa ragu.
Sini. Galeo mengajak Nada untuk mendekat padanya
Nada meninggalkan hairdryernya meski rambutnya baru setengah kering, mendapat ajakan Galeo untuk mendekat ke arahnya membuat Nada meninggalkan alat canggih itu.
Ada apa, Mas?
Kamu mau saya ajak pindah ke rumah pribadiku?
Rumah yang kita buat bicara waktu itu? Galeo mengangguk tanda membenarkan
Iya, kamu mau?”
Kenapa mesti nggak mau? Kemanapun suami Nada pergi, bukannya aku juga akan selalu ikut, Mas?
Benar, kamu tidak apa-apa rumah itu bekas aku dan mendiang Nadi?
Ya gapapadia tetap adikku kan Mas. Nada mengatakan tak keberatannya
Rumahnya juga sedang dalam renovasi. kata Galeo cepat
Kenapa di renovasi? Rumahnya sudah bagus kok? heran Nada
Karena saya ingin suasana barusuasana baru dengan kamu, memulai semuanya bukan.
Nada yang mendengar pernyataan barusan dari Galeo membuatnya mengulum senyum malu. Terima kasih.
Buat?
Semuanyaa, Mas. seloroh Nada dengan senang dan diangguki oleh Galeo
Nanti kamu yang atur, tempat privasi kita di lantai dua dan juga kamar untuk putri kita ini. Cerita Galeo
Aku nggak sabar buat lihat rumahnya, Mas.
Nanti kalo sudah selesai, kamu bisa lihat.
Iya Mas, apa masih lama?
Seben
Mbak Nada, jadi nggakk? teriak Ica dari luar kamar Nada dan Galeo
Mau kemana? tanya Galeo ingin tahu
Beli cemilan sebentar, boleh?
Jangan lama, cepat kembalikalo Aira rewel repot.
Nada memberikan bibir cemberut. Iya, ya sudah aku jalan dulu ya, Mas takut keburu maghrib.”
“Hati-hati.” yang di angguki mantap oleh Nada
ΩΩΩ