Nada mengira bahwa sikap Galeo sudah berubah yang di tunjukkannya pada Nada setelah mereka resmi menikah adalah bentuk awal untuk menerima awal hubungan baru bagi mereka, Nada berharap bahwa sikap Galeo tak hanya di tunjukkan di depan orangtuanya saja.
Agak aneh memang saat Galeo selalu bersikap sarkas pada Nada saat sebelum mereka menikah, apalagi saat mengatakan kesepakatan konyol. Bagi Nada, Galeo benar-benar tak masuk akal mengatakan kesepakatan itu.
Mengingat laki-laki tampan itu akan memboyong Nada dan juga Aira untuk menempati rumah Galeo yang dulu pernah ia tinggali bersama mendiang Nadi, yang kata laki-laki itu sudah mulai di ubah bagian-bagian rumah yang meninggalkan jejak Nadi, padahal saja Nada tak masalah dengan hal itu, mungkin Galeo memang terlihat sangat berlebihan.
Semoga perubahan laki-laki jangkung itu benar adanya tak hanya topengnya saja. Keraguan Nada mulai mencuat saat mereka masih berada di rumah orangtua Nada, Galeo memang baik padanya, bersikap lebih baik katimbang perkataan sarkasnya sebelum mereka bisa bersama.
Seharusnya ia tak boleh berprasangka buruk pada suaminya itu, namun rasa aneh selalu saja menyelimuti Nada, bahwa sikap Galeo suatu saat akan kembali menjadi sikap acuh tak acuh padanya bahkan bisa saja Galeo kembali bersikap cuek, Nada takut.
Ngelamunin apa, Nad? tanya Gia saat sudah mendudukan dirinya disamping Nada
Hah? Enggak, enggak ngelamunin jorok kok.
Halahbtw Nad, gimana project gue udah lo lakuin kan setiap malam? Udah pecah telor belum? kepo Gia
“Pikiran lo kotor banget ya Gi,
Halah, sok-sokan pake malu, cerita sini.
Rahasia publik! sarkas Nada cepat yang mendapat kikikan dari Gia
Iya-iya gue nggak kepo, terus kenapa wajah cantik lo ini tiba-tiba kaya nggak biasa aja?
Gue cuman ngerasa aneh aja sama sikap Mas Galeo, abis nikah ini.
Ada apa? Dia kasar sama lo? Bilang sini sama gue?!
Dia udah nggak sarkas lagi sama gue, tatapannya juga beda, nggak kaya pas aku sama dia belum menikah Giaatau jangan-jangan itu cuman topeng aja di depan orangtua gue, gue takut pas nanti gue beneran diboyong dia sikapnya balik lagi, Gia. Nada mencurahkan isi hatinya yang membuatnya gelisah
“Jangan suudzan dulu ah Nadtapi bisa juga sih, dia kalo cuek kayak monster apa gimana sih, Nad ampe lo takut?
Nggak! Cueknya dan nggak pengen tahunya parah banget bikin orang kesel.
“Jangan berdoa gitu, nikmatin aja dululo kan punya senjatanya Nada yang gue ajarin, jangan sampe lo lengah.
Gia, tapi
Lakuin apa yang gue saranin, gue yakin 100% ini pasti bakal berhasil, lihat aja, percaya sama gue, Nad.” Nadapun mengangguk percaya
ΩΩΩ
Nada baru saja pulang dari tempatnya berkerja, bekerja sebagai staff sekolah membuatnya harus lebih sibuk dari guru pengajar lainnya, mendata para siswa-siswinya, mengurus ini dan itu, meski tak hanya Nada yang mengurusi ada beberapa temannya juga namun tetap saja pekerjaannya berkali lipat menjadi banyak.
Setelah cuti setelah pernikahannya Nada diharuskan segera kembali bekerja begitupun dengan Galeo yang sudah mulai aktif kembali ke rumah sakit, waktu seminggu lalu menjadi moment terindah bagi Nada meskipun hanya dia yang merasakan kegembiraan atau Galeo juga merasakan kegembiraan atas pernikahan mereka atau tidak, Nada tak ingin ambil hati. Sakalipun raut lebih manusiawi Galeo sudah lebih Nada tak ingin lagi berfikir yang tidak-tidak meski rasa takut itu selalu merongrong rongga d**a Nada.
Galeo masih menyimpan cinta untuk Nadi pun Nada selalu diam, ia tak ingin membuat Galeo kembali menjadi Galeo yang datar, Galeo yang tak ingin memandang orang di sekitarnya, sekalipun ia harus berebut posisi dihati Galeo dengan wanita yang sudah tiada, selebihnya Nada ikhlas.
Nada masuk ke dalam kamarnya, rasa lelah menggerogoti tubuhnya, rasa ingin segera bisa memeluk Aira obat segala lara dan lelahnya, dan rasa rindu yang menggelayut di dadanya. Membuka pintu pelan, pandangannya terkkunci pada sosok besar yang sedang tertidur nyenyak dengan seseorang mungil yang nyaman bergelung nyaman pada tubuh besar laki-laki itu, ya mereka adalah Galeo suami Nada dan juga Aira yang sedang tertidur nyenyak itu.
Lelah yang mengrongrong Nada kini seketika luruh melihat pandangan paling istimewa di matanya itu. Dengan perlahan Nada menutup kembali pintu kamarnya, meletakan tas kerja pada tempat tas, melepas cepolan rambutnya yang membuat kepalanya pening itu, melepas beberapa kancing kemejanya kemudian menghampiri ranjang luas itu yang sedang ditempati orang paling Nada kasihi.
Perempuan cantik itu mengelus kening Galeo yang berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat untuk diselesaikan. Kamu lagi mikirin apa sih mas? Dalam tidurmu sampai mengkerutkan kening begini? lirih Nada
Gemas dengan melihat Aira yang masih tetap terlelap meski posisi tidurnya sudah tak karuan, akhirnya Nada mengambil Aira dari atas d**a sang Ayah, membawanya dalam gendongannya namun tak beranjak dari sisi Galeo.
Cantiknya Bunda, bangun yuk nak udah sore, ayo mandi, Nada membangunkan Aira dengan menciumi pipi gembul menggemaskan itu
Heiiputri cantik Bunda, bangun yuk. Nggak kangen Bunda ya, Nak? gerakan kecil Aira perlihatkan ia yakin sebentar lagi putri mungilnya akan bangun kemudian menangis
ehemm gumam Galeo
Bangun, lazy boy, ledek Nada yang masih menanti dua orang spesialnya bangun
Nadi
ΩΩΩ
Nyeri, adalah kata pertama yang mengambarkan suasana hati Nada yang tak ingin ia perlihatkan pada Galeo saat bibir laki-laki itu memanggil nama Nadi bukan namanya. Tak ingin terlalu ketara bahwa ia kecewa Nada segera bangkit dari duduknya, segera membawa Aira berdiri meninggalkan Galeo yang masih terlihat mengumpulkan nyawanya.
Nada?
Ya. singkat Nada
Baru pulang?
Iya.
Saya ketiduran, maaf nggak jadi menjemputmu, kikuk Galeo saat tahu Nada sudah berada dikamar mereka
Gapapa, tadi pulang sama Gia kokaku mandiin Aira dulu.
“Aneh, Nada kenapa? Seperti ada yang beda dengannya. batin Galeo
Bahwa ia tak tahu, nama yang di sebutkannya tadi menjadi momok kesedihan Nada, yang kini diam-diam sudah menangis sembari memeluk tubuh kecil Aira. Sebegini sakitnya saat orang yang kita cintai malah mengumamkan nama wanita lain yang sebenarnya nama pemilik itu sudah tiada didunia ini.
Bisakah sekali saja, Nada ingin egois memiliki Galeo hanya untuknya. Bahwasananya nama Nadi sudah usai menjadi pemilik hati Galeo dan ia ingin menjadi pemilik hati Galeo dengan untaian nama Nada Kaleena, namanya, istrinya.
Kuatin Bunda ya Nak, Papamu itu memang agak jahat sama Bunda. Lirih Nada pada bayi munggil yang mulai mengerjapkan matanya lucu
ΩΩΩ
Meninggalkan Galeo dan Aira adalah alasan tepat, ia ingin menenangkan dirinya, efek menyakitkan yang di buat Galeo sungguh terasa perih untuk Nada. Ia absen dari makan malam bersama, ia lebih mengurung dirinya pada perpustakaan sang Ayah dengan dalih pekerjaannya sudah menyentuh waktu deadline yang harus segera diselesaikan.
Dengan absendnya Nada di meja makan besar itu juga membuat Nada tak lagi melihat wajah Galeo yang tak merasa berdosa ataupun bersalah itu. Ternyata efeknya sungguh sangat menyakitkan. Inilah resikonya menikah dengan laki-laki yang gagal moveon harus ia yang berjuang kembali.
Pernikahannya menjadi titik ulasan lagi untuknya, apakah pilihan ia menikahi Galeo adalah suatu yang sudah benar atau malah semakin membuatnya menciptakan kesusahan hatinya. Hal yang paling ia takutkan adalah Galeo masih selalu berada didalam kubangan masalalu dan tetap menganggap bayangan Nadi masih berada disekitarnya.
Sekuat apapun usaha Nada untuk menarik galeo dalam kubungan masalalu itu, bila Galeo tak juga enggan berubah, tak juga menarik diri dari masalalunya, akan selamanya kisah pernikahan mereka terselimuti oleh masalalu yang tak pernah usai.
Nada? panggil lirih MilaIbunda Nada
Loh Mama, kenapa?
Kenapa nggak ikut makan malam, malah disini?
Ada kerjan Mama dan lebih enak disini kalo dikamar takut ganggu Aira nanti. alibi pintar Nada
Haiiada apa, cerita sini sama mama. ujar Mila dengan meminta Nada duduk disebalahnya
Mau tak mau Nada akhirnya mengikuti saran snag Mama untuk duduk disampingnya, ia hanya takut tumpah didepan Mamanya, ibu yang paling Nada kasihi separuh hidupnya, wanita palin istimewa di hidupnya ini.
Didepan Mila, Nada tidak akan di biarkan memedam masalahnya sendiri, wanita dipertengahan umur lima puluh dua itu mengelus lembut rambut panjang Nada dengan sayang, ia seorang ibu bahwasananya ia tahu apa yang disembunyikan putri cantiknya itu.
Ada apa? Sini cerita sama Mama jangan dipendam sen
Nanti jadi penyakit maka berbagilah. Imbuh Nada
Apa deh suka potong-potong, kesal Mila pura-pura
Ma, mau dipeluk dongudah lama nggak dipeluk. Pinta Nada
Biasanya juga dapet peluk dari suami kok, lebay kamu.
Ck! Mama ini selalu ngerusak suasana aja. kesal Nada
Hahahahahahahajadi ada apa, putri cantik Mama?
Nada memeluk erat tubuh yang meski di usia tua Mila masih terlihat segar itu, tubuh yang Nada peluk itu adalah obat dari segala obat. Diam-diam tangisannya luruh, sesakit itu hanya mendengar Galeo mengucap namanya yang salah, ia NADA bukan NADI. Meskipun mereka sama-sama kembar ia bukan NADI apapun yang ada di diri Nada dan Nadi sungguh berbeda meski mereka lahir pada rahim yang sama.
Menangislah Nak, puaskan rasa sakitmu. lirih Mila yang juga semakin erat memeluk sang putri
Sakit sekali Mama, Nada harus apalangkah apa yang harus Nada ambil isak kecil Nada pada pelukan Mila Berapa lama Nada harus sabar dengan keadaan Mas Galeo yang belum bisa terbebas dari masalalunya?
Sabar dan ikhlas sayang kuncinya, kamu harus yakinkan dirimu lebih banyak lagi, memang sakit tapi kamu perlu membuktikan pada Galeo bahwa masalalunya bisa digantikan denganmu masa depannya. saran Mila Bila tidak kamu yang mendorongnya, kapan lagi ia akan terbebas dari tempurung menyedihkan itu, Mama juga melihat kok bahwa Galeo masih berkubang pada Nadi, jadi kamu sebagai istrinya sudah sepatutnya menariknya pada masa depan kalian, kamu kuat Nada, kamu putri Papa dan Mama paling kuat.
Aku pernah meyakinkan diriku Ma, bahwa aku bisa kembali membawa Galeo yang duluhanya saja Nada mendengar Galeo menyebut salah namaku ini benar-benar sakit dan salah sangkaku benar-benar terbukti.
Sekarang ayo bangkit Nak, cukupkan menangismu karena Mama dan Papa tak ingin melihatmu terus bersedih, pelan-pelan saja ya, ayo. Mila memberikan semangat pada Nada bahwa ia mampu, wanita paling mampu membawa seseorang yang terlarut dalam masalalunya untuk kembali ia raih
Bantu doain Nada ya Ma, Nada nggak bisa berdiri tanpa doa Mama dan papa.
Pasti sayang, Pasti. Sekarang mau kembali pada suamimu?
Belum, nanti dulu Nada masih nyaman disini.
Kalo begitu Mama tinggal ya, nanti Mama suruh Mbok Sarinah bawakan makan dan jus untukmu, Mau?
Nada mengangguk. Mau Ma, terima kasih.
Sama-sama, sayang. Mila mengecup singkat pucuk kepala Nada dengan sayang
Ibundanya adalah sesosok yang paling Nada sayangi, dan beliaulah yang paling mengerti Nada, mengerti bahwa ia butuh pelukan dan saran darinya. Tanpa Nada pintapun Mila sudah tahu bahwa putri tersayangnya membutuhkannya, ikatan batin seorang anak dan Ibu tak perlu di uji coba.
ΩΩΩ