Semenjak sore itu sikap Nada dengan Galeo terasa sangat berbeda, Nada yang ini lebih sering menjadi diam bukan lagi Nada yang suka mengoceh dengan Aira. Galeo mengingat-ingat akan kesalahan apa yang dibuatnya hingga Nada bertingkah cuek dengannya.
Meskipun Galeo memang belum sepenuhnya mencintai Nada, namun ia pelan-pelan sudah mau menerima wanita yang menjadi kembaran mendiang istrinya itu. Nada memang masih menyiapkan perlengkapan bajunya untuk bekerja, menyiapkan bekal bila aku akan bergantian shift di UGD namun diam Nada benar-benar aneh kali ini.
Pernah terbersit dalam benak Galeo, Nada menjadi diam mungkin bawaan moodswingnya, tamu bulanannya sedang melanda maka dari itu suasana hati Nada begitu ambruladul dengan begitu Galeo juga tak ingin menyapa Nada lebih dari biasanya pada dasarnya ia memang masih canggung dengan Nada.
Mengingat ini sudah masuk ke hari ketiga Nada mendiamkannya, maka Galeo akan menurunkan egonya laki-lakinya meski terasa aneh menyapa Nada padahal ia tak ada salah. Galeo hanyalah seorang pria dengan kadar kepekaan yang amat sangat minim maka dari itu ia memerlukan wanita yang apa adanya dengan sikap to the pointnya.
“Ngelamun aja lo, Le? Lagi nggak dapat jatah apa gimana?” celetuk Sean
“Apaan sih lo, Nggak! Gue lagi mikir Nada tiga hari ini nggak seperti biasanya, Sean.” aku Galeo
“Lo ada lakuin kesalahan kali coba lo ingat-ingat,” ujar Sean sembari membuka minuman yang ia bawa
Galeo tampak berpikir seperti tadi, memikirkan kelakuan apa yang membuat istrinya itu mendiaminya, dengan menelungkupkan tangannya diatas meja ia berpikir, mengulang-ngulang hal apa yang membuatnya di beri sikap cuek oleh Nada.
“Allahuakbar—Sean!” sentak Galeo pada Sean
“Kenapa woii?! Bikin orang kaget aja lo!”
“Gue inget, momok dari segala hal yang bikin Nada cuekin gue.” Menyesal Galeo
“Apa?”
“Nadi—“
“Goblokk!”
ΩΩΩ
Galeo tahu sebab Nada terlihat berbeda saat bersama Galeo, bahkan yang biasanya Nada akan menyelesaikan laporan sekolahannya dikamar mereka sekarang Nada memilih mengerjakan di perpustakan sang Papa mertua. Sejujurnya Galeo juga tak sadar saat ia menyuarakan nama Nadi saat Nada sedang berusaha membangunkannya.
Kesengajaan yang hakiki, pasalnya saat itu Galeo memang berniat hanya menemani putri kecilnya Aira untuk tertidur namun siapa sangka ia juga ikutan tertidur dengan pulas, tanpa tahu Galeo bermimpi dan dalam mimpinya itu Nadi sedang duduk bersama dengan Aira.
“Nadi?”
“Abang.”
“Kamu apa kabar? Kami baik-baik saja.” tanya Galeo
“Aku baik Bang,” jawab Nadi dengan senyuman “Abang sama Nada bahagiakan?”
“Aku—“
“Abang, aku sudah bahagia disini. Kamu juga harus lebih bahagia saat bersamaku, bahagiakan Nada Bang, aku juga titipNada padamu dan juga bayi kita, aku hanya percaya sama Nada, hanya dia yang bisa membuat abang dan Aira bahagia kedepannya.”
“Tapi aku masih mencintaimu Nadi, tolong jangan pinta aku untuk mengkhianti cinta dan sayangku.”
“Abang, jangan seperti ini, percayalah dan kamu tak pernah mengkhiantiku, Nada juga mencintaimu dengan tulus maka kamu juga harus belajar mencintai dan kasihi Nada, aku sudah ikhlas dan rela.”
“Nadi, tolong jangan seperti ini.”
“Nggak Bang, kamu yang jangan seperti ini, ikhlasin aku Bang, tolong ubah semua keraguan Abang sama Nada, kalo kamu benar-benar cinta aku, relain semua lepas Bang, aku yakin semuanya akan terasa ringan, bisa kamu lakuin untuk aku?”
“Aku udah nikahin Nada, Nadi. Masih kurang cukup?” keluh Galeo dengan frustasi
Nadi menggeleng tegas. “Nggak, menikahi saja tidak cukup, Nada sudah cukup menderita selama ini Bang, menyimpan perasaan buat Abang belasan tahun dan sekarang Abang kembali membuat hati kakaku kembali terluka, sikapmu dengan Nada sudah baik Bang, tapi tolong sertai dengan cinta kasihmu,”
“Tapi Nadi!”
“Aku pamit ya Bang, tolong pikirkan kembali, cobalah aku yakin kamu bisa mencintai wanita sebaik Nada.”
“Nadi—Nadi, tunggu,Nadi!” bayangan Nadi perlahan semakin hilang
“Nadi!”
ΩΩΩ
Galeo selesai bercerita tentang mimpinya pada Sean, teman datarnya itu mendengarkan dengan takzim. Sean tahu temannya ini sedang dilanda kekalutan namun yang dipesankan Nadi dalam mimpinya itu juga ada benarnya. Tak seterusnya Galeo berada di lubang masalalu, ia menyadari bahwa bangkit dari masalalu bukanlah hal yang mudah, tapi bila tak pernah ada tekad untuk bangkit seterusnya hidup mereka akan selalu terhantui.
Sean menepuk bahu Galeo, sebagai bentuk pertemanannya mereka saat ini Galeo membutuhkan dukungannya, temannya ini bingung arah kembali pulang sudah sepantasnya ia sebagai teman yang lebih baik pikirannya membantu Galeo menunjukkan arah jalan pulang.
“Le, coba lo renungin dulu apa kata Nadi dalam mimpi lo. Gue bukan mau ngurusin hidup lo tapi kalo gue boleh saran, ikuti apa kata Nadi.”
“Susah, Sean!”
“menurut lo susah? Itu karena di hati lo nggak lo tanemin rasa tekat yang kuat, lo nggak malu sama Nada. Dia wanita palin ikhlas nerima keadaan lo, dia kalo bisa ngeluh capek juga bakal ngomong kali, kalo punya suami bebal kaya lo ini.” kata Sean penuh dengan tekanan
“Gue bingung, gue pusing.”
“Kuncinya adalah ikhlasin, relain, jangan pasang muka dua, terima Nada pelan-pelan, gue yakin bisa—bahkan mungkin saat ini Nada juga lagi nuntun lo jalan lo pulang tapi lo nggak ada kesadaran!” tekan Sean lagi “Lo mau berusaha kagak? Kalo lo masih acuh jangan salahin keadaan jangan nyesal kalo Mahendra bakal ngerebut Nada dari karena gue kemarin lihat dia lagi merhatiin Nada dari jauh, pikirin Bro!” kemudian Sean berdiri dari duduknya sembari menepuk bahu Galeo
“Argh! Sialan!” umpat Galeo
Sringai senyum Sean melihat Galeo frustrasi. “Pikirin matang-matang, abis itu lo pulang jelasin ke Nada jangan lupa abis itu lo peluk dia, kalo lo ngerasin nyaman dan hangat, jangan pernah lo lepasin.”
Galeo menghela nafas beratnya tanda menyerah. “Thanks, Sean!” kemudian Galeo beranjak dari duduknya menarik jas snallinya berlari menuju lokernya.
“Ya ilah, gitu aja harus gue juga yang nyadarin.” geleng-geleng Sean menatap tingkah Galeo
ΩΩΩ
Baru kali ini Galeo menyetir mobilnya dengan cara ugal-ugalan bak alap-alap yang ingin segera terbang menebus angin. Berkat Sean, Galeo tak ingin berlarut-larut menunda menjelaskan kenapa ia bisa-bisanya salah sebut nama Nada menjadi Nadi kala itu. Sungguh itu hanya sebuah tak kesenggajaan.
Setelah menempatkan mobilnya di carport rumah mertuanya, Galeo segera turun dari mobilnya dan berlari ke dalam rumah, seharusnya Nada jam segini sudah ada di rumah itu bila tak lembur namun doa Galeo saat ini adalah Nada sudah berada di rumah.
“Assalamu’alaikum.” Salam Galeo
“Wa’alaikumsalam—loh Leo kamu udah pulang, nak?” tanya Mila saat mengetahui mantunya sudah pulang
“Pulang sebentar Ma—Ma, Nada sudah pulang?”
“Ada kok, di kamar kalian sama Aira juga.
“Kalo gitu Galeo pamit keatas dulu, Ma.”
“Ada ap—oh iya, keatas aja.” Ijin Mila yang sudah tahu maksud Galeo yang mungkin akan menjelaskan tentang permasalahan mereka
Galeo menaiki anak tangga dengan langkah cepat tak memperhatikan bila kakinya melewati satu anak tangga agar segera mencapai dilantai dua, posisi kamar Nada berada di sayap kanan, segera Galeo mempercepat langkahnya, ia tak bisa lama-lama mendiamkan hal ini terlalu lama, Nada butuh penjelasannya agar kesalahpaham mereka segera selesai dan Galeo segera bisa hidup dengan awal yang baru dengan Nada tentunya seperti yang di katakan Nadi pada mimpinya.
“Nadaaa?”
“Iyaa Maa? Ica udah balik? Lagi dikamar mandi,” balas Nada dengan suara berteriak
Mengetahui Nada sedang berada dikamar mandi Galeo segera menghampiri ruangan yang berada di kamar mandi, terdengar suara air yang bergemericik mungkin itu yang menyebabkan suara Galeo tak terdengar sempurna pada telinga Nada.
“Nada?” panggil Galeo setelah membuka pintu kamar mandi
“Maass?”
“Lagi ngapain?” tanya Galeo canggung
“Aira tadi lagi poops, jadi aku bersihin disini, ada apa?”
Galeo menghampiri Nada mengambil alih Aira yang sudah bersih setelah dibersihkan. “Ayo kita bicara, menyelesaikan kesalahapahaman antara kita.”
“Iya, Mas duluan kemara, aku mau bersihin ini dulu sebentar.”
“Iya, saya tunggu.”
ΩΩΩ
Kini Galeo dan Nada sudah duduk berdua di sofa kamar mereka, sembari mengamati putri kecil mereka yang sedang asik terayun dengan mesin ayun otomatis, Nada menunggu Galeo yang akan bicara pada menjelaskan. Nada kira Galeo tak pernah sadar dengan kekacuan yang ia perbuatan, tentu saja mengacaukan perasaan dan hati Nada hingga membuatnya semakin menjaga jarak jauh pada Galeo.
Galeo menggenggam tangan kecil Nada, dibawanya tangan kecil itu pada genggaman erat Galeo. Membawa Nada menghadap dengannya bukannya orang yang akan saling berbicara harus saling menatap satu sama lain, bukan?
“Maaf, Nada. Maaf dengan sikapku yang selama ini belum benar-benar menerima keadaan perasaanku, terima kasih sudah mau bersabar dengan sikapku ini, saya minta maaf Nada. Bantu saya untuk menuju kembali pulang ke masa depan bersamamu.”
“Saya tahu selama ini menjadi laki-laki paling egois yang pernah ada, saya ini suamimu namun selalu membuatmu meraba bayangan. Tolong saya Nada, bantu aku untuk lepas pada belenggu kesakitan ini.”
“Dan ini maaf yang membuatmu merasakan kesakitan lagi, saya tidak sengaja menyembut nama Nadi saat kamu membangunkan saya kala itu.”
“Ahh—nggak apa-apa Mas, aku paham mungkin Mas Galeo sedang rindu Nadi, aku mengert—“
“Aku bermimpi soal Nadi bukan karena melihatmu dan menganggapmu Nadi bukan, Nadi berpesan pada saya, bahwa aku harus melepaskan Nadi dan memulai segalanya denganmu.” jujur Galeo pada Nadi
“Nadi?”
“Yaa, saat itu aku sedang bermimpi soal Nadi dan dia hadir untuk mengingatkan saya untuk segera melepasnya dan menggemggammu.” Galeo menceritakan secara garis besarnya saja “Jadi Nada pamungkas Pradipa, maukah kamu membawaku dalam hubungan yang lebih baik? Memulai semua dari awal dengan cinta kasih yang baru?”
Nada meneteskan air matanya. “Mas serius?”
“Dua rius, bantu aku untuk memcintaimu dengan tulus, Nada.”
“Pasti Mas, pasti. Kita mulai dari awal ya semuanya—niatkan semuanya dari hatimu ini Mas.” Imbuh Nada lagi
Galeo mengangguk kemudian menarik Nada pada pelukannya, membuktikan perkataan Sean padanya dengan uraian tangis isak tangis Nada. Entah Sean itu sahabatanya atau seorang cupid cinta, perkataannya benar adanya perasaannya terasa nyaman dan hangat, apakah perasaannya sudah mulai membaik tanpa Galeo sadari?
“Terima kasih Mas, sudah mau bangkit bersamaku.” Galeo kembali mempererat pelukannya pada Nada
“Inilah rumahnya di masa depan, selamat tinggal Nadi kasih akhir hayatku bahagialah kamu disana.”
ΩΩΩ