BAB 17 : SEBUAH AWAL

1505 Kata
Minggu pagi itu Nada dan Galeo sudah di sibukkan memindahkan sebagian baju-baju Nada dan Galeo ke dalam koper, tepat hari ini Galeo akan memboyong keluarga kecilnya itu untuk menempati rumah baru yang sudah selesai direnovasi oleh Galeo. Sebenarnya tujuan Galeo merenovasi rumahnya juag untuk menghargai Nada sebagai istrinya, sebelumnya tumah itu adalah rumah penuh dengan kenangannya dengan Nadi, selagi ia ingin belajar mengikhlaskan Nadi ia juga ingin suasana baru dengan Nada—istrinya. Meski sang mertua menahan kehadiran mereka dirumah ini, Galeo ingin tetap kekeuh membawa Nada untuk pulang bersama menempati rumah yang sudah lebih berbeda dari dulu, mau tak mau Mila harus lebih legowo dengan keputusan Galeo membawa Nada dan juga Aira di boyong Galeo untuk menempati rumah itu. “Ma, udah dong cemberutnya—dari Nada packing sampai mau berangkat masih aja cemberut, lagian dari rumah Mama dan Papa rumah Mas Galeo nggak jauh kok.” Terang Nada setelah membantu Galeo mendorong kopernya menuju bagasi mobil “Nanti kalo malam Mama kangen Aira gimana? Terus sepi banget rumah segede ini Nada,” “Kan masih ada bang Jaja, makanya Bang Jaja suruh buruan nikah dong, Ma.” seloroh Nada “Kaya dia mau aja cepet-cepet nikah—kalo gitu setiap weekand kesini ya kalian.” “Udahlah Ma, lagian Nada sama Galeo cuman pindahan rumah bukan pindah negara.” imbuh Bachtiar sudah gemas dengan istrinya “Papa kan nggak ngerasain,” “Nanti kita bikin Jaja jadi mainan Mama.” “Papa!” kemudian terdengar kekehan ketiga orang dewasa “Ya udah Pa, Ma—Galeo ijin bawa Nada sama Aira pulang dulu.” Pamit Galeo dengan sopan “Hati-hati, Le. Papa titip Nada ya.” “Siap, pa.” “Pamit ya Ma, Pa.” pamit Nada yang kemudian mengambil alih Aira dari Mila ΩΩΩ Sampai dirumah, Galeo mengiring Nada untuk masuk ke dalam lebih dahulu dan masih meninggalkan kopernya yang masih di bagasi mobil mereka. Galeo hanya tak sabar menunjukkan rumah mereka, yang akan mereka tempati dengan suasana hati yang baru, awal yang baru. Galeo tanpa canggung menggandeng tangan kecil Nada untuk diajaknya menuju ke pintu utama rumah yang tampak sederhana namun nyaman itu. Segala hal yang dulu Nada pernah lihat kini sudah sangat berbeda, terdengar sejuk karena ada kolam ikan baru di bagian sisi kanan carport, taman mini yang menambah keindahan. “Assalamu’alaikum, selamat datang Nada, home sweet home.” teriak Galeo dengan sambutan untuk Nada “Wa’alaikumsalam, terima kasih, Mas Galeo.” lirih Nada “Masuk yuk, saya mau tunjukkin ruang-ruang baru.” Nada mengangguk mau “Diatas kamar utama kita, disampingnya ada kamar kecilnya buat Aira nanti ada connecting doornya, nah kamar yang dua ini kamar tamu dan kamar buat temen-temenku kalo mampir kesini.” tunjuk Galeo pada dua kamar kosong “Ada berapa temen Mas?” “Total 7 orang termasuk aku, jadi kalo mereka kesini jangan kaget ya—makanya aku tempatin kamar kita diatas.” Nadi mengangguk mengerti lagi. “Termasuk Bang Jaja, Mas?” “Jelas, lalu di belakang ada kamar pembantu satu tapi luas dapur kotor sama yang didepan dapur bersih, ruang keluarga buat kumpul disini, nanti kamu mau tambahin aksesorisnya terserah kamu, saya serahkan sama kamu,” “Foto pernikahan kita?” “Boleh, Nada—semuanya kamu yang atur, saya nggak ngerti soal atur-atur begitu.” “Oke siap, apapun itu Mas setujukan ya.” “Iya Nada—sekarang ke atas yuk, sekalian nidurin Aira.” “Iya, ayo Mas.” ΩΩΩ Nada disambut dengan suasana kamar yang terasa nyaman meski masih tersisa bau cat yang menguar tapi itu tak masalah. Kamar dengan suasana coklat tua dan muda itu mengambarkan kenyamanan pada kamar tersebut, ranjang besar juga dengan sprei serta badcover putih menyambutnya, box bayi kecil milik Aira yang sudah Galeo siapkan untuk putrinya. Serta beberapa set sofa, hiburan televisi yang menghadap tepat diranjang mereka, meja rias, tak berlebihan namun cukup nyaman untuk Nada bahkan ini lebih dari nyaman. Ternyata selera Galeo juga bagus memilih barang serta penataan yang bagus. “Kamu suka, Nad?” “Suka banget Mas, kamarnya nyaman banget.” “Syukur deh—sini Aira tidurin di boxnya kasihan kamu capek.” perhatian Galeo dengan membantu Nada mengambil Aira dari gendongannya “Saya mau ambil koper kita dulu, kamu kalo mau lihat-lihat dulu boleh.” “Iya, nanti dulu mau lihat kamarnya Aira dulu, Mas.” “Boleh, nggak di kunci kok—aku kebawah dulu ya,” “Oke, Mas. Nada memperhatian setiap sudut kamarnya dengan Galeo dengan senang, puas dengan acara ia melihat area kamarnya yang mungkin nanti dibagian dinding kamar mereka akan Nada beri potret fotonya, foto pernikahan dengan Aira tentunya. Nada bergagas ke arah kamar kecil Aira yang berada disamping kamarnya. Nuansa peri menyambut Nada, seindah itu kamar untuk Aira putri mereka, Galeo benar-benar mengubah semuanya tanpa setengah-setengah. Tempat tidur besar Aira juga tersedia dan tentu juga barang-barang kebutuhan Aira sudah tersedia meski aa beberapa yang diangkut kesini. Nada keluar dari kamar Aira, mendengar suara suaminya yang sudah kembali dari bawah. Rumah semi baru Nada dan Galeo, disinilah semuanya akan dimulai dari awal sebuah harapan-harapan dan kesemogaan Nada serta Galeo selalu di ridhai oleh Tuhan. “Gimana kamar Aira, Nad?” “Kereeeenn!” acung jempol Nada mengatakan luar biasa cantik “Aku sengaja bikin kamar Aira sebagus mungkin, berharap nanti dia besar jadi peri kebaikan seperti tinkerbell.” “Setuju!” imbuh Nada dengan mengelus pipi Aira “Mau sekarang kamu unpacking?” tanya Galeo membuat Nada mengalihkan perhatiannya dari Aira “Nanti dulu deh, istirahat bentar.” Tolak Nada dengan melepas cardigannya “Oke, Nad—mau makan siang apa?” “Delivery aja dulu deh ya Mas,” “Kebetulan memang aku belum isi kulkas sih,” malu Galeo dengan menggaruk tengkuknya “Kannn—ya sudah istirahat dulu deh belum laper juga kan,” “Iya,” Galeo lebih dulu menjatuhkan tubuhnya pada ranjang luas itu ΩΩΩ Perkataan hanyalah tinggal perkataan, Nada kira membuat Galeo menjadi Galeo dulu akan terasa sulit, namun ternyata Tuhan memberikannya dengan jalan kemudahan. Galeo yang dulu susah untuk Nada jangkau kini terasa dekat meski sebuah perasaan saling bertaut masih begitu abu namun melihat Galeo sudah lebih terbuka dan mau berbincang dengannya adalah hal yang patut untuk Nada syukuri. Nada masih memperhatikan wajah tampan suaminya itu, semberi menjaga Aira yang sudah bangun dari tidurnya, Nada kira menunggu Galeo bangun sembari unpacking barangnya juga tak lekas bangun padahal hari sudah menunjukkan waktu senja tapi laki-laki dewasa ini masih asik terlelap. “Aira mandi dulu yuk, udah sore loh Nak,” ajak Nada “Iya nanti kita bangunin Papa lagi ya, yuk.” Ujar Nada dengan melepas baju kecil Aira dari tubuhnya Sembari ia membersihkan diri dan juga Aira, ia juga menunggu Galeo bangun dari tidurnya, ia tak ingin menganggu tidur Galeo mengingat semalam dia baru pulang jam tiga pagi, meski bukan shiftnya menggantikan rekannya. Selesai mandi, Galeo juga tak ada tanda-tanda bangun dari tidurnya malah mungkin semakin nyenyak. “Pake baju dulu ya sayang,” Bahkan suara rengekan Aira yang kedinginan juga tak membuat laki-laki tampan itu bangun dari tidurnya, sungguh baru kali ini Nada melihat suaminya tertidur begitu lelapnya. Selesai memakaikan baju Aira dan memberikan s**u untuk bayi mungil itu, dengan tangan bebasnya Nada membangunkan Galeo dengan menggoyang-goyangkan badannya. “Mas, bangun. Nggak sholat asar kamu?” Nada membangunkan Galeo Sudah dua kali dan laki-laki itu masih tetap bergeming masih menutup matanya, dengan gemas Nada mencubit lengan keras Galeo dengan tenaganya sebisa mungkin. “Awww!!” teriak Galeo yang kemudian bangun “Nada! Apa-apaan sih?!” “Bangun, udah hampir manghrib, dari tadi aku bangunin juga,” sewot Nada bahkan ia belum berganti baju karena mengurusi Aira dan juga suaminuya itu “Ck, jam berapa?” “Jam setengah lima.” jawab Nada cepat “Sholat, Mas.” “Iyaa,” balas Galeo disela-sela ia menciumi Aira yang masih menikmati susunya ΩΩΩ “Udah unpacking, Nad?” “Udah dari tadi Mas,” “Oh ya udah—itu bajumu enggak ada yang lain?” “Ada.” balas cepat Nada “Ya udah ganti, aku laki-laki normal Nada.” “Ya terus? Kan sama suami sendiri—kecuali aku sama Mas bukan muhrim baru nggak boleh.” “Ck, ganti sana—kamu pintar banget jawab saya,” “Beneran mau aku ganti ini?” Galeo mengangguk “Lingerie sih,” “Jangan gila kamu, Nad.” “Ya katanya suruh ganti bajuku ini,” “Allahuakbar, bisa gila aku Nada!” kikikan Nada mengudara melihat suaminya frustrasi melihat gaun tidur Nada yang memang sangat terbuka itu “Daripada lihat aku pake lingeri kan lebih aman pake ini,” santai Nada dengan menggulingkan badannya diranjang besar itu “Kamu pake kaosku aja deh,” masih, Galeo masih tak ingin diam “Nggak mau! Diam deh Mas—kok sekarang Mas Galeo jadi bawel sih?” “Kalo kamu nggak begini aku nggak bawel, Nada!” “Terus maunya aku harus gimana? Oh aku tahu,” Ini adalah hal gila yang terlintas dari otak cantik Nada, bahkan ini juga ajaran sesat dari Gia mungkin ini bisa Nada tampilkan toh yang berada di kamarnya cuman ada suaminya, bahkan itu sudah halal. Nada bangun dari tidurnya, menatap Galeo dengan nafas tersenggal menandakan Nada kesal dengan kebawelan Galeo akibat baju tidur seksinya itu, di balik baju itu Nada hanya memakai celana dalam pasangan dari baju tersebut tanpa bra yang melindungi aset menariknya itu. Dengan pelan Nada menarik ujung baju tidurnya itu, bahkan melihat wajah Galeo memerah menjadi hiburan mengasikkan untuk Nada, kapan lagi—oh mungkin hal itu akan menjadi kebiasaan Nada menggoda Galeo. “Nada, kamu mau apa, nada!” Nada hanya menggedikkan bahu acuhnya, menantang Galeo dengan aksinya, bila nanti Galeo akan kabur dari kamar mereka saat baju seksi Nada lepas maka bisa dikatakan bahwa Galeo masih belum bisa merelakan Nadi, tapi sudah lima detik berlalu Galeo masih berada ditempatnya menatap Nada tak suka dengan aksinya. “Nada, please. Aku—“ ucapan Galeo terpotong “Nada!” Galeo mendorong Nada kebelakang dengan Galeo berada di atasnya “Aku udah sah Mas buat kamu,” pancing Nada namun jauh dalam hatinya juga bergetar menahan takut “Jangan begini didepan laki-laki lain, aku nggak akan ijinin.” “Sure, buat Mas Galeo semua,”bisik Nada takut-takut “Nada—“ “Heeemmm,” deham Nada “Boleh saya cium kamu?” “Boleh k—kkok—“ Seperti berada di terjun air yang sejuk, mendapat ijin dari Nada tak serta merta membuat Galeo menunggu lebih lama untuk tak mendaratkan ciumannya pada tulang selangka Nada. “Ini ya rasanya versi halal, nikmat.” Nada mendengar bisikan Galeo di samping telinganya hanya terkekeh “Memang,” balas Nada dengan menyisir rambut berantakan Galeo ΩΩΩ
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN