Pagi pertama Nada di rumah barunya, rumah masa depannya dengan Galeo, surga ternyaman untuknya pulang, tempat dimana ia berkumpul dengan keluarga kecilnya. Mungkin bila Nada masih tetap kekeuh dengan sikap egoisnya atau bahkan keduanya sama-sama akan tetap egois menuruti keegoisan mereka, hal-hal seperti ini tak akan mereka rasakan, dua manusia dengan sikap gengsi kini telah kalah dengan takdir Tuhan yang tak bisa lagi di ganggu gugat.
Nada memandangi laki-laki yang masih terlelap di sampingnya ini, suaminya—laki-laki yang menjadi cinta pada pandang pertamanya, ayah dari anak-anaknya kelak. Laki-laki disampingnya ini memiliki aura yang kuat, bahkan aja sampai sekarang ia masih saja menyimpan rasa untuk suaminya ini yang ia tahu masih belum merasakan cinta untuknya.
Menunggu Galeo belasan tahun saja ia bisa, apalagi sekarang Nada bisa menyentuh Galeo dengan halal, sungguh takdir Tuhan tak ada yang tahu, yang tadinya Nada sudah menyerah saat tahu laki-laki yang masih terlelap ini akan meminang adik kembarnya kala itu, satu persen pun Nada sudah tahu tak akan mun, gkin bersanding dengannya, hingga ia menahan semua lara dan pendeman yang selama ini tak ada satu orangpun yang tahu kecuali Tuhan yang tahu tentang isi hati Nada. Memang rahasia Tuhan itu tak ada yang tahu.
Nada menggerakkan jarinya, keinginannya ketika pertama kali ia sudah sah menjadi istri Galeo ingin menyentuh wajah Galeo yang menyimpan berjuta aura yang bisa membuatnya cinta mati pada manusia tampan didepannya ini.
Baiknya Tuhan Nada diberikan kesempatan untuk memiliki laki-laki ini, meski harus ada yang harus ia relakan yaitu kepergian Nadi, entah kebaikan atau kesabaran apa yang Nada perbuat hingga bisa bersanding secara halal dengan suaminya ini.
Penjelajahan masih tetap Nada jalankan, meski ia sudah tahu rasanya menyentuh wajah Galeo, ternyata rasa itu menjadi candu untuk Nada, tak hanya sekali dua kali, berkali-kali. Namun begitu Nada harus bangun lebih dahulu dari Galeo untuk menyaksikan wajah yang dulu sangat ingin Nada pandangi selama mungkin.
ΩΩΩ
“Wajah suamimu ini nggak akan pergi kemana-mana, Nada.” Celetuk Galeo dengan suara seraknya
“hah!” kaget Nada “Ma—Mas udah bangun? Maaf aku ganggu.” gugup Nada saat tahu Galeo ternyata sudah bangun
“Sudah, beberapa manit yang lalu—sudah puas, hmmm?” kini mata Galeo sudah terjaga sepunuhnya membuat wajah Nada memerah
“Su—sudah—“
“Mau masuk dalam pelukan saya?” tawar Galeo
“Apa?” melotot Nada dengan wajah masih memerah
“Bukannya kita udah sepakat untuk memulai semuanya dari awal? Termasuk dengan adegan intim.”
“Massss!!” teriak Nada malu namun Galeo tak tega menjahili Nada lebih lama lagi kemudian menarik Nada masuk dalam pelukannya
“Jangan teriak Nada, masih pagi nanti Aira bangun.”
“Iya—“ suara Nada terendam dalam pelukan Galeo
Beberapa menit mereka si para orang dewasa itu menikmati sunyi dan hangatnya berpelukan versi halal, meski awalnya Galeo tak ingin menerima dengan hati yang lapang tentang pernikahan ini rasanya ingin menarik ucapannya yang amat sangat melukai hari perempuannya ini.
Anggap saja saat itu ia sedang berada di puncak kebodohan yang hakiki yang mengakibatkan ia tak bisa berpikir normal. Yang ternyata malah membuat Nada terluka, jadi ia ingin menembus semua kesalahannya. Meski belum ada perasaan lebih yang tumbuh antara dia dan Nada, meski ia tahu Nada sudah mencintainya lebih dulu ia juga ingin belajar bisa mencintai, memberi kasih sayang untuk istrinya ini.
Benar apa kata Sean kala itu, lalui dengan ikhlas dan sabar, hadiahnya sebuah kebahagiaan yang hakiki, janan memaksa keadaan karena cinta akan tumbuh seiring berlalunya waktu, cinta tumbuh karena terbiasa.
ΩΩΩ
Melewati subuh dengan melakukan ibadah subuh bersama, awalnya Nada meminta Galeo untuk subuhan di Masjid namun Galeo ingin melewati subuh pertama mereka di rumah baru mereka, mungkin bagi yang sudah umum ibadah bersama terasa biasa saja namun untuk Nada adalah suatu hal yang romantis untuknya, meski memang sebaiknya laki-laki pergi kemasjid mungkin ini untuk yang pertama, besok Nada akan menyuruh Galeo untuk pergi Masjid.
Mencium tangan suaminya dengan takzim kemudian di ikuti tangan Galeo yang mengelus lembut kepala Nada yang masih tertutup mukena dan tak lupa menyisipkan ciuman lembut di kening Nada.
“Mau sarapan apa, Mas?” tanya Nada sembari melipat mukenanya
“Apa aja yang kamu masak, saya makan.”
“Oke, kalo gitu bisa bangunin Aira sebentar kasih s**u dulu.” Pinta Nada pada Galeo yang sudah siap merebahakan dirinya di kasur namun urung ia lakukan karena titaj istrinya
“Iya, s**u formula apa ASI?”
“ASI aja dulu.” dan di angguki oleh Galeo kemudian laki-laki itu beranjak
Selain menjadi pengurus lembaga sekolah, Nada juga bisa dengan telaten mengurus urusan dapur dan tentunya yang utama adalah mengurus suami serta anaknya Aira. Dua hal itu harus Nada utamakan terlebih dahulu sebelum mengurusi hal-hal yang lain.
Keadaannya sekarang bukan lagi seorang gadis bujangan, sekarang sudah menambah titel baru yaitu istri dan ibu tugasnya bertambah, mengurus ini dan itu, apalagi mengurusi suami yang memiliki pekerjaan sebagai Dokter mau tak mau ia juga mengikuti ritme cepat Galeo yang kapan saja bisa dipanggil rumah sakit untuk tindakan menyangkut nyawa orang lain.
Dengan tangan cepatnya Nada membuatkan sarapan oatmeal dan roti sendwich kesukaan Galeo serta s**u khusus untuknya. Meski ini hari liburnya bisa saja ia tiba-tiba mendapat calling dari rumah sakit yang kapan saja bisa menganggu hari minggunya, maka dari itu Nada menyiapkan sarapan terlebih dahulu berjaga-jaga bila hal itu terjadi, melepas Galeo bekerja sudah aman karena perut laki-lakinya sudah terisi.
Selesai menyiapkan sarapan simple suaminya, Nada naik keatas untuk melihat Galeo dan Aira apa anak dan ayah itu ia tinggal baik-baik saja atau malah sebaliknya.
Nada amat sangat menikmati perannya menjadi ibu serta istrinya ini, meski terasa canggung ia tampak lebih luwes akhir-akhir ini apalagi Galeo mulai terbuka dengannya. Yang Nada berharap dan selalu berdoa dalam merayu sang pencipta agar suaminya itu mulai memiliki rasa padanya.
Nada membuka pintu kamarnya yang sedikit terbuka itu, matanya menyaksikan Galeo serta bayi mungil itu kembali tidur, dengan Aira yang nyaman berbaring tengkurap di badan Galeo, sedangkan Galeo tertidur dengan posisi badan sudah miring kekiri.
“Ya ampun kasihan banget kamu, Nak.” Gumam Nada dengan mengangkat Aira dari atas tumbuh Galeo
Aira adalah jiplakan Nadi yang bila tidurnya terusik ia akan merasakan dan benar saja bayi mungil itu mengulat dari acara tidur lelapnya dengan wajah serta badan yang memerah tandanya ia akan menangis sebantar lagi.
“Yeah..satu, dua, ti—ga”
Tangisan kencang mengudara dikamar luas itu, membuat sang Ayah yang tadinya tidur dengan nyenyak ikutan membuka mata dengan wajah kuyu khas bangun tidur.
“Ada apa? Kenapa?” tanya Galeo dengan wajah polos
“Mau aku pindah tidurnya, Mas.” Nada menjawab raut cemas Galeo
“Sini biar sama Saya aja,” pinta Galeo
“Jangan di taruh atas badan lagi, kasihan Airanya.”
“Mau saya gendong, kasihan itu nangis.” Nada memberikan Aira pada Ayahnya
“Ya udah aku kebawah dulu, sepuluh menit lagi aku balik, mandiin Aira.”
“Iya, Bunda.”
ΩΩΩ
Minggu yang tenang ini Nada manfaatkan untuk menensngkan segala urusan termasuk masalah mengurusi sekolah, menikmati pekan yang tenang versi Nada adalah menikati sajian film yang sedang ia tonton, sembari menunggu sang suami bangun dari tidurnya setelah menikmati sarapan yang disajikan Nada, Galeo kembali merebahkan badannya yang katanya remuk redam yang beberapa hari ini shiftnya ambruladul menggantikan temannya.
Begitu dengan Aira yang kali ini memang sedang anteng-antengnya dengan bouncer kesayanganya sehabis menghabiskan s**u ASInya, Aira menjadi bayi yang pengertian bahwa sesungguhnya sang Bunda juga membutuhkan waktu me timenya tanpa di ganggu gugat.
Nada memang memilih menonton di ruang keluarga tak ingin menganggu tidur Galeo, dengan ditemani si cantik mungil yang juga sama-sama terlelap nyenyak. Nada begitu asik menyaksikan adegan demi adegan hingga tanpa sadar sudah ada seseorang yang tidur disebalahnya—Galeo sudah berada disampingnya dan kembali memejamkan mata.
“Kok pindah kesini?”
“Sepi.”
“Kan tidur juga butuh yang sepi, Mas—aduh!”
“Nonton dikamar aja,” pinta Galeo yang kini sudah mendusel pada punggung belakang Nada
“Nggak enak, nanti ganggu Mas tidur,” kilah Nada lagi
“Disini nanti dilihat Bi Indah.” seru Galeo lagi dengan suara serak
“Ya terus kenapa? Mas kan yang nyusul kesini.”
“Mau peluk.” kata Galeo tanpa dosa dan tanpa ia sadari istrinya sudah memerah karena ucapan spontan Galeo “Pindah?”
“Ck, ya udah ayo—tapi Mas yang angkat Aira ya.” yang dibalas dengan dehaman ala Galeo
ΩΩΩ
Ternyata pelukan seperti yang Galeo lakukan menjadikannya candu, pelukan dengan Nada seperti ia merasakan kenyaman lain, pelukannya hangat dan itu cukup membuatnya candu. Meski terasa tak nyaman dengan tingkah Galeo dengan memeluk tubuhnya, bukan lagi memeluk Nada malah badannya sudah di lilit dengan pelukan hangat Galeo, kakinya yang terlilit dengan kaki Galeo seakan tak ingin Nada pergi jauh lagi.
Bukan fokus ke film, Nada malah terasa terganggu dengan hembusan nafas Galeo yang berada di sela-sela lehernya. Hal yang membuat Nada betah dan diam saja meski badannya terlilit adalah bau Galeo, meski suaminya ini belum melakukan dengan cara mandi badannya tetap terasa harum dan Nada menyukai hal itu
Apa ini yang dimaksud dengan bucin kuadart?
Dan satu lagi kebiasan Galeo yang makin membuat Nada maklum adalah tidur tanpa baju, awalnya Nada merasa aneh dengan kebiasan laki-lakinya itu, apalagi mesin pendingin selalu berfunsi hidup namun Galeo masih tetap merasa gerah, aneh bukan. Memang awal mereka menikah Galeo masih di batas wajar, tidur menggunakan baju lengkap namun beberapa hari ini dan setelah mereka pindah dirumah versi baru Galeo sudah berani melempar kaos yang ia pakai dan dengan tenang tidur di sebelah Nada.
Bagaimana tidak jantung Nada jempalitan layak seperti ingin lepas dari singgahsananya. Aset Galeo terpampang nyata didepan matanya, aset yang tersimpan dibalik baju kini terpampang nyata didepannya, awalnya Nada mengira Galeo ingin berbalas bendam karena pakaian haramnya menggugah selera laki-laki normal manapun sehingga Galeo ingin juga membuat Nada blingsatan memandang perut terkelola Galeo hingga tercipta enam balok seksinya. Namun ternyata anggapan Nada salah besar, Galeo melempar kaosnya karena ia terbiasa tertidur tanpa memakai pakain, bukanlah sungguh super sekali suami Nada ini.
“Mas, nggak mau mandi?” tanya Nada disela-sela ia mengganti episode film yang ia tonton
“Jam berapa?” sahut Galeo
“Hampir setengah dua belas lho.”
“Lima menit lagi,”
“Nanti molor lagi kaya tadi.” sahut Nada
“Iya nggak—Nada?”
“Hmm, kenap—“
“Obat buat melek,” seringai Galeo dengan jahil kemudian bangkit dari tidurnya dan sukses membuat Nada memerah
ΩΩΩ