BAB 19 : AJARI AKU BUCIN

1216 Kata
Mendengar kata Bucin bukanlah hal yang tabu namun kalimat singkatan itu sudah ramai diperbincangkan terkhusus di tunjukkan kepada seseorang yang memiliki pasangan yang memiliki perasaan lebih dari apapun, Bucin alias b***k Cinta kini membuat Galeo tersenyum konyol, yang biasanya kalayak umum menyembutnya ajari aku cinta namun berbeda dengan si bapak Dokter tampan favorit para perawat di rumah sakit Citra Madika Husada ini. Seperti orang awam lainnya, Galeo kembali berguru pada Sean rekan sesama Dokternya yang lebih dulu terjun pada dunia pernikahan, bahkan lebih lama menjalin hubungan dengan status Halal dengan sang istri berbanding dengan Galeo yang masih seumur jagung membina rumah tangga dengan Nadi namun sayangnya Tuhan lebih sayang Nadi katimbang harus terus menjalani biduk rumah tangganya namun sekarang ia malah kembali menjalani biduk rumah tangga dengan saudara kandung mendiang Nadi yang tak lain adalah kembarannya—Nada. Galeo ingin menunjukkan bahwa ia juga ingin mencintai Nada dengan keniatan, meski awalnya pernikahan yang ia jalani adalah sebuah keterpaksaan. Ternyata yang lebih drama dari yang lain dirinya sendiri.bahwasananya ia menyadari kehidupannya bukanlah dongeng fiksi, kehidupannya adalah jalinan nyata. “Sean?” panggil Galeo yang sudah duduk disamping Sean yang matanya terpejam “Oi,” singkat Sean tanpa membuka matanya “Gue mau berguru nih.” bisik Galeo “Nggak salah denger nih kuping gue?” santai Sean yang posisinya masih tetap sama “Ngga!” “Masalah apa?” “Rumah tangga,” “Apalagi sih, Le?!” gemas Sean yang kini sudah membuka matanya demi menanggapi sahabatnya ini “Ajarin gue biar bucin ke Nada dong,” pertanyaan konyol Galeo dia berikan pada Sean “Cinta dulu baru lo bucin.” “Caranya?” “Le, Le, lo tuh Dokter tapi b**o banget, dulu lo cinta sama Nadi gimana—aneh-aneh aja pertanyaan lo.” kata Sean dengan mimik biasa aja “Yaa—dulu sama Nadi cinta aja gitu nggak ada cara gimana-gimananya, gue nanya lo kan lo pernah ngalamin begini sama bini lo,” unjuk Galoe pada Sean “Sering-sering aja skinsip, ntar lama-lama juga jatuh cinta lo,” singkay Sean yang kini kembali pada posisi sebelumnya “Astagfirullah Sean, gue serius nanya ke lo—malah lo jawabnya enteng banget!” kesal Galeo “Ya gue juga dulu gitu, g****k! Lo paham kan maksud gue skinship?” “Halah percuma gue berguru ke lo, Sean.” “Udah tahu pake berguru ke gue,” gumam Sean enteng ΩΩΩ Tak ingin berhenti sampai disini saja, Galeo tetap ingin tahu cara bucin dengan cara alami, tak tanggung-tanggung ia membuka mesin pencarian si pintar, mengetik kata kunci yang ia butuhkan dan kemudian muncul beberapa blog yang menyajikan apa yang Galeo cari. Salah satunya adalah skinship yang katakan Sean tadi, salah satu hal yang menciptakan kedekatan. Inilah tekat Galeo ingin merubah segalanya yang awalnya ia kira akan menjadi lai-laki gagal move-on kemudian di runtuhkan dengan kehadiran Nada sebagai istri yang mampu mengubah pikiran egoisnya menjadi pikiran terbuka. Galeo membaca beberapa blog yang tersedia di mesin pencarian pintar itu, yang katanya sentuhan fisik atau disebut dengan skinship menambah keintiman hubungan. Galeo membaca beberapa hal yang tertulis dalam blog tersebut, dengan bantuan si pencarian pintar itu Galeo bisa mengambil beberapa hal yang bisa ia terapkan dihubungannya dengan Nada. Dulu pulang kerumah adala hal yang ingin Galeo lakukan, pasalnya yang membuat semangat untuk segera pulang ke rumah adalah mendiang Nadi namun semenjak Nadi berpulang, hasrat ingin menyiksa diri sendiri menjadi hobi Galeo. Bahkan, semenjak ia kembali menikah untuk kedua kalinya dan memiliki istri kembali hasrat untuk cepat pulang kerumah ingin segera Galeo lakukan. Apalagi bertemu dengan bayi mungilnya yang berganti hari, berganti bulan perkembangan Aira semakin terlihat. “Gelisah mulu lo!” “Kaya nggak tahu Galeo aja, dia kan pengen cepet-cepet pulang biar bisa kelonan,” imbuh Javier yang baru saja bergabung dengan Sean dan juga Galeo “Ini Dokter jaga gantian shift gue kemana sih?” kesal Galeo “Yailahh—Le, libur dulu kali jadi bapak—kan udah dua hari kekepin Nada,” “Kotor mulu pikiran lo! Gue pengen buran pulang tuh kasihan Aira di rumah sama Bi Indah doang, Nada belum pulang.” “Tumben?” “Lembur, makanya ini mau gue jemput tapi si Yoga belum nonggol,” “Ini aja masih jam tiga, Le.” sela Sean Hembusan nafas kesal menyelimuti Galeo, tumben sekali tempat untuk berganti shift dengannya terlambat datang. Sebenarnya pagi tadi Nada memaksa dirinya untuk menggunakan mobil sendiri, takut bila hal seperti ini akan saling merepotkan. Namun, Galeo tetap kekeuh ingin mengantar Nada ke tempat kerjanya. “Noh, Yoga!” Sean memberitahu “Absend jangan lupa,” Javier mengingatkan “Yoi, gue balik dulu bro.” Pamit Galeo     ΩΩΩ Menyiapkan segala hal kebutuhan suami adalah impian yang aling Nada tunggu, seperti saat ini selain menyiapkan kebutuhan Aira ia juga menyiapkan kebutuhan suaminya juga, menyiapkan makan malam, menyiapkan s**u untuk Aira, untuk dirinya bisa menunggu nanti. Itulah perjuangan sang istri dan Ibu yang multitasking, meski keadaannya sama-sama lelah namun untuk kebutuhan suami serta anak Nada ingin memperrioritaskan. Nada memindahkan Aira pada box tidurnya yang sudah ia ganti spreinya, sepertinya Aira memang sengaja tidur dengan menunggu Nada pulang terlebih dahulu kemudian ia baru bisa terlelap. Meski ada Bi Indah yang membantu menjaga Aira, Aira adalah tipikal bayi yang susah nyaman. “Aira tidur, Nad?” tanya Galeo yang baru saja selesai membersihkan tubuhnya “Ud—Mas! Lep badannya dulu bisakan? Itu netes semua, basah.” “Bisa handukan dikamar kan,” balas Galeo, sengaja memang laki-laki itu Suara decakan sebal terdengar di pendengaran Galeo, ia yakin pasti Nada malu dengan situasi sekarang, Galeo memang jarang berganti baju di kamar biasanya langsung membawa baju gantinya kedalam kamar mandi. Melihat Nada malu-malu menjadi hiburan baru untuk Galeo, istrinya itu ternyata diam-diam memiliki raut wajah imut saat malu-malu seperti ini. Ingin sekali Galeo mencubit pipi merah istrinya itu. Bukannya segera menggenakkan bajunya namun Galeo masih bertahan berdiri dibelakang Nada yang sedang mengeluarkan isi tasnya. Nada hanya ingin mengalihkan pandangannya, entah apa saja yang terpenting tidak tertuju pada suaminya itu. Bahkan bulu kuduknya terasa berdiri, ia yakin Galeo pasti masih berdiri di belakangnya, nyatanya bajunya masih terlipat rapi di samping tasnya. Melihat reaksi Nada yang malu dan kaku, membuat Galeo tak tahan menahan kegemasan yang di ciptakan oleh Nada, tangan kekarnya menjulur pada tubuh ramping Nada kemudian memperangkap pinggang itu. Katakan ini gila tapi Galeo hanya menuruti apa kata hatinya katakan. Bukannya ini yang namanya menumbuhkan chemistry, dengan cara lebih sering melakukan skinship. Galeo menyenderkan dagunya pada bahu Nada, menikmati tingkah Nada yang tiba-tiba tubuhnya terasa kaku. “Lemesin, jangan kaku begini.” bisik Galeo di telinga Nada “Ma—Mas—“ “Hmmm—kita sudah sepakat Nada untuk memulai semuanya.” “Iy—iyaa—ta-tapi pakai baju dulu, dong.” gugup Nada yang sudah terlihat santai “Nanti dulu, saya mau peluk kamu begini.” “Keburu nanti Mas masuk angin, lhoo.” pinta Nada dengan canggung “Kamu nggak mau saya peluk?” “Bu-bukan git—Masss!” teriak Nada saat Galeo menarik Nada yang jatuh ke ranjang mereka “Apa kalo gitu?” seringai jahil Galeo “Mas Galeo nggak ap—“ Galeo menahan bibir Nada agar tak lagi mengeluatkan kalimat lanjutannya, sekali Galeo menarik Nada, wanita itu diam dengan sendirinya. Mereka saling memantap satu sama lain. Pancaran sinar baru Nada temukan pada mata Galeo, pancaran mata coklat yang selalu Nada kagumi dulu hingga sekarang. “Pelan-pelan aja ya kita pacarannya,” Nada mengangguk “Mas beneran mau coba?” “Iya, pelan-pelan ya kita jalanin,” “Begitu lebih baik, Mas.” “Jadi, saya sudah boleh cium kamu?” tanya Galeo dengan wajah serat ingin “Bo—boleh—“ Rasanya seperti kembali menjadi seorang ABG merasakan ciuman yang terasa meletup-letup pada dua rongga jantung mereka, tak ingin menjadi pihak yang menuntut Galeo memperlakukan Nada dengan lembut, ciuman yang ringan sebelum berubah menjadi ciuman yang menutut tentunya dengan persetujuan Nada yang juga menikmati alur per alur yang Galeo ciptakan. “Manis—“ ujar Galeo didepan bibir Nada dan membuat Nada sukses memerah kembali “Mass—“ “Mau lebih?” pertanyaan polos Galeo “Apa sih m***m!” malu Nada dan disambut dengan kekehan Galeo senang Dan itulah awal mulai hubungan yang lebih baik versi Galeo serta Nada, meski diawali dengan beribu kalimat penolakkan akhirnya dua anak manusia ini terlalu larut dengan takdir, akankah cinta segera tumbuh di antara mereka atau malah sebaliknya? Hanya Tuhan dan mereka yang tahu. ΩΩΩ
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN