BAB 10: PERSIAPAN

1898 Kata
Nada menatap kesal pada Galeo yang sedari tadi hanya mengeluarkan kata ya dan tidak saat Nada meminta saran ingin menggunakan dekorasi untuk menhiasi acara private resepsi mereka nanti, namun naasnya Galeo hanya memberi jawaban singkat. Hingga tatapan horor Nada tamatkan pada Galeo, kesannya ini adalah pernikahan yang Nada inginkan sendiri tanpa pihak laki-laki ikut turun terjun mengurusi persiapan pernikahan mereka. Galeo tetaplah Galeo, Nada kira Galeo akan berubah menyesuaikan waktu tapi hingga detik ini laki-laki yang memang tampan itu sama sekali tidak ada perubahan. Nada kehilangan sesosok Galeo yang suka menebarkan canda dan tawa meski saat bertatapan dengannya sering tercipta jarak canggung, sekarang keadaan mereka makin aneh—semua bayangan yang Nada rangkai terurai tak menentu. Seperti saat ini Galeo masih ogah-ogahan melewati semua rangkaian menyiapkan acara pernikahan mereka, padahal saja ini juga atas persetujuannya juga bukan. “Jadi, ini sudah fix ya mbak Nada pake dekorasi bunga mawar ya—ada lagi yang mau di tambahkan?” tanya Fanni selaku orang dari Wedding Organizer “Untuk saat ini itu dulu aja mbak, nanti buat tambahannya bisa kita cari berdua aja ya,” Fanni mengangguk mengerti “Besok saya cek tempatnya juga mbak, mau saya lihat untuk dekorasi nanti.” “Besok saya boleh ikut juga nggak mbak?” “Boleh banget Mbak Nada, biar sekalian Mbak lihat juga kan.” setuju Fanni “Besok jam sembilan ya Mbak, kebetulan saya free tugas juga,” putus Nada “Bisa mbak, saya juga lowong di sekitar jam sembilan—nanti kontek-kontekan aja ya,” “Oke Mbak—kalo gitu saya pamit dulu Mbak Fanni terima kasih untuk waktunya.” Pamit Nada yang kemudian beranjak meninggalkan Galeo yang masih duduk termenung Galeo mengalihkan tatapannya pada Nada yang sudah beranjak meninggalkan tempa duduknya segera ia mengikuti Nada sebelumnya memberi tanda pamit kepada Fanni dan wanita muda itu hanya menggeleng tanda maklum. Mengetahui ia sudah sering bertemu dengan kliennya dari pihak laki-lakinya yang memasang tampang malas dan enggan seperti Galeo itu. ΩΩΩ “Nada!” Nada tetap tak mengacuhkan panggilan Galeo padanya dan Nada tetap berjalan sembari memesan mobil Grab yang bisa membawanya kembali ke sekolah tempat ia bekerja. “Nada! Kamu dengar nggak sih!” Nada masih tetap diam, ia benar-benar kesal, bukan kesal yang nanti akan kembali memaafkan kelakuan orang di sekitarnya namun kali ini marah Nada sudah berada di ubun-ubun, apalagi ini menyangkut acara pernikahan meraka. Galeo kesal Nada tak mengacukan panggilannya, hingga tangan besarnya meraih cepat ponsel yang sedang Nada otak-atik itu, secepat kilat Nada mengalihkan mata penuh amarahnya pada Galeo, menatap sosok laki-laki yang sudah membuatnya kesal serta malu. “Balikin ponselku!” kesal Nada “Nggak, ayo masuk ke mobil saya.” ajak Galeo pada Nada “Nggak mau, terima kasih—masih ada mobil Grab yang mau pickup aku!” “Kamu marah cuman hanya jawabanku tadi?” Nada masih diam dan tak kembali meminta ponselnya “sudah saya batalkan Grabnya—ayo ke mobil.” “Ke mobil aja sendiri!” “Nada, please,” mohon Galeo ada kembali mengalihkan netranya pada Galeo yang memintanya untuk ikut ke mobilnya dengan gerakan cepat Nada meraih ponselnya di tangan Galeo kemudian menuju ke mobil pria itu. Di sepeninggal mereka di halaman wedding organizer suasana masih hening tanpa suara yang menghiasi hanya suara nyanyian dari radio yang sengaja Galeo hidupkan. Melihat Nada bungkam mengunci rapat bibirnya. Galeo bingung harus melakukan hal apa—ia benar-benar laki-laki paling parah, hal ini kembali terulang saat ia menyiapkan pernikahannya dengan Nadi hingga Nadi mogok bicara hingga acara akad datang dan memang Nadi lakukan bila Nada juga melakukan sungguh ia akan menjadi manusia patung. Memang Galeo adalah manusia paling payah untuk memberikan saran, ia tak pernah berkelakuan seperti ini, bila ia butuh barang ia tak membutuhkan saran dari siapapun—ia lebih memantabkan diri untuk memiliki atau melakukan sesuatu hal. “Mau sampai kapan diam terus begini?” Galeo akhirnya membuka percakapan “Sampai nanti Bang Galeo bisa kasih saran juga—ikut campur sama pernikahan kita.” “Kan aku udah masuk dalam hal menyiapkan pernikahan, Nad.” balas Galeo “Benar tapi Abang diem aja—cuman kasih jawaban yang gantung—udahlah besok biar aku sendiri aja,” putus Nada “Toh yang nikah juga buat aku sendiri kok—kan Abang setengah hati lakuin ini ya.” ucapan Nada cukup memohok “Nad, bukan begitu—“ “Turunin aku di halte depan!” putus Nada spotan “Nggak!” “Terserah,” Galeo memukul kencang stir kemudinya mendengar  jawaban Nada ΩΩΩ Nada memilih acara simple untuk acara pernikahannya hanya ada acara pengajian serta siraman untuk kedua pemelai saja dan itu hanya di hadiri oleh beberapa teman, kerabat, dan keluarga besar Galeo dan Nada. Sebelum acara akad besok di laksanakan, Nada ingin membuat acara yang intim antara keluarga dua belah pihak apalagi Nada yang baru akan menjadi bagian keluarga Galeo, acara ini juga untuk mengakrabkan Nada pada keluarga Galeo yang beberapa belum ia kenal. Pengajian ini di awali dengan membaca doa-doa untuk kedua pengantin, dan sekarang tiba waktunya dimana Nada dan juga Galeo meminta ijin restu kepada kedua orangtua masing-masing. Nada mengubah posisi duduknya untuk menghadap kedua orangtuanya dan juga sang Kakak yang kembali di langkahi sang Adik untuk lebih dahaulu menikah. “Bissmillahirahmanirahim..asyahadu an-laa illaha illallaah wa asyahadu anna muhammadan rasuulullah..Papa dan Mama serta Abang Javier yang Nada cintai, sepanjang hidup, Nada akan selalu bersyukur dan berterima kasih kepada Allah SWT karena telah dipilih untuk terlahir sebagai putri dari Papa dan Mama. Nada telah dibina, dibimbing, dan dilimpahi kasih sayang.” Isi restu Nada “Papa, Mama, dan Bang Javier Nada menghaturkan permohonan maaf jika selama hidup, Nada telah banyak melakukan kesalahan dan kekhilafan  terhadap Papa dan Mama serta Bang Javier, maafkan salah, dosa, dan khilaf Nada selama ini sebagai anak dan adik.” imbuh Nada dengan suara serak “Papa Mama dan Bang Javier, hari ini Nada memohon izin, mohon doa restu untuk menikah dan membina rumah tangga dengan laki-laki pilihan Nada, untuk menemani perjalanan panjang hidup Nada kelak. Seseorang laki-laki yang InsyaAllah bisa menjadi imam yang bijak dan penuh kasih sayang.” “Nada mohon keikhlasan dan keridhoan Papa dan Mama serta Abang Javier atas pernikahan ini, semoga kehidupan rumah tangga Nada nanti senantiasa rukun, damai, sejahtera, serta sakinah, mawwadah wa rahmah dan penuh berkah dari Allah SWT.” Nada mengakhiri suara meminta ijin serta restunya Tangisan lirih meluruh di antara kedua mata Nada dan juga Mala menghiasi acara pengajian tersebut, begitupun dengan Bilqis selaku ibu dari Galeo. Tangisan bahagia, tangisan seorang ibu untuk anak putrinya. ΩΩΩ Bachtiar mengambil telapak tangan sang putri kemudian menggenggamnya dengan erat, sekaan Nada akan segera lenyap namun bukan itu yang dalam pikiran Bachtiar. “Bismillahirahmanirahim..Nada, putri kecil Papa dan Mama. Segala kesalahan dan kekhilafan Nada telah Papa dan Mama maafkan dan apapun yang menjadi harapan Nada , akan Papa dan Mama kabulkan—“ “Papa dan Mama merasa sangat bahagia bahwa Nada telah menentukan pilihan teman pendamping untuk menjalankan bahtera kehidupan, membentuk keluarga sakinah, mawwadah  wa rohkmah. Sesungguhnya bagi Papa dan Mama, rasa bahagia ini sudah terpancar sejak Nada masih dalam kandungan Mama, tiada harapan dan keinginan lain Papa dan Mama kecuali kebahagiaan Nada,” “Doa restu Papa dan Mama selalu mengiringi langkah Nada dan juga suamimu. Semoga Nada senantiasa memperoleh kebahagiaan dan ketentraman dalam berrumah tangga yang sakinah, mawwadah wa rohkmah dalam lindungan Allah SWT.” balas Bachtiar dalam restunya kepada Nada Bachtiar memeluk putrinya dengan erat saling menumpahkan air mata, inilah kasih cinta seorang ayah kepada Anaknya menyerahkan Nada pada laki-laki yang akan mengambil tanggung jawabnya dan menjadi imam Nada nanti. Tangisan haru mewarnai ruangan yang di ubah sedemikian cantik itu, kini pelukan Nada beralih pada sang Mama, pelukan yang tak kalah nyaman dan hangat, pelukan ini yang dulu memeluknya saat ia kedinginan dan membutuhkan perlindungan. “Mama maafin Nada ya—“ lirih Nada “Iya sayang—mama maafkan, setelah ini Nada harus bahagia ya sayang.” ΩΩΩ Acara demi acara terlewati dengan lancar, baru saja Nada melewati acara siraman, sekitar tujuh orang yang akan melakukan siraman tersebut. Siraman ini menyimbolkan pembersihan diri sebelum masuk ke ritual yang lebih sakral, yang terakhir sang ayah dari pemelai wanitanya yang akan melakukan siraman terakhir. Kemudian di lanjutakan dengan menggendong  anak perempuannya menuju kamar pengantin, begitu pula untuk pemelai laki-lakinya yang juga melakukan siraman. Meski Nada sudah di guyur air, kecantikan Nada semakin menguar menampakkan aura cantik nan ayunya sebagai calon pengantin perempuan. Acara pengajian Nada dan Galeo ini tidak di konsep dengan acara ribet hanya acara simple dan sederhana. “Le.” “Kenapa, Jav?” “Gue cuman mau bilang Le—kalo suatu saat nanti lo udah ga bisa menjalin hubungan pernikahan ini dengan adik gue atau lo udah nyerah nggak bisa jatuh cinta sama adik gue—gue berharapnya sih lo bisa jatuh cinta sama Nada, kalo udah nyerah balikin Nada ke gue, Le jangan ke bokap gue.” Ujar Javier serius ada Galeo “Ja, lo ngomong apaan deh? Perasaan dari tadi lo nggak minum?” heran Galeo “Gue minum—air tape, Le!” sarkas Javier kesal “pokoknya ya Le, lo kalo udah nyerah serahin Nada ke gue,” “Jav, gue berharapnya—gue sama Nada bisa sampai nanti, kaya gue sama Nadi di pisahkan sama maut.” balas Galeo penuh keyakinan “tapi gue enggak janji buat bisa secepatnya mencintai Nada akan ada prosesnya gue mencintai Nada seperti gue mencintai Nadi, bisa lo terima?” “Selagi lo mau berusaha, gue hargai usaha lo, bro.” “Thanks!” “Jagain adek gue Le, jangan sampai gue liat dia diam-diam nangis lagi.” “Nah ini—gue juga nggak janji bakal nggak bikin Nada nangis, sedih, dan apalah itu—gue manusia biasa Jav, gue bisa aja nggak sengaja bikin Nada nangis atau sedih tapi InsyaAllah gue sebisa mungkin bakal bahagiain dia seperti gue bahagiain Nadi dulu.” kata Galeo penuh dengan sorot serius “Makasih—makasih udah mau jalanin ini, lo emang the best!” Galeo hanya menyengir atas pujian Javier padanya ΩΩΩ “Mama, Aira dimana ya?” “Lah bukannya sama Bi Diah?” jawab Mila saat mengatur mangkuk makan malam “Yaudah aku mau samperin dulu—“ “Aira sama aku.” Galeo menyela sembari menggendong Aira keluar dari kamar Javier “Siniin dulu Bang—Aira mau aku kasih s**u dulu,” Nada meminta Aira pada Galeo yang terlihat bayi itu nyaman pada sang Ayah “Nada kok masih panggil Abang sih?” Mila memprotes “Terus aku panggil apa? Ayah?” “Mas dong—kalo Ayah juga gapapa kan terlihat romantis,” setuju Mila “Ihh—nggak mau kayak berlebihan nggak sih.” tolak Nada cepat “Susunya udah kamu buat belum?” tanya Galeo memutuskan berdebatan soal panggilan Nada padanya “Oh iya belumm—minta tolong ya, Bang.” Ringis Nada malu “Kok Abang lagi sih—“ “Ihh—Sayangnya Nada bikinin susunya Aira ya—“ celetuk Nada kesal dengan protesan sang Mama sedangkan Mila terkikik mendengar putrinya memanggi Galeo dengan sebutan sayang, bahkan Galeo sudah memerah mendapat siulan dari sang Mama mertua ΩΩΩ “Aira besok tante bener-bener udah jadi istri Papamu jadi Bundamu Nak—meski hanya sebagai pengganti Mama Nadi—tapi Bunda Nada cukup bahagia kok apalagi Bunda bisa seterusnya sama Aira—“ “Meneruskan wasiat Mamamu Nak dan membahagiakan Akung Bachtiar dan uti Mila.” “Aira kalo nanti Papamu belum bisa nerima Bunda cukup Aira terima udah seneng kok—jangan pernah menjauh dari Bunda ya Nak—meski kamu bukan anak kandung Bunda, Bunda tetap sayang Aira apapun itu.” seloroh Nada dengan mengelus pipi mulus Aira yang sudah terlelap di sampingnya. Besok, ya tinggal hitungan waktu saja Nada sudah akan berubah statusnya yang tadinya wanita single menjadi istri orang—meski pilihan ini pernah menjadi bayangan Nada namun Nada tak pernah berharap khayalannya menjadi sebuah kenyataan. Besok, Galeo laki-laki yang menjadi sesosok rahasia cinta pertamanya akan berjabat tangan dengan Ayahnya untuk mengatakan ijab qabul—ucapan sakral yang mana akan Nada rekam hingga nanti—hingga ia bisa menceritakan kisah cintanya ini pada cucu serta cicitnya nanti, bahwa ia bersanding dengan Galeo tak hanya dalam angannya saja namun dalam lingkar kenyataan. Bang Galeo Selamat tidur. Nada meringis mendapat chat singkat dari Galeo, calon suaminya itu jarang melakukan tukar pesan kecuali pesan berisi kabar Aira selain itu mereka saling diam—oh dan pesan isi menanyakan sampai mana persiapan pernikahan mereka di urus. Nada Kaleena Selamat tidur juga. Aira sudah tidur, Bang Lekaslah istirahat J Nada membalas pesan Galeo setenang mungkin meski jantungnya sudah berjempalitan tanpa mengingat kesopanan, senyuman nada uraikan meski Galeo tak melihat Nada tersenyum hanya dengan pesannya yang singkat, padat, dan jelas itu. Bang Galeo Iya, titip kiss buat Aira Kamu juga. Sampai bertemu besok, Nada Kaleena Dan kembali, Nada kembali menyunggingkan senyumnya bak ABG yang baru saja di tembak cinta oleh laki-laki impiannya. Besok Galeo akan segera resmi menjadi suaminya sedangkan dia menjadi istri. Nada mendekati Aira yang masih tenang dalam tidurnya. “Peluk cium dari Papa sayang.” Lirih Nada pada Aira—anaknya ΩΩΩ
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN