BAB 9 : SHE SAID ‘YES’

1930 Kata
Diposisi seperti Nada saat ini adalah posisi dimana paling tidak dinginkan oleh semua orang, apalagi harus duduk dengan tatapan serius oleh orang-orang didepannya ini. Inilah apa yang di rasakan Nadi dulu—saat dimana ia di pinang oleh laki-laki yang mencintainya tapi bedanya dengan Nada adalag Galeo tidak sama sekali mencintai dia. Pernikahan ini hanya sebagai momok Nada sebatas ibu pengganti untuk Aira yang mendapat bonus Galeo sebagai suaminya, kalo boleh meminta Nada lebih memilih menjadi ibu bagi Aira tanpa mendapat bonus Galeo sebagai suaminya, namun sayang beribu kali sayang, Galeo dan Aira adalah paket komplet yang harus Nada miliki. Netra Nada mengamati Galeo yang sedari tadi sudah gelisah, sungguh bila rencana ini harus gagal Nada tak apa toh terlepas dari rencana pernikahan konyol ini Nada bisa mengusahakan rencana lain agar Aira tak dibawa pergi oleh Galeo. “Nadi, kalo ini tidak sesuai rencana seperti apa maumu-maaf, maafin kakak Nadi yang enggak bisa melakukan wasiatmu dengan baik, karena aku tahu dari sorot mata Bang Galeo pancarkan adalag sorot keraguan yang besar, aku takut kecewa.” Nada berperang batin disela-sela para tertua sedang saling bersanda gurau sedangkan ia duduk diam menatap bawa sesekali melirik laki-laki yang juga sama diamnya dengan dirinya Tangan Nada di genggam oleh tangan besar Bachtiar, sepertinya sanda gurau mereka sudah selesai, saatnya Nada mendengar suara keputusan yang sebentar lagi akan mengubag hidup Nada dan juga Galeo mungkin. Nada menatap sang Ayah dan juga sang Ibu—Mila tersenyum pada Nada, dari sorot mata Mila ia memancar sebuah harapan yang besar padanya namun berbeda dengan Bachtiar yang memberikan sorot teduh. “Nada—“ ΩΩΩ “Nada, putri Ayah. Didepanmu sekarang sudah ada dua orangtua dan juga seorang laki-laki yang sebelum pertemuan ini menemui Ayah—dia memintamu untuk menjadi istrinya meneruskan wasiat dari Nadi, bisa beri keputusanmu untuk laki-laki didepanmu, Nak?” tanya Bachtiar dengan suara halus “Ayah?” “Berikan jawabanmu Nak, Ayah yakin Nada sudah memikirkan ini jauh-jauh hari, kalo hatimu ragu katakan sejujurnya dan bila sebuah keikhlasan hadir di hatimu katakan iya, Ayah harap keputusan kali ini tidak menjadikan beban untuk kalian.” Bachtiar menjawab panggilan Nada “Nada, saya sebagai Ayah dari Galeo membenarkan ucapan dari Ayahmu, jangan sampai ada keraguan setelah mendapatkan kata mufakat, ikuti apa kata hatimu.” Abraham mengimbuhi Nada menarik nafas dalamnya, membawa tangan kedua orangtuanya untuk ia gegam dengan erat, seakan kedua orangtuanya juga akan pergi meninggalkan ia tapi bukan itu yang Nada inginkan, ia hanya ingin mendapatkan sebuah kekuatan lebih untuk menyapaikan sebuah keputusan besar yang akan mengubah eluruh hidupnya setelah ini, bahkan matanya tak lepas pada sang Kakak—Javier, Javier juga berperan penting memilih keputusan besar ini, sebuah anggukan samar Javier berikan pada Nada. “Saya sudah memikirkan keputusan ini jauh-jauh hari, semoga yang menjadi keputusan saya di terima oleh kalian.” ungkap Nada “Saya—Nada menerima Bang Galeo menjadi suami saya.” putus Nada dengan mantap “She said Yes!” gumam Galeo dalam hati “Alhamdulillah—“ ucap semua orang yang berada di rungan itu Acara ini memang hanya di hadari keluarga inti, Nada meminta Bachtiar untuk tidak membuat pertemuan besar-besaran dengan mengundang keluarga besarnya, cukup kedua keluarga inti saja yang mengerti. Nada menginginkan berita ini sebagai berita yang mengangetkan, apalagi Nada tak ingin mendapatkan celetukan tak mengenakan untuk dirinya dan membuatnya tak mood , mulut netizen memang sedahsyat itu merusak mood manusia. ΩΩΩ “Grecep juga lo,” celetuk Javier “Bukannya hal baik nggak boleh di tunda-tunda?” “Iya—kalo enggak gue iming-imingin kalo Nada banyak buaya yang ngincer,” tengil Javier “Gue harap lo beneran nerima Nada sebagai istri lo Le, karena Nada dan Nadi adalah seseorang yang berbeda—jangan samakan Nada seperti Nadi, jangan acuhkan Nada dengan kekerasan kepala lo, jangan sakiti Nada dengan ego lo, karena kalo gue tahu Nada menangis karena lo gue akan jadi orang pertama yang hajar lo sampe mampus!” Ancam Javier dengan sorot serius “Gue meskipun bukan manusia baik-baik gue tahu cara memperlakukan wanita seperti apa, Ja.” balas Galeo yang menatap Javier “Tapi gue enggak bisa maksa hati gue buat langsung jatuh cinta sama Nada—gue akan berusaha.” “Kalo prihal hati gue percaya, enggak bisa lo paksa tapi kalo lo mau berusaha menerima dia di hati lo, lo laki-laki gantle men!” tonjok Javier pada lengan Galeo “And—she said YES, Ja!” teriak Galeo “Yeah, adik gue akhirnya mau nerima si tembok.” “Enak aja tembok, muka ganteng begini di bilang tembok.” “Ngaca si anjir—awas lo ya nanti bikin adik gue nangis dan sedih, gue jadi garda terdepan buat nyelupin lo ke sungai ciliwung.” Ancam Javier lagi “lo bisa pegang kata-kata gue.” ΩΩΩ Nada menatap perbincangan antara Abangnya dan juga Galeo di luar sana, setelah pembicaraan serius tadi dan makan malam usai, kedua sahabat itu menyingkir guna berbincang-bincang. Kisah hidupnya benar-benar seperti kejutan, mana pernah ia membayangkan akan menikah dengan suami si adik kembarnya. Hingga saat ini abangnya dan kedua orangtuanya tak pernah tahu bahwa Nada pernah diam-diam menganggumi Galeo namun ia terlalu pengecut untuk sekedar mengungkapkan perasaannya kala itu. Nada pikir saat itu perasaannya hanyalah perasaan abu-abu yang tidak jelas sering di sebut dengan cinta monyet yang belum teruji kebenarannya, masa-masa SMA adalah masa dimana perasaan puber meletup-letup dan Nada memilih memedam hingga saat ini. Suara tangis Aira menyadarkan Nada yang tengah melamun dengan netra menatap Galeo yang masih asik berbincang dengan si kakak. Segera Nada menghampiri Mila dan Bilqis yang sedang berusaha menenangkan Aira karena tangisnya semakin terdengar pilu. “Aira kenapa, Ma?” “Kaget tidurnya, Mama agak telat yang gendong jadi udah terlanjur ngambek ini kayaknya.” ujar Mila “Boleh Nada gendong tante?” pinta Nada pada Bilqis “Boleh dong—“ Bilqis memberikan Aira yang masih menangis kencang pada gendongan Nada “Nada?” “Ya tante?” “Jangan panggil tante lagi dong, Nak—Mami,” pinta  Bilqis pada Nada Nada menatap Bilqis dengan perasaan terharu. “Mami.” “Nah gini dong—kan mau jadi anak Mami juga, dibiasin ya Nak.” Nada mengangguk. “Iya, Mi.” “Kamu tidurin lagi aja Airanya Nad, Mama sama Mamimu mau bincang-bincang ngomongin nikahanmu.” “Ma, Nada enggak mau acaranya besar-besaran ya—Nada mau yang simple aja.” “Bisa di atur, udah sana tidurin Aira lagi—yuk Jeng.” ΩΩΩ Lagi-lagi Galeo harus di buat terpana oleh kelembutan Nada saat menenangkan Aira yang sedang menangis, ingin sekali Galeo membantu Nada menenangkan Aira yang sedang menangis namun di lain hal ia suka melihat Nada sedang menenangkan Aira dengan aura keibuannya. Bukan berarti Galeo jatuh cinta sama Nada, bukan—hanya saja laki-laki lebih tua dari Nada itu sedang hobi melihat Nada menimang Aira dengan caranya, menenangkan Aira butuh perjuangan bagi Galeo namun bagi Nada adalah hal yang mudah buktinya tak lama tangisan Aira perlahan berhenti hanya dengan sebuah suara halus Nada. “Hati-hati ntar kena karma—terus jatuh cinta!” ledek Javier “Maksud lo?” “Dasar lola,” balas Javier lagi “Gila lo kumat ya Ja, ngomong enggak ada maksudnya.” Kesal Galeo “Ya lo sadar nggak, gue kan nyuruh lo ambil minum doang ngapain jongkrok disini sambil liatin Nada sambil nggak kedip—awas ntar jatuh cinta beneran.” “Ngaco lo! Gue kan udah bil—“ “Kalo gue enggak gampang buat jatuh cinta atau gue nggak bisa secepat itu buat jatuh cinta—hahahahahaha basi!” “Lebih baik lo diem deh—“ “Kalah kan lo Hahahahahaha—Nad ada yang terpana nih,” “Bacod, awas lo ya Ja!” ΩΩΩ Siang ini Nada menghabiskan waktu istirahatnya di kantin bersama Gia tentunya, ia masih bimbang mengatakan tentang rencana pernikahannya apa tidak dengan Gia. Hanya saja Nada masih terasa aneh mengatakan rencana pernikahannya ini, namun hanya dengan Gia, Nada bisa bercerita—ia bahkan masih bungam pada rekan sesama gurunya, belum saatnya ia rasa. Gia menyadari perubahan Nada akhir-akhir ini, sebenarnya Gia menunggu Nada untuk bercerita namun semakin lama diamnya Nada yang tak segera membuka suaranya membuat Gia semakin curiga pada keadaan nada. “Nad?” “Heumm?” balas Nada dengan menatap Gia “Ada masalah ya? ampe kaya orang bingung begitu,” tanya Gia menyadari Nda mengangguk. “Sedikit—Gi,” “Apaan? Cerita jangan di pendem lagi—penyakitan ntar.” sarkas Gia “Minggu depan gue nikah sama Bang Galeo.” kata Nada tanpa basa-basi Gia menampilkan senyum tipisnya. “Akhirnya ya Nad, lo memilih untuk beneran nikah sama si kanebo kering,” “Gi—“ “Oke sorry—jadi ada masalah apa dengan rencana pernikahan lo dengan Galeo?” tanya Gia “Ada yang perlu gue bantu?” “Gue takut—“ “Kalo Galeo masih mencintai Nadi atau takut dengan kenyataan kedepannya nanti?” “Dua-duanya!” jawab cepat Nadi “Hahahahaha—gue udah duga.”  Gia tak begitu kaget lagi “Gue kan udah pernah ngomong kan—gue bakal bantu lo buat dapetin si dokter ganteng itu Nada,” “Jangan aneh-aneh Gia!” “Udahlah serahin aja ke gue—sekarang lo fokus ke acara pernikahan lo aja, apa yang mesti gue bantu?” Gia menawarkan diri membantu “Jangan sampe bocor dulu deh Gi,” “Bisa di atur, apalagi?” “Temenin gue ketemu WO soalnya Bang Leo lagi nggak bisa buat ijin.” “Sekarang?” “Tahun depan!” kesal Nada yang kemudian beranjak dari duduknya yang kemudian suara tertawa Gia menggelagar ΩΩΩ Galeo turun dari mobilnya, tak lupa meraih tempat berisi bunga yang sudah ia beli tadi, kaki jenjangnya menampak pada tanah kering, Galeo menuju pada sebuah makam yang sudah beberapa hari tak ia kunjungi namun kali ini ia kembali berkunjung. ia rindu dengan seseorang yang sudah tertidur nyenyak di sana, tempat dimana kini Nadi berada. Galeo menemukan makam istrinya, makam itu selalu terawat tak pernah ia biarkan rumah selamanya Nadi tak terawat. Tanpa sepengetahuan semua orang Galeo meminta penjaga makam untuk selalu menjaga dan merawat makam Nadi, di bagian nisan Nadi Galeo memesankan pada tukang kebun untuk selalu mengganti bunga kesukaan Nadi—bunga lilly putih. Laki-laki matang itu menempatkan posisi berjongkoknya, ia mengambil posisi berdoa, memanjatkan doa-doa untuk istrinya Nadi yang sudah meninggalkannya lebih dulu. Setelah selesai Galeo menyiramkan air bening pada makam Nadi agar terasa segar kemudian menyusul bunga segar lalu ia taburkan hingga bunga-bunga itu menutupi makam Nadi. Selesai dengan acara menaburkan bunga, Galeo tak segera beranjak dari duduknya. Maksudnya tak hanya untuk mengunjungi makam Nadi saja ia kesini juga ingin bercerita menyampaikan sesuatu pada Nadi. “Selamat siang istriku.” sapa Galeo dengan mengelus nisan Nadi “Semoga kamu disana semakin bahagia ya—aku dan Aira sehat tanpa ada kurang satupun, begitu juga keluarga kita.” “Nyenyak ya Nad, kamu tidur disana? Aku rindu kamu Nad, aku ingin peluk kamu lagi seperti saat-saat kita masih bersama namun sekarang bila aku rindu aku hanya memelukmu lewat doa-doa untukmu.” “Aira tumbuh semakin cantik Nad, sudah bisa merenggek kesal, mengambek karena terlambat memberikan s**u. Namun sejauh ini Aira menjadi anak yang baik dan cantik sepertimu.” Galeo bercerita tentang segala hal di makam Nadi, ia masih ingin melepas rindu dengan Nadi yang keberadaannya kini sudah jauh disana. Hanya tanah kering ini ia bisa memeluk Nadi memeluknya dengan doa-doa. “Nadi.” “Seperti permintaanmu—“ “Tepat kemarin—kami—aku dan Nada melakukan wasiatmu meski tak tertulis aku menyetujui permintaanmu kala itu.” “Maaf Nadi, seharusnya hal ini tidak menghianatimu—jangan paksa aku untuk mencintai Nada, Nadi—sungguh itu menyakitkan untukku.” “Dalam hatiku masih rapat menyimpan nama serta cinta untukmu, tolong jangan kecewa—merelakanmu secepat ini bukanlah mimpi yang ingin aku cita-citakan, Nadi.” “Bimbing aku Nadi melewati ini semua.” “Ini demi kamu dan juga anak kita—Aira, bukan yang lain.” “Biarpun nanti aku kembali jatuh cinta, namamu salalu tertulis disini Nadi,” “Aku egois ya, bakan aku tak takut dengan karma yang suatu saat akan menghampiriku.” “Kalo aku boleh memilih—aku ingin selalu bersamamu di dunia ini meski tanpa Aira—dan aku takut,” lirih Galeo dalam tangisnya Meski terlihat sebagai laki-laki tangguh namun Galeo tetaplah manusia biasa yang mengalami sisi sentimentil pada perasaannya. Ia menahan segala lara yang menyerangnya bertubi-tubi tanpa ampun, hatinya babak belur di terpa sebuah kenyataan yang benar-benar membuatnya pernah runtuh. Dan beberapa minggu kedepan ia akan mengalami sebuah babak hidup baru dengan seseorang yang asing bagi hatinya, keputusan yang Galeo ambil kemarin juga membuatnya berpikir keras, apalagi ini permintaan langsung istrinya Nadi, Nadi meminta Galeo untuk menikahi sang kakak kembarnya. Ia akan kembali menjadi pemimpin bagi keluarga barunya, bedanya dengan status suami dari Nada—kakak dari Nadi istrinya. Sungguh keadaannya ini benar-benar seperti di cerita fiksi. Turun ranjang, menikah dengan saudara istrinya. Terkesan konyol bukan? Bagi Galeo awalnya memang amat sang konyol pernikahan macam ini. Lamunan demi lamunan galeo lewati hingga tersadar suara dering ponsel yang bergetar di kantong celana bahannya Mami Calling... Waktunya Galeo kembali menampak kebumi, Galeo beranjak dari duduknya di depan makam Nadi. “Baiklah Nadi, Mas pulang dulu nanti aku kembali lagi tentunya bersama Airanya kita, bahagia disana ya—aku pamit dulu.” Selamat datang kehidupan baru yang segera Galeo lalui, dengan orang baru dengan perasaan baru, Galeo melangkah pergi dengan membenahkan kacamatanya. Bahkan tanpa Galeo rasa, semilir angin sejuk menerpa tubuhnya bahwa menandakan alam merestui keputusan yang Galeo ambil, Nadi tersenyum lewat hembusan angin sejuk itu. ΩΩΩ
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN