Galeo memanfaatkan kesempatan hari liburnya setelah aktivitasnya di rumah sakit teramat padat, hingga waktu untuk putrinya pun teramat sangat singkat, makanya di hari libur ini Galeo ingin memberikan waktunya pada si putri kecilnya yang menggemaskan itu.
Namun Galeo salah, keinginan terus bersama sang putri ternyata harus berbagi dengan Nada yang sedari tadi pulang dari rumah temannya sudah mengambil alih Nada dan Galeo membiarkan Nada mengambil alih Aira. Nanti Galeo akan mengambil kembali Aira untuk ia urus.
“Gal, ikut Papa kebelakang sebentar,” Pinta Bachtiar
“Iya Pa, sebentar.” Galeo lekas beranjak dari duduknya tadi
Galeo menghampiri laki-laki yang berbeda usia dengannya, meski begitu umur sudah tak lagi muda, Bachtiar masih saja aktif melakukan hal-hal yang sebenarnya bisa di lakukan tukang kebun, namun tidak untuk Bachtiar yang lebih suka menghabiskan waktu santainya dengan mengisi hal-hal bermanfaat seperti saat ini. Bachtiar baru saja meminta Yanto—tukang kebun membelikan rumput buatan untuk memperindah halaman belakang itu.
Galeo membantu sang Mertua menyusun rumput-rumput hijau itu, hitung-hitung sembari membunuh waktu segangnya karena bosen menunggu Aira bisa ia peluk lagi, tapi sepertinya Nada tak akan melepaskan Aira begitu saja mengingat semalam Nada tak bersama dengan Aira.
“Ada apa? Kamu ini terlihat gelisah sekali, Gal?” Bachtiar heran
“Enggak kenapa-kenapa, Pa.”
“Aira aman sama Nada—Nada enggak mungkin nyelakin keponakaannya sendiri,” tembak Bachtiar tepat
“Bukan begitu Pa,”
“Sudah, bantu Papa susun ini abis itu nanti ditekan-tekan pake kaki biar merekat ini rumput.”
“Pa, udah ganti profesi ya—dari dokter ke tukang kebun?” Javier tiba-tiba menyela
“Anak kurang ajar—sini kamu, bantu Galeo!”
“Ogah, Jaja capek Pa, abis jaga.” tolak Javier “Bukannya malam minggu, malah jaga UGD.” Javier bersungut-sungut kesal
“Hahahahahaha—“ kelakar Galeo dan Bachtiar
“Udahlah—Jaja mau istirahat aja.”
ΩΩΩ
Selesai menyusun rumput-rumput buatan Bachtiar mengajak Galeo untuk menikmati teh hangat serta beberapa cemilan yang dibawakan si bibi. Bachtiar menatap senang bunga-bunga yang mekar dengan segar, beberapa bunga mekar berkat sang istri yang merawatnya dan beberapa sayur yang mulai tumbuh yang tak kalah segar.
“Gal.”
“Ya Pa?”
“Masih ragu?” tanya Bachtiar dengan masih menatap taman-taman bunga serta sayuran
“Maksud Papa? Ragu seperti apa?”
“Pernikahanmu dengan Nada, masih ada yang membuatmu mengganjal?” tanya Bachtiar dengan menatap Galeo
“Galeo masih diantara ragu dan bingung, Pa.” jujur Galeo “Waktu beberapa hari ini, saya sudah bilang pada Nada bila saya masih di berada pada keraguan.”
“Pikirkan baik-baik lagi, Nak.” bijak Bachtiar “Semakin kamu tenggelam dalam kepahitanmu maka para setan tak kasat mata semakin senang menggodamu, bahkan Nadi disana juga tak tenang—lepaskan Gal, InsyaAllah bila kamu ikhlas dan ridho keraguamu dan kebimbanganmu sirna.”
“Apa saya terlihat belum ikhlas Pa?”
“Jelas, tertera jelas di dahimu—masak kamu kalah dengan anak sekarang, moveon nak—jalanmu masih panjang, masalalu biarkan jadi kenangan, masa depan segera raihlah, karena penyesalan itu datangnya di akhir cerita,” imbuh Bachtiar lagi yang kemudian berannjak dari duduknya menghampiri kolam ikan serta tak lupa meraih wadah isi makan pagi si ikan-ikan milik Bachtiar
Galeo terpaku dengan ucapan Bachtiar, ada benarnya juga apa yang dikatakan Bachtiar barusan, sudah dua orang yang mengatakan padanya bahwa penyesalan datang di akhir cerita.
ΩΩΩ
Setelah berbincang-bincang dengan Bachtiar masuk kedalam kamar, ia butuh mandi, pikirannya beradu dengan hati nuraninya dan ia butuh kesegaran untuk berpikir jernih.
Namun saat ia melangkahkan kakinya di tengah-tengah anak tangga ia mendengar suara Aira yang sedang menangis segera Galeo berlari menghampiri sumber suara yang berasal dari kamar Nada, tanpa ketukan dengan sopan Galeo segera membuka pintu kamar Nada dengan tergesa.
Sebelum ia masuk matanya terpaku dengan apa yang di lakan Nada, Galeo tak jadi meneruskan langkah kakinya, karena sejujurnya ia terpana dengan apa yang dilakukan Nada pada Aira, Nada bukanlah ibu kandung Aira namun kasih sayangnya melebihi seorang tante pada keponakaannya.
Nada dengan sabar mengurus Aira yang sedang rewel digantikan baju, hati Galeo berdesir, seketika dunianya berhenti, fokusnya menatap Nada dan juga Aira. Suara Nada begitu halus menenangkan Aira yang masih menangis kencang, sungguh jantungnya berdesir kurang ajar, selain Nada pendiam, suaranya memang terlewat halus.
“Cup—nanti Bunda gendong kok, terus minum s**u ya Nak, tapi Aira harus diem dulu ya, sayang.” Suara halus Nada menembus gendang telinga Galeo
“Aira rindu ya sama Bunda ya karena semalam Cuma bobok sama Papa, ia nanti bobok sama Bunda ya abis ini, tapi Aira diem dulu Nak, sakit nanti ya tenggorokannya.” Lagi-lagi suara halus Nada mengalun merdu
“Pakai bajunya dulu ya, nanti Aira masuk angin—iya sayang, cupp—“
Hingga Galeo tak kuasa tetap tertahan di ambang pintu kamar Nada, ia sekarang benar-benar membutuhkan air dingin untuk menyiram tubuhnya yang semenjak perkataan Bachtiar serta Nada benar-benar membuatnya merasa aneh dan jantungnya tak berhenti berdegung.
Sepertinya, Galeo sudah tahu akan memutuskan memilih apa. Semenjak suara halus Nada menusuk gendang telinganya Galeo sudah memutuskan akan memilih apa.
ΩΩΩ
Gila—fix sepertinya Galeo memang sudah menentukan pilihannya untuk melanjutkan rencana pernikahannya dengan Nada, bukan karena terpaksa namun Galeo merasa Nada memang pantas ia nikahi dan menjadi ibu untuk Aira.
Pikiran Galeo sudah melalang buana, bagaimana nanti bila tidak ada rencana pernikahan ini dan ia dekat dengan wanita yang hanya mau menerimanya saja tanpa Aira, dengan siapa Aira akan di urus. Ia tak bisa membayangkan hal itu. Padahal bila mau dengannya si wanita nanti juga harus menerima Aira juga. Galeo dan Aira adalah paket lengkap yang tak akan bisa di pisahkan.
Meski kala itu Galeo pernah mengabaikan keberadaan Aira dan melanjutkan sedihnya, hingga ia sadar bahwa masih ada makhluk yang harus ia perhatikan dan ia berikan kasih sayang yaitu Airanya, putri cantiknya bersama Nadi.
Galeo mengamati Nada dan Aira yang sedang bersama, dari siang hingga sore menjelang keduanya seperti lem perengkat, lengket kemana-mana bahkan Aira tak mau ia gendong, Galeo paksa untuk ia gendong pun gadis kecilnya itu menolak dengan tangisan kencangnya.
“Yailahh, Bro—jangan di lihatin mulu mana puas,” tengil Javier
“Ngaco.”
“Kalo lo lama bergerak mulu, jangan salahkan buaya di luaran sana yang ngincer Nada,” imbuh Javier lagi dengan suara memanas-manasi
“Lo kira adik lo ikan asin.” gelak Galeo dengan menatap Javier
“Ya biasa aja dong liatnya—lo mau gue comblangin?”
“Nggak usah, gue bisa jalan sendiri.”
“Lah masak? Kalo bisa gerak sendiri, buruan di tangkep nggak dilihat mulu lo, payah.”
“Sialan lo, tunggu aja ya enggak lama gue bisa ajak Nada nikah.”
“Weettsss—Nada bukan buat ajang tantangan bro, adi gue tuh!” tinju Javier pada lengan Galeo
“Maksud gue, nggak akan lama gue bisa gantiin status Nada dari lanjang ke taken.”
“Bagus-bagus, kalo bisa minggu ini sih.” Ujar santai Javier
Galeo melotot pada Javier. “Ya enggak seminggu juga, d***o!”
“Katanya bisa cepet, awas buaya-buaya udah ngincer Nada,” raut wajah Galeo semakin keruh dan mendapat kekehan ketawa oleh Javier
“Seminggu ini, kalo gue dapet kartu ijo—lo mau kasih gue apa?”
“Kotak game gue yang baru, buat lo!” ujar Javier dengan berani
“Oke!”
ΩΩΩ
Semalaman ini Galeo tak bisa diam, pikirannya memutar kilasan-kilasan Nada bersama Aira seharian ini, seharusnya ia tak begitu memikirkan ini bukannya wajar seorang tante sayang pada keponakaan.
Tapi apa yang di lakukan Nada pada Aira sungguh lebih dari seorang tante pada keponakaan, jiwa keibuan Nada benar-benar terpancar dan apalagi Aira merasa nyaman pada Nada.
Bayangan-bayangan perempuan itu tak lengkang pada otak Galeo, bayangan-bayangan Nada tersenyum ceria saat bersanda gurau dengan Aira membuatnya ia terpana terlebih cara wanita itu mengurus Aira.
“Liat Galeo, lo mau mengabaikan perempuan baik hati ini?”
“Atau lo membiarkan wanita itu pergi dan meninggalkan Aira.”
Suara-suara tak kasat mata itu memenuhi telinga dan pikiran Galeo, bahkan pikiran-pikiran aneh lainnya. Bukannya ia seharusnya segera memilih keputusan untuk kelanjutannya hidupnya dengan Aira.
Galeo teringat dengan apa kata Sean siang itu, saat dimana Galeo masih benar-benar bingung dan ragu, oh—dan saat mulut bancinya mengatakan kata-kata tanpa saringan.
“keuntungan lo nikah lagi itu banyak Le,” ujar Sean tiba-tiba
“Apa? Tidur ada yang nemenin?”
“Nggak cuman itu sih—kalo lo nikah lagi, lo pulang kerja ada tempat buat pulang, kalo lo laper ada yang siap sedia masakin lo makan, kalo lo capek ada yang bisa mijetin lo, kalo lo lagi ada masalah ada tempat buat sama-sama bekeluh kesah.”
“Jangan deh lo mikir, gue bahagia nggak ya nanti sama si B, apa nanti gue bisa bahagia saat sama si A, jangan gitu d***u! Lo mikir gimana cara lo dan dia bisa sama-sama bahagia bareng, jangan egois.” Kultum Sean “Enaknya bisa bareng, nggak enaknya juga barengan. Meskipun ini pernikahan kedua lo dan pertama buat pasangan lo—kalian juga harus sama-sama bisa menghargai hubungan jangan kaya kehidupan drama fiksi, kalo lo belum bisa terima pernikahan lo, terima sampe lo kehilangan rasa ragu dan ngerasain yang namanya kemantaban hati.”
“Apa lagi?” tanya Galeo
“Ya intinya, gue saranin. Berhenti ngarepin seseorang yang udah jadi masa lalu, yang di depan lo nanti adalah masa depanmu sampai kalian sama-sama dipisahkan dengan usia.”
“Jadi gue harus apa, Sean?”
“Memantapkan hati, kalo masih ragu mending jangan.”
Dan dari yang dikatakan oleh Sean semua ada benarnya dan sekarang Galeo merasakan yang namanya memantapkan hati dan pilihannya. Meski ia tahu pernikahan ini tak dilandasi oleh perasaan tapi Galeo berharap suatu saat entah kapan semoga kisah hidupnya dengan Nada nanti dipenuhi dengan kasih sayang, serta cinta kasih hingga mereka terpisahkan oleh takdir.
ΩΩΩ