BAB 7 : RAHASIA MASALALU

1462 Kata
Malam ini Nada memutuskan untuk menginap di apartement milik Gia, mungkin kali ini ia akan bercerita menjawab semua apa yang Gia tebak padanya selama ini dan Nada memilih untuk jujur pada Gia yang bahwasananya Gia adalah sahabat baik Nada semenjak mereka sama-sama duduk di bangku sekolah menengah pertama hingga berlanjut berteman baik sekolah menengah atas, selama itu mereka berteman baik hingga bekerjapun mereka memilih bersama. Gia adalah sahabat satu-satunya Nada yang menerima baik dan buruknya Nada begitupun sebaliknya, Gia awalnya bertemen sepi sama seperti Nada namun bedanya Nada masih ada Nadi saat itu dan Nadipun juga akrab dengan Nadi meski tak seakrab ia dan Nada. Nadi menjadi girl most wanted—siswi paling populer saat itu—Nadi tumbuh menjadi sosok wanita yang manis dan memiliki wajah cantik rupawan bukan berarti Nada tidak cantik—Nada dan Nadi adalah perpaduan butiran surga namun Nadi saat itu lebih menonjol daripada sang Kakak—Nadi. Nadipun tak banyak memiliki teman—karena banyak teman-teman sekolahnya lebih banyak memuja Nadi daripada Nada. Meski Nadi selalu pasang badan bila ada yang membully Nada—Nadi akan menjadi orang pertama yang menjadi tameng untuk Nada, dimanapun mereka berada. “Lo mau minum apa?” tanya Gia membuat Nada kembali ke alam nyata “Apa aja deh—eh gue pinjem kamar mandi lo dong mau cuci muka nih,” pinta ijin Nada pada Gia “Pake aja, segala bilang.” “Ya masak gue langsung masuk gitu aja,” balas Nada dengan meletakkan tasnya di sofa ruang keluarga Sembari membersihkan wajah Nada menatap cermin yang menampilkan bayangan kembarnya, disana Nada menatap dirinya menimbang-nimbang hal apa yang dulu buatnya hanyalah ilusi menjadi sebuah kenyataan. Nada yang dulu adalah Nada dengan kepercayaan rendah, hingga hal yang mungkin saja terjadi di sekitarnya ia tepis dengan kenyataan besar. Ia mencintai laki-laki yang tak pernah disadari, menatapnya pun tak pernah namun sekarang kenapa seolah takdir pintar bermain dengannya. Apa ini sebuah keberuntungan atau sebuah kebetulan, ia tak ingin terjatuh terlalu dalam lagi—berharap hanya membuatnya ia jatuh tersakiti. Ia mencoba menonjol agar dilihat namun usahanya sia-sia seberapa tak terlihatnya ia hingga apa yang di inginkannya tak begitu bisa ia raih? ΩΩΩ Kini Nada dan Gia sudah saling berbaring di tempatnya masih-masih dan saat inilah waktu yang tepat untuk Nada mengatakan yang sebenarnya, apa yang sudah ia simpan selama ini. Nada menatap Gia yang sedang asik berbalas pesan ia yakin temannya itu sedang bucin-bucinnya dengan sang kakak—ya Gia adalah kekasih Abangnya Javier. “Gi?” “Woii? Kenapa Nad?” Gia mengalihkan pandangannya dari ponselnya “Gue mau jujur nih sekaligus mau cerita,” “Rahasia apa yang selama ini lo sembunyiin dari gue?” tanya Gia lagi “Perasaan enggak ada satupun rahasia lo yang enggak gue tahu deh.” imbuh Gia lagi “Ada—makanya gue mau jujur ke elo—meski gue malu banget.” “Apaa? Cepetan ngomong!” todong Gia yang kini benar-benar sudah melupakan ponselnya “Gu—Gue pernah suka beneran sama Bang Ga—Galeo!” jujur Nada dengan cepat “What!” erang kaget Gia “Sejak kapan? Terus kenapa lo diam aja Nadaa!” gemas Gia “Masalahnya saat itu enggak pantas buat gue ngaku—lo tahu sendirikan kalo Bang Galeo sukanya sama Nadi—bukan gue si Nada upil abu.” “Stupid! Jangan ngomong kalimat itu lagi, Nada!” geram Gia pada Nada “Kenyataan Gia—gue nggak secantik Nadi—“ “Tapi sekarang lo beneran udah cantik Nada, kurang apa lagi lo jangan malak jadi manusia, lo di SMA udah jadi butiran surga—mau insecure kaya apa lagi lo? Apalagi lo sekarang udah makin beda—jangan bilang begitulah.” Potong Gia menggebu-gebu “Terus soal Galeo gimana?” “Gue tetep diem—karena enggak mau hancurin hubungan Nadi sama Bang Galeo saat itu—gue bukan manusia jahat ngerebut milik sodara gue sendiri.” ungkap Nada dengan nada sedikit rendah “Oh—makanya lo ambil beasiswa di Sydney itu?” Nada mengangguk tanda membenerkan “Saat itu gue milih buat ambil beasiswa itu buat hindariin mereka, semakin kesini hubungan Nadi dan bang Galeo makin lengket—dan hati gue enggak sekuat karang, Gia.” “Terus itu perasaan apa kabar setelah lo pergi—gini ya lo, bisa-bisanya ngerahasiain ini selama pertemanan kita udah 7 tahun lebih btw kita barengan dan lo baru mau jujur.” “Enggak gampang buat gue ngomong ke elo atau orang terdekat gue lainnya—ini nyangkut sebuah hubungan—gue jauhan sama Galeo aja dia masih madang gue acuh tak acuh Gia, gimana kalo gue terang-terangan,” “Tapi malah takdir membolak-balikkan kenyataan ya Nad—lo mau menghindar malah Tuhan beri lo jalan.” Gia memandang Nada dengan tatapan kebahagiaan Nada mengangguk tanda membenarkan ΩΩΩ Bagi Gia, Nada sudah menjadi orang yang paling ia sayang selain sang Mama—orangtuanya yang kini sudah pergi lebih dulu. Gia akan pasang badan juga saat Nada mengalami kesulitan dan jiwa ksatrianya itu hingga kini masih ia berikan pada Nada meski Nada sudah lebih jauh lebih baik dari pertama ia pergi meninggalkan Indonesia. Gia bahagia bila Nada bahagia seperti saat ini—sahabat baiknya itu baru saja mengakui rahasia terbesarnya darinya. Sebuah kenyataan bahwa Nada pernah menyimpan rasa untuk Galeo—saat itu mereka berdua adalah adik kelas dari Galeo, apalagi mendengar bahwa Nada akan menikah dengan Galeo meski jauh dalam lubuk hatinya Gia tak begitu yakin namun untuk saat ini ia juga harus ikut merasakan bahagia. “Galeo tahu nggak ya kalo lo udah suka dari lama sama dia?” Gia bertanya-tanya “Gue nggak tahu Gi, gue bisa lihat dia bahagia aja gue udah cukup seneng.” “Halah basi lo, yang gue mau tanyain sekarang adalah—lo udah siap seratus persen belum?” “Kalo soal keputusan buat nikah gue yakin Gi—cuman—“ “Why?” “Dia bilang enggak akan bisa cinta gue sampai kapanpun dan menganggap pernikahan ini sebatas wasiat dan untuk Aira.” “Wahh! Gilaa, eh dia enggak sadar karma apa ya? sampai dia jatuh cinta ke lo awas aja—gue akan jadi manusia pertama yang bakal ngetawain dia dengan lantang.” “Dia tipe orang yang realitis Gia—dia enggak akan percaya yang namanya Karma—“ “Terus dia percaya apa? Percaya dengan segala sabdanya? Emang dia siapa? Seleb? Presiden? Tuhan?” sarkas Gia “Ya enggak gitu Gia—maksud gue tuh—“ “Apa—udah, soal bikin dia jatuh cinta ke lo tuh soal gampang, yang gue tanyain sekarang, perasaan lo sama dia gimana? Masih sama apa udah beda?” “Rahasia!” jawab cepat Nada “Jujur, buruan mau gue samperin si Galeo terus gue bocorin kalo selama ini lo simpan rasa sama dia?” ancam Gia dengan mata memincing “Iyaa! Gue masih simpan perasaan sama dia, puas lo!” “Hahahahaahahaha—emang ya bucin angkut lo!” ejek Gia dengan tawa menggelegar puas “Hah! Mirror, mirror in the world!” sarkas Nada yang semakin membuat Gia tertawa terbahak ΩΩΩ Ada beban lega yang di rasa pada Nada, ia menatap langit-langit di kamar Gia, sedangkan sang pemilik kamar sudah terbang ke alam mimpi. Apakah ini juga adalah adil Tuhan untuk hidupnya—ternyata selama satu tahun lebih ini ia menjalin hubungan tanpa rasa apa-apa. Mungkin kesalahan Nada saat menerima Mahendra menjadi kekasihnya sebagai alibinya bahwa ia sudah tidak mencintai Galeo namun ternyata salah semakin Nada berkilah, rasa itu semakin kurang ajar bagi hidupnya. Setelah ini, hidupnya akan berganti—menerima dan bersabar hingga suatu saat Galeo mau membuka hati untuknya—ia sudah cukup lelah menunggu apakah ia harus kembali menunggu lagi? Bang Galeo Nada, maaf untuk kata-kataku siang tadi sungguh bukan maksud. Satu pesan masuk di sela-sela Nada menatap kesunyiaan malam itu, Galeo mengiriminya sebuah pesan singkat. “Apa maksudnya?” Tak ingin percaya diri, Nada kembali menatap layar ponselnya mengetikkan balasan untuk pesan yang terlampirkan nama Galeo disana. Nada Aku ngerti, Bang. Aku maafkan ^_^ Laki-laki itu sungguh pintar membuat d**a Nada kembali berdegung tanpa aba, padahal mereka terbentang jarak dan terhalang layar ponsel, Nada ingin memeluknya, laki-laki itu yang sudah mencuri pandangan pertama Nada hingga saat ini. “Galeo Pamungkas Pradipa, i love you!” gumam Nada dengan suara lirih yang kemudian menutup mata membawa Galeo kedalam lingkaran mimpi indahnya ΩΩΩ Waktu friends time mereka sudah berakhir, pagi ini setelah Nada menemani Gia sarapan Nada segera pamit pada Gia. Hari ini, adalah hari minggu waktu dimana ia bisa seharian menghabiskan waktunya bersama Aira bila bayi menggemaskan itu tak di kuasi si Ayah. Nada pasti akan mengambil posisi dengan berceloteh riang dengan bayi menggemaskan itu. Di perjalanan pulang suasana hati Nada sudah lebih baik dari sebelumnya dan lebih dari perasaan mengganjalnya selama 5 tahun belakangan ini, menipu dirinya sendiri juga memerlukan tenaga super ekstra, terlihat bahagiapun juga butuh perjuangan serta kekuatan dengan tekad kuat dan selama itulah Nada menjalaninya melewati detik demi detik, menit demi menit. Meski setelah ini ia akan lebih berjuang lagi bersaing dengan makhluk mati, ia menerima dengan lapang. Toh, keputusannya menikah dengan Galeo juga semata-mata untuk Airanya, keponakaan satu-satunya, peninggalan Nadi satu-satunya yang memang harus Nada jaga dengan segala bentuk usaha. Nada melangkahkan kakinya dengan ringan, kejadian—perkataan Galeo beberapa hari yang lalu tak ingin begitu Nada pikirkan, hati dan perasaannya seakan terasa lega dan ringan. Namun ternyata Nada salah, ia melihat sosok Galeo yang sedang menimang Aira dengan coletehannya membuat Nada mematung tak melanjutkan langkah, mana keberanian Nada tadi, mana pikiran Nada yang masa bodoh tadi, ternyata pikiran itu raib seketika matanya menatap Galeo sedang bersama Aira. Haruskah ia menghindar, apakah ia harus bertatap muka dengan laki-laki yang dengan tanpa sadar sudah mencuri setengah hati Nada dengan tega, tanpa kesadaran ia tak mengemembalikan kepingan perasaan pada Nada. “Nad, sudah pulang?” suara Galeo memutus lamunan Nada “Ah—eh sudah, Bang—“ gugup Nada “A—aku masuk dulu, Bang.” Galeo mengangguk. “Nada?” “Jangan sekarang, nanti aja.” ujar Nada menahan  Galeo untuk tidak meneruskan perkataannya Nada belum bisa menatap Galeo, sebisa mungkin Nada memilih untuk menghindar dari radius keberadaan Galeo di rumah megah ini. Nada dan kelemahan perasaan adalah teman akrab. ΩΩΩ
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN