Bab 44: Detik-detik

1944 Kata

“Gugup, Bu?” goda Nadhifa pada Arisha yang meremas kedua tangan. Arisha menghela napas. Di saat seperti ini, harusnya dia dihibur, bukan digoda. “Apa kamu harus tanya sesuatu yang sudah jelas jawabannya?” tanya Arisha dengan tatapan tajam. Dia mengamati dirinya di dalam cermin. Gadis itu terlihat sangat berbeda karena dirias. Dia sendiri nyaris tidak mengenali. “Jangan gugup gitu, dong. Bukannya cuma sebentar. Setelah ini, kamu bakal tenang karena sudah jadi Nyonya Khafi. Iya, kan? Lagian, yang harus ngerasa gugup itu Khafi. dia yang bakal ngucapin ijab kabul. Tantangannya lebih besar. Mau tidak mau, Khafi harus mengakui kalau apa yang dikatakan Nadhifa benar. Dibandingkan dengan Arisha, sekarang Khafi tentu memerlukan keberanian lebih besar. Meski begitu, Arisha yakin jika calon suamin

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN