“Bibirnya tolong dikondisikan, dong,” celetuk Nadhifa begitu melihat Arisha meletakkan telepon genggamnya. Dia bertopang dagu dan mulai memperhatikan sahabatnya. “Kenapa? Mau mulai pengamatan?” “Kamu kesal karena calon suamimu tiba-tiba nutup telepon?” Pertanyaan yang tepat sasaran. Arisha menggembungkan pipi. Dia menghela napas, lalu bersandar di badan sofa. Mengabaikan pandangan sang sahabat yang membuat tidak nyaman, dia justru melirik benda pipih yang kini tergeletak di atas meja. Perlukah dia mengirimkan pesan ada Khafi agar pria itu bersemangat dalam belajar. Nyaris saja tangan si gadis berjilbab terulur ke meja. Namun, dia lantas menyadari jika perbuatannya agak memalukan. Bukankah tadi dia sudah cukup banyak bicara. Kenapa mengobrol dengan Khafi terasa sangat singkat? Padahal

