“Kepala kamu masih sakit?” tanya Khafi sambil memandangi Arisha. “Sudah tidak terlalu sakit.” Meski menjawab begitu, Arisha memejamkan mata beberapa saat lagi. Dia mengatur napas, lalu kembali menatap Khafi. “Aku panggilkan dokter saja. Bagaimana?” “Aku benar-benar tidak apa-apa, Mas. Hanya sedikit pusing.” “Panggilan itu ...” Arisha memperhatikan noda merah yang ada di kemeja Khafi. Dia berusaha bangun agar dapat melihatnya dengan lebih jelas. Khafi membantunya duduk dengan nyaman. Pria itu menahan diri agar tidak mempertanyakan hal-hal yang dapat memicu sang istri berpikir keras. Kalau Arisha berkeras, hasilnya tidak akan bagus. Begitu menurut dokter. Ketika menyadari ara pandang Arisha, Khafi menutupi noda di kemejanya dengan cepat. Kenapa dia tidak mengganti baju dulu sebelum m

