Bab 49: Malam Pertama

1873 Kata

“Aku masih mau ngobrol sama Kak Arisha,” rengek Zaina sambil menggenggam erat tangan sang kakak ipar. Arisha tersenyum mendengar nada manja dalam kalimat Zaina. “Kamu bisa mengobrol dengan kakak iparmu besok. Setidaknya biarkan kakakmu beristirahat hari ini. kamu tidak lihat wajahnya yang sudah menahan lelah itu?” ujar sang nenek memperingatkan. Zaina mencebik. Tidak mendapatkan dukungan dari Hilya, Zaina berpaling pada Barra yang dudu tepat di sampingnya. Sayang, pria itu malah pura-pura sibuk berkutat dengan telepon selular. Dia bahkan tidak menanggapi Zaina yang menendang kakinya berulang kali. Kalau sudah begini, tidak ada gunanya mengeluh. Bahkan kakak kandungnya asyik sendiri. “Kak Dzaky lagi main apa?” “Anak kecil diam saja. Jangan ganggu cowok yang lagi main game.” Arisha ters

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN