Khafi memandangi layar laptop yang menampilkan satu kata, Arisha. Kedua tangannya menyilang di depan d**a. Sementara mata pria itu menatap lurus tanpa berkedip. Tidak ada suara apa pun di ruangan, kecuali gerakan jarum jam dinding. Suasana sangat hening. Sesuatu yang memang sangat disukai oleh Khafi. Ketenangan. Sedetik kemudian, kedua sudut bibir Khafi tertarik ke atas dan membentuk segaris senyum. Dia mengalihkan pandangannya pada foto yang tergeletak di atas meja. Arisha memang paling cantik saat sedang tersenyum seperti di dalam gambar itu. Entah sudah berapa lama dia melakukan kedua hal ini, memperhatikan foto dan nama Arisha. Tidak sampai sebulan menjelang pernikahan. Khafi tidak yakin apa yang sebenarnya diarasakan saat ini. Dia terlalu sibuk menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk

