Bab 12: Lamaran Dadakan

1800 Kata
Tidak ada kata “Mendadak” dalam kamus seorang Khafi Alfarezi. Setiap hal yang terjadi dalam perjalanan hidupnya, sudah disusun dengan rapi. Dia orang yang sangat teliti dalam menyusun suatu rencana. Lalu, apa yang barusan terjadi? Kenapa dia mengajak Arisha menikah? Apa dia sudah gila? Hal sepenting pernikahan seharusnya tidak dibuat main-main. Khafi juga tidak berani melakukannya. Pertanyaan itu tiba-tiba saja meluncur dari mulut tanpa bisa dikendalikan. Dia jelas melihat keterkejutan yang tidak biasa di kedua mata Arisha setelah ditanya begitu. Bagaimana ini? Jika Khafi menarik kata-katanya, dia akan dianggap sebagai pria plin-plan. Namun, jika tetap memilih jalan ini, dia harus menjadi pria yang lebih berani. Sebagai pria sejati, tentu saja dia akan memilih yang kedua. Dia tidak pernah menelan kembali perkataan yang sudah disampaikan. “Bagaimana? Kamu mau mempertimbangkannya? Mengenai pernikahan?” “Itu ....” Lidah Arisha kelu. Dia sungguh tidak bisa menanggapi lamaran dadakan Khafi. Kedua tangannya mengepal di bawah meja. Bagaimana bisa Khafi menampilkan ekspresi datar setelah mengucapkan kata-kata keramat kepada dirinya? Seakan yang baru saja dikatakan bukan masalah besar. Seakan pernikahannya bukan perkara penting. Sebenar apa yang ada dalam pikiran Khafi saat dia melontarkan kalimat lamaran. Apa pria itu benar-benar tidak mengerti makna yang terkandung di dalamnya? Setelah membuat jantung Arisha nyaris melompat keluar, bisa-bisanya dia tidak berekspresi. Bukankah keadaan ini seperti gurauan saja? “Apakah Mas menganggap pernikahan sebagai permainan?” “Tentu saja tidak. Aku selalu serius dalam segala hal. Bukankah tujuan akhir dari proses yang kita jalani adalah sebuah pernikahan? Jadi, dari pada membuang waktu, akan lebih mudah jika kita mempercepat hal ini. Benar, bukan?” “Apa Mas mempertimbangkan perasaanku saat menanyakan hal itu?” “Aku tidak bermaksud mengejutkanmu. Sejak awal, aku memang ingin menikah denganmu. Apa kamu tidak mau mempertimbangkan diriku?” Arisha menelan ludah. Bagaimana bisa dia menjawab hal ini dengan cepat. “Kamu tidak harus menjawabku sekarang. Pikirkan dalam beberapa waktu, lalu hubungi aku saat kamu sudah mendapat jawaban,” lanjut Khafi. “Itu ... Sepertinya itu memang jalan keluar terbaik untuk saat ini.” “Tapi aku berharap kamu tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama.” “Aku juga berharap begitu.” Arisha kembali berdeham. Dia melirik Khafi berkali-kali. “Apakah Mas benar-benar ingin menikahiku?” “Bukankah aku sudah bilang, aku tidak pernah bercanda. Terutama dalam hal penting seperti pernikahan. Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya?” “Bukannya tidak percaya. Aku hanya merasa ini terlalu tiba-tiba. Bukankah kita sepakat untuk saling mengenal terlebih dulu?” Khafi terdiam. Dia memandangi Arisha yang kini menunduk lagi. Sepertinya membujuk Arisha lebih sulit dibandingkan dengan para klien. Membicarakan pernikahan sekarang memang termasuk cepat. Mereka baru mengenal beberapa hari. Arisha tentu masih butuh keyakinan untuk menerima dirinya. Untuk menenangkan diri, Khafi memejamkan mata sejenak. Dia mencoba menutup telinga dari kebisingan para pelanggan restoran. Ketika kembali membuka mata, dia merasa sedikit tenang. Arisha masih menunduk di depannya. Sekarang, dia harus memikirkan cara agar gadis itu bisa percaya pada kesungguhannya. Kesungguhan? Benarkah Khafi memang ingin menikah secepat ini? Padahal dia sendiri belum yakin mengenai perasaannya. Dia hanya tidak mau mengulur waktu untuk berkenalan. Padahal mereka bisa melalukan hal itu setelah pernikahan. Bukankah yang terpenting para orang tua sudah setuju? “Jadi, apa yang mau kamu ketahui lagi mengenai aku?” “Apa saja. Semuanya. Aku mau tahu semua tentang Mas Khafi.” “Perlukah aku buatkan daftar dan menyerahkannya padamu?” “Itu ide yang bagus. Bagaimana kalau kita membuat daftarnya sama-sama. Dengan begitu, kita tidak perlu terus bertemu seperti ini.” Kening Khafi mengerut. Dia menatap Arisha yang terdiam. Apa gadis itu tidak merasa nyaman bersamanya? “Kamu tidak suka kalau kita sering bertemu?” “Bukan. Aku suka kita bisa bertemu dan mengobrol. Tapi aku selalu gugup setiap kali kita berhadapan ....” Arisha menutup mulut dengan tangan. Dia melirik Khafi, lalu mengerjap beberapa kali. Apa yang sudah dia katakan? Memalukan! Kekecewaan yang tadinya dirasakan oleh Khafi hilang begitu saja. Ternyata Arisha bukannya tidak suka mereka bertemu. Melainkan karena gugup, jadi sang gadis tidak mau sering bersua. Kenapa mendadak hatinya berdesir? Tanpa bisa ditahan, dia mengukir senyum tipis. Bukankah itu berarti Arisha juga tertarik padanya? Sebagai seorang gadis, Arisha mungkin hanya terlalu malu untuk mengakui. Lihatlah wajah cantiknya yang merona itu. Khafi benar-benar senang bisa mengenal wanita ekspresif seperti Arisha. Seakan apa pun yang dipikirkan oleh Arisha tertulis di keningnya. Meski berusaha bersembunyi, pada akhirnya Arisha membongkar rahasia tersebut. Sungguh menggemaskan. Dia jadi ingin menarik hidung mancung Arisha. Mengenal wanita memang sesuatu yang baru bagi Khafi. Dia tidak menyangka jika menyukai seseorang bisa mengubahnya dalam sekejap. Lalu, benarkah dia suka pada Arisha? Gadis itu selalu memenuhi pikirannya akhir-akhir ini. Dia sering kehilangan konsentrasi karena membayangkan wajah ayu Arisha. Apa itu termasuk indikasi orang yang sedang jatuh cinta? Khafi harus segera menyelesaikan permasalahan ini agar hidupnya kembali normal. Sebelum Arisha menerima lamaran dan menikah dengannya, dia belum bisa berhenti. Setidaknya itu yang dia yakini. Entah apa yang sebenarnya terjadi. “Jika seperti itu, bukankah lebih baik kalau kita menikah?” “Mas akan terus membahas masalah pernikahan?” Arisha meminum jus jeruk yang ada di atas meja. Dia menghabiskan separuh isi gelas dalam sekejap. “Kenapa Mas mau menikahiku padahal kita baru saja berkenalan?” “Karena kamu wanita pertama yang membuatku tertarik, jadi aku tidak mau membuang waktu dengan perkenalan yang panjang.” Arisha membeku di tempat. Dia mengusap lengan karena merasa tiba-tiba hawa di sekitarnya menjadi dingin. Matanya melirik ke kanan kiri, khawatir ada yang mendengarkan pembicaraan Khafi. Kejujuran pria itu justru membuat dirinya waswas. Benarkah dia wanita pertama dalam hidup Khafi? Andai saja Khafi tahu kalau dia juga orang pertama yang menarik perhatian Arisha, apa pria itu akan lebih senang. Arisha benar-benar merasa bahagia karena mereka ternyata saling tertarik satu sama lain. Kalau begitu, haruskah dia menyetujui lamaran Khafi barusan? Atau dia butuh beberapa waktu untuk menjawab? Pria semacam Khafi sangat jarang ditemui. Bukankah Arisha semestinya merasa beruntung. Dia dilamar pria yang memiliki banyak kelebihan. Orang tuanya juga sudah setuju. Lalu, apa lagi yang membuatnya ragu? Khafi tidak terlihat seperti orang yang akan menyakiti dirinya. Malah tampak polos dalam hal percintaan. Sama seperti Arisha yang juga baru dalam hal asmara. Khafi juga pasti merasa seperti itu. Apa sebaiknya dia juga mengatakan pada Khafi mengenai apa yang dia rasakan. Dia menggeleng keras. Lebih baik tunggu setelah Khafi menyerahkan data mengenai dirinya. Sesudah itu, dia bisa memberi tahu yang sebenarnya. “Kita saling bertukar informasi dulu. Setelah itu, kita kembali bertemu dan membicarakan hal ini lagi. Bagaimana?” “Setuju. Besok data itu akan aku kirim. Ke mana aku harus mengirimnya?” “Lewat email?” usul Arisha sembarangan, tetapi Khafi langsung setuju. “Mas benar-benar akan membuat data mengenai Mas?” “Kenapa? Bukankah itu yang kamu mau?” “Benar. Tulis semua dengan jujur. Apa makanan kesukaan. Minuman kesukaan. Tempat yang paling disukai. Apakah ada yang tidak disukai. Tulis semua. Jangan ada yang terlewat,” ujar Arisha mengingatkan. Dia menggerak-gerakkan telunjuk selama mengatakan hal itu dan membuat Khafi lagi-lagi tersenyum. “Kenapa kamu tidak bertanya saja sekarang. Aku pasti akan langsung menjawab.” “Itu ... sedikit canggung. Lebih baik menulisnya, jadi aku bisa membaca dengan tenang.” Arisha mencoba mencari cara agar tidak terlalu lama berduaan. “Baiklah. Aku mengerti. Akan aku kirimkan malam ini.” “Secepat itu? Bukankah tadi Mas bilang besok?” Arisha memejamkan mata. Dia memalingkan wajah untuk menghindari tatapan Khafi. Kenapa hari ini dia begitu tidak bisa diandalkan? Ke mana perginya rasa percaya diri yang selalu dia banggakan? “Lebih cepat lebih baik, kan? Lagi pula, itu hanya sebuah data.” “Baiklah. Kita sepakati nanti malam saja,” kata Arisha lemas. “Ini kartu namaku. Hubungi aku kapan pun.” “Kartu nama?” Arisha meraih benda kecil itu, lalu mengamatinya. “Aku akan menghubungimu untuk memberi tahu alamat emailku.” Baru saja Arisha melihat ke arah Khafi, dia langsung mengalihkan pandangan. Senyum Khafi benar-benar mematikan. Dia mungkin akan dihantui oleh wajah itu jika tidak segera menghindar. Lagi pula tidak baik jika saling pandang begitu. Bagaimana kalau ada setan yang menjerumuskan? “Kalau begitu, sampai jumpa lagi. Aku pamit dulu.” “Sudah mau pulang?” Pertanyaan itu terlalu cepat diajukan sampai kening Khafi mengerut. Tadi bilang gugup jika terlalu lama berhadapan. Kenapa sekarang malah menahannya di sini? Apa sebenarnya yang diinginkan oleh Arisha? “Masih ada yang mau kamu katakan?” “Tidak ada.” Arisha berdeham. “Perlu aku panggilkan orang tuaku?” “Tidak perlu. Mereka pasti sibuk. Sampaikan saja kalau aku tidak mau mengganggu.” Arisha mengangguk. “Aku pergi. Assalamualaikum.” Arisha menjawab salam itu. Dia memperhatikan Khafi sampai tubuh pria itu keluar sepenuhnya dari restoran. Mengapa dia merasa berat melepas kepergian Khafi? Sejujurnya, dia juga masih ingin mengobrol dengan Khafi, tetapi jika mereka terlalu lama bersama, Arisha takut tergoda. Pesona Khafi sangat kuat, Arisha tidak akan bisa bertahan lama jika mereka begini terus. Begini bukankah melegakan. Toh, dia masih punya banyak waktu untuk melihat Khafi lain kali. Untuk saat ini, biarkan saja Khafi pergi. “Khafi sudah pergi?” Suara yang tiba-tiba menghampiri indra pendengar Arisha membuat bulu kuduknya meremang. Dia menoleh dan mendapati sang ibu yang tersenyum sangat lebar. Tangan kanannya memegang d**a sambil beristigfar. Di saat seperti ini, sang ibu malah bercanda begitu. Mengejutkan. “Bukankah jawabannya sudah jelas?” Yumna meringis. “Dia titip salam untuk Ayah dan Ibu. Katanya dia takut kalian sibuk, jadi tidak berpamitan langsung.” “Benarkah?” Yumna duduk di hadapan sang anak. “Bagaimana? Kamu setuju untuk menikah dengannya? Ayo, katakan.” “Ibu,” rengek Arisha. “Kenapa Ibu suka dia?” “Dia berasal dari keluarga baik dan anaknya juga baik. Yang penting, dia menyukaimu. Komplit, kan? Kapan lagi dapat calon suami yang seperti dia?” “Tapi, Bu. Arisha baru bertemu. Masa sudah mau menikah?” “Apa salahnya? Ayahmu juga menyukai Khafi. Kami hanya tinggal menunggumu setuju. Setelah itu, kalian sudah bisa menikah.” Yumna bertepuk tangan. Senyum lebarnya masih belum menghilang. Apa yang dia katakan memang sangat benar. Arisha juga tahu itu. Khafi sosok yang tepat untuk dijadikan pendamping hidup. Namun, setidaknya Arisha harus memikirkan hal ini, bukan? Pernikahannya adalah sesuatu yang penting. Jangan sampai ada yang salah. Entah apa yang mengganjal di hati Arisha. Padahal jelas-jelas kedua orang tua yang dia sayangi menyukai Khafi. Penilaian mereka nyaris tidak pernah salah. Terutama sang ayah. Ayah selalu memilihkan segala hal baik untuk Arisha. Dalam hal apa pun. Jadi, jika Ayah sudah memilih Khafi, untuk apa dia ragu? “Ibu dan Ayah sangat menyukai Mas Khafi?” “Apa itu perlu dipertanyakan lagi? Tapi kamu tidak harus menikah dengannya kalau kamu tidak menyukai, Sha. Jangan memaksakan diri.” “Justru karena Arisha menyukai Mas Khafi, Arisha sedikit takut. Pria serba baik seperti dia, apakah tidak akan menyesal setelah menikahiku?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN