“Saya tidak keberatan.”
Senyum Arisha yang memesona terlukis indah dalam kepala Khafi. Pria itu perlahan menarik kedua ujung bibir ke atas. Kalimat sederhana, tetapi memiliki sejuta makna baginya. Mendengar hal ini lagi dari mulut Arisha membuat dirinya dipenuhi kebahagiaan untuk ke sekian kali.
Padahal hanya persetujuan untuk berkenalan lebih dekat. Untuk apa Khafi begitu senang? Sepertinya dia sedikit berlebihan karena ini pengalaman pertama. Dia juga belum pernah merasakan sensasi berdekatan dengan wanita. Ternyata ketertarikan pada lawan jenis itu bisa menimbulkan sengatan di hati.
Setiap kali Arisha membuka mulut, Khafi selalu penasaran. Kata-kata apa yang akan keluar dari sana. Dia sangat menantikan seakan perkataan gadis itu begitu berharga. Gerak gerik Arisha bahkan tidak luput dari perhatiannya. Semua terekam dengan baik di otak dan hati. Pemandangan yang indah sekali.
Bagaimana cara Arisha merapikan jilbab. Bagaimana Arisha tersenyum. Bagaimana Arisha berbicara pada ayah ibunya. Bagaimana Arisha mengangkat gelas. Bagaimana Arisha memakan camilan. Bagaimana Arisha tidak berani membalas tatapan Khafi. Bagaimana Arisha menunduk. Bagaimanapun ....
“Bagaimana, Khafi?” Khafi mendongak dan melihat Farzan tanpa kedip.
“Iya, Om?” tanya Khafi balik. Farzan mengerutkan kening.
“Jangan bilang kalau kamu sedang melamun.”
“Itu, Om. Saya hanya sedang memikirkan banyak hal. Maaf atas ketidaksopanan saya. Bolehkah saya bertanya apa yang Om katakan barusan.”
“Om bertanya, bagaimana jika kamu dan Arisha mengobrol dulu? Kami akan pergi melayani pelanggan. Bagaimana?”
“Saya tidak keberatan, Om. Bagaimana dengan Arisha?”
Semua mata tertuju pada Arisha yang tengah asyik menikmati sepotong black forest. Dia berhenti mengunyah saat merasa terusik. Kenapa harus bertanya? Dalam keadaan seperti ini, mana mungkin dia tidak setuju. Toh, ini tempat yang sangat ramai dan daerah kekuasaannya. Untuk apa ragu menerima perkataan sang ayah.
Di depan gadis berjilbab, Khafi menunggu penuh harap. Tujuan awal datang kemari memang untuk mendekati orang tua Arisha. Namun, jika dia juga diberi kesempatan mengobrol dengan gadis itu, akan lebih baik. Jadi, dia tidak perlu memikirkan cara lain untuk mengajak Arisha keluar. Dia bisa menghemat waktu.
“Saya tidak keberatan,” ujar Arisha dengan senyum yang meyakinkan.
“Baiklah. Sudah diputuskan.” Farzan menoleh pada Khafi. “Sering-sering saja datang kemari dan mengobrol dengan Arisha. Jadi, kalian bisa lebih cepat saling mengenal.”
“Iya, Om. Saya akan lebih sering meluangkan waktu untuk datang ke sini.”
“Kalau begitu, kami tinggal dulu. Pesan saja jika menginginkan sesuatu.” Khafi mengangguk sopan sambil tersenyum.
Kedua mata Khafi mengamati dua orang yang menjauh darinya. Dia cukup terkejut dengan reaksi keluarga Arisha. Ternyata malah mengira orang tua Arisha akan sulit untuk ditaklukkan. Siapa sangka jika dia bisa mendapatkan kesempatan baik secepat ini. Dia tidak boleh menyia-nyiakan waktu yang diberikan oleh Farzan.
Melihat kepergian orang tuanya, Arisha meremas kedua tangan. Dia lantas merapatkan posisi kaki dengan gerakan pelan. Berhadapan begini membuat sedikit gugup dan khawatir. Kenapa dia harus ditinggal sendiri? Dia sedikit beruntung karena suasana di sekitar mereka yang ramai. Jadi, dia tidak perlu sampai begitu gemetar.
Dari jarak sedekat ini, Arisha bisa saja memperhatikan Khafi dengan mudah. Dia bahkan bisa melihat sepasang alis tebal Khafi yang disukainya. Sayang, Khafi terus menatap dirinya, jadi dia tidak leluasa. Apa dia perlu menegur Khafi karena membuat orang tidak bisa berpikir apa-apa. Otaknya mendadak kosong.
“Apa menjadi penulis sangat menyenangkan?” tanya Khafi membuka pembicaraan.
“Tentu saja. Menulis adalah hal yang paling saya sukai.”
“Benarkah? Maaf karena belum sempat membaca buku-bukumu yang sebelumnya.”
“Tidak masalah. Saya tidak mempermasalahkan hal sekecil ini.”
“Bagaimana kalau kita menggunakan aku kamu saja. Agar kesannya tidak terlalu kaku. Sebutan saya rasanya membuat jarak di antara kita.”
“Tidak masalah. Saya tidak keberatan sama sekali.” Khafi mengangguk-angguk.
“Lantas, bagaimana kamu akan memanggilku?”
“Apa? Apa saya, maksudnya ... Apa aku perlu memilih?”
“Tentu saja. Aku hanya mempermudah. Kamu tidak akan memanggilku Bapak, bukan? Kita hanya berbeda enam bulan. Aku rasa panggilan Bapak sedikit berlebihan. Bagaimana kalau menurut kamu?”
“Maaf jika sebelumnya aku membuat tidak nyaman. Jadi, aku harus memanggil apa?”
“Terserah. Kamu yang memutuskan.”
Kebenaran yang diberikan oleh Khafi justru menyiksa. Padahal sekadar panggilan. Kelana Arisha merasa jantungnya berdetak lebih kencang. Dia mulai memilin ujung jilbab cokelatnya. Ternyata hal seremeh ini pun bisa membuatnya begini. Kenapa dia harus berpikir panjang. Dia hanya perlu memanggil Khafi seperti pria lain yang ada di sekitarnya. Urusan beres, bukan? Untuk apa terburu-buru.
Senang sekali bisa melihat Arisha yang tengah berpikir begitu. Ekspresi wajahnya yang terus berubah-ubah membuat Khafi kembali tersebut. Duduk berhadap-hadapan ternyata menimbulkan efek yang cukup mengganjal di d**a. Khafi menghela napas, lalu bersandar sambil menyilangkan tangan.
“Bagaimana kalau Mas? Atau Kakak? Abang?”
“Kamu saja yang memutuskannya. Aku tidak akan keberatan.”
“Kalau begitu aku panggil Mas saja,” kata Arisha dengan wajah semringah.
“Boleh saja. Panggilan itu lumayan bagus.” Arisha meringis. “Jadi, novel seperti apa yang sedang kamu tulis sekarang?” tanyanya hati-hati.
“Sejujurnya aku lebih menyukai tema mengenai seseorang yang berjuang menggapai mimpi mereka. Hanya saja ... kali ini aku diminta untuk menulis tema lain. Jadi, aku merasa sedikit tertekan.”
“Apa harus menulis sesuatu yang tidak kamu sukai? Kalau merasa keberatan, kenapa tidak mengatakannya? Bukankah kamu dirugikan?”
“Tidak juga. Setelah dipikir-pikir, aku ingin mencoba dunia baru dalam menulis. Ini juga bisa mengembangkan kemampuan menulisku.”
“Masuk akal. Tema apa yang sedang kamu kerjakan?”
“Itu ....” Arisha menatap ragu pada Khafi. Apa dia harus mengatakannya? Ini sedikit memalukan. Lagi pula, dia tidak yakin kalau pria itu memahami ucapannya.
Sudut mata Arisha melirik Khafi yang tampak serius dengan ucapannya. Dia menarik napas panjang. Mana bisa dia berkata kalau tema novel terbarunya mengenai pernikahan. Pasti akan canggung jika membicarakan masalah seperti ini. Terutama karena Khafi sudah meminta izin untuk lebih mengenal dirinya.
Bukan merasa percaya diri, tetapi Arisha hanya menduga. Jika Khafi memutuskan untuk mendatangi orang tua seperti ini, bukankah pria itu memang ingin melangkah pada hubungan yang lebih serius. Pernikahan misalnya. Apa lagi tujuan seorang pria yang mau mengenal wanita asing kalau bukan untuk berumah tangga?
Entah Arisha yang berlebihan karena terlalu mencemaskan perjalanan hubungan mereka atau apa. Dia sedikit gugup setiap kali ada yang membahas mengenai pernikahan. Namun, dia juga sudah menyetujui keinginan Khafi. Sekarang tidak bisa mundur lagi dengan alasan belum siap melangkah lebih jauh.
“Kalau tidak merasa nyaman, tidak usah dibicarakan,” ucap Khafi. Arisha tersenyum.
“Bagaimana kalau kita membicarakan hal lain?”
“Boleh saja. Misalnya apa?” Arisha berdeham. Dia juga tidak berpengalaman dalam hal seperti ini. Seharusnya dia berguru dulu pada Nadhifa sebelum menemui Khafi.
Tidak disangka kalau hari ini akan bertemu Khafi. Kalau tahu pria itu ada di restoran orang tuanya, Arisha mungkin memilih untuk menghindar. Dia belum siap untuk berbagi kisah pribadi dengan orang lain. Akan tetapi, dia tidak bisa mengabaikan Khafi begitu saja. Lagi pula, ayah ibunya sangat mendukung hubungan mereka.
Tentu saja Arisha tidak akan menikah hanya karena hal ini. Meski begitu, dia akan mempertimbangkan perasaan orang tuanya saat memilih pasangan hidup. Baginya, restu mereka sangat penting. Kehidupan seorang anak akan lebih diberkahi ketika berbakti pada kedua orang tua, bukan?
Mengenai pernikahan, bukankah sudah ada Yang Maha Mengatur? Dia akan menunjukkan jalan bagi Arisha. Jika dia memang berjodoh dengan Khafi, jalan mereka tentu diberi kelancaran. Berpikir positif saja. Dia akan mengikuti prosesnya dan menikmati hasil yang baik di akhir. Insya Allah.
“Mas kerja di bidang apa?”
“Aku? Perusahaanku bergerak di bidang fashion. Kami memiliki beberapa produk unggulan. Mulai dari baju, dress, celana, rok, sampai dengan aksesorinya. Sebenarnya, kami lebih banyak bekerja sama dengan beberapa butik yang memiliki desain menarik. Jadi, tidak semua produk yang kami jual adalah milik kami.”
“Ah, begitu? Aku jadi penasaran seperti apa perusahaan Mas.”
“Mampirlah jika ada waktu. Aku bisa mengajakmu berkeliling kantor.”
Kedua mata Arisha berkedip-kedip. Dia tidak menyangka kalau Khafi akan memberikan tawaran itu. Dilihat dari kepribadian dan penampilan, Khafi tidak terlihat seperti orang yang akan mengajak dirinya berkeliling perusahaan. Pekerjaannya pasti sangat banyak. Bukankah Arisha hanya menghabiskan waktu Khafi?
Melihat perusahaan saat hubungan mereka baru saja terbentuk bukan pilihan tepat. Arisha rasa belum waktunya dia berkunjung. Mungkin nanti jika Khafi sudah menjadi suaminya, dia akan mempertimbangkan hal ini. Atau setelah Khafi resmi melamar. Dengan begitu, barulah statusnya jelas.
Jika pergi ke daerah Khafi dengan status sebagai istri atau calon istri, bukankah kehadiran Arisha tidak terlalu menarik perhatian? Lagi pula, dia bukan gadis yang akan mengikuti pria asing yang belum tentu kedudukannya dalam hati. Apa kata orang jika melihat Khafi membawanya ke kantor sebelum mereka resmi berpasangan.
“Kenapa? Kamu tidak bersedia?”
Jujur saja, Khafi ingin bertanya apa yang dipikirkan oleh Arisha sampai wajahnya memerah. Dia bahkan bisa melihat dengan jelas dari tempat duduknya. Padahal dia tidak mengatakan sesuatu yang memalukan atau menimbulkan efek seperti itu. Lalu, apa yang membuat Arisha merona begitu?
Masalah seperti ini, apa layak untuk dipertanyakan? Meski tidak berpengalaman dalam sebuah hubungan, dia cukup tahu batasan. Dia tahu kapan harus diam dan kapan harus bertanya. Sekarang, dia terpaksa memilih opsi pertama. Kalau sampai mengeluarkan pertanyaan yang menari-nari di kepala, Arisha mungkin akan mengira dia pria yang suka menggoda. Padahal dia tidak pernah melakukan hal itu.
“Bukan. Hanya saja, mengunjungi perusahaan sekarang sepertinya kurang pantas.”
“Kamu benar juga. Sepertinya aku yang terlalu bersemangat.” Khafi terdiam. Dia merasa ada yang salah dalam kalimatnya. “Maksudku, aku hanya ingin menunjukkan perusahaanku karena kamu merasa penasaran.”
Perkataan Khafi membuat Arisha tersenyum lebar. Sejujurnya, dia ingin tertawa, tetapi menahan diri karena tidak mau terlihat berlebihan di depan Khafi.
“Aku hanya penasaran. Mungkin suatu hari aku bisa ke sana.”
“Setelah kita menikah?” gurau Khafi, tetapi begitu melihat wajah Arisha yang memerah, dia jadi menyesal. Bisa-bisanya dia bercanda seperti itu.
Sejak kapan Khafi memiliki sisi penggoda seperti ini? Dia sendiri terkejut dengan apa yang dikatakan. Baru saja menemukan topik pembicaraan menyenangkan dengan Arisha, dia malah sudah merusak suasana. Kenapa mulutnya justru kehilangan kendali di saat-saat seperti ini. Sungguh memalukan.
Merasa tidak ada tanggapan, Khafi mendongak dan mendapati Arisha yang menunduk dalam. Meski begitu, dia masih bisa melihat rona merah di kedua pipi sang gadis. Entah mengapa, pemandangan itu membuatnya tersenyum. Dia sedikit lega karena Arisha tidak marah atau mengatakan hal-hal aneh lainnya.
Begini juga bagus. Perasaan Khafi jadi lebih baik karena Arisha tidak menanggapi leluconnya. Kalau sampai gadis itu membalas, dia mungkin tidak akan mempunyai muka untuk bertemu lagi. Dia berdeham untuk menetralkan keadaan. Masih banyak hal yang ingin dia obrolkan. Jangan sampai membuat Arisha tidak nyaman.
“Aku hanya bergurau. Tidak perlu memasukkannya ke dalam hati,” ujar Khafi.
“Aku tidak tahu kalau Mas juga bisa bergurau seperti itu.”
“Bagaimana kalau aku serius?” Arisha mendongak. “Kamu mau menikah denganku?”