Bab 10: Bertemu Lagi

1785 Kata
“Masih belum dapat inspirasi?” Nadhifa mendekati Arisha yang meletakkan kepala di meja sambil mengerucutkan bibir. “Kayaknya aku butuh hiburan. Gimana kalau kita jalan-jalan dulu?” “Kita? Yang butuh hiburan itu kamu, kenapa aku juga ikut jalan-jalan. Kamu enggak lihat kalau kerjaanku menumpuk?” Nadhifa menunjuk setumpuk kertas yang memenuhi meja kerjanya. Arisha yang ikut melihat itu hanya bisa menghela napas. Sebagai seorang editor, pekerjaan Nadhifa jauh lebih banyak dari pada Arisha. Si gadis berjilbab duduk tegak dan mengamati layar laptop yang bertuliskan bab satu. Menuliskan sesuatu yang tidak berasal dari hati memang cukup sulit. Kenapa juga dia menyetujui sang bos yang menantangnya untuk menulis romance rumah tangga. Ini karena perkataan atasannya mengenai pengembang diri. Dia jadi tertantang dan ingin mencoba dunia baru dalam penulisan. Siapa sangka, dia akan buntu begini. Tiba-tiba, Arisha berdiri dengan cepat. Dia bahkan menimbulkan suara yang cukup keras begitu kursinya bergeser. Beberapa rekan kerja yang berada di ruangan sama, menoleh dan memandang ingin tahu padanya. Merasa bersalah, dia meringis, lalu menangkupkan tangan di d**a sambil mengangguk beberapa kali. “Kamu mau pergi ke mana lagi?” “Aku enggak bisa diam saja menunggu inspirasi yang entah kapan datangnya. Kalau begini terus, aku enggak bakal bisa nulis apa pun.” “Jadi?” Arisha menoleh. Kedua matanya membesar. “Jadi aku mau mencari objek tokoh yang paling dekat denganku.” “Jangan bilang kalau kamu mau bertemu dengan orang tuamu?” “Memangnya siapa lagi yang tahu mengenai pernikahan sebaik mereka? Meskipun ayah tidak begitu romantis, tapi ibu terkadang menyiapkan kejutan untuk ayah. Bukankah ini bakal jadi romansa rumah tangga yang menarik?” “Dengar, ya, Arisha Dilruba. Yang diinginkan bos kita itu cerita manis mengenai sepasang pengantin. Jangan lupa temanya, ya.” “Iya. Aku tahu. Memangnya kisah orang tuaku enggak cukup manis?” “Sudahlah. Pergilah sesukamu. Setidaknya berikan contoh tiga bab sebelum akhir Minggu ini. Mengerti?” Nadhifa tersenyum lebar. Sementara Arisha memberengut. Bekerja sama dengan sahabat dekat bukan lantas membuat Arisha bisa bersantai-santai. Sebaliknya, Nadhifa justru lebih menekan Arisha agar tidak terlalu lama buntu ide. Bukan memaksa. Nadhifa hanya ingin mengarahkan Arisha agar bisa menjadi penulis hebat seperti yang lain. Lagi pula, Arisha memiliki bakat yang cukup baik. Meski lebih suka menulis novel berdasarkan beberapa pengalamannya, dia bukan tidak sanggup merambah pada tema yang lain. Hanya saja, dia belum berani membuka diri. Entah khawatir tidak bisa menulis dengan baik atau karena takut mengecewakan penggemar. Penggemar? Tentu saja. Sebagai penulis yang memiliki buku-buku populer, Arisha memiliki banyak penggemar. Acara peluncuran buku dan tanda tangan selalu dibanjiri penggemar. Tidak heran jika dia terkadang merasa tertekan saat ada penggemar yang menanyakan mengenai buku baru. Bagi penulis, kehabisan ide merupakan hal yang sangat mengerikan. Dunia seakan menghilang saat mereka tidak bisa menulis satu kata pun untuk tulisan baru. Sama seperti Arisha yang sudah hampir satu minggu hanya menekan-nekan keyboard tanpa mengetahui apa-apa. Menulis satu kalimat, lalu dihapus lagi. Begitu terus sampai Nadhifa ikut bosan melihat. “Kamu kejam banget sama teman sendiri,” ujar Arisha lirih. Dia kembali duduk sambil memasang wajah mendung. Nadhifa memutar bola mata. “Enggak usah merayu. Aku sudah hafal sekali dengan rencanamu.” “Tapi ini bukan yang pertama kali aku kayak gini? Masa kamu tega sama aku?” “Justru karena ini bukan yang pertama terjadi. Jadi, kamu enggak bisa merayu aku dengan cara apa pun. Akhir minggu, tiga bab. Kalau kamu bisa menulis lebih banyak, aku bakal sangat berterima kasih. Oke?” Lagi-lagi senyum Nadhifa melebar. “Kalau begitu, bantu aku cari ide. Ini pengalaman pertamaku menulis tema yang enggak aku kuasai. Coba kasih aku masukan.” “Aku sudah melakukannya, kan?” Arisha memandang Nadhifa sambil mengerutkan kening. “Terima saja Khafi dan mulai menulis pengalaman cintamu.” “Kamu benar-benar keterlaluan. Kamu sebut itu masukan? Yang benar saja. Aku enggak lagi main-main, Nadhifa sayang.” “Aku juga serius dengan ucapanku. Bukannya kalian saling tertarik? Kenapa tidak menikah saja? Aku akan mendukung pernikahan kalian.” “Aku enggak tahu kalau kamu punya sisi mengerikan seperti ini.” Kali ini, Nadhifa yang membuat para pekerja menoleh. Dia tertawa cukup keras sampai Arisha harus menarik tangannya agar terdiam. Malu dengan tindakannya, dia menyembunyikan diri dengan menunduk di dekat kursi sang sahabat. Melihat kelakuan yang kekanakan itu, Arisha malah menghela napas. Untuk menenangkan situasi, Arisha kembali tersenyum pada semua orang sambil mengangguk penuh penyesalan. Sepertinya rekan-rekan mereka cukup sibuk sehingga hanya menghela napas, lalu melanjutkannya aktivitas lagi. Arisha mendelik pada Nadhifa yang mengangkat tangan sambil menunjukkan telunjuk dan jari tengah. Bagaimana bisa Arisha meledak jika Nadhifa sudah melakukan hal itu? Dia menengadah. Pikirannya kacau. Tidak ada satu ide pun yang terasa menarik hati. Setelah diberi perintah untuk menulis romance, dia membaca beberapa novel. Dia bergidik saat membayangkan harus menulis adegan manis dan romantis ala pasangan yang telah resmi diikat dalam pernikahan. Dari penelitian yang dilakukan, Arisha mengerti jika tema perjodohan memiliki peluang paling besar. Haruskah dia mengikuti tren itu? Sebagai pemula di genre ini, dia seharusnya memulai dari hal yang disukai oleh pembaca, bukan? Dia memejamkan mata dan mulai menyelami kehidupannya selama ini. “Perjodohan, pernikahan, perjodohan, pernikahan,” gumam Arisha beberapa kali. Lalu, matanya terbuka saat menemukan sesuatu. “Aku sepertinya dapat ide.” “Soal perjodohan dan pernikahan?” tanya Nadhifa. Arisha mengangguk yakin. “Gimana menurut kamu? Apa aku bisa?” “Aku sudah bilang kalau aku bakal dukung pernikahan kamu. Kalau kamu sudah memutuskan untuk menerima perjodohan dengan Khafi, aku setuju saja.” “Nadhifa, ini bukan soal perjodohanku. Kenapa kamu enggak mengerti?” “Bukannya kamu lagi ngomongin soal perjodohan dengan Khafi?” “Bukan. Aku sedang menyebutkan tema novel yang bakal aku tulis.” “Kamu mau menulis novel tentang pernikahan karena perjodohan?” “Kenapa? Itu tema yang sangat populer belakangan ini. Iya, kan?” Kening Arisha mengerut saat Nadhifa hanya mengangguk-anggukkan kepala. “Kamu mau bilang sesuatu? Ayo, katakan. Aku enggak bakal tersinggung.” “Jadi, kamu benar-benar bakal terima Khafi?” “Kita lagi bicara soal novel baruku, bukan masalah Khafi.” Nadhifa bertepuk tangan sambil tersenyum lebar. Membuat kerutan di kening Arisha bertambah. “Bukankah kamu mau menulis kisah perjalanan cintamu dan Khafi?” “Aku enggak bilang gitu. Aku cuma ....” “Cuma apa? Apa kamu lupa kalau kamu hanya menulis sesuatu yang telah kamu alami atau saksikan. Jadi, bukankah kali ini kamu bakal menjadikan Khafi sebagai sumber inspirasi kamu? Benar, kan?” Apa yang Nadhifa katakan memang ada benarnya. Arisha memang ingin membuat kisah yang terinspirasi dari Khafi. Pembaca memang suka hal-hal manis seperti ini, bukan? Dijodohkan tanpa cinta, menikah, lalu mulai saling memperhatikan. Lantas sama-sama mengakui bahwa mereka jatuh cinta satu sama lain. Cerita ini memang terdengar biasa dan pasaran. Namun, Arisha akan lebih teliti saat mengerjakannya. Dia ingin menyelipkan beberapa adegan yang membuat novelnya berbeda. Kedua matanya bertabur cahaya. Senyumnya sangat lebar hingga nyaris tertawa. Dia tahu harus pergi ke mana sekarang. “Mau ke mana?” tanya Nadhifa saat melihat Arisha berdiri setelah meraih tasnya. “Aku pergi sebentar ke restoran orang tuaku.” “Bukannya kita sudah makan siang, ya? Kamu belum kenyang?” “Aku bukannya mau makan. Aku mau mencari inspirasi di sana.” Sebelum Nadhifa sempat bertanya lagi, Arisha sudah berlari sambil menenteng tas kebanggaannya. Dia geleng-geleng kepala. Entah inspirasi seperti apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu. Sebagai teman sekaligus editor, dia berharap Arisha bisa menyelesaikan pekerjaan yang diberikan oleh bos mereka. *** Senyum Arisha mengembang begitu sampai di tempat tujuan. Dia menarik napas, lalu melangkah masuk dengan percaya diri seperti biasa. Suasana restoran masih cukup ramai meski jam makan siang sudah berlalu. Seorang pelayan menghampirinya. Dia membaca name tag sang pelayan, Mana. “Cari pak bos, ibu bos atau calon suami Mbak Arisha?” Arisha mengerutkan kening, tidak mengerti dengan maksud sang pelayan bernama Nana itu. “Ibu ada?” “Ada, Mbak. Lagi ngobrol sama calon mantu,” ujar Nana sambil tersenyum malu-malu. Arisha semakin tidak mengerti maksudku. “Calon mantu? Maksudnya apa, ya?” “Yang lagi ngobrol sama pak bos dan ibu bos, bukannya calon suami Mbak Arisha?” Hati Arisha berdegup kencang. Dia berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Nana. Meski sudah menduga siapa pria berjas yang mengobrol dengan orang tuanya, dia tetap menahan napas saat mendekat. Apa lagi saat sang ibu tersenyum dan melambai padanya. Dia tidak berani menatap pria yang duduk di depan Farzan. “Kebetulan sekali kamu datang. Kalian tidak janjian, kan?” gurau Yumna. Arisha hanya diam. Sementara Khafi tersenyum singkat. “Duduk dulu, Sha,” ujar Farzan. Arisha menurut. “Sudah makan?” “Sudah, Yah. Arisha tidak mengganggu, kan? Arisha melirik Khafi, tetapi saat melihat pria itu sedang menatapnya, dia cepat-cepat mengalihkan perhatian. “Tidak. Kamu hanya mengobrol santai. Iya, kan, Khaf?” Pertanyaan Farzan hanya bisa dijawab dengan anggukan oleh Khafi. Di depan orang tua sang gadis, dia tidak berani berlama-lama menatap. Semua kalimat yang tadinya sudah tersusun rapi di kepala, lenyap seketika. Dia tidak menyangka kalau kehadiran Arisha memberikan dampak besar bagi kecerdasan dan keberaniannya. Tidak boleh begitu. Khafi tidak bisa menjadi pengecut di hadapan Farzan. Apa nanti tanggapan Arisha mengenai dirinya. Bagaimana jika dia meninggalkan kesan buruk pada gadis itu? Jadi, dia berusaha tersenyum tanpa rasa canggung. Yang dia hadapi sama sekali tidak menakutkan. Dia di sini untuk menaklukkan hati mereka. “Iya, Om.” Khafi beralih pada Arisha yang menunduk. “Apa kamu keberatan dengan kehadiran saya di sini?” tanyanya. “Tidak. Tadi saya hanya terkejut. Saya justru takut mengganggu.” “Kamu dari mana, Sha? Tumben sekali mampir ke sini di jam segini.” “Baru dari kantor, Bu. Sebenarnya Arisha mau minta bantuan Ayah dan Ibu. Tapi, karena sedang banyak tamu, nanti saja Arisha bertanya. “Kenapa? Pekerjaan kamu bermasalah? Coba ceritakan. Mana tahu Khafi bisa membantu. Dia, kan, bos, di perusahaan besar. Pasti pengalamannya banyak.” “Ibu terlalu berlebih-lebihan. Tapi, kalau Arisha mau bercerita, saya tidak keberatan untuk mendengarkan,” kata Khafi sambil menatap Arisha. “Tidak perlu. Saya hanya ingin menanyakan hal-hal pribadi untuk bahan penulisan novel terbaru saya. Mana mungkin saya mengganggu privasi seseorang.” “Tidak masalah, Sha. Khafi ke sini dan meminta izin untuk lebih mengenal kamu.” “Saya harap, kamu tidak keberatan dengan keinginan saya ini.” Apa pendapat gadis kecil seperti Arisha bisa didengar? Sepertinya orang tua Arisha dan Khafi sudah membuat keputusan. Bukankah dia hanya perlu menurut? Lagi pula, dia sudah sepakat dengan Khafi untuk saling mengenal. Dia tidak menyangka kalau Khafi akan datang dan menyampaikan secara langsung mengenai hal ini. Benar-benar membuat Arisha tersentuh. Setidaknya Khafi masih menjunjung rasa hormat pada orang tua. Itu yang paling penting. Dia selalu menyukai orang yang bisa menempatkan diri di hadapan sesepuh. Khafi kembali mendapat nilai tambahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN