Pandangan Khafi masih memperhatikan rumah makan yang cukup ramai itu. Dia melirik pintu masuk dengan perasaan ragu. Padahal ini bukan pertama kali dia datang. Bahkan bisa dibilang cukup sering. Jika tahu orang yang selama ini mengajaknya mengobrol adalah orang tua Arisha, dia akan lebih cepat bertemu dengan gadis tersebut.
Apa jalan ceritanya akan berubah jika Khafi berjumpa dengan Arisha lebih awal? Dia ingat betul jika sudah lama sang nenek menyukai makanan di restoran ini. Menu andalannya berupa serba ikan. Bagi pecinta ikan, restoran ini sangat direkomendasikan. Berbagai jenis masakan berbahan ikan tersedia.
“Kalau mau mendapatkan seorang gadis dengan cara yang lebih mudah, dekati saja orang tuanya. Apa lagi gadis seperti Arisha. Sepertinya dia sangat penurut. Dia pasti akan selalu mendengarkan perkataan orang tuanya. Kalau tidak percaya, coba saja.”
Perkataan Barra terngiang-ngiang di telinga. Harus diakui, sarannya memamng cukup masuk akal. Jadi, di sinilah Khafi sekarang, mengamati restoran milik calon mertua. Selama hampir tiga tahun mengetahu tempat ini, dia sama sekali tidak pernah bertemu dengan Arisha. Farzan juga tidak pernah bercerita mengenai wanita itu saat mereka mengobrol.
Tentu saja. Setiap kali bertemu, Khafi dan Farzan hanya akan membicaran bisnis. Mereka akan menghabiskan waktu lama saat sudah memulai pembicaraan. Mungkin seharusnya dia juga mengobrol dengan Yumna. Jadi, dia bisa mengenal Arisha lewat sang ibu. Bukankah seorang ibu biasanya lebih suka membahas mengenai putra putri mereka?
Khafi menghela napas. Bukankah segala hal yang terjadi selalu memiliki kisahnya sendiri? Khafi baru bertemu dengan Arisha sekarang, tentu bukan sebuah kebetulan. Setidaknya dia cukup lega karena sudah mengenal orang tua gadis itu. Yang lebih melegakan, mereka sudah dipertemukan sebagai calon pasangan.
Baiklah. Malam itu memang tidak ada pembicaraan mengenai pernikahan, pertunangan atau hal lain yang berhubungan dengan masa depan Khafi dan Arisha. Namun, Khafi juga bukannya tidak mengerti arti pertemuan kedua keluarga. Dia hanya perlu menegaskan niatnya pada Arisha. Keluarga gadis itu sudah membuka jalan, mana mungkin dia menyia-nyikan kesempatan ini. Benar, bukan?
Ketika pintu mobil sudah terbuka, Khafi berhenti sejenak. Padahal kaki kanannya sudah turun terlebih dulu. Tiba-tiba ada perasaan ragu dalam hati. Benarkah ini yang dia inginkan? Benarkah dia menginginkan Arisha untuk menjadi pendamping hidupnya? Benarkah dia tertarik pada wanita itu dan ingin merangkulnya seumur hidup?
Arisha wanita baik-baik. Khafi bisa meyakini hal itu. Jika dia mendekatinya hanya karena penasaran, bukankah itu tidak adil? Lagi pula, ada orang tua yang mendukung kebersamaan mereka. kalau dia sampai main-main, akibatnya bisa fatal. Lalu, apa yang membuatnya berpikir untuk mengunjungi restoran milik Farzan?
Tidak bisa begitu. Khafi memejamkan mata. Dia perlu memikirkan hal ini lagi. Mana boleh dia memutuskan masa depannya dan Arisha dengan pikiran begini. Dia harus kembali dan meyakinkan dirinya. Jika sudah meneguhkan prinsip, dia akan kembali lagi untuk bertemu dengan orang tua Arisha. Itu sangat adil, bukan?
“Khafi.”
Panggilan itu membuat Khafi yang berniat pergi, urung. Dia menoleh dan melihat Yumna yang tersenyum padanya. Kalau sudah begini, bagaimana mungkin dia bisa kabur. Dengan senyum kaku, dia turun dari mobil dan menyalami Yumna. Dia melirik ke belakang, berharap Farzan ada di sana. Sayang, Yumna hanya sendiri.
“Tante sendiri? Om Farzan ....”
“Sedang sibuk di dalam. Tadi Tante keluar sebentar. Kenapa tidak langsung masuk?”
“Saya kebetulan lewat dan bermaksud mampir. Tapi sepertinya restoran cukup ramai. Saya takut mengganggu. Jadi, saya pikir mungkin lebih baik membuat janji dulu, baru datang.”
“Kamu ini. Bukannya kamu sering ke sini. Mas Farzan pasti senang karena teman mengobrolnya datang. Masuk saja. Ayo!”
“Tapi Tante, saya ....”
“Tidak ada tapi-tapi. Ayo, masuk.”
Pada akhirnya, Khafi hanya bisa mengikuti langkah Yumna memasuki restoran. Semoga saja dia tidak mendadak bisu atau kehilangan pikiran saat bertemu dengan Farzan. Sekarang, perjumpaan mereka pasti bukan hanya akan membahas masalah bisnis. Dia datang kemari juga bukan untuk tujuan itu, bukan?
Dalam hati, Khafi mulai merapalkan doa. Kenapa pertemuan dengan Farzan kali ini lebih menakutkan dari biasanya? Bahkan bertemu dengan klien keras kepala juga bukan masalah baginya. Lalu, kenapa dia harus gugup? Dia hanya perlu tenang agar tidak mempermalukan diri di hadapan orang tua Arisha.
***
“Tidak perlu repot-repot, Tante. Saya hanya mampir dan ingin mengobrol sebentar,” ujar Khafi saat Yumna membawakan jus apel dan berbagai camilan.
“Lama juga tidak apa-apa,” balas Yumna sambil tersenyum lebar. “Kamu mau makan apa? Biar Tante ambilkan.”
“Tidak usah, Tante. Saya baru saja makan siang. Masih kenyang.”
“Baiklah. Kalau begitu, makan camian saja. Oh, iy, kamu masih suka jus apel, kan?”
“Tante ingat?”
“Tante mengingat semua tamu yang mengobrol dengan Mas Farzan dan hafal dengan hindangan untuk mereka.” Khafi berusaha tersenyum saat mendengar ucapan Yumna.
Entah kenapa, otak Khafi terasa buntu. Dia mengamati tamu-tamu yang makan di restoranuntuk mengalihkan perhatian Yumna. Sebelum datang, harusnya dia mencari tahu mengenai orang tua Arisha. Apa yang mereka sukai. Apa yang biasa mereka obrolkan. Semua. Salahkan Barra yang tidak mengingatkan hal seperti ini.
Kelihatannya memang sepele. Namun, Khafi bukan orang yang biasa pergi tanpa persiapan. Kenapa kali ini dia sangat ceroboh. Padahal dia bertemu dengan orang yang sangat penting. Dia bahkan datang dengan tangan kosong. Kenapa dia tidak membeli sesuatu agat tidak merasa canggung seperti sekarang. Apa Yumna akan berpikir dia tidak sopan?
Sebelum Yumna sadar, Khafi lebih baik meminta maaf. Meski mungkin Yumna tidak menginginkannya, dia juga tetap harus membawa hadiah. Apa dia berlebihan? Keluarga Arisha belum membicarakan apa pun mengenai kelanjutan hubungan mereka. Apa dia terlalu gegabah karena datang mencari Farzan dan Yumna.
“Maaf, Tante. Saya tidak membawa apa-apa. Tadi tidak sempat mampir.”
“Tidak apa-apa. Tante senang kamu berinisiatif datang ke sini.”
“Apa?” Khafi langsung menutup mulut. Dia hanya sedikit syok karena Yumna berkata begitu seolah sudah menunggu kedatangannya sejak lama. “Maksud saya, saya memang ingin bertemu dengan Om Farzan.”
“Terus, kenapa tadi malah mau pergi sebelum bertemu?”
“Itu ... saya ....”
Apa ini pertanyaan jebakan. Khafi bisa merasakan sensasi panas yang menjalari tubuh. Sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dia membasahi bibir, lalu berdeham agar bisa menormalkan semua pikiran. Kalau dia terbata-bata, bukankah itu akan membuatnya bertambah malu? Mau bagaimana lagi, dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Menghadapi calon mertua memang bukan perkara mudah.
“Saya takut mengganggu. Biasanya kami membuat janji dulu atau karena menjemput Nenek. Kali ini, saya bahkan tidak memberi tahu Om Farzan kalau akan datang.”
“Iya. Tante tahu. Jangan terlalu gugup. Apa kamu gugup karena pertemuan kita malam itu?”
“Bukan begitu, Tante. Saya hanya merasa waktunya kurang tepat.”
Senyum Yumna justru membuat Khafi semakin terpojok. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh wanita itu. Melihat cara tersenyum Yumna, dia tahu kalau ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Dadanya bergemuruh. Apa Yumna akan menanyakan banyak hal mengenai hubungannya dengan Arisha?
Tanpa sadar, Khafi mengamati sekeliling. Dia berharap Farzan akan segera muncul dan menyelamatkan dirinya dari situasi ini. Farzan tampaknya lebih mudah diatasi ketimbang ibu Arisha. Dia tidak terbiasa merasakan tekanan seperti ini. Pandangan Yumna bahkan lebih tajam dibandingan dengan para investor keras kepala yang biasa dia temui.
Meski begitu, jika Khafi terus diam dan tidk menanggapi ucapan Yumna, bukankah tidak sopan. Namun, dia sungguh tidak tahu apa yang harus dibicarakan dengan wanita di hadapannya itu. Dia benar-benar tidak tahu topik apa yang akan menarik perhatian Yumna. Bagaimana kalau dia sampai salah berbicara?
“Bagaimana pendapat kamu tentang Arisha?”
Nah, kan. Benar perkiraan Khafi. Yumna pasti akan membahas mengenai Arisha. Apa dia harus jujur kalau Arisha sudah menarik perhatiannya saat perjumpaan pertama mereka? atau dia pura-pura tidak mengenal Arisha sebelum malam itu? Ini sungguh membingungkan karena dia belum pernah berada di posisi ini.
“Apa pertanyaan Tante bikin kamu tidak nyaman?” tanya Yumna saat Khafi hanya diam.
“Bukan begitu, Tante. Tapi saya bingung harus menjawab apa. Saya hanya berpikir kalau Arisha sangat istimewa.” Khafi berdeham saat menyadari senyum Yumna yang tidak biasa. “Maksud saya, Arisha wanita yang baik. Meski baru berkenalan, saya bisa merasakan kebaikan dalam setiap perkatannya.”
“Benarkah? Dia memang selalu begitu. Dia terlalu baik pada semua orang. Kadang Tante takut kalau sampai ada yang memanfaatkan kebaikannya itu.”
“Tidak perlu khawatir, Tante. Dia cukup pintar menjaga diri.”
“Kenapa Tante merasa kalau kamu dan Arisha sudah saling mengenal sebelum pertemuan kita malam itu? Kalian sudah saling kenal?”
“Siapa yang sudah saling kenal?”
Belum pernah Khafi merasa selega ini. Dia menoleh dan tersenyum pada Farzan. Pria itu sungguh menyelamatkan hidupnya. Hampir saja dia membongkar rahasia kalau berhari-hari ini, Arisha terus memenuhi pikiran. Bisa-bisa Yumna berpikir kalau dia kehilangan akal. Baru bertemu sudah membayangkan anak orang. Tidak sopan sekali.
Ini terdengar berlebihan memang. Khafi tidak mengerti bagaimana cara menghadapi orang tua Arisha. Sepertinya dia berada di ujung jurang. Salah melangkah sedikit saja, dia bisa jatuh dan terluka. Jadi, demi keselamatan, dia harus berhati-hati. Jangan sampai memilih jalan yang membahayakan masa depannya.
“Apa saya menggangu Oom?”
“Sejak kapan kamu jadi sungkan begitu?”
“Saya seharusya menghubungi Om dulu sebelum datang.”
“Sudahlah. Ayo, duduk. Lho, Bu. Mana makanan untuk tamu kita?”
“Tidak perlu, Om. Saya baru saja makan siang.” Farzan menatap Khafi sebentar, lalu tersenyum. Dia tahu jika Khafi mungkin sedikit gusar.
“Apa baru bertemu klien di sekitar sini?”
Khafi terdiam. Dia tidak terbiasa berbohong. Akan tetapi, tidak mungkin dia mengatakan kalau tujuannya kemari karena ingin bertemu calon mertua. Apa yang akan dipikirkan oleh Farzan nanti. Lalu, apa yang sebaiknya dia katakan? Ternyata Farzan justru lebih berbahaya dari pada Yumna. Dia salah memprediksi keadaan.
Sekarang, siapa yang bisa menyelamatkan dirinya? Tidak ada. Dia harus keluar dari belenggu ini sendiri. Anggap saja dia melakukan kesalahan karena bertemu klien sulit tanpa persiapan yang matang. Lebih baik mengaku salah ketimbang malu. Setidaknya dia bisa memperbaiki kesalahan yang dia lakukan.
“Tidak, Om. Sebenarnya saat lewat tadi, saya tiba-tiba ingin mampir.”
“Tiba-tiba?” Farzan tersenyum. “Apa ini tentang Arisha?”
Skak mat. Farzan lebih berterus terang dari pada Yumna. Khafi sudah memasuk wilayah berbahaya. Dia harus mulai jeli melihat situasi dan kondisi. Pertama-tama, dia harus tenang. Jangan sampai menghancurkan masa depan karena kesalahan kecil. Orang yang dia hadapi adalah orang tua Arisha. Dia tidak boleh main-main.
“Benar, Om. Saya datang karena ingin membicarkan mengenai Arisha.” Khafi bersyukur kalimat itu meluncur tanpa hambatan dari mulutnya.
“Ini yang Om suka dari kamu. Jujur dan tegas. Jadi, apa yang ingin kamu katakan.”
“Saya ingin meminta izin pada Om dan Tante untuk lebih mengenal Arisha.”
“Setuju sekali. Kami memang berharap seperti itu.” Bukan Farzan yang menjawab, melainkan Yumna. Khafi sempat terdiam mendengar persetujuan Yumna. Semudah itu?
“o*******g karena kamu mau berterus terang. Omo dan Tante tidak masalah. Tujuan kami mempertemukan kalian memang agar saling mengenal. Jadi, kami memberimu izin untuk mengenal anak kami,” kata Farzan dengan wajah serius.
“Terima kasih atas izinnya, Om.”
“Nah, yang dibicarakan sudah datang.”
Khafi mendongak saat Yumna berkata begitu. Dia membeku saat melihat Arisha yang tersenyum tak jauh darinya. Gadis itu tampaknya belum menyadari jika ada orang lain di sana. Hari ini pasti hari keberuntungannya. Dia datang ke restoran Farzan untuk mendapatkan restu dan sekarang dia bisa bertemu dengan Arisha. Benar-benar beruntung.