“Bagaimana kalau kita coba? Apa kamu menyukai saya?”
Nadhifa tertawa mendengar gaya bicara Arisha. Sang sahabat baru saja menceritakan mengenai makan malam perkenalan dengan Khafi. Ekspresi Arisha saat bercerita benar-benar sudah mirip dengan artis yang berakting sebagai wanita dingin tak berperasaan. Nadhifa sampai harus memegangi perut karena tidak bisa menahan tawa.
“Serius, deh, Sha. Dia pasti punya tingkat kepercayaan diri yang tinggi banget.”
“Itu yang mau aku katakan. Aku enggak nyangka kalau dia orang yang kayak gitu. Maksudku, dia terlihat sopan. Bagaimana bisa dia kasih pertanyaan seperti itu sama wanita yang baru dikenal. Enggak masuk akal, kan?”
“Tapi dia sudah meralat ucapannya, kan?”
“Memang. Tapi tetap saja aku enggak habis pikir. Bisa-bisanya ada laki-laki kayak gitu.”
Setelah melontarkan pertanyaan yang sangat sensitif pada Arisha, Khafi memang sempat meralat ucapan. Pria itu tampaknya cukup menyesal dengan apa yang dia katakan. Meskipun dia tidak yakin karena wajah datar Khafi tetap sama. Jadi, siapa yang tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Khafi.
“Maksud saya, jika kamu memang berniat menikah, kita bisa mencoba untuk saling mengenal. Kita bukannya saling tidak menyukai, bukan?”
“Memang benar. Tapi membicarakan pernikahan sekarang, bukankah terlalu cepat?”
“Berapa umur kamu sekarang?”
“Kenapa tiba-tiba menanyakan umur? Itu hal yang sangat sensitif.”
“Sepertinya kisaran dua puluh lima tahun,” ujar Khafi sambil memandangi Arisha.
“Itu tidak sopan,” protes Arisha dengan wajah cemberut.
“Maaf, saya terbiasa mengamati orang-orang yang saya temui. Jadi, tanpa sengaja juga meneliti tentang kamu. Kalau itu membuat kamu tidak nyaman, saya sungguh minta maaf.”
Mendengar kalimat permintaan maaf yang seindah itu, mana bisa Arisha kesal lagi. Mungkin Khafi hanya tidak terbiasa berkomunikasi dengan wanita. Bukankah orang tuanya yang bilang kalau Khafi termasuk pria pendiam. Arisha justru merasa sebaliknya, Khafi sangat pintar memilih kata-katan untuk berkomunikasi. Apa karena terbiasa bertemu dengan banyak orang saat sedang bekerja?
Keterampilan dan kecerdasan Khafi tidak perlu dipertanyakan lagi. Mengurus perusahaan dan keluarga secara bersamaan bukan hal mudah. Jika Khafi sangguh bertahan, bukankah dia sangat hebat. Bukan hanya pintar, Khafi bahkan menghormati sang nenek. Kalau mau, dia bisa menolak keinginan Hilya. Akan tetapi, dia tidak ingin mengecewakan Hilya dengan penolakannya. Dia benar-benar tidak ingin membuat Hilya khawatir.
“Ngelamunin apa, Mbak?” Arisha tersentak saat Nadhifa menepuk pundaknya cukup keras.
“Bisa enggak hilangin kebiasaan burukmu yang mengerikan itu?”
“Habis kamu dipanggil-panggil enggak jawab. Mikirin Khafi, ya?”
“Menurut kamu, dia itu keren apa nyebelin?”
“Sudah jelas, kan? Dia keren banget. Ganteng, pinter, tinggi, mapan, sayang keluarga. Yang lebih penting, dia enggak punya mantan. Jadi, kamu bakal jadi cinta pertamanya.”
“Kenapa aku jadi cinta pertamanya?”
“Percaya, deh, Sha. Dia itu suka sama kamu. Cuma, dia tipe pria yang enggak bisa nunjukin perasaan. Kamu yang bilang kalau dia pendiam, kan?”
“Memang. Apa menurutmu aku ikuti saja saran dia? Lagian, kami hanya berkenalan. Cocok dilanjutkan. Kalau enggak, kami bisa pisah baik-baik.”
Kening Arisha mengerut saat melihat Nadhifa yang menggelengkan kepala.
“Walaupun hanya melihat sekilas, aku bisa tahu kalau dia bukan orang yang suka main-main. Orang seperti dia selalu mendahulukan ini,” ujar Nadhifa sambil menunjuk kepala.
“Semua orang juga selalu berpikir sebelum bertindak. Apa bedanya sama dia?”
“Makanya baca novel romance. Hidup kamu terlalu hampa sampai enggak bisa lihat pria keren kayak Khafi.”
“Kamu belum pernah ketemu sama dia, tapi seakan lebih mengenal dia dari pada aku.”
“Karena aku lebih berpengalaman sama yang namanya pria. Sekali lihat, aku bisa langsung menilai mereka. Kamu juga tahu itu, kan?”
“Ya, ya, ya. Aku ngerti. Jadi, aku harus gimana?”
“Serahkan sama ahlinya,” kata Nadhifa sambil menepuk d**a. Senyum lebar menghiasi bibir.
Entah kenapa Arisha merasa salah menilai. Dia tidak meragukan keahlian Nadhifa dalam memahami seorang pria. Hanya saja, dia sedikit takut jika pada kenyataannya Khafi terlalu baik. Siapa dia yang sangat beruntung mendapatkan pria sebaik Khafi. Padahal dia penuh dengan kekurangan. Dia mulai merasa tidak pantas bersanding dengan pria itu.
Memikirkan hal mengerikan itu, Arisha menghela napas. Dia menepis bayanan Khafi yang terus menari-nari di kepala. Pria dengan segudang kelebihan menghampirinya, kenapa dia tidak menyambut dengan gembira? Lagi pula, Khafi yang memberikan saran untuk mencoba memulai hubungan. Kenapa dia terus kebingungan untuk membuat keputusan?
Pandangan Arisha beralih pada sebuah foto yang ada di laci meja kerjanya. Semalam, Hilya yang memberikan padanya. Tidak ada senyum yang menghiasi wajah tampan Khafi. Bahkan ekspresi datarnya tidak mengurangi kadar ketampanannya. Setelan jas hitam sangat cocok di tubuh Khafi. Ditambah dasi dan sepatu mengkilat. Benar-benar sempurna.
Wanita yang tidak menyukai Khafi pasti memiliki penglihatan yang buruk. Terutama yang mengagumi pesona wajah tampan. Atau tergila-gila pada pria mapan yang kaya raya. Khafi kandidat hebat sebagai pasangan. Mungkin Khafi hanya perlu mengubah sikapnya menjadi sedikit ramah dan pengertian.
Untuk membantu pria kaku seperti Khafi, yang dibutuhkan adalah wanita ceria yang tidak akan bosan dengan sikap dinginnya. Sebagai gadis yang selalu berpikir positif dan baik kepada semua orang, Arisha sangat cocok untuk Khafi. Namun, benarkah dia bisa bertahan meski nantinya Khafi bersikap seperti es?
***
“Apa hadiah yang paling baik untuk seorang wanita?”
“Wah! Ada angin apa ini? Khafi berbicara tentang wanita lagi?” Barra bersungut-sungut. Dia memandangi sang sahabat yang menatap lurus layar laptop.
Kemarin, Barra sudah mengetahui rencana Hilya yang ingin mengenalkan seorang wanita. Sebenarnya Hilya meminta pria itu ikut. Dengan karakter Khafi yang dingin, sang nenek takut jika cucunya merusak acara makan malam kedua keluarga. Tentu saja, Barra ingin sekali ikut, tetapi dia sudah punya janji lain.
Andai saja Hilya memilih hari lain, Barra bisa menemani. Hilya sempat khawatir tidak bisa mengendalikan situasi. Beberapa gadis yang dia perkenalkan pada Khafi sebelun ini, selalu mengeluh karena pria itu langsung menolak tanpa basa-basi. Siapa sangka kalau pertemuan Khafi dan Arisha bisa tergolong sukses?
Mendengar bagaimana cara Khafi bertanya, Barra merasa ini berhubungan dengan wanita yang dijodohkan dengannya itu. Kalau tahu sang gadis yang ditemui Khafi sangat luar biasa, dia pasti lebih suka menemani Hilya ketimbang menuruti Zaina. Untuk menebus rasa penasaran, dia akan mengorek informasi sebanyak mungkin hari ini.
“Tidak usah berlebihan,” ujar Khafi. Dia menoleh pada Barra yang tersenyum lebar.
“Apa Arisha itu wanita yang menakjubkan?”
“Kamu tahu nama wanita itu?” Senyum Barra semakin lebar saat menyadari perubahan wajah Khafi. Meski hanya sekian detik, dia sangat yakin dengan penglihatannya.
“Tentu saja. Nenek membicarakan wanita itu sepanjang hari.”
“Sejak kapan kamu tahu mengenai rencana Nenek ini?”
“Coba aku ingat-ingat dulu.” Barra mengelus dagu sambil menengadahkan kepala. “Sepertinya sudah hampir seminggu ini aku mendengar nama Arisha disebut-sebut.”
“Apa yang Nenek katakan tentang Arisha?”
“Sudah aku duga. Kamu tertarik padanya, kan?” Khafi menelan ludah. Dia berdeham, lalu mengalihkan perhatian ke layar laptop lagi.
Apa yang tertulis di layar sama sekali tidak terlihat oleh Khafi. Pikirannya menerawang jauh. Dia mulai melukis wajah ayu Arisha yang tersenyum. Belum apa-apa, dia sudah ingin melihat wanita itu lagi. Apa ini? Kenapa dia bisa memiliki perasaan seperti ini pada orang yang baru ditemui? Pasti otaknya sedang kacau.
Berusaha tidak mengindahkan semua itu, Khafi menghapus paras cantik Arisha dari kepala. Dia tidak boleh terpengaruh seperti ini. Ada banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini. Kedua matanya terpejam. Dalam hati dia terus mengucapkan kalimat yang sama berulang kali. Berharap bisa lebih tenang dan berkonsentrasi.
Barra yang sedari tadi memperhatikan Khafi tertawa tanpa suara. Sudah jelas tertarik, tetapi tidak mau mengakui. Barra tahu betul sikap keras kepala yang dimiliki oleh sahabatnya itu. Semoga saja dia tidak akan bersikap seperti ini pada pasangannya kelak. Dia mulai mengkhawatirkan Arisha yang kemungkinan menjadi sasaran.
Meski terlihat tidak peduli, Khafi orang yang bertekad keras. Ketika sudah menginginkan sesuatu, dia akan mengejarnya sampai dapat. Hanya saja, Barra tidak begitu yakin jika dalam masalah wanita. Namun, Khafi belum pernah tertarik pada gadis mana pun. Bukankah wajar kalau Barra berpikir sang sahabat menyukai Arisha?
“Kalau suka, cepat bertindak, Bos. Jangan sampai menyesal kalau dia sudah pergi.”
Tangan Khafi yang tadinya mulai menekan keyboard, berhenti. Dia menoleh pada Barra, lalu berkata pelan, “Aku sudah melakukannya.”
“Kamu sudah melakukannya?” Khafi mengangguk. “Apa yang kamu lakukan?”
“Mengajaknya berkenalan dan ....”
“Dan?” desak Barra. Khafi menatapnya dengan tajam.
“Kenapa kamu sangat ingin tahu urusan orang lain? Lebih baik selesaikan pekerjaanmu sebelum makan siang hari ini.”
“Aku hanya tidak mau kamu salah melangkah. Untuk masalah wanita, bukankah aku lebih ahli dari pada kamu? Iya, kan?” Barra menaik-turunkan alis.
“Kita sama-sama tidak berpengalaman. Aku bahkan tidak pernah melihat kamu berpacaran. Kamu hanya suka menggoda wanita, tapi tidak mau berkomitmen menikahi salah satu dari mereka. Kenapa aku harus percaya pada pria sepertimu?”
“Perkataanmu sedikit menyakitkan. Aku bukan menggoda mereka. Aku hanya memuji mereka karena mereka suka itu. Lagi pula, aku sedang menunggu seseorang.”
“Benarkah? Jangan-jangan wanita yang kamu cintai sudah menikah, jadi kamu menunggunya menjadi janda,” kata Khafi sinis. Dia memiringkan kepala sambil tersenyum.
“Apa aku terlihat seputus asa itu? Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk meminang gadis yang aku sukai. Aku ini pria yang sangat setia.”
“Benarkah? Kamu tidak jatuh cinta pada gadis ingusan, bukan?”
“Tidak usah mengalihkan pembicaraan. Kita sedang membicarakan Arisha. Jadi, apa kamu benar-benar tertarik padanya?” Barra tersenyum saat melihat Khafi terdiam dan menghindari matanya. Bukankah itu sudah menunjukan kebenarannya?
Khafi sebenarnya belum yakin dengan apa yang dia inginkan. Dia hanya merasa tertarik pada Arisha. Jika ditanya apa yang membuatnya tertarik, dia juga tidak tahu. Apa mungkin karena penampilan Arisha yang sopan. Tidak. Ini bukan pertama kalinya dia melihat wanita berjilbab. Nenek dan Zaina terkadang juga memakai hijab pada momen-momen tertentu.
Lalu, apa yang membuat Khafi sulit berkonsentrasi dan malah memikirkan Arisha? Tidak mungkin dia jatuh cinta pada pandangan pertama, bukan? Dia bukan orang yang percaya pada hal-hal seperti itu. Dia sangat yakin jika setiap kejadian memiliki sebab akibat. Jadi, apa yang sesungguhnya terjadi pada Khafi?
“Apa dia wanita yang kamu sukai itu?”
“Kapan aku bilang kalau aku menyukai seseorang?”
“Jadi, wanita itu benar-benar Arisha? Aku harus segera bertemu dengan Arisha.”
“Untuk apa kamu bertemu dengannya? Jangan melakukan hal yang memalukan.”
“Aku penasaran, gadis seperti apa yang bisa membuat seorang Khafi jatuh hati.”
“Gunakan kata yang tepat untuk berbicara. Siapa yang jatuh hati?”
“Masih tidak mau mengaku? Ayolah, Khaf. Untuk apa berpura-pura di depanku. Jelas sekali kalau kamu tertarik pada Arisha. Kenapa harus bersembunyi?”
“Berhentilah mengatakan omong kosong. Pergilah sebelum aku membuat perhitungan.”
“Kamu mau apa? Memecatku? Memotong gajiku? Coba saja kalau kamu berani,” ucap Barra.
Tidak ada yang bisa Khafi katakan lagi. Jika dia terus mendebat Barra, pembicaraan ini tidak akan pernah berakhir. Meski menjadi yang terpintar di angkatannya, dia tidak bisa menang dari Barra jika menyangkut masalah wanita. Pengalamannya nol besar. Jangankan pacaran, dekat dengan kaum hawa pun tidak pernah.
Bukan karena tidak tertarik. Dia menganggap wanita hanya sumber masalah. Pria itu sudah cukup memperhatikan bagaimana adik bungsunya yang sangat merepotkan. Entah sudah berapa kali dia harus membereskan masalah yang ditimbulkan. Untuk apa menambah satu wanita lagi? Lebih baik jangan memikirkan Arisha lagi.