Chapter 09

889 Kata
"Gosip soal tadi pagi lo dateng ke sekolah bareng kak Al udah kesebar," "Terus?" "Bener tadi pagi lo dateng bareng kak Al?" "Dia numpang, Tik." "Lo berdua beneran deket deh kayaknya," Oliv menghela napas. "Enggak," "Gak salah lagi?" "Beneran enggak ya ampun, gak percaya banget sama temen." "Gue gak marah sih kalo emang lo lagi deket sama kak Al karena gue temen lo gak papa deh gue patah hati lagi, tapi gue gak tau gimana reaksi yang lainnya, apalagi kakak-kakak kelas kita." "Gue gak deket enggak, enggak, enggak." "Itu kan kata lo, tapi gue saranin lo jaga-jaga aja ya siapa tau bentar lagi lo kena labrak." "Lo salah satu diantara orang-orang yang mau labrak gue?" Teman Oliv menggelengkan kepala. "Gue bilang sama lo gue sama sekali gak deket sama idola lo semua," "Iya-iya. Tapi gue masih inget banget sama omongan lo," Oliv mengerenyit, "yang mana?" "Gantengan monyet daripada kak Al." (()) "Gak mau!" "Gue mau ngambil motor gue di bengkel!" "Mesti banget numpang lagi sama gue?!" "Hemat ongkos, minyak tanah." Oliv menjauhkan tangan Al dari stang sepeda nya. "Numpang aja sana sama fans-fans lo tuh yang lagi ngeliatin kita!" Oliv menunjuk para murid perempuan yang sedang memperhatikan mereka seraya berjalan. "Cembokur ya?" "Haa?" Al tersenyum dengan mata yang sedikit menyipit. "Iya-iya tau lo lagi jealous sama fans-fans gue," Plak. Al terdiam sesaat. "Gak sakit udah biasa hehehe," Al tertawa sambil memegangi pipinya karena memang Oliv memukul pipinya dengan cukup pelan. "Gue bilang awas ya awas!" "Gak mau!" Kedua tangan Al memegang erat stang sepeda Oliv tidak mengizinkan Oliv untuk pergi. "Sama temen lo napa sih," "Mana, mana temen gue mana?" Oliv mengedarkan pandangan ke arah parkirkan mencari-cari keberadaan teman-teman Al. "Udah pada cabut temen-temen gue," "Lo bawa sepeda kayak orang kekurangan jatah gak mau ah!" Oliv menarik tangannya yang sedang ditarik-tarik oleh Al memaksa gadis itu untuk turun. "Kagak," "p****t gue kesiksa kampret gak mau!" Al langsung naik ke sepeda Oliv saat ia berhasil menyingkirkan sang pemilik sepeda. "Keliatan amat sih pengen deket-deket sama gue," mata Oliv memicing. "Eh, mulut, muuuulut!" Al menepuk-nepuk bibir Oliv dengan telunjuk. Oliv menyingkirkan tangan Al yang sedang menarik tali tas nya kemudian terpaksa kembali duduk di batang sepeda dan harus siap kembali merasakan sakit akibat kegilaan orang yang ada di belakangnya. "Mata dong cuy," kata Oliv pada beberapa orang murid perempuan yang sedang menatapnya dengan penuh ketidaksukaan saat melewati gerbang. Al menarik kepala Oliv untuk memperhatikan ke arah depan dan langsung mengendarai sepeda Oliv dengan kecepatan kencang. "Pelan, pelan gilak." Mata Oliv terpejam ketika melihat polisi tidur di depan mereka dimana tidak sedikitpun Al menurunkan kecepatan sepeda. Ketika mendekati polisi tidur barulah Al mengerem sepeda melewati polisi tidur tersebut dengan hati-hati membuat kedua mata Oliv terbuka lebar. "Tenang masih punya hati gue," Al kembali mengayuh sepeda dan tak lama berhenti karena lampu merah menyala. Sambil menunggu lampu merah menyala Al dan Oliv tidak membuka percakapan, pandangan Al yang tertuju ke arah jalanan beralih menatap Oliv lebih tepatnya tangan Oliv. Pandangan Oliv berubah gelap karena ada sesuatu yang hinggap di wajah serta kepalanya. "Gak usah ge'er," Oliv mengembalikan jaket yang Al berikan. "Mumpung gue lagi punya hati," "Cuih!" Al melebarkan jaketnya dan menjatuhkannya di atas kepala Oliv. Karena memang cuaca sangat panas hingga menembus ke dalam baju mau tak mau Oliv pun memakai jaket yang Al berikan dan terpaksa menghilangkan rasa gengsinya untuk saat itu saja. "Sok nolak tadi lu," Al menarik ke bawah rambut Oliv. "Jangan dipake elap ingus lo ya, mahal nih jaket gue, Gucci." Oliv semakin menjadi-jadi mengelapkan keringatnya yang bercucuran pada lengan jaket Al. (()) "Abang, main yuk." "Gak!" Al terlihat sibuk dengan ponsel dan juga laptopnya. "Ih kok gitu?" Al diam memilih untuk fokus dengan dua barang elektronik nya. Penasaran dengan apa yang Al lakukan Agatha naik ke atas tempat tidur Al dan berlutut dengan tangan yang bertumpu pada paha abangnya. "Abang, nonton balbie lagi yuk." "Jangan ganggu Abang, Tha." "Kenapa?!" Al menoleh, "kok ngegas?" "Kenapa Abang gak mau? Main gak mau nonton balbie gak mau, mau nya apa?" "Mau jual adek kayak Atha siapa tau harganya mahal lumayan Abang dapet duit banyak!" "Bilang Papi nih," "Bilang aja," Al kembali menyibukkan diri dengan laptop dan sesekali memegang ponselnya, entah apa yang sedang ia kerjakan sekarang sehingga terlihat begitu sibuk dan fokus. "Abang main ayok!" Agatha menggelayut manja di lengan Al. "Sama Mami lah," "Udah tadi ciang, kan kalo malem-malem mainnya cama Abang." Al menghela napas mengabaikan sebentar adiknya kemudian menyerahkan laptopnya dimana layar laptop tersebut menunjukkan gambar fairytopia. "Nonton sendiri jangan ganggu Abang," Agatha tersenyum lebar lalu mengambil bantal Al dan menjatuhkan dadanya di atas bantal tersebut bersama dengan boneka kelinci nya. Setengah jam kemudian. Al merenggangkan otot-ototnya lalu meletakkan ponselnya di nakas dengan senyuman yang tercetak di bibir. Al menoleh ke belakang dimana ternyata Agatha sudah terlelap dengan posisi terlungkup sementara film yang Agatha tonton masih menyala. Setiap Agatha tertidur di kamarnya Al tidak pernah mengembalikan sang adik melainkan membiarkan adiknya tidur bersamanya. Setelah selesai merubah posisi tidur Agatha Al mengambil ponselnya untuk memberitahu ayahnya bahwa Agatha tidur bersamanya. Al lebih suka mengirim pesan dibandingkan harus pergi keluar kamar. BokÆp. Babeh, Atha tidur di kamar daku. 22.30 Baguslah. 22.32 "Ya bagus orang mau malem jum'atan." Ucap Al sambil menaruh ponselnya di nakas lalu menarik selimut untuk adiknya. Al tidur sambil memeluk Agatha tanpa ikut menutupi tubuhnya dengan selimut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN