Chapter 10

1508 Kata
Oliv menoleh ke kanan dan kiri tidak takut untuk menatap balik orang-orang yang sedang memperhatikannya, di dalam hati Oliv mulai bertanya-tanya ada kejadian apalagi sehingga pagi ini dirinya kembali menjadi pusat perhatian. "Kenapa lagi sih?" Tanya Oliv pada Tika seraya menaruh tas nya dengan geram. "Kak Al follow i********: lo ya?" Wajah Oliv terlihat bingung. "Enggak," Oliv menggelengkan kepala. "Kapan terakhir kali lo buka i********:?" "Kemaren sore," "Coba sekarang buka," Oliv mengeluarkan ponselnya dari tas untuk mengecek apakah yang dikatakan Tika benar atau tidak, pasalnya ia sama sekali tidak tahu. Tika ikut merapat untuk menjadi saksi. "Tuh kan," kata Tika dengan pelan sambil menatap Oliv yang terdiam seraya memandangi layar ponsel. "Diem-diem lo ngerih ya, Liv." "Ya diem-diem lah namanya lagi deket sama pentolan sekolah," "Apa gue harus jadi anak baru dulu ya biar bisa deket sama kak Al?" "Diem lo semua!" Seru Oliv sambil membanting ponselnya kemudian keluar dari kelas. Oliv pergi menuju toilet dan setibanya di toilet ada beberapa orang murid perempuan yang sedang menggosip, ketika melihat Oliv masuk mereka langsung terdiam dengan tatapan tidak lepas dari wajah ataupun tubuh Oliv. Blam! Oliv menutup cukup kuat pintu toilet saat beberapa murid perempuan tersebut keluar seraya berbisik-bisik. "Apa sih yang lo semua liat dari dia! Dimana sih letak menariknya dia! Dimana! Dimana! Dimana!" Oliv marah-marah pada pantulan dirinya di cermin. Dengan hati yang panas Oliv menarik beberapa lembar tisu dengan tidak berperasaan lalu keluar dari toilet. Baru keluar dari toilet Oliv malah bertemu dengan Al yang juga ingin masuk ke toilet khusus laki-laki tentunya,, jarak toilet perempuan dan laki-laki tidaklah berjauhan. Melihat Oliv Al tidak jadi masuk ke dalam toilet melainkan mendekati gadis itu. "Kenapa sih, kenapa, kenapa, kenapa!" Oliv memegang kerah seragam Al menggoyangkan tubuh laki-laki itu membuatnya terombang-ambing kesana-kemari. (()) "Gue gak papa, lo duluan." Oliv mendorong pelan punggung Tika untuk pergi dari tempatnya berdiri. Kini tinggallah Oliv sendiri yang tengah berhadapan dengan tiga orang kakak kelasnya. "Gosip pertama soal lo sama Al gue masih diem, gosip yang kedua gue mulai cari-cari lo, dan gosip yang ketiga gue berhasil nemuin lo. Yang mau gue tanya, pake pelet apa ya mbak nya?" Oliv berdecih seraya tertawa. "Malu dong sama otak yang katanya pinter, malu sama muka yang katanya cantik. Bisa-bisanya lo nanya soal pelet? Pelet ayam ikan banyak tuh di pasar," Orang yang ada di depan Oliv adalah Nichole. Mendengar ucapan Oliv barusan Nichole terlihat geram. Dengan cepat tangan Oliv mencekal pergelangan tangan Nichole dimana Nichole hendak meraih rambutnya. "Jangan sentuh gue!" Oliv melepaskan tangan Nichole dengan sentakan. Nichole tersenyum sinis. "Pegang dia," ujar Nichole pada kedua temannya. "Gue bilang jangan sentuh gue lepas!" Nichole tertawa melihat Oliv meronta-ronta di dalam cekalan kedua temannya. "Aaaaww!" Pekik Nichole karena tiba-tiba saja tulang keringnya ditendang kuat oleh Oliv. "Lo!" Tangan Nichole terangkat ke udara dengan telapak tangan yang terbuka lebar. Sedikit lagi tangan Nichole mendarat di pipi Oliv tiba-tiba saja tangannya tertahan dan dicekal oleh seseorang. "Lepasin dia," Dua teman Nichole langsung melepaskan Oliv dan mulai menjaga jarak mereka. "Otak sama muka lo cuma sekedar cover buat nutupin hati busuk lo," Nichole meringis ketika tangannya kembali disentak untuk yang kedua kalinya. (()) "Makasih," "Kenapa gak langsung maen tonjok?" Oliv menggeleng, "sayang tenaga gue." Rian tertawa. "Untung gue yang tau, coba kalo si Al." Oliv mengerenyit. "Mungkin bisa sampe maen tangan dia," Oliv tersenyum kecil, "makasih ya gue masuk dulu." Rian mengangguk. Oliv masuk ke dalam kelas dimana pintu kelasnya tertutup menandakan jika ada guru yang sedang mengajar di dalam kelasnya. Setelah Oliv masuk Rian pergi melangkahkan kaki menuju kelas. (()) "Gue mau pulang monyet," "Gue izinin tapi kita tanding basket dulu dong, denger-denger katanya lo jago basket." Oliv menatap malas Al yang sedang memutarkan bola basket di ujung telunjuknya. "Gue besok ada tanding basket, terakhir." "Gak ada hubungannya sama gue," "Sekarang gue mau latihan dulu, lo jadi lawan gue." "Tapi gue mau pu..." Al melemparkan bola basket pada Oliv dan untung saja langsung ditangkap dengan sigap oleh Oliv. "Sepuluh shot doang," "Kenapa sih lo suka banget maksa?" Tanya Oliv pada Al yang sedang melepaskan tas nya. "Hebat juga lu gak bawa apa-apa ke sekolah," Al mengangkat-angkat tas Oliv dengan mudah karena memang tas tersebut terasa sangat ringan. "Buku-buku gue di loker, manusia." Al mencampakkan tas Oliv di atas tas nya kemudian melangkah ke tengah lapangan. "Kenapa di rooftop sekolah sih? Kenapa di rooftop bisa ada ring basket, pasti lo colong kan?" Oliv mengacungkan telunjuknya. "Iya, udah cepetan. Ladies first," Oliv memperhatikan tempat dimana mereka akan bermain basket, ya rooftop sekolah. Pembatas rooftop yang hanya sebatas pinggang orang dewasa disambung menggunakan jaring untuk mengantisipasi agar bola tidak melambung keluar, sepertinya Al beserta antek-anteknya sudah memodifikas rooftop dengan sedemikian rupa layaknya sekolah mereka bersama. Oliv mulai memantulkan bola lalu menggiring bola ke arah ring basket yang dijaga oleh Al. Ring basket miliknya berada di depan gedung-gedung bertingkat sementara ring basket milik Al menempel di dinding rooftop. Ketiia Oliv berhasil mengelak dari Al, Al terdiam cukup terpukau dengan kegesitan gadis itu. "Satu kosong," Oliv berjalan melewati Al dengan senyum yang tersungging di sudut bibir. Permainan pun kembali berlanjut dengan diwarnai kecurangan dari Al. Oliv tidak bisa bergerak dengan bebas karena angin yang cukup kencang didukung faktor cuaca yang mendung, ketika ia berlari rok nya kadang tersingkap membuat Oliv tidak bisa fokus. "Kena nih kena," Oliv berhenti merebut bola yang sedang dipantulkan oleh Al lalu menatap ke bawah. Plak! Oliv memukul keras tangan Al yang sedikit lagi menyentuh bagian dadanya. Al tertawa keras kemudian langsung melemparkan bola ke arah ring dan masuk dengan sempurna. "Loser," Oliv membuang muka mengambil bola yang ada di dekat kakinya. Ketika ingin menggiring bola tiba-tiba saja hujan turun dengan deras, Oliv langsung menyingkir berteduh di bawah atap pintu rooftop yang tidak seberapa itu. "Lah kok gak bisa di buka," kata Al sambil membuka menaik-turunkan kenop pintu. "Lo sih ngajak main di sini," dumel Oliv sambil memeluk bola basket. "Suka-suka gue lah," Al masih berusaha membuka pintu agar mereka dapat keluar dengan segera. Oliv kian merapatkan tubuhnya ke pintu saat sepatunya mulai basah terkena cipratan air hujan. Oliv menatap Al ketika Al ikut menyadarkan tubuhnya di pintu, sepertinya mereka benar-benar tidak bisa keluar. Oliv menjatuhkan bola basket yang ia peluk untuk mengusap-usap tangannya yang terkena air hujan akibat tiupan angin. Mata Oliv tertuju pada jaket yang disodorkan padanya. "Jaket gue belom lo balikin ya yang kemaren," "Besok," "Ya udah ambil," Al menempelkan jaketnya ke lengan Oliv. Dengan perasaan yang sedikit gengsi Oliv mengambil jaket tersebut untuk menutupi tubuh bagian depannya. "Ini karena gue kasihan ya sama lo, jangan baper." Al mendekatkan kursi kayu berukuran panjang mengambil terlebih dahulu tas mereka kemudian memperhatikan Oliv yang hanya diam. "Gak mau duduk? Biar gue tendang ke sana," Al menunjuk genangan air yang ada di depan mereka. Perlahan Oliv duduk seraya melirik Al yang masih berdiri. Melihat Al yang hanya berdiri ingin rasanya Oliv menyuruh laki-laki itu untuk ikut duduk karena sisa kursi masih banyak, namun sayang mulut Oliv terasa begitu berat untuk menyuruh Al duduk. Tapi tak lama Oliv duduk Al ikut duduk, mereka duduk berjauhan dalam keheningan. Hanya suara air hujan sajalah yang terdengar serta sesekali suara gemuruh. Oliv memejamkan mata menggenggam erat jaket Al karena hawa dingin terasa begitu menusuk kulit dan hidungnya, Oliv adalah orang yang paling lemah ketika harus berhadapan dengan hawa dan cuaca dingin yang timbul dikala hujan turun. Al menyandarkan tubuh dan kepalanya di pintu menggeser tubuhnya agar sedikit berada di tengah tempat duduk. Al bersenandung untuk menghilangkan rasa sunyi diantara mereka. Melihat Oliv menggigil pandangan Al sepenuhnya tertuju pada Oliv, sembari bersenandung Al menyentuh lengan Oliv dengan telunjuk. Oliv menoleh. "Kedinginan?" "Gak," Al tertawa kecil. "Khusus hari ini gue nawarin jasa peluk memeluk, gratis." Oliv diam sambil membenarkan posisi jaket Al yang mulai turun. "Mau gak?" Oliv menggeleng. "Cius?" "Iyaaa," suara Oliv terdengar sedikit bergetar membuat Al terkekeh. "Kedinginan banget kayaknya, kok gue biasa aja ya?" Oliv masih sempat-sempatnya mengacungkan jari tengah dikala tubuhnya yang menggigil dan disambut tawa oleh Al. "Gak mau," Oliv menjauhkan Al dengan siku nya saat tangan Al terulur untuk merengkuh tubuhnya. "Mumpung gue lagi baik, lagi punya hati, belom pernah gue peluk cewek selain nyokap sama adek gue." "Banyak bacot," Al menarik Oliv ke dalam pelukannya merengkuh tubuh Oliv dengan satu tangan. Oliv sedikit melakukan perlawanan namun karena pelukan Al kian mengerat Oliv diam. Belum ada semenit berada di pelukan Al Oliv mulai merasakan sedikit kenyamanan, jika tadi hanya pipi kini kepala Oliv ikut bersandar di bahu Al sementara Al sedang menahan senyum melihat pergerakan pelan namun pasti dari Oliv. "Masih dingin gak?" "Masih!" padahal rasa dingin yang menyerang Oliv mulai menghilang secara perlahan. Al menunduk menatap Oliv yang sedang memperhatikan ke arah genangan air dan juga rintikan hujan. Mata Oliv membulat karena tangan kanan Al yang bebas melingkarkan di leher bagian depannya membuat dagu Oliv bertumpu pada tangan Al sementara telapak tangan laki-laki itu sudah hinggap di kepalanya. Untuk tangan kiri Al masih setia hinggap di punggung Oliv. "Lumayan bisa modus dikit," Oliv ingin memukul Al namun karena pelukan Al terasa begitu erat ia tidak bisa melakukan apapun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN