"Liv,"
Yang di panggil hanya diam tidak menoleh sedikitpun.
"Lu ngambek?"
Oliv menjauhkan tangannya yang hendak dipegang oleh Al.
"Ya maaf gue emosi banget tadi,"
"Harus banget pake bentak-bentak?" Tanya Oliv menatap sekilas Al.
"Kan udah gue bilang gue lagi nyetir,"
"Kan udah gue bilang gue mau turun!"
Tok! Tok! Tok!
Al berdecak kemudian menoleh ke jendela mobil dan membukanya.
"Mas, pacarnya lagi ngambek ya? Dikasih ini aja mas pasti gak ngambek lagi,"
"Tai lu, sana-sana." Al mengibaskan tangan mengusir pria bertopi yang menjual bunga mati jenis mawar merah.
"Yeeee, naek mobil tapi gak mampu beli bunga."
Kaca mobil yang sudah ditutup hingga setengah kembali Al turunkan.
"Heh! Gak guna gue beli bunga mati kayak gitu jangan bilang gue gak mampu beli!" Al menyembulkan kepalanya dari jendela mobil untuk membalas ucapan pria penjual bunga mati tadi.
Setelah tidak ada sahutan lagi Al menutup kaca mobilnya lalu menatap Oliv.
"Udah ayo keluar panas di sini,"
Tanpa mengucapkan apapun Oliv mengambil tas nya yang ada di jok belakang untuk segera keluar dari mobil.
"Ngapain di bawa tinggal aja udah,"
Oliv keluar dari mobil tanpa membawa tas nya, begitupun dengan Al.
(())
"Udah napa sih ngambek nya,"
Oliv menatap sejenak Al kemudian membuang muka.
"Gak enak diliatin orang, ekspresi lu bagusan dikit."
Oliv langsung tersenyum lebar namun hanya sebentar sebelum ia kembali memalingkan wajahnya membuat Al ikut tersenyum.
"Gue gak tau lo pernah ke sini apa enggak yang jelas awas aja kalo lo sampe kesenengan beberapa saat kemudian,"
"Mau lo apa sih?"
Al menoleh, "apa?"
"Entahlah," Oliv pergi dan langsung diikuti oleh Al.
Oliv duduk di kursi panjang yang ada di dekat ruang karaoke tidak memperdulikan Al yang sedang berjalan kesana-kemari mencoba berbagai permainan yang ada.
Oliv menoleh ketika ada yang menyodorkan sesuatu kepadanya.
"Gue gak suka boneka,"
"Lu cewek emang harus nya dikasih beginian,"
"Tapi gue gak suka,"
Al menarik Oliv membawa gadis itu ikut bermain bersamanya.
"Yang kalah harus siap nurutin permintaan yang menang, gimana?"
"Gue lagi gak mood apa-apa jangan ajak gue main,"
"Kita main atau gue panggil lo pecundang?"
Oliv mendorong tubuh Al kemudian mengambil bola basket yang dipegang Al.
"Ya udah ayo,"
Al tersenyum puas.
Keduanya berlomba-lomba memasukkan bola basket ke dalam ring untuk mendapatkan skor tertinggi juga untuk membuktikan siapa yang lebih pantas disebut pecundang.
"Loser," Oliv menyunggingkan senyum di sudut bibir.
"Lagi," kata Al mengajak Oliv untuk kembali bermain.
"Gak! Gue udah jadi pemenang,"
"Sekali lagi, yang tadi cuma pemanasan."
Oliv menarik kerah seragam Al, "gue udah menang!"
Al menjauhkan tangan Oliv dari kerah seragamnya.
"Oke-oke, sekarang lo mau apa?"
"Ambilin itu buat gue dan harus dapet," Oliv menunjuk mesin capit yang berisikan makanan sejenis cokelat.
"Yaelah itu doang gampang," Al langsung menghampiri mesin tersebut lalu menggesekkan kartu nya agar mesin capit itu dapat bergerak.
Untuk yang pertama kali, gagal.
Untuk yang kedua kali juga gagal.
Al memberikan boneka yang masih ia pegang pada Oliv kembali mencoba untuk yang ketiga kalinya.
Oliv tertawa tertahan melihat wajah akan frustasi Al karena laki-laki itu telah gagal untuk yang kesekian kalinya.
"Susah amat sih!"
"Tadi siapa yang bilang ini gampang?"
Al menghiraukan ucapan Oliv.
"Udah awas biar gue, dasar lemah." Oliv menarik Al untuk menyingkir.
Oliv berlutut di mesin capit itu sedangkan Al berbungkuk sambil memegang boneka beruang berukuran kecil yang sengaja ia ambil untuk Oliv.
"Ke kanan dikit bego,"
"Diem!"
"Gak bakal dap..."
"Congratulations you did!"
Al terdiam sementara Oliv tertawa senang karena sekali coba ia langsung berhasil.
"Apa, mau ngomong apa lo tadi?" Oliv menunjukkan makanan cokelat yang berhasil ia ambil.
"Halah cuma beruntung gak usah bangga," Al menarik Oliv.
"Pokoknya lo harus foto sama orang ganteng," kata Al saat mereka berada di dalam photo booth.
"Bilang aja emang lo yang pengen foto sama gue,"
"Najis,"
"Najis-najis padahal emang iya." Kata Oliv seraya duduk.
(())
Al duduk di depan komputer bukan untuk bermain game melainkan melihat-lihat hasil foto mereka sore tadi.
Ada dua lembar foto masing-masing berisi empat gambar, Oliv juga memegang hasil gambar mereka dan Al tidak tahu bagaimana reaksi gadis itu saat ini juga.
Di dalam foto tidak ada terlihat raut wajah permusuhan diantara mereka malah yang terlihat adalah raut wajah senang dibarengi dengan tawa.
"Bisa centil juga lu," Al tertawa saat melihat bagian foto dimana Oliv melakukan duck face.
Al menaruh foto tersebut di keyboard komputer lalu beranjak berdiri untuk pergi ke kamar mandi.
Saat Al pergi ke kamar mandi Agatha masuk mencari-cari keberadaan abangnya. Bukan Al yang Agatha temukan tapi dua lembar foto dan langsung anak itu ambil.
"Ih Abang foto sama pacal nya ya," Agatha tertawa melihat abangnya foto bersama perempuan yang menurutnya perempuan itu adalah pacar abangnya.
Agatha berlari keluar kamar sambil membawa foto Al dan Oliv.
Tepat saat Agatha keluar dari kamar Al keluar dari kamar mandi dan kebingungan ketika tidak menemukan hasil fotonya bersama Oliv di keyboard komputer. Mata Al tertuju pada pintu kamarnya yang terbuka karena sebelumnya pintu tersebut tertutup dengan rapat.
Al langsung keluar dari kamar.
"Atha!" Seru Al melihat Agatha masuk ke dalam lift.
Al ikut berlari menghampiri adiknya yang sedang tertawa geli.
"Cepet! Cepet! Cepet!" Kata Agatha sembari memencet tombol lift agar segera tertutup karena jarak Al sudah semakin dekat.
"Bye Abang!" Agatha melambaikan tangan lalu pintu lift tertutup dengan sempurna ketika sedikit lagi Al dapat menahan pintu tersebut.
"Papi!" Agatha memanggil Rafa.
"Abang foto sama cewek!"
"Ya masa sama cowok,"
Agatha menaruh dua lembar foto tersebut di mini bar lalu duduk di sebelah ayahnya.
"Cantik pacal Abang,"
Aya yang kebetulan ada di dapur ikut memperhatikan apa yang Rafa pegang.
"Lho ini kan yang pernah nolongin Al kan? Siapa namanya aku lupa,"
"Olivia,"
"Nah iya itu," Aya menatap Agatha. "Atha lupa sama kakak ini? Kakak ini kan pernah main bareng Atha di rumah,"
Atha terlihat kebingungan.
"Atha!" Al masuk ke dapur.
Agatha langsung memeluk lengan Rafa melindungi dirinya sendiri dari abangnya.
"Papi bisa liat ada aroma-aroma kebencian kala itu," Rafa mengusap-usap dagu nya dengan telunjuk dan jempol.
"Udah si ah," Al mengambil fotonya dari tangan Rafa.
"Ntal kalo Atha udah gede Atha mau cantik kayak pacal Abang,"
Mendengar ucapan polos Agatha Al mendelik, bisa-bisanya anak itu menganggap dirinya dan Oliv berpacaran.
"Atha pasti cantik karena Mami cantik,"
Agatha tersenyum malu saat Rafa mencolek dagu nya.
"Telus kalo udah gede Atha mau foto kayak gitu sama pacal Atha,"
"Eh, Atha masih kecil kok udah tau soal pacar?" Tanya Aya.
"Tau dwong!"
"Sama Papi aja gimana?"
"Papi mau?"
Rafa mengangguk.
"Nanti kita lebih romantis dari Abang sama pacarnya, tenang aja."
Agatha tersenyum lebar memeluk erat lengan Rafa.
Ingin rasanya Al menyangkal ucapan ayah dan adiknya mengenai status Oliv sebagai pacar namun Al belum siap mendengar ledekan sang ayah karena sudah bermesraan dalam hubungan tanpa status.