Saat Oliv bergeser ke kiri Al juga melakukan hal yang sama, Oliv masih terjebak di parkirkan karena Al menghadangnya.
"Awas gak?!"
"Jawab dulu soal tawaran gue tadi malem,"
Oliv mendorong Al untuk segera menyingkir dari hadapannya namun gagal.
"Udah di bilang jawab dulu baru gue kasih jalan,"
Oliv menatap sinis Al.
"Mau gak?"
Oliv menghela napas dengan kedua mata yang terpejam sejenak.
"Iya!"
"Iya apa?"
"Iya gue mau, puas?"
Al menutup mulutnya dengan telunjuk karena ia sedang tersenyum.
"Makasih," ucap Al dengan nada rendah.
Oliv langsung pergi dari parkirkan seraya berlari kecil menuju ke gedung sekolah.
"Pengen deh ngerasain gimana rasanya makan ludah sendiri,"
Al hafal benar siapa pemilik suara tersebut.
"Gi..."
Al pergi meninggalkan teman-temannya di saat Dewa belum sempat berbicara.
(())
"Udah gak bisa dipasang lagi beli yang baru aja sana," Al memberikan boneka Barbie yang ia pegang pada Agatha.
"Kok gak bisa sih? Ini belbi kesayangan Atha," kata Agatha berusaha memasukkan tangan Barbie yang copot ke lubangnya.
"Beli yang baru Tha jangan kayak orang susah," sahut Al sembari memainkan ponselnya.
"Ini beli nya jauh waktu Papi ke Amelika," Agatha menyodorkan bonekanya tepat di dekat mata Al.
"Ck, awas!" Al menyingkirkan tangan Agatha karena ia sedang bermain game.
"Hiks, hiks!"
Al langsung menoleh mendapati Agatha sedang menangis.
"Lah-lah, kenapa sih?"
"Atha benci Abang!" Agatha menepis tangan Al yang hendak menyentuh tubuhnya.
"Jangan benci ntar jadi cinta loh,"
"Bodo!" Agatha duduk membelakangi Al dengan dagu yang jatuh di atas punggung tangannya.
Al menyimpan ponselnya di kantong jaket lalu beranjak berdiri.
"Yok beli jajan," Al mengulurkan tangan.
Cara ampuh untuk membujuk Agatha yang sedang marah adalah mengajak anak itu keluar membeli makanan walaupun di rumah sudah banyak makanan yang memang disediakan oleh Rafa.
Agatha membuang muka, anak itu sudah tidak lagi menangis.
"Ayok,"
"Gak!"
"Ayok, Tha."
"Enggak!"
"Abang bilang ayok ya ayok,"
"Atha gak mau!"
Al menggendong paksa Agatha tanpa diiringi suara tangis ataupun rontaan dari sang adik.
"Mobil, motor?"
"Motol," balas Agatha sambil mengelap air mata nya.
"Yeeeu, tadi diajak sok-sokan gak mau."
"Udahlah Atha mau tulun!" Kata Agatha ingin turun dari gendongan Al.
"Teros baper dibilang kayak gitu,"
Agatha memukul punggung Al.
Al mendudukkan Agatha di atas motor lalu ia pergi ke dalam rumah untuk mengambil helm. Tak lama Al sudah kembali ke garasi sambil membawa dua helm, satu helm nya dan satu lagi helm milik Agatha dengan motif bunga-bunga.
Tepat saat Al memakaikan helm untuk sang adik kedua orang tua mereka baru saja tiba di rumah.
"Abang sama Atha mau ke mana?" Tanya Aya sudah keluar dari mobil.
"Minggat,"
"Enggak!" Seru Agatha melirik sinis Al.
Rafa yang baru saja keluar dari mobil langsung memperhatikan anak perempuannya.
"Ini pasti abis nangis nih,"
"Ya makanya diajak keluar, babeh." Al naik ke atas motor dengan Agatha duduk di depannya.
"Pelan-pelan bang," kata Rafa ketika Al mulai bergerak menjalankan motornya.
Saat melewati pintu garasi Al tancap gas sejenak membuat Aya refleks berseru membuat Agatha tertawa geli.
(())
"Mau beli berapa?"
"Yang banyak,"
"Ya banyaknya itu berapa?"
"Ih yang banyak lho!"
Al mengguncang tubuh mungil adiknya karena telanjur geram sekaligus gemas.
"Satu berapa nih bang?"
"Kalo pake sosis dua rebu,"
"Dua puluh ribu berarti sepuluh kan?"
Penjual tersebut mengangguk.
"Ya udah gue beli dua puluh ribu tapi dipisah jadi dua,"
"Oke,"
Al menepikan motor nya sebelum mendengar suara klakson motor atau mobil yang dapat membuat telinga nya sakit.
Ketika sudah menepikan motor nya Al menunduk karena jaket nya ditarik-tarik.
"Kulang kalo Atha makan cuma lima,"
"Tau dari mana kalo Atha cuma makan lima?"
"Tau dong kan Atha pintel,"
Mulut Al yang sudah terbuka untuk membalas ucapan adiknya tertutup ketika melihat Oliv datang dengan memakai sepeda nya.
"Oh, orang kaya bisa merakyat juga." Oliv memarkirkan sepeda nya di depan motor Al.
"Adek gue yang makan gue enggak,"
"Abang bohong, Abang suka telul gulung nya."
Al menyentuh punggung Agatha dengan telunjuk.
Oliv mengangguk, "anak kecil gak mungkin bohong."
"Makasih bang," kata Al sambil memberikan uang pas kepada penjual sosis telur gulung.
"Atha mau makan sekalang,"
"Di rumah aja di sini gak ada minum,"
"Beli di situ kan bisa," Agatha menunjuk mini market yang ada di seberang pasar.
Al turun dari motor agar lebih mudah menyuapi adiknya karena kalau Agatha makan sendirian masih suka belepotan.
"Lu ke sini ngintilin gue kan?"
"Najis! Gue juga beli itu keles,"
"Halah,"
Al meniup-niup ujung sosis telur gulung sebelum memasukkannya ke dalam mulut Agatha.
"Atha mau pake saos," kata Agatha sambil mengunyah.
"Gak usah ntar kepedesan,"
"Enggak lho!" Agatha memukul helm nya yang bertengger di atas tangki motor Al.
Al pun pergi mendekati sang penjual untuk meminta saus sebelum adiknya marah dan ngomel-ngomel. Akhir-akhir ini Agatha lebih banyak marah karena hal sepele sekalipun.
Agatha menatap Oliv yang juga sedang menatapnya.
"Kakak pac..." Mulut Agatha dibekap secara tiba-tiba oleh Al.
"Eh adek lo tadi mau ngomong,"
"Anak kecil kalo ngomong suka ngawur,"
"Tapi kan gue pengen tau adek lo mau ngomong apa,"
"Gak penting." Al melepaskan bekapan nya dan langsung menyumpal mulut Agatha dengan makanan.
(())
Untuk yang kedua kalinya Al kembali menatap jam tangannya dengan tubuh yang bersandar pada badan mobil.
Menunggu adalah hal yang paling membosankan untuk semua orang, termasuk untuk Al. Namun kali ini Al malah gugup bukannya merasa bosan karena sudah menunggu Oliv terlalu lama.
Al tersenyum kecil saat melihat Oliv berlari keluar dari gedung sekolah dengan wajah yang sumringah.
"Udah lama nunggunya?"
Al menggeleng sembari memperhatikan raut wajah Oliv yang benar-benar terlihat berbeda dari biasanya.
"Cabut sekarang?"
"Emm... Gimana ya,"
Al mengerenyit.
"Sori ya,"
"Lah, buat?"
"Kayaknya gue gak bisa dinner bareng lo ntar malem,"
Mulut Al terkunci rapat.
"Lain kali gimana?"
"Kenapa?"
Oliv memalingkan wajahnya.
"Kenapa?" Tanya Al dan Oliv bisa mendengar cukup jelas nada kecewa yang keluar dari mulut Al.
"Ya gue gak bisa aja,"
"Kan gue nanya kenapa, alesan lo gak bisa kenapa?"
"Gue... Gue juga ntar malem mau dinner."
Al menggenggam erat kunci mobilnya.
Oliv menatap Al, "gue mau dinner."
"Sama siapa?"
Oliv tersenyum, "Rian."