Chapter 16

1038 Kata
"Rian?" Oliv mengangguk. "Temen gue?" "Iya," Al memalingkan wajah seraya mengangguk. Oliv maju selangkah mendekati Al, "bisa anter gue gak?" "Kemana?" "Ya walaupun gaya sama kelakuan gue agak kayak cowok tapi gue masih punya sisi keperempuanan. Gue mau cari baju buat ntar malem, bisa anter gue?" "Berani bayar berapa?" "Lo orang kaya ngapain gue bayar pake uang," "Gak ada yang gratisan lagi sekarang," Oliv tertawa kecil. "Bayarannya," Oliv mengambil tangan Al dan menjabatnya. "Kita temenan," Al tersenyum pahit lalu melepaskan tangannya. "Mau anterin gue gak?" "Sepeda lo kan ada," Oliv menoleh ke belakang untuk menatap sepeda nya yang masih berada di parkirkan. "Jadi gak mau anterin gue nih?" "Cuma nganterin?" "Enggak sih, ya gue pengen sekalian minta pendapat lo." "Lo yang mau dinner kenapa gue yang ikutan ribet?" "Intinya gak mau nganter?" "Masuk," Al berjalan memutari mobilnya dan masuk terlebih dahulu. Tak lama Al masuk Oliv juga ikut masuk duduk tepat di sebelah Al. (()) "Lho, kok kita malah ke butik?" "Butik nyokap gue," balas Al sambil melepas sabuk pengaman. Oliv keluar dari mobil seraya memperhatikan butik yang ada di depannya. Kedua kaki Oliv mulai melangkah masuk berjalan di belakang Al. "Mami ada mbak?" Al bertanya pada seorang pegawai di butik ibunya. "Ada, barusan dateng." Al mengangguk dan kembali berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan. Tepat saat Al ingin membuka pintu Aya sudah terlebih dahulu keluar. "Tumben Abang ke sini, Atha di..." Aya berhenti berbicara ketika melihat Oliv berdiri di belakang Al. "Oliv," Oliv sedikit menggeser tubuhnya agar dapat dilihat oleh Aya. "Akhirnya kita ketemu lagi," Oliv tertawa kecil kemudian mengangguk. Al membawa Aya menjauh dari Oliv untuk mengatakan sesuatu. "Apa Abang mau ngomong apa?" Tanya Aya saat dirinya di bawa menjauh dari Oliv. "Si Oliv di make over biar agak bagusan dikit," Aya langsung tersenyum, "oh Mami tau." Aya menganggukkan kepala. "Menurut Mami aja dia pas nya pake baju yang gimana," "Pasti mau malem mingguan ya?" Al diam. "Iya kan? Beneran udah pacaran?" Tanya Aya lagi sambil tertawa. Al menggeleng membuat tawa Aya terhenti. "Abang mau nembak Oliv ceritanya ntar malem?" "Gak ada tembak-tembakan, pokoknya Mami apa pegawai Mami ubah si Oliv biar enak di liat." "Emang mau ngapain Mami belum ngerti ini," Al menghela napas. "Oliv mau dinner," "Sama Abang?" "Sama, Rian." "Hah? Rian temen Abang?" "Rian peng... Iya si Rian itu," Aya diam sambil memandangi Al yang sedang memalingkan wajah lalu mengusap bahu anaknya dan pergi mendekati Oliv. Oliv duduk di depan cermin sesuai perintah Aya, saat melihat Al lewat Oliv langsung menoleh. "Lo mau kemana?" Oliv bangkit mengejar Al yang sudah sampai pintu keluar. "Pulang lah," "Kok pulang?" Al berbalik, "kenapa? Lo cuma minta anter kan?" "Lo keberatan kalo harus nganter gue ke tempat dinner?" Al tertawa keras. "Lo dinner nya sama Rian kan? Kenapa gak minta jemput dia sih?" "Gue masih gak enak," "Gue anter lo ke butik abis itu anter lagi ke tempat lo sama Rian dinner, jangan bilang lo juga minta jemput ntar?" Al menunjuk Oliv sambil tertawa. "Ya siapa tau ntar pulangnya gue dianter Rian gak minta jemput lo kok," "Al!" Seru Oliv karena Al berbalik pergi ke arah mobil. Al mengangguk menandakan bahwa ia mau mengantar Oliv nanti malam membuat Oliv tersenyum lega. (()) "Abang mau kemana?" "Minggat," "Gak mungkin," Agatha menahan pintu mobil Al memperhatikan Al yang sedang menghidupkan mesin mobil. "Atha ikut Abang ya," "Di rumah aja ah," "Atha sendilian di lumah, Mami Papi belum pulang." "Mbak Nana kan ada ya udah sama Mbak Nana aja," "Atha ikut!" Agatha naik dengan memegang erat tangan Al dan malah duduk di pangkuan Al. "Lu duduk di sini nyusahin tau gak," Agatha tertawa sembari menyadarkan punggungnya di d**a Al. Tawa Agatha kian geli saat sabuk pengaman ikut dipakaikan ke tubuhnya, jadilah satu sabuk pengaman dipakai untuk dua orang. "Kita mau kemana?" Tanya Agatha ketika mobil sudah keluar dari pekarangan rumah. "Udah dibilang minggat," Agatha berdecak, "selalu jawabnya kayak gitu kalo di tanya." Al memukul pelan kaki Agatha karena dengan entengnya bertengger di setir mobil. "Tha, awas napa sih." Agatha menggeleng. "Susah gerak ini kaki Abang," "Gak mau!" Agatha menggeleng memegang erat sabuk pengaman dengan kedua tangan. (()) Al keluar dari mobil sambil menggendong Agatha karena anak itu tidak memakai sendal. Saat sudah berada di teras butik Al menurunkan adiknya. Agatha langsung berlari masuk untuk mencari keberadaan ibunya. Al juga ikut masuk seraya mencari Oliv. "Temen saya tadi mana?" Tanya Al pada salah satu pegawai ibunya yang tengah bersiap-siap untuk pulang. "Itu di belakang mas," Al langsung menoleh ke belakangnya. "Gimana?" Oliv tersenyum dengan kedua tangan bergerak dari atas sampai bawah. Al terdiam sambil memandangi Oliv dari atas sampai bawah. "Woi," Oliv menjentikkan jari membuat Al yang sedang melamun langsung tersadar. "Gimana?" Ulang Oliv. Al mengangguk seraya menggaruk ujung hidungnya. "Lumayan lah, agak rapihan dikit." "Cuma agak rapihan dikit?" Al mengangguk. "Yakin?" "Cepetan," Al keluar terlebih dahulu meninggalkan Oliv yang sedang bersusah payah untuk berjalan karena memakai high heels. (()) Oliv menoleh menatap Al yang hanya diam sejak mobil sudah berhenti di depan sebuah restoran beberapa detik yang lalu. "Thanks," Al mengangguk tanpa menoleh ke arah Oliv. Oliv memakai tas nya kemudian keluar dari mobil Al. Setelah Oliv keluar barulah Al menoleh menatap punggung Oliv dari jendela mobil yang tertutup dengan rapat. Saat Oliv tidak lagi terlihat Al menatap ke arah depan dan belum menjalankan mobilnya terdiam beberapa saat. "Kenapa sakit sih anjing!" Al memukul setir mobil seraya membasahi bibir bawahnya yang terasa kering dengan lidah. Sebelum menghidupkan mesin mobilnya Al menoleh ke arah restoran dan mengerenyit ketika melihat Oliv keluar. Al ikut keluar dari mobil menghampiri Oliv. "Lo kenapa?" Oliv mendorong Al dengan berlinang air mata. "Liv," Al mengejar Oliv. "Lo tau kan?!" Al berhenti berlari saat Oliv berbalik sambil menunjuk dirinya. "Tau, tau apa?" "Lo tau, lo pasti tau!" Oliv kembali mendorong Al dengan sekuat tenaga. "Tau apa? Gue aja gak ngerti maksud lo apa," "Lo tau kan gue cuma jadi barang taruhan dua temen lo itu!" Al terdiam. Plak!! "b******k!" Setelah menampar dan mendorong Al Oliv langsung berlari pergi tanpa alas kaki. Al masih terdiam di tempat, pipinya yang merah dan terasa panas diabaikan oleh Al sembari memperhatikan Oliv yang kian berlari menjauh darinya. Al menoleh ke arah restoran dan dengan langkah lebar Al berjalan menuju restoran tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN