bc

Gairah Zona Terlarang Mafia

book_age18+
6
IKUTI
1K
BACA
revenge
dark
forced
arranged marriage
arrogant
mafia
gangster
heir/heiress
bxg
bold
city
office/work place
childhood crush
enimies to lovers
love at the first sight
civilian
like
intro-logo
Uraian

Di balik kehidupan Alea yang terlihat menakutkan, ia terseret ke zona terlarang yang penuh hasrat dan kekuasaan.

“Berani menginjakkan kakimu di wilayahku artinya kamu milikku, you are mine Alea Arexi.” ucap Bara dengan nada dinginnya sambil tersenyum miring.

“Dalam mimpimu, bodoh!” jawab Alea sambil mengacungkan jari tengahnya ke arah Bara.

Penolakan itu bukan membuat Bara mundur justru membuatnya semakin mendekat. Bukan dengan paksaan, tapi dengan cara yang berbahaya dan penuh obsesi.

Di dunia ini tempat kepercayaan bisa berujung pengkhianatan dan cinta bisa menjadi kelemahan yang mematikan.

Alea harus memilih, tetap bertahan dengan hatinya atau tenggelam dalam permainan yang tak pernah ia mulai. Karena di Zona Terlarang Mafia, tak semua yang masuk bisa keluar dengan mudah.

chap-preview
Pratinjau gratis
Tekanan Dan Ciuman Terlarang
“Ulangi.” suara dingin itu menggema di ruangan markas bawah tanah itu. Alea Arexi berdiri di tengah ruang latihan bawah tanah, keringat mengalir di pelipis, napasnya belum sepenuhnya stabil. Di hadapannya, Fernandes Arexi berdiri dengan tangan bersedekap, jas hitam rapi, wajah dingin tanpa sedikit pun empati. Mata pria itu menatap Alea seolah yang berdiri di sana bukan anak perempuannya melainkan alat yang belum sempurna. Alea mengangkat pistol kembali. Jemarinya sedikit gemetar, tapi ia paksa stabil. Ia mengarahkan moncong senjata ke target baja di ujung ruangan, menarik napas, lalu. DOR! Peluru tepat mengenai pusat sasaran. Namun Fernandes tidak bertepuk tangan. Tidak tersenyum. Bahkan tidak mengangguk. “Kau terlambat setengah detik,” katanya datar. “Di dunia ini, setengah detik sama dengan mati Alea!” Alea menurunkan senjata. Rahangnya mengeras. “Aku bukan laki-laki,” ucapnya akhirnya, suara tertahan. “Refleksku masih,” PLAK! Tamparan keras mendarat di pipi Alea. Kepalanya terlempar ke samping, rasa perih menjalar cepat, tapi ia tidak menangis. Ia tak sudi mengeluarkan air matanya yang sudah kering sejak lama itu. “Di dunia gelap,” Fernandes mendesis, mendekat hingga wajah mereka hampir sejajar, “tidak ada laki-laki atau perempuan. Yang ada hanya yang hidup dan yang mati.” Alea menelan ludah. Tangannya mengepal. Inilah hidupnya. Inilah takdir yang dipilihkan untuknya. Ia bukan dibesarkan. Ia di bentuk bahkan seperti mesin pembunuh oleh Papanya sendiri. “Kenapa aku?” tanyanya pelan, suara nyaris tak terdengar. “Kenapa harus aku yang Papa dorong sejauh ini?” Untuk sesaat hanya sesaat mata Fernandes berkedip. Namun ekspresi itu lenyap secepat datangnya. “Ibumu mati karena lemah,” jawabnya dingin. Nama itu kembali mengoyak d**a Alea. Anaya Arexi. Wanita yang mengajarinya tertawa, yang selalu memeluknya saat hujan turun, yang pernah berkata bahwa Alea boleh memilih hidupnya sendiri. Semua itu berakhir di malam berdarah. Peluru. Jeritan. Tubuh dingin ibunya di lantai marmer. “Musuh kita tidak akan memberi ampun,” lanjut Fernandes. “Aku tidak akan kehilanganmu dengan cara yang sama.” Alea tertawa kecil pahit. “Papa tidak melindungiku,” katanya lirih. “Papa mengubahku jadi monster.” Fernandes menatapnya tajam. “Monster bertahan hidup. Listen to me, Papamu ini gak bisa 24 jam bisa jaga kamu. Inilah takdirmu jadi terimalah Alea Arexi!” Malam itu, Alea menjalankan transaksi pertamanya tanpa pengawasan langsung Fernandes. Gudang tua di distrik timur menjadi titik pertemuan. Lokasi yang seharusnya aman menurut data. Alea mengenakan jaket hitam, rambut panjangnya diikat rendah, wajahnya tenang tanpa riasan. Ia terlihat terlalu muda untuk berada di sana, namun aura di matanya meniadakan keraguan. Ia datang bukan sebagai anak kecil yang butuh di manja. Ia datang sebagai perwakilan keluarga Arexi. Koper besi berpindah tangan. Angka disebutkan. Barang diperiksa. Namun sebelum kesepakatan selesai, udara berubah. Lampu di ujung gudang mati satu per satu. Langkah kaki terdengar. Berat. Berkuasa. “Berhenti!” satu kata. Namun cukup untuk membuat semua orang membeku. Alea menoleh perlahan. Seorang pria muncul dari balik bayangan. Tinggi, bahu lebar, jas hitam tanpa cela. Wajahnya tegas, rahang kuat, mata gelap yang memancarkan d******i mutlak. Setiap langkahnya seperti klaim kepemilikan atas ruang itu. “Siapa yang berani melakukan transaksi di wilayahku,” ucapnya tenang, “tanpa izinku?” Nama itu terlintas di benak Alea bahkan sebelum seseorang menyebutkannya. Bara Al Xavius. Ketua mafia yang wilayahnya tidak pernah dilanggar dua kali oleh orang yang sama karena pelanggar pertama biasanya tidak hidup cukup lama untuk mencoba lagi. Semua anak buah Alea menunduk. Beberapa mundur setapak. Namun Alea tetap berdiri di tempat. “Aku,” jawabnya datar. Alis Bara sedikit terangkat. Ia jelas tidak menyangka suara itu datang dari seorang gadis muda dengan wajah cantik dan sorot mata keras. “Kau?” ulangnya, mendekat. “Kau tahu di mana kau berdiri?” “Wilayahmu,” jawab Alea tanpa ragu. “Dan transaksi ini sudah berjalan.” Keheningan membuat merek semua menegang seketika. Bara berhenti tepat di hadapannya. Jarak mereka terlalu dekat. Alea bisa mencium aroma maskulin yang berbahaya, bisa merasakan tekanan kehadirannya. Ia menatap wajah Alea dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sesuatu di dadanya bergerak. Bukan amarah bukan ancaman melainkan sebuah ketertarikan. “Kau anak Fernandes Arexi,” katanya pelan. Alea tidak membantah. “Menarik,” gumam Bara. “Aku mengira ia akan menyembunyikan hartanya yang paling berharga.” Alea menyipitkan mata. “Aku bukan harta.” “Semua yang langka,” Bara menatapnya lurus, “adalah harta.” Detik berikutnya terjadi terlalu cepat. Tangan Bara terangkat, mencengkeram dagu Alea, memaksanya mendongak. Mata mereka terkunci api bertemu es. Dan tanpa peringatan, bibir Bara menyentuh bibir Alea. Bukan ciuman lembut bukan ciuman penuh gairah. Itu klaim provokasi. Hanya satu detik namun cukup untuk membuat darah Alea mendidih. Ia mendorong Bara sekuat tenaga. “b******k gila!” Dan refleks yang dilatih Fernandes selama bertahun-tahun bekerja sempurna. Tendangan keras Alea menghantam tepat sasaran. BUGH! “Aarghh!” Bara mengerang tertahan, tubuhnya sedikit terhuyung. Gudang langsung ricuh. Senjata terangkat. Teriakan tertahan. Namun Bara mengangkat tangan, menghentikan semua. Ia berdiri tegak kembali, napas berat, lalu tertawa rendah. Tawa yang membuat bulu kuduk semua orang merinding. “Kau menendangku,” katanya, mata berkilat. “Tak ada yang berani melakukan itu dan masih berdiri tegak sepertimu seperti ini.” Alea menatapnya penuh kebencian. “Sentuh aku lagi, dan kau tidak akan tertawa, selamanya!” Alih-alih marah, Bara justru melangkah mundur selangkah menatap Alea seolah ia baru saja menemukan sesuatu yang sangat berharga. “Aku suka perempuan yang tidak takut padaku,” katanya pelan. “Terutama yang berani melawanku.” Alea mengambil koper transaksi. “Ini wilayahmu. Aku pergi. Tapi jangan pernah mengira kau bisa menguasai segalanya.” Bara tersenyum. Senyum berbahaya. “Aku tidak mengira,” katanya. “Kau milikku Alea.” Saat Alea melangkah pergi, Bara tidak menghentikannya. Ia hanya berdiri di sana, menatap punggung gadis itu hingga menghilang dari pandangan. Di dadanya, jantungnya berdetak lebih keras dari biasanya. Alea Arexi. Gadis kecil dengan keberanian gila. Dengan amarah yang indah. Dengan tatapan yang menantang maut. Untuk pertama kalinya, Bara Al Xavius menginginkan sesuatu bukan karena kekuasaan melainkan karena obsesi. Dan Bara tidak akan pernah gagal untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Mantan Sugar Baby

read
8.2K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
42.6K
bc

Revenge

read
36.5K
bc

I Love You Dad

read
282.4K
bc

Dendam Dan Cinta Sang Putri Sah

read
1.3K
bc

The CEO's Little Wife

read
683.6K
bc

Cinta Kantor Terlarang: Bos Galak yang Jatuh Hati

read
1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook