Perasaan Mulai Goyah

942 Kata
“Alea, come here.” Suara itu menggema di ruang utama Mansion Arexi, tentu Alea mau tak mau langsung bergegas mendekat ke arah Papanya. Namun Alea tahu ketenangan itu selalu menjadi pertanda terburuk. Langkahnya terhenti di tengah lorong. Tubuhnya masih terasa remuk setelah malam yang panjang. Luka di rusuknya berdenyut setiap kali ia menarik napas. Tangannya bergetar samar, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang belum padam. Ia menoleh perlahan. “What?” jawabnya singkat, dingin, nyaris menantang namun itu cukup membuat Fernandes tersenyum miring. Fernandes Arexi bergerak cepat. Jauh lebih cepat dari yang bisa diprediksi Alea. Dalam satu langkah panjang, tangannya sudah mencengkeram leher putrinya. “AARGHHH!!” Alea terangkat dari lantai. Punggungnya menghantam pilar marmer dengan keras. Udara terperangkap di tenggorokannya. Jemari Fernandes menekan tanpa ragu, tanpa sisa keraguan seorang ayah. “Kamu mau buat Papamu membencimu, hm?” tanya Fernandes pelan, suaranya begitu dekat, napasnya menghantam wajah Alea. “Kamu pikir kabur, melawan, menatapku seperti itu akan membuatmu bebas?” Alea mencakar pergelangan tangan itu. Sia-sia. Tenaganya tidak sebanding. Pandangannya mulai berkunang-kunang, namun api di matanya belum padam. “Jangan konyol, Alea,” lanjut Fernandes. “Di dunia ini, yang lemah akan mati.” Kata-kata itu menghantam lebih keras dari cekikan di lehernya. Alea tertawa tercekik. Suara itu kasar, pecah, penuh luka. Dengan sisa napas yang ia miliki, ia berteriak sekeras yang ia bisa. “ALEA BENCI SAMA PAPA! BUNUH ALEA PAH! BIAR ALEA KETEMU SAMA MAMA!” Ruangan itu seketika membeku. Cengkeraman di lehernya mengendur. Untuk sepersekian detik hanya sepersekian Fernandes mundur satu langkah. Tatapannya berubah. Bukan marah. Bukan dingin. Tapi sesuatu yang jauh lebih berbahaya ia goyah. Nama itu. Anaya. Nama yang tidak pernah diucapkan. Nama yang terkubur bersama darah, pengkhianatan, dan peperangan lama. Alea terjatuh ke lantai, terbatuk hebat, paru-parunya terbakar saat udara kembali masuk. Rambutnya menutupi wajahnya. Bahunya naik turun tak beraturan. Fernandes menatapnya lama. Lalu ia mendekat lagi. Namun kali ini tidak untuk memukul ataupun mencekik. Ia berlutut dan menarik Alea ke dalam pelukannya. Erat. Terlalu erat. Seolah jika ia melepasnya, putrinya itu akan menghilang seperti istrinya dulu. “I love you, baby girl,” bisiknya di kening Alea, bibirnya menempel lama, penuh klaim. “Papa sayang sama kamu.” Tubuh Alea membeku. Tangannya menggantung di udara, tidak membalas, tidak mendorong. Hatinya kosong. “Tapi ini yang harus kamu tahu,” lanjut Fernandes, suaranya kembali tegas. “Ini takdirmu. Kamu adalah putri dari ketua mafia. Dunia ini tidak akan memberimu pilihan lain.” Alea menutup mata. Takdir. Kata itu selalu digunakan untuk membenarkan kekejaman. Fernandes melepaskannya perlahan dan berdiri. “Istirahatlah. Luka-lukamu bukan alasan untuk berhenti.” Ia berbalik, meninggalkan Alea tergeletak di lantai marmer yang dingin. Malam itu, Alea tidak tidur. Ia duduk di tepi ranjang, menatap pantulan dirinya di cermin besar. Lehernya membiru. Bibirnya pecah. Matanya kosong. Tidak ada tangis. Tidak ada ketakutan. Hanya kelelahan yang dalam dan kebencian yang mulai mengendap, matang, dan berbahaya. Ia teringat wajah Mamanya. Senyum lembut Anaya Arexi. Pelukan yang hangat. Suara yang selalu berkata, Alea, kamu tidak harus sekuat ini. Air mata akhirnya jatuh. Diam. Tanpa suara. “Mah,” bisiknya. “Alea capek.” Pagi datang tanpa membawa harapan. Fernandes sudah menunggunya di ruang makan. Seperti biasa. Jas rapi, di tangannya ada kopi hitam dan wajah tanpa cela sedikitpun. “Kamu akan memimpin pengiriman senjata ke pelabuhan timur hari ini,” katanya tanpa menoleh. “Sendirian.” Alea duduk perlahan. “Itu wilayah musuh Pah. Papa mau Alea mati ya?” “Justru itu.” Fernandes menatapnya. “Buktikan kamu pantas menyandang nama Arexi.” Alea mengepalkan tangan di bawah meja. “Kalau aku mati?” tanyanya datar. Fernandes tersenyum tipis. “Berarti kamu memang tidak cukup kuat.” Tidak ada lagi yang bisa dikatakan. Pelabuhan timur berbau karat dan pengkhianatan. Kabut tipis menyelimuti kontainer-kontainer raksasa. Alea berdiri di tengah, bersenjata, wajahnya dingin, pikirannya tajam. Serangan datang cepat. Peluru berdesing. Teriakan. Darah. Alea bergerak seperti mesin. Menembak. Menghindar. Menjatuhkan satu per satu musuhnya. Tidak ada ragu. Tidak ada belas kasihan. Namun di tengah kekacauan itu, satu suara menembus kebisingan. “Kamu selalu memilih cara paling menyakitkan untuk bertahan hidup.” Alea menoleh. Bara Al Xavius berdiri di atas kontainer, santai, seolah ini hanya tontonan baginya. “Apa maumu?” teriak Alea. Bara melompat turun. “Kamu makin mirip dia.” “Aku tidak minta penilaianmu.” Bara mendekat, matanya mengamati luka-luka baru di tubuh Alea. “Fernandes mematahkanmu sedikit demi sedikit. Dan kamu membiarkannya.” Alea mengangkat pistol. “Pergi.” Bara tidak bergerak. “Kalau kamu tetap di sana, kamu akan mati. Bukan hari ini. Tapi suatu hari.” “Dan kamu peduli?” sinis Alea. Bara tersenyum kecil. “Aku selalu peduli.” Alea menurunkan pistol. Bukan karena percaya. Tapi karena lelah. “Aku tidak punya tempat lain,” katanya pelan. Bara menatapnya lama. “Kamu punya. Kamu hanya belum berani mengambilnya.” Sebelum Alea bisa menjawab, sirene terdengar. Pasukan Arexi datang. Bara mundur. “Pikirkan kata-kataku, baby girl.” Ia menghilang di antara kabut. Malam kembali menyelimuti Mansion Arexi. Alea berdiri di balkon, menatap kota yang berkilau seperti lautan dosa. Fernandes muncul di belakangnya. “Kamu selamat,” katanya. “Aku selalu selamat,” jawab Alea. Fernandes menatap profil wajah putrinya. “Kamu belajar cepat.” Alea menoleh. Untuk pertama kalinya, tatapannya sejajar. Tidak menunduk. Tidak gemetar. “Papa mengajarkanku satu hal,” katanya pelan. “Bahwa cinta bisa berbentuk kekerasan.” Fernandes terdiam. “Alea akan mengingat itu,” lanjutnya. “Sampai akhir.” Ia berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Fernandes berdiri sendiri. Di dalam hatinya, Alea tahu perang sesungguhnya belum dimulai. Dan kali ini, ia tidak lagi berniat menjadi korban.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN