Indria menjalani hari-hari seperti biasanya. Dua minggu sudah kejadian 'memuakkan' itu terjadi. Perasaannya pun tidak kacau lagi. Walau tak jarang pada malam hari, pria berengsek tersebut memasuki alam mimpinya. Dan ketika terbangun, kucuran keringat membasahi wajah Indria.
Dia harus memastikan dirinya tetap tenang, jauh dari pikiran buruk dan negatif agar kesehatan bayi dalam kandungannya tidak terganggu. Mungkin kurang dari dua bulan, Indria akan resmi menyandang status sebagai seorang ibu. Bayinya segera lahir ke dunia. Indria ingin mengajarkan pada anaknya kelak bahwa hidup di dunia ini tidaklah mudah. Berbagai cobaan dan rintangan selalu menunggu untuk dia hadapi.
Dulu bagi Indria, kehamilannya merupakan sebuah cobaan yang begitu berat, nyaris saja ia ingin menggugurkan anak hasil perbuatan pria berengsek itu padanya. Tetapi, sungguh hati nurani Indria menolak jika harus membunuh darah dagingnya sendiri. Kemudian, rintangan menderanya yang tatkala itu berniat mempertahankan kandungannya. Dia belum siap menerima cacian atau cap negatif yakni 'hamil pranikah' oleh lingkungan sekitar. Terutama dari keluarganya.
Adakah orangtua yang bangga saat anaknya hamil sebelum menikah apalagi bersama seorang pria berengsek macam Aditya?
Tidak akan ada!
Betapa miris nasib dirinya bukan?
Entah dosa apa yang pernah dirinya lakukan kepada orang lain, hingga dia harus memperoleh hukuman yang kiranya tak memiliki batas waktu tahanan seperti ini. "Selamat pagi, Sayang. Anak Ibu baik-baik saja 'kan di sini?" Indria mengelus perut buncitnya dengan lembut.
Ia tengah duduk sendirian di halaman belakang setelah membantu Bik Nana mengerjakan pekerjaan rumah di hari liburnya. "Udara pagi ini terasa sejuk, Sayang. Coba rasakanlah," ucap Indria halus. Dia menarik nafas dan menghembuskan secara perlahan.
"Bagaimana rasanya, Sayang? Menyegarkan bukan?" Dia tersenyum bahagia. "Ibu sangat menyayangimu, Nak. Tolong lahirlah ke dunia dengan selamat." Harap Indria. Dia menyayangi anak ini dengan tulus.
Anak ini hanya anaknya!
Pria berengsek itu tidak akan pernah memiliki satu hak pun untuk menjadi orangtua bagi anak ini!
Sampai kapanpun!
Tuhan, mungkin doaku ini terkesan menuntut. Tapi aku sungguh meminta agar Kau mau mendengarnya.
Tolong jauhkan pria berengsek itu nantinya dari anakku, Tuhan. Jangan biarkan dia menyentuh atau bahkan menyakiti anak ini. Cukup hanya aku yang bisa ia sakiti sejauh ini. Jangan ada lagi korban lainnya, terutama anakku, Tuhan.
Ya, doa-doa tersebut Indria panjatkan setiap saat. Selalu diakhiri dengan air mata yang tumpah.
Kejamkah doanya?
Jika memang iya, lalu doa apa yang mesti dia panjatkan kepada Tuhan?
Doa agar pria berengsek bernama Aditya itu berubah menjadi sosok baik? Mustahil!
Atau berdoa supaya Aditya mau menerima anak dalam kandungannya dengan tangan terbuka? Tidak!
Indria tidak akan pernah memberitahu pria berengsek itu tentang anak ini. Lebih baik dia menutup mulut, daripada harus jujur mengenai kehamilannya pada Aditya!
"Sayang, maafkan Ibu jika nanti kamu tidak akan pernah bisa mengetahui siapa ayah kandungmu yang sebenarnya," lirih Indria menahan sakit di dadanya. "Yang kamu tahu, Raka adalah ayahmu. Selamanya akan seperti itu, Nak," tambah Indria. Dia menunduk, air mata mulai mengalir dari kedua matanya.
Ya Tuhan apakah dia ibu yang jahat?
Pantaskah dia menjadi panutan untuk anaknya kelak?
Bagaimana nanti anak ini membencinya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tergiang dipikiran Indria dan belum menemukan jawaban atas pertanyan-pertanyaan yang dia khawatirkan dalam hati.
......................
Aditya bangun dari tidurnya karena dering telepon yang terus berbunyi. Dengan kasar dan kesal, dia mengangkat panggilan yang berasal dari salah satu wanita yang dia ingin ajak kencan.
"Ckckck mau apa lagi ini perempuan hubungin gue?" geram Aditya.
"...................."
"Udah jangan isi basa-basi segala. Ada perlu apa menghubungi gue?" tanya Aditya to the point pada wanita yang meneleponnya.
"................."
"Bertemu? Gue nggak bisa. Gue sibuk," tolaknya ketika wanita itu mengajaknya untuk bertemu.
"............."
"Ada yang ingin kamu katakan? Ckck katakan saja sekarang, apa susahnya?" Aditya berseru kesal.
"................."
"Gue harus bertanggung jawab untuk apa?" tanyanya dengan nada santai. Dia tahu ke arah mana pembicaraan ini akan berujung.
"............."
"Yakin itu anak gue? Kalau begitu kita bertemu di kafe Rasa, jam empat sore," putusnya kemudian. Dia lantas mematikan sambungan telepon. Aditya menghempaskan dirinya duduk di atas sofa, memijat keningnya yang terasa kaku.
"Ckckck, entah sudah berapa wanita yang mengaku mengandung anak gue," risih Aditya sendiri.
Ya, inilah salah satu risiko yang mesti dia tanggung akibat aktivitasnya mengencani wanita-wanita yang berbeda. Tetapi, hampir tiga mingguan ini dia tidak pernah melakukan aktivitas buruknya itu, ah bahkan bisa dihitung beberapa bulan belakangan ini. Mungkin Aditya bosan.
Dan, sekarang tiba-tiba saja seorang wanita menelepon dan mengaku tengah mengandung anaknya. Yang benar saja!
Ya, Aditya bertemu dengan wanita tersebut di sebuah bar di luar kota. Seingatnya, dia tidak berkencan dengan wanita itu. Mereka hanya menginap bersama di kamar hotel. Aditya tak menyentuh dia sama sekali!
Aditya lantas meraih handphone-nya kembali, lalu menghubungi seseorang yang sangat dipercayainya yaitu Bobby.
"Ngapain lo nelepon gue pagi-pagi gini?" Pria itu bertanya dengan nada malas.
"Gue butuh bantuan lo Bob," jawab Aditya langsung ke inti pembicaraan.
"Bantuan apa?" tanya Bobby curiga.
"Pagi ini seorang perempuan menelepon gue, dia bilang kalau dia ngandung anak gue," beri tahu Aditya. Sang sahabat terdengar menghela napas kasar.
"Terus apa hubungannya sama gue? Lo harus tanggung jawablah, Dit." Bobby menanggapi dengan serius.
"Gue mesti tanggung jawab? Gila lo! Nyentuh dia aja gue enggak!" Aditya berucap tegas dan yakin.
"Yakin lo belum pernah nyentuh dia?! Sorry gue kagak percaya." Bobby meragukan ucapan sang sahabat padanya.
"Gue enggak pernah nyentuh dia, demi apa pun! Gue pasti ingat wanita-wanita yang pernah gue sentuh," kata Aditya tanpa berdosa dan blak-blakan.
"Ckckck. Berarti lo juga ingat dong pernah nyentuh Indria dengan paksa?" sindir Bobby. Aditya mendadak naik pitam saat nama itu disebut.
"Ngapain lo pakai ngungkit dia segala?!" Aditya meninggikan nada suaranya.
"Sensitif banget lo sama dia. Lo yang salah, tapi lo yang membenci Indria. Otak lo benar-benar udah kebalik, Dit!" seru Bobby dengan sengaja tanpa segan-segan.
"Lo lagi nyoba nguji emosi gue hah?!" teriak Aditya diselimuti emosi.
"Lo aja yang bikin diri lo emosi! Bukan gue!" Bobby tak mau kalah.
"Gue pengin minta bantuan lo, tapi lo malah buat gue berkeinginan untuk mukul lo!" Aditya mulai frontal.
"Lo mau mukul gue? Ayo silakan! Gue kagak takut! Punya sahabat berengsek kayak lo, selalu ngebuat gue gerah pengin nonjok lo juga!" Bobby menantang Aditya. Sesekali sahabatnya ini harus diberikan pelajaran yang serius agar dia bisa berubah. Atau paling tidak rasa kesalnya terbalaskan melalui pukulan-pukulan itu.
"Diam lo!!" seru Aditya semakin emosi.
"Gimana gue bisa diam melihat kelakuan berengsek sahabat gue sendiri! Sadarlah lo, Dit!" maki Bobby lepas kendali.
"Terserah! Gue kagak peduli omongan lo!" Aditya begitu keras kepala. Ditutupnya sambungan telepon dengan kasar.
Kepala Aditya seakan ingin pecah. Emosi terlalu kuat menguasainya jika sudah berkaitan dengan perempuan bernama 'Indria'.
Ada apa dengan dirinya?
Kenapa ia merasa sangat marah ketika Bobby menyinggung Indria?
Seperti ada bilahan pisau tajam menusuk hatinya, menimbulkan sakit yang tertahankan. Dan sebagai pelampiasan, Aditya mengedepankan emosinya untuk memusnahkan rasa sakit tersebut.
**********
Sesuai kesepakatan, Aditya menemui wanita yang meneleponnya tadi di sebuah kafe. Dia memilih tempat di ruang terbuka lantai dua kafe. Dia menghisap rokoknya untuk mengalihkan kebosanan menunggu wanita tersebut yang tak kunjung datang juga.
"Maaf, aku telat Aditya," ucap perempuan bernama Juli itu dengan nada centil. Dia duduk di samping Aditya.
"Tak apa," balas pria itu dingin dan sinis. Lihatlah! Juli memandanganya dengan senyum menggoda. Membosankan!
"Sudah lama rasanya kita tidak berjumpa, Aditya. Aku merindukanmu." Juli tetap berusaha menggoda. Tapi, Aditya menghiraukannya.
"Apa benar kamu hamil?" tanyanya tanpa memberi Juli kesempatan untuk menebar godaannya lagi.
"Iya. Aku hamil anak kita," jawab wanita itu dengan mata berbinar. Namun, Aditya sangat tahu persis perempuan ini tengah berakting.
"Kamu yakin?" Aditya memperlihatkan wajah dengan smirk-nya yang mengerikan.
"Iy...iya Aditya. Anak dalam kandunganku ini adalah anakmu." Ekspresi Juli berubah menjadi ketakutan.
"Baiklah kalau begitu. Bagaimana jika kita pergi ke dokter kandungan untuk memeriksakan kehamilanmu hari ini?" tawar Aditya. Smirk-nya kian menyeramkan.
"Un...untuk apa? Aku sudah pergi ke dokter beberapa hari yang lalu." Juli membelalakan matanya. Kegugupan kini melandanya.
"Tak ada salahnya jika kandunganmu diperiksa untuk kedua kalinya 'kan?" usul Aditya. Oke, sebentar lagi kebohongan ini akan terbongkar.
"Aku tidak mau!" tolak Juli keras.
"Ckckck kamu ternyata berbohong!" simpul Aditya marah.
"Aku tidak berbohong padamu, Aditya!" Juli menampik tuduhan Aditya. Tapi, memang kenyataannya, dia tengah berbohong dan pura-pura hamil.
"Baiklah jika kamu sedang tidak berbohong. Mari kita pergi ke dokter kandungan! Kalau kamu terbukti tidak hamil, gue akan menuntutmu di pengadilan atas kasus pencemaran nama baik!" ancam Aditya akhirnya.
Juli semakin ketakutan, tanpa menunggu waktu lama. Dia segera beranjak pergi. Ancaman Aditya mampu melunturkan kebohongan yang sengaja diq buat untuk memikat pria itu.
Tangan Aditya kembali mengepal akibat kebohongan dari wanita yang mengaku-mengaku tengah mengandung anaknya. Apakah dia nampak begitu gampang untuk dipermainkan? Ckckck!
Tak sengaja, mata Aditya menangkap sosok seseorang yang tengah masuk ke area kafe. Sosok wanita yang mengenakan dress berwarna biru dengan panjang di bawah lutut. Bukan Juli yang dia maksud.
Wajah perempuan itu mengukir senyum, entah untuk siapa. Aditya pun tak tahu. Dari lantai dua ini, dia dapat dengan jelas melihat sosok tersebut tengah mencari tempat kosong yang tersisa di halaman depan kafe. Gerak wanita itu tetap lincah walau perutnya semakin membuncit. Ya, wanita itu adalah Indria.
Sore ini, Indria memiliki janji bertemu dengan sepupu laki-lakinya di kafe ini yakni Sapta. Istilahnya 'temu kangen' antar sepupu. Senyum kebahagiaan makin mengembang tatkala Sapta menampakkan dirinya tepat di depannya.
Segera saja, Indria memeluk Sapta. Dia sungguh rindu dengan sepupunya yang satu ini. Indria dan Sapta tumbuh bersama. Mereka begitu dekat satu sama lain karena dulu saat SD, SMP bahkan SMA mereka mengenyam pendidikan di sekolah yang sama.
"Sepupu gue yang paling menyebalkan!!" Sapta mengacak rambut Indria tanpa ampun sambil tertawa terbahak-bahak. Untung saja pengunjung kafe sedikit.
"Ampun, Sapta!!" seru Indria menghalau tangan sepupunya tersebut. Karena kasihan, Sapta lalu menghentikan aksi jailnya.
Mereka duduk berdua di tempat yang telah Indria pesan. Sapta masih berusaha mengontrol ketawanya. Sedangkan Indria merapikan rambutnya yang acak-acakan. "Apa kabar? Lama gue enggak lihat lo, jarang ke Yogya sih." tanya Sapta.
"Kabarku baik. Kamu sendiri gimana Sapta? Aku juga kangen." Indria memasang wajah sedih mengingat keadaan rumah yang ia rindukan.
"Gue sehat kok. Oh ya, calon ponakan gue juga baik -baik aja 'kan?" Sapta kembali bertanya.
"Iya. Dia baik-baik aja. Bentar lagi bakal lahir," beri tahu Indria dengan riang.
"Hallo keponakan paman, cepat lahir ya, Nak. Pamanmu yang ganteng ini sudah tidak sabar ingin mengajakmu bermain, Nak." Sapta mengelus perut Indria seolah tengah mengajak keponakannya berbicara.
"Makanya kamu harus cepat menikah," ejek wanita itu.
"Tenang aja. Gue bakal segera nyusul lo kok," balas Sapta percaya diri.
"Hahaha. Akan aku tunggu surat undangan darimu, Sapta." Indria menanggapi ucapan Sapta dengan senang.
"Lo sih nikahnya cepat. Lupa lo punya janji sama gue ya? Katanya kita akan nikah barengan dengan pasangan kita masing-masing. Ah, lo ingkar janji," sewot sang sepupu.
"Haha, maaf deh." Indria menyengir.
"Hah, lo emang sepupu gue yang paling menyebalkan," rungut Sapta. Dia hanya bercanda, tidak berniat serius.
"Eh, suami lo mana?" tanya Sapta kemudian. Tumben Raka tidak ikut, pikirnya. "Dia lagi ada kerjaan di luar kota," jawab Indria. Pria itu mengangguk.
"Jadi, lo sendirian di sini? Dalam keadaan hamil tua gini?" kecerewetan Sapta mulai kumat.
"Ada saudara dia yang menjagaku kok. Di rumah juga ada Bik Nana," jawab Indria agar sepupunya berhenti bertanya.
"Huh, gue pikir lo sendirian di sini." Sapta berkata. Indria hanya menggeleng.
Sejak tadi, Indria merasa ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya. Tapi, sampai detik ini pun dia masih mencari pemilik mata tersebut.
Deg!
Tubuh Indria bergetar, ketika pemilik mata tersebut memandangnya semakin tajam dan menusuk. Tak hanya itu, smirk pun tidak luput ditampak oleh orang tersebut. "Lo kenapa Indria? Tubuh lo kenapa berkeringat?" Sapta tak paham akan situasi yang mendera Indria secara mendadak.
"Sapta, tolong antarkan aku pulangn Tubuhku tiba-tiba saja terasa tak enak," pinta Indria. Ia harus segera pergi dari tempat ini. Sekarang juga!
"Iya, aku akan mengantarkanmu pulang. Tapi, lebih baik kita ke dokter dulu Indria," sarannya.
"Aku hanya perlu istirahat, Sapta." Indria menolak untuk diajak pergi ke rumah sakit. Sapta mengangguk, dia membantu Indria berdiri dan merangkul sepupunya yang sedang hamil tersebut sampai ke mobil.
.............
Aditya yang melihat adegan 'mesra' itu dari awal, berpikir negatif. Tak tanggung-tanggung dia bahkan mengikuti Sapta dan Indria. Rasa penasaran Aditya mengalahkan harga dirinya untuk kali ini. Dia membuntuti mobil Sapta dari belakang. Dan pada akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yakni kediaman Raka.
"Ckck, bahkan kamu berani mengajak pria lain masuk ke dalam rumah saat suamimu tidak berada si rumah, Indria?! Wanita macam apakah kamu sebenarnya?!" Aditya mengumpat.
........
Terima kasih.