07

1500 Kata
Dengan terpaksa Sapta meninggalkan Indria seorang diri, dia harus kembali bekerja. Sebenarnya Sapta tidak tega membiarkan sepupunya itu hanya sendirian di rumah dengan keadaan hamil tua pula. "Udah sana balik ke kantor. Kamu enggak boleh bolos Sapta. Apalagi, kantor pusat sudah baik memberi kesempatan magang di sini." Indria meyakinkan sepupunya untuk tetap pergi. "Gue nggak tega lihat lo sendirian di sini, Indria. Memang asisten rumah tangga lo kemana? Ini rumah sepi banget." "Kalau udah sore gini, biasanya Bik Nana udah pulang. Beliau tidak menginap di sini," beri tahu Indria. Mereka berdua mengobrol di ruang tamu. "Lo sendirian setiap malam? Lo itu sedang hamil dan sebentar lagi akan melahirkan, Indria! Minimal harus ada yang jaga lo." Sapta tak habis pikir kenapa Indria begitu santai tinggal sendirian di malam hari. "Terus saudara Raka yang diminta untuk ngejagain lo kemana? Tega dia ngebiarin lo sendiri malam-malam di sini, heran gue." Sapta tampak mulai kesal. Dia tidak ingin hal buruk terjadi pada sepupu dan keponakannya. Berbeda dengan Indria, tubuhnya menegang ketika memori mengingatkan dia tentang Aditya si pria berengsek. "Di...dia juga punya kesibukan lainlah. Masa iya dia harus menjagaku seharian? Aku bukan balita," balas Indria sedikit gugup. Sapta melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya, dia harus segera pergi sepertinya. "Indria, kayaknya gue harus benar-benar pergi. Maafin gue ya nggak bisa menemani lo. Mana besok masa magang gue berakhir lagi. Gue kembali ke habitat awal, padahal gue belum puas ketemu sama lo," curhatnya. "Lain waktu pasti kita bisa ketemu lagi kok. Semangat ya lo kerjanya, Sapta!" Indria memberi dukungan kepada sepupunya ini. "Hahaha. Gue pergi dulu ya, ingat jaga kesehatan lo juga," pesan Sapta. Dia melenggang menuju ke arah pintu utama. "Lo nggak perlu antar gue ke depan," ucap sepupunya itu sebelum membuka pintu dan menutupnya kembali. Sosok Sapta pun menghilang bersamaan dengan ditutupnya pintu rumah. ******* Saat keluar dari rumah Indria tepatnya di depan pagar, Sapta tidak sengaja berpapasan dengan Aditya. Alisnya terangkat memikirkan siapa orang yang sedang berdiri di depannya ini. Tangan Aditya bahkan mengepal dengan sempurna di balik saku celananya. Tapi, tidak sopan rasanya jika dia langsung memukul pria yang asyik berduaan dengan wanita bertopeng itu tadi di kafe. "Lo siapa?" tanya Sapta tanpa menaruh curiga sedikitpun. "Gue Aditya, saudara kembar Raka," jawab Aditya dengan nada yang berbau arogan. "Oh jadi, lo saudaranya Raka? Tolong lo jaga Indria ya? Gue harus pergi sekarang. Terima kasih." Sapta berpesan sambil menepuk bahu Aditya sok akrab. Dia tak sadar jika pria itu tengah memandangnya dengan tatapan membunuh. Karena terburu-buru, Sapta langsung meninggalkan Aditya tepat setelah selesai berbicara. Dia lantas masuk ke dalam mobil. Aditya tambah geram. Dia menanggapi ucapan Sapta dengan persepsi negatif. Tatapan membunuh masih ia layangkan pada Sapta yang berada di dalam mobil dan siap melajukan kendaraan tersebut. "Ckckck, dia pikir dia siapa bisa nyuruh gue seenaknya?!"Aditya membuka pintu pagar, masuk secara tergesa-gesa. Diketuknya pintu tidak sabaran. Mendengar pintu yang diketuk beberapa kali akhirnya Indria turun dari atas sofa dengan keadaan kepala yang masih pusing dan berdenyut. Kedua kakinya pun terasa berat untuk dilangkahkan apalagi perutnya kian membesar. Tentu Indria harus pintar-pintar menjaga keseimbangan tubuh agar tidak jatuh atau terpeleset. Cklek.... Ketika pintu utama telah terbuka secara keseluruhan. Terlihatlah sosok yang paling dia benci berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam nan mematikan. Tubuh Indria kembali membeku beberapa saat. Kemunculan Aditya di hadapannya bagai badai yang siap memorak-porandakan pertahanannya dalam sekejap. Indria tidak ingin berurusan dengan pria berengsek ini untuk masalah apapun. Sudah cukup dia menderita karena perbuatan yang tanpa dosa Aditya lakukan terhadapnya. Bahkan, luka menganga tak luput pria berengsek ini torehkan di hatinya. Luka tersebut sampai sekarang sulit untuk obati. Apakah luka itu mampu disembuhkan atau tidak. Dia sendiri ragu. Tatapan yang dilayangkan Aditya masih sarat akan emosi dan kemarahan akibat menyaksikan Indria yang begitu akrab dengan pria lain. Hei coba ditelaah lagi untuk apa dia repot-repot mengeluarkan emosi serta amarahnya hanya untuk seseorang yang selalu dia juluki sebagai wanita 'bertopeng'? Bukankah hal tersebut terlalu berlebihan bagi pria sekelas Aditya Pratama yang sudah mengencani banyak wanita? Bahkan ketika melihat beberapa wanita yang pernah berkencan dengannya bermesraan bersama pria lain dia akan bersikap biasa saja dan tak acuh. Lantas kenapa dia menunjukkan reaksi yang berbeda pada Indria? Satu lagi, terdengar klise memang. Tapi, apakah mungkin dibalik emosi dan kemarahan yang membakarnya, Aditya hanya tak ingin saudara kembar yakni Raka terluka karena istrinya bertemu dengan pria lain saat dirinya tidak ada? Aditya bukanlah sosok saudara yang sebaik itu. Dia paling anti dan malas untuk ikut campur urusan orang lain, termasuk masalah dua saudara kembarnya. Jadi, apakah alasan tersebut masih berlaku jika istri Raka itu tidaklah Indria? Sesungguhnya emosi dan amarah Aditya terjadi karena dia tidak mampu mengontrol dirinya sendiri atau lebih tepatnya gemuruh di dalam hati yang sulit dia ungkapkan. Jangankan untuk mengungkapkannya bahkan mengartikan saja dia tidak bisa dengan benar. "Mau apa kamu datang ke sini?" tanya Indria dengan nada tak ramah sambil membuang mukanya ke arah lain. Smirk di wajah Aditya kembali terukir dengan sempurna. "Ckckck," decak Aditya geram. Dia benci ketika Indria memamerkan ekspresi sok polos di depannya. "Jika tidak ada hal penting yang ingin kamu katakan. Tolong pergilah. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni orang sepertimu," ucap Indria tak tanggung-tanggung. Dia bukan wanita lemah lagi. "Ck, nada bicaramu benar-benar sudah jauh berbeda. Padahal kita baru tidak berjumpa beberapa bulan saja. Aktingmu sungguh mengagumkan Indria." Aditya menyindir tanpa ampun. Indria kau harus sabar. Jaga emosimu demi anak yang ada dalam kandunganmu. Jangan terpancing oleh ucapan pria berengsek ini. "Jangan asal bicara jika kamu tidak tahu sesungguhnya bagaimana diriku. Tolong jaga ucapanmu," peringat Indria dengan nada sengit. Amarah Aditya semakin memuncak. Tangannya terkepal. "Tentu saja gue belum mengetahui seluk-beluk tentang dirimu karena kamu selalu menggunakan topeng yang berbeda-beda untuk menutupi sifatmu yang sebenarnya!" seru Aditya geram. Ucapan wanita itu bagai kobaran api untuknya. "Kamu tidak berhak menilaiku seperti itu, Aditya!" seru Indria ikut memanas. Cukup sudah pria berengsek ini menginjak harga dirinya terus-menerus. Sekarang dia tidak akan tinggal diam. "Ck, kamu pantas menerima penilaian tersebut! Lihatlah ketika suamimu tidak ada, kamu dengan bebasnya memasukkan pria asing ke dalam rumah. Apa hal itu tak cukup untuk menggambarkan bagaimana karaktermu yang sesungguhnya?!" Aditya kembali berseru. Emosinya lepas dari kendali. Pria lain? Ah, benar tadi di kafe dia pasti melihatku bersama Sapta. Tunggu dulu, jadi dia juga mengikuti kami sampai tiba di rumah ? Apa tujuan dia melakukan hal tersebut? "Lalu, apa masalahnya untukmu jika ada pria yang berkunjung ke sini? Dia tamuku bukan tamumu!" tanya Indria dengan nada menantang. Aditya sudah tak tahan lagi. Dia berjalan mendekati wanita itu. Sedangkan, Indria terus melangkah mundur hingga tubuhnya menabrak dinding. "Tentu saja karena kamu dengan beraninya menghianati saudara kembar gue!" Sungguh bukan itu alasan yang sebenarnya dia terbawa emosi sampai sejauh ini. Tatapan Aditya bagai setan yang kapan saja siap mengamuk. Kedua tangannya pun masih terkepal hebat. Gemuruh di dalam hatinya kian tak menentu. "Mau apa kamu?" teriak Indria mulai ketakutan. Memori yang mengingatkannya pada kejadian malam itu tiba-tiba saja terlintas. Dia menepis tangan Aditya yang hendak menyentuh wajahnya. "Kamu tidak perlu merasa takut, Indria. Bukankah kita sudah pernah melakukan lebih dari ini sebelumnya? Tampaknya kamu lupa ya?" Nada bicara Aditya terdengar merendahkan. Ditambah dengan smirk khasnya. "Itu hanya bagian dari masa lalu. Untuk apa mengungkitnya?" tanya wanita itu sinis sambil mencoba meredam ketakutannya. "Kamu benar juga. Itu hanya bagian dari masa lalu kita. Ehm tapi tetap saja akan ada momen dimana kejadian tersebut perlu diungkit lagi." Nada bicara Aditya kian menjadi. "Aku akan menguburnya sebelum masa lalu itu berhasil diungkapkan," tegas Indria. "Ckckck, bagaimana kalau gue berniat memberi tahu Raka bahwa istri yang paling dia cintai bahkan pernah tidur dengan saudara kembar dia sendiri? Bukankah akan lebih menarik Indria?" Plak! Satu tamparan keras sukses mendarat di pipi Aditya. Pria itu malah menyunggingkan senyum sinis dan menatap tajam wanita yang dengan berani melayangkan tamparan padanya. Untuk sesaat Aditya terkesiap menyadari wanita itu mulai menitihkan air mata. Dia tidak akan tertipu lagi oleh topeng yang dikenakan Indria. "Tolong pergi dari sini pria berengsek! Jika kamu tidak pergi juga, aku akan teriak!" ancam Indria dikala isakan tangisnya yang semakin menjadi. "Cepat pergi, Berengsek!!" Wanita itu tak segan-segan meninggikan suaranya untuk mengusir pria terberengsek baginya itu. Dengan langkah terpaksa dan emosi yang masih meluap, akhirnya Aditya menuruti perkataan Indria sebelum wanita tersebut mengambil tindakan yang akan memalukan diri mereka berdua nantinya. Selepas pria itu hilang dari pandangannya, tubuh Indria jatuh dan merosot ke lantai. Air mata kian tak terbendung. "Ya Tuhan kenapa hamba harus dipertemukan dengan pria berengsek sepertinya? Kenapa Tuhan?" Indria menangis sejadi-jadinya. Namun, tiba-tiba saja rasa sakit menjalar di perutnya dan semakin lama semakin terasa sakit. Keringat mengucur deras di wajahnya. Ya Tuhan cobaan apa lagi ini? Dengan kekuatan yang masih tersisa, Indria mencoba untuk berdiri lalu berjalan ke arah sofa. Segera diraihnya handphone yang tergeletak di atas meja, kemudian men-dial sebuah nomor rumah sakit. "Ha..hallo. To...tolong saya. Perut saya sakit. Alamat saya di Jalan Gajah Mada no 4." Detik berikutnya kesadaran Indria sudah hilang. Dia terkulai lemas dan pingsan di atas sofa. .............
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN