09

2358 Kata
P9... Indria menyipitkan kedua matanya ketika pintu ruang inap dibuka, lalu ditutup oleh sosok tinggi dan tegap tersebut. Tubuh Indria menegang kembali ketika sosok itu semakin mendekat ke arahnya yang tengah berbaring di ranjang pasien. Wajah tanpa ekspresi dan tatapan tajam pun ikut melengkapi kesan angkuh sosok yang dibencinya itu. Kenapa pria berengsek ini ada di sini? Ya Tuhan bisakah hidup hamba tenang sebentar saja? Indria bangkit dari tidurnya. Dia memang sedikit mengalami kesusahan saat bangun karena perut buncitnya masih terasa kaku. Tatapan Aditya yang sebelumnya tajam berubah seketika dengan sorotan kedua mata yang sulit untuk diartikan oleh Indria, tapi sorotan tersebut tidak mengurangi kesan angkuh yang begitu melekat pada diri Aditya. "Untuk apa kamu datang ke sini?" tanya wanita itu lewat perkataan bernada sinis. "Raka minta gue buat datang kemari menemanimu," jawab Aditya tanpa basa-basi. Dia mengambil posisi berdiri dan hanya berjarak beberapa sentimeter dari tepian ranjang. Indria tak menjawab. Dia mencoba menyembunyikan ketakutan yang selalu muncul tatkala dia berhadapan langsung dengan pria berengsek ini, seakan trauma di masa lalunya terus menghantui. "Bagaimana dengan keadaan kandunganmu?" Aditya bertanya. Entah kenapa dia ingin mengetahui kondisi janin di dalam rahim wanita yang dia benci tersebut. Dia hanya takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap calon 'keponakannya'. Tubuh Indria semakin menegang. Dengan sigap kedua tangan wanita itu beralih memeluk perut buncitnya. Aksi tersebut pun tak luput dari pandangan Aditya. "Baik-baik saja," jawab Indria acuh. Dia harus mampu bersikap senatural mungkin agar tak menimbulkan kecurigaan. Aditya tidak boleh tahu bahwa bayi yang sedang kandungnya adalah buah dari perbuatan 'semalam' yang sengaja pria berengsek itu lakukan padanya beberapa bulan yang lalu. "Apa yang terjadi?" Aditya kembali bertanya sambil menunjukkan wajah tanpa ekspresinya. Berbanding terbalik dengan pancaran bola matanya yang seakan mampu mengunci gerakan tubuh wanita 'bertopeng' di depannya ini. "Kontraksi," balas Indria singkat. Dia benci pada momen di mana dia harus dihadapkan dengan pria berengsek yang arogan dan kasar seperti Aditya. "Apa yang menyebabkan?" tanyanya lagi. Aditya juga tak paham mengapa rasa ingin tahunya tidak bisa dicegah. "Kelelahan," jawab Indria dengan satu kata yang menurutnya sudah cukup mewakili kesuluruhan jawaban yang diinginkan oleh pria berengsek itu. "Menjaga dirimu sendiri pun kamu tak becus apalagi mengurus anakmu kelak." Kalimat bernada sindirian kini meluncur bebas dari bibir Aditya. Tidakkah kau sadar kaulah yang menyebabkanku mengalami kontraksi? Semua karena ucapan tak berbobotmu yang bodohnya mampu membuat harga diri serta air mataku jatuh sekaligus! Kau benar-benar pria berengsek! "Setidaknya aku bersyukur karena sampai sekarang aku masih diberi kesempatan untuk mempertahankan anak ini di dalam rahimku! Meskipun aku tak mampu menjaga diriku dengan baik!" balas Indria tidak kalah sinis. Kali ini dia menatap tepat ke arah mata Aditya. "Baguslah, ternyata ada sisi keibuan yang kamu miliki dibalik wajah topengmu itu. Kamu harus bersyukur, Indria." Aditya mengepalkan tangan kanannya kuat. Dia tak suka melihat sorot kepedihan yang terpancar saat wanita ini menatapnya. "Tentu saja, paling tidak Tuhan masih mengajariku cara untuk bersyukur sebelum terlambat dan adanya rasa penyesalan," Indria menanggapi sindiran Aditya dengan kalimat yang lumayan pedas. "Ckckck, kamu benar-benar orang yang bijak. Mungkin kamu layak mendapat poin plus untuk kedewasaanmu, Indria." Aditya belum puas mengeluarkan sindirannya. "Jika itu pantas maka aku akan menerima dengan senang hati." Indria juga membalas setiap sindiran dari pria berengsek itu. "Wow! Sisi baik dalam dirimu mulai terlihat. Namun sayang, itu tak cukup untuk mengubah persepsi gue tentang wajah bertopengmu, Indria." Aditya semakin memanas. "Setiap orang pasti memiliki dua sisi yang berlainan yakni baik dan buruk. Sisi-sisi tersebut akan kian tampak lewat perbuatan yang mereka lakukan. Tak lupa juga tingkah laku seseorang terlihat jelas ketika mereka memutuskan untuk mengikuti sisi yang mana di antara kedua sisi tersebut," ucap Indria. Dia sangat geram mendengar perkataan Aditya yang selalu memojokkan dirinya. "Karena ada alasan yang kuat mengapa mereka memutuskan mengambil sisi itu untuk mendominasi jiwanya!" tambah Aditya. Kedua tangannya terkepal hebat. Sial! Wanita ini sungguh-sungguh ingin menguji emosi gue! Aditya membalikkan tubuhnya dan berjalan dengan penuh emosi menuju pintu tanpa berpamitan terlebih dahulu. Dia tidak akan pergi meninggalkan Indria sendirian di rumah sakit karena dia telah berjanji pada Raka untuk menjaga wanita itu. Mungkin Aditya membutuhkan tempat dan kondisi untuk meredam emosinya jadi dia memutuskan untuk keluar dari dalam ruangan. ********** Aditya menghela napas panjang setelah selesai menghisap dua batang rokok tanpa jeda. Dia tengah duduk di sebuah bangku yang berjejer di halaman rumah sakit meski udara terasa dingin, tapi hatinya memanas. Indria, nama dan wajah wanita itu benar-benar mengusik pikirannya. Emosi Aditya selalu muncul jika berhadapan dengan wanita yang menjadi saudara iparnya itu. "Kamu ingin menyindir gue dengan ucapan-ucapan sok bijakmu tersebut? Ckckck kamu pikir akan berhasil?" Aditya menggumam kecil dengan ekspresi sangar di wajahnya. Untung saja di tempat ini tak ada orang yang berlalu-lalang jadi Aditya selamat dari cap sebagai 'orang gila' karena bicara seorang diri. "s**l! Sebenarnya ada apa dengan gue? Kenapa gue merasa tersiksa begini?" gumam Aditya seraya mengusap wajah dengan gusar. Aditya butuh pelampiasan, ya dia sangat memerlukan sebuah pelarian guna menekan perasaan yang entah sulit untuk dia sendiri jelaskan. Namun, rasa itu mampu mengakibatkan dia kacau dan tak menentu seperti malam ini misalnya. "Arggh! s**l!" desis Aditya kemudian. Bugh... Satu hantaman lolos mengenai bangku yang terbuat dari campuran pasir dan semen tersebut. Rasa sakit yang menjalar di tangan kanannya tak sebanding dengan rasa sesak yang tertahan di hatinya. Dia terdiam untuk beberapa saat. Mengontrol gejolak perasaan yang bisa dengan mudah menyulut kobaran api emosi di dalam dirinya. Pelampiasan seperti apa yang sesungguhnya gue butuhkan sekarang? Rokok? Minuman beralkohol? n*****a? Atau wanita-wanita itu? "Argh! Yang ada batin gue makin tersiksa. Gue capek dengan semua ini!" desisnya frustrasi. 'Tapi, gue enggak bisa ninggalin ini semua. Hidup gue bakal lebih kacau lagi kalau gue berhenti menjadi orang yang berengsek.' Adakah pelampiasan yang bisa mengubah seseorang menuju ke arah yang positif? Jika memang ada bukankah seharusnya Aditya mencoba? Dia harus berusaha melepaskan diri dari hiruk-pikuk dunia malam yang sudah bisa dipastikan akan menghancurkan hidupnya perlahan-lahan. Terkadang luka yang membekas di dalam hati mampu untuk disembuhkan dengan cara yang mungkin tak pernah terpikirkan namun dapat dirasakan, yakni kasih sayang dan sebuah ketulusan. Aditya melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya. Jarum jam telah menunjukkan pukul sebelas malam. Ia kembali menghela napas panjang sambil menyenderkan tubuh lalu memijat tengkuknya yang terasa pegal. Suasana di halaman rumah sakit ini semakin sepi bak tak berpenghuni. Maklum karena sebentar lagi akan memasuki tengah malam dan kebanyakan orang telah terlelap. Namun, hal tersebut tak berlaku untuk Aditya, biasanya dia baru akan tertidur paling cepat pukul dua pagi setelah dia puas meneguk beberapa botol minuman beralkohol hingga kesadarannya menurun. Tetapi, malam ini Aditya harus menahan hasrat untuk bisa menghabiskan minuman-minuman dengan kadar alkohol tinggi tersebut karena pantang baginya mengingkari janji yang dia buat pada Raka.  Jujur, Aditya tidak merasa keberatan untuk diminta menjaga wanita yang tengah hamil tua itu. Akan tetapi, yang menjadi masalah utama di sini adalah emosinya yang mendadak kehilangan kontrol setiap kali berinteraksi dengan wanita itu. Bahkan, saat menatap dua manik mata milik Indria, gejolak perasaan yang tidak mampu Aditya jelaskan tersebut muncul begitu saja. Maka dari itu, dia memilih sebuah kata yaitu 'benci' untuk mengimplementasikan perasaanya kepada Indria. Apakah dia tahu bahwa benci dan cinta selalu hidup berdampingan serta sulit untuk membedakannya? Karena perbedaan yang tercipta di antara kedua rasa tersebut terlalu tipis. Aditya bangun dari bangku yang sedari tadi dia duduki. Lalu, berjalan dengan langkah tegap masuk ke dalam sebuah ruangan lebih tepatnya kamar inap Indria yang terletak tak jauh dari halaman rumah sakit ini. Dia memutar knop pintu dengan pelan agar tidak membangunkan wanita itu yang ia yakini sudah tidur. Sesuai dugaan, kedua bola mata Aditya menangkap sosok wanita 'bertopeng' tersebut sedang terlelap dengan posisi tdur menyamping. Ekspresi polos dan datar terukir sempurna di wajah Indria sekarang. Ckckck, ekspresi yang sungguh mengagumkan. Berapa banyak macam ekspresi lagi yang kamu miliki untuk menghiasi wajah bertopengmu Indria? Aditya mendudukan dirinya di salah satu kursi di pinggir ranjang yang ditempati Indria. Kedua matanya anteng memandang wajah si wanita 'bertopeng' sejak kembali menginjakkan kaki ke dalam ruangan yang sunyi ini, hanya ada mereka berdua. Sorotan matanya juga tak lepas dan luput dari perut Indria. Terbesit keinginan dalam diri Aditya menempelkan tangannya di atas perut buncit wanita yang kini tidak bisa ia sentuh seenaknya seperti malam itu. Tetapi, adakah alasan yang tepat untuk menggambarkan keinginan anehnya? Sial! Ada apa dengan gue? Kenapa tangan gue ingin menempel di perutnya?! Ingat dia istri saudara kembar lo dan bayi dalam kandungannya adalah keponakan lo. Jadi, gunain akal sehat lo, Dit. Dia ingin merasakan denyutan-denyutan kecil yang timbul karena gerakan-gerakan yang dilakukan oleh bayi ini di dalam rahim Indria. Apakah ikatan batin antara ayah dan sang anak mulai terjalin? Ikatan tersebut pasti akan selalu ada, baik mampu dirasakan atau malah sengaja diabaikan. "Baby jangan nakal. Kamu harus lahir ke dunia dengan sehat. Nanti kita main bareng-bareng kalau kamu udah lahir," bisik Aditya lembut sambil tersenyum. Kata-kata itu keluar dengan mudah dari bibirnya. Kedua tangan Aditya yang semula ingin bergerak dan menempel di perut Indria terasa kaku dalam sekejap. Muncul keraguan serta ketakutan jika dia tetap melakukan keinginan tak beralasan itu. Aditya takut akan gemuruh di hatinya kian menjadi yang sulit untuk dikendalikan. ************ Kelopak mata Indria terbuka lebar ketika menyaksikan sosok yang tak asing baginya tidur terlentang di atas sofa. Letak sofa tersebut berseberangan dengan ranjang yang dia tempati jadi secara otomatis saat kedua mata Indria terbuka maka pandangannya langsung tertuju pada sosok Aditya yang sedang tertidur. "Apa aku tak salah lihat? Kenapa aku tidak menyadari kedatangannya semalam?" gumam Indria keheranan. Jelas-jelas kemarin malam pria berengsek itu pergi diiringi amarah yang memuncak. Jadi, dia ragu Aditya akan kembali ke sini lagi. Lamunan Indria terhenti bersamaan dengan diketuk lalu terbukanya pintu, tampak seorang dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan, mendekat ke arah ranjang wanita itu. "Selamat pagi, Bu Indria." Sapa sang dokter ramah. Sedangkan, perawat yang mendampingi dokter itu hanya tersenyum. "Pagi, Dokter Rani," balas Indria sopan. Aditya langsung terbangun karena mendengar sayup-sayup suara yang mengganggu gendang telinganya. Kemudian, dia beranjak menuju kamar mandi untuk membasuh muka. Tak peduli akan tatapan si perawat, dokter Rani yang mengarah padanya kecuali Indria, Aditya tetap melangkah dengan gaya acuhnya. Cukup menghabiskan waktu beberapa menit saja baginya di dalam kamar mandi, dia tidak suka berlama-lama. Kini langkah Aditya terhenti di samping ranjang, lalu duduk sambil memperhatikan Indria yang tengah diperiksa oleh dokter. "Apa Ibu mengalami kontraksi lagi kemarin sesudah diperiksa?" tanya dokter Rani, wanita itu menggeleng. "Syukurlah. Bayi Ibu juga keadaanya masih stabil dan semakin sehat, tidak terjadi gangguan," beri tahu dokter Rani setelah selesai memeriksa keadaan sang ibu dan calon bayi yang akan lahir kurang dari dua bulan ini. Terima kasih, Sayang, Ibu bangga padamu. Indria mengulum senyum kebahagiaan, dia sangat bersyukur karena anak di dalam rahimnya baik-baik saja dikala dia sendiri mengalami guncangan batin. Sementara, masih di tempat yang sama, Aditya dapat merasakannya, ya kebahagiaan yang terpancar dari wajah Indria. Eksperesi dari sebuah ketulusan bukan kebohongan atau akting belaka. Sudut bibir Aditya melengkung membentuk senyuman tipis. Entah kenapa dia senang mendengar kondisi bayi itu sehat. Baby tetaplah sehat dan kuat di dalam sana. Paman tak sabar ingin bermain denganmu. "Ibu harus berusaha mengontrol emosi. Jangan sampai stres dan kelelahan apalagi Ibu akan segera menjalani proses persalinan. Tidak baik kalau kontraksi terjadi berulang-ulang," pesan Dokter Rani. "Iya, Dokter Rani. Saya akan berusaha. Terima kasih," balas Indria. Senyum kebahagiaan belum hilang dari wajahnya. "Sama-sama. Oh ya, ini hasil USG yang Ibu lakukan kemarin. Bayi Ibu Indria berjenis kelamin laki-laki sesuai prediksi. Selamat ya, Bu," Dokter Rani berucap sembari menyerahkan map berisi hasil USG kepada Indria. "Terima kasih, Dok," ucapnya sekali lagi. Tubuh wanita itu sedikit bergetar saat menerima map dari tangan dokter Rani. Ya hasil USG yang menjadi saksi bagaimana pertumbuhan serta perkembangan sang bayi di rahimnya. "Ibu boleh pulang pagi ini juga. Jangan lupa kesehatan, Bu Indria. Kalau begitu saya tinggal dulu, karena ada beberapa pasien yang menunggu," ujar dokter Rani. "Terima kasih, Dok." Aditya juga ikut melontarkan kata-kata yang jarang keluar dari bibirnya itu. "Sama-sama, Pak. Tolong jaga Ibu Indria dengan baik. Saya pergi dulu." Dokter Rani pamit lalu melangkah pergi bersama dengan perawat yang mendampingnya tadi. Fokus Indria kembali tersita pada map yang tengah digenggamnya selepas kepergian Dokter Rani dan sang perawat dari ruangan ini. Dengan hati-hati dibukanya map tersebut lalu mengeluarkan hasil USG. Senyuman di wajah Indria kian merekah. Namun air mata haru juga siap keluar dari kedua matanya. Ayolah, Aditya memperhatikan secara detail setiap gerakan wanita itu. Mulai dari membuka map, melihat hasil USG dengan senyum serta tatapan haru terakhir tampak jelas tetesan air matanya membasahi map berwarna coklat tersebut. Aditya hanya bisa diam, tubuhnya seakan kaku untuk digerakkan. "Sayang, ternyata kamu berjenis kelamin laki-laki ya, Nak. Ibu ingin sekali menggendongmu dalam dekapan Ibu. Kamu harus terus tumbuh dengan sehat ya, Sayang. Jadilah jagoan dan pelindung untuk Ibumu yang lemah ini." Indria mengajak bayinya berbicara dengan sejuta kasih sayang yang sudah lama ia siapkan untuk anak ini. Kenapa d**a gue sesak mendengar ucapannya? Sebenarnya apa yang sedang gue rasakan? "Ibu sangat menyayangimu. Ibu berjanji akan merawat dan membesarkan kamu dengan baik," imbuh Indria. Aditya mengepalkan tangan untuk coba menahan gejolak perasaan yang menggerogoti hatinya. "Boleh gue lihat hasil USG itu?" Kalimat berupa permintaan keluar tanpa sengaja dari bibir Aditya. Indria terkesiap, dia lupa bahwa pria berengsek ini juga ada di sini. "Untuk apa?" tanya wanita itu dengan nada dingin. Wajahnya menunduk. Dia tidak mau menunjukkan tetesan air matanya di depan pria berengsek ini. "Gue hanya ingin tahu," jawab Aditya. Dengan ragu Indria menyerahkan hasil USG ke tangan ayah biologis dari sang jabang bayi. Bola mata Aditya melebar dan tak berkedip ketika memandangi hasil USG yang baru pertama kali dia lihat. Gemuruh di dadanya kian terasa menyesakkan. Bahkan air mata yang tidak ia undang sama sekali sudah menumpuk di pelupuk kedua matanya dan siap jatuh. "Hubungi gue jika kamu telah siap untuk pulang. Gue ingin mencari sarapan dulu di luar," beri tahu Aditya lalu mengembalikan hasil USG pada Indria. Saat membalikkan badan, air mata pria berengsek itu lolos mengalir di pipinya. Dia tidak pernah menitihkan cairan bening ini sebelumnya. Kaki Aditya pun terasa berat untuk dilangkahkan. Kenapa gue merasakan seperti ada ikatan batin dengan bayi itu? Jelas-jelas dia anak Raka bukan anak gue. **********.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN