Raka melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya. "Aku masih punya waktu buat nganter kamu ke bandara, sebelum rapatnya dimulai." Dia bersikeras. Namun, hanya respon berupa gelengan kepala yang lagi-lagi dia dapatkan dari wanita itu. "Aku bisa berangkat sendiri kok. Jangan maksa, nanti kamu kecapekan dan nggak bisa fokus pas rapat," jawab Indria kemudian. Raka pun menyerah. Dia selalu kalah jika sudah berdebat dengan wanita itu. "Ya sudah. Aku enggak akan maksa. Percuma juga ngomong sama perempuan keras kepala kayak kamu." Dia mengacak-acak rambut Indria karena gemas. Wanita itu hanya bergeming dan masih tersenyum. "Aku cuma gak pengen ngerepotin kamu Raka. Jarak dari bandara ke kantor kamu kan lumayan jauh. Jadi nggak usah." Indria membela diri dengan argumennya. Raka manggut-mangg

