Dua tamparan keras bertubi-tubi didaratkan Indria di pipi kiri pria itu setelah dia berhasil melepaskan diri dari dekapan yang cukup menjijikan baginya tersebut. Indria menatap tajam pria berengsek yang ternyata juga memandang balik ke arahnya. Dia benci sorot mata yang dipancarkan Aditya. Indria ingin segera pergi dari tempat yang bagai neraka ini untuknya tapi saat hendak beranjak turun dari tempat tidur Aditya kembali menariknya ke dalam dekapan posesif pria itu. "Jangan menangis," gumamnya pelan sembari mengeratkan pelukan lebih dan lebih lagi. Indria seakan terhipnotis, dia berhenti berontak "Kenapa kamu menghancurkan hidupku! Apa salahku? Kenapa harus aku?!" seru Indria disela isakannya. Dia meratapi betapa malang nasibnya. Rasa sakit memang cukup terasa di bagian areal tertentu di
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


