Kabar kehamilan Tari kini telah sampai ke telinga Luna, perempuan itu tentu kesal dan tak terima. Pemikirannya sama seperti pemikiran kebanyakan orang, bagaimana bisa Tari hamil sementara selama ini perempuan itu dan Bintang telah berpisah. "Jadi dia hamil, bagaimana bisa Cha" geram Luna. "Selama ini kita terkecoh Lun, yang kita lihat mereka memang tinggal di atap yang berbeda tapi nyatanya mereka masih sering ketemuan" ucap Icha. "Ketemu hanya untuk menyalurkan nafsunya? begitu?" Luna menggeram marah. "Ya begitulah" "Brengsek... kali ini sepertinya bukan cuma anaknya yang harus gue singkirkan tapi sepertinya ibunya juga, agar jalan gue untuk memeluk Bintang bisa lancar, gue yakin masih ada cinta di hati Bintang untuk gue" Luna penuh percaya diri. Luna tersenyum menatap ke depan ia

