Pov Tante Rukminin
Aku melihat setiap sudut wajah sendu Mayola. Bocah kecil yang dahulu sudah kuanggap seperti anakku. Bahkan saat ini ia beranjak dewasa, rasa itu masih sama. Aku menyayanginya!
"Makan yang banyak, May!" ucapku sambil kembali menelusuk mencari matanya.
Sebab, dengan memandang matanya. Aku lebih leluasa menerka dan membaca sedihnya. Sorot matanya tampak kosong. Tidak ada lagi bahagia.
Pada saat Mayola sekeluarga memutuskan untuk pindah ke kampung halaman, aku merasa tertekan. Tidak ada lagi kawan yang setia mengunjungi ku. Kawan untukku bertukar cerita sekaligus bertukar bahagia.
Pada saat itu dia baru saja lulus SMA. Disaat teman-temannya yang lain sibuk mengurus kuliah, dia harus menanggung hantaman hutang yang dihasilkan oleh Mamanya. Rumah mereka disita, Papanya sakit parah.
Seandainya saja Mama Mayola tidak mementingkan ego, untuk terbiasa hidup glamour. Mungkin dampak yang diterima Mayola tidak akan separah ini.
"Sudah, Tan!" ucapnya. Dia berusaha membawakan piring kotor ke belakang untuk segera ia basuh.
"Sudah, May! Biar Tante saja nanti yang nyuciin!"
"Tak apa, Tan." Dia langsung mencuci piring kotor wadah makannya tadi.
Aku masih memandang wajah Ayu-nya, aku mencari celah untuk bisa menerobos dinding rahasia gundah yang ia simpan agar dia bisa lebih leluasa untuk menceritakan semua masalahnya padaku. Bukankah dari dulu dia tidak pernah sungkan untuk bercerita tentang apapun?
"Sudah, May? Ikut Tante Yok!" Ajakku sambil menarik tangannya menuju balkon di lantai 2.
Kami menaiki anak tangga. Suara tepukan telapak kaki kami menghantam lantai seperti berirama. Kubuka pintu menuju balkon yang menghadap ke jalan itu. Dari atas balkon kami masih bisa menyaksikan pesta pernikahan Senja. Pesta yang tidak terduga-duga itu.
Mayola menatap lurus ke arah rumah Senja. Hatinya masih membara membakar luka. Tatapannya semakin kosong.
"May! Tadi berangkat jam berapa kamu?" Tanyaku berusaha membuka pembicaraan.
"Sekitar jam 9-an, Tan," jawab Mayola.
"Siapa yang mengundangmu?" tanyaku yang mungkin bisa memancingnya untuk bercerita.
"Senja, Tan. Aku sangat terkejut kala itu!" ucapnya. Sepertinya umpan hampir kena.
"Iya, Tante pun sangat terkejut. Pernikahan ini dilakukan sangat mendadak sekali!" ucapku lagi.
"Jodoh sudah sampai, Tan. Gak ada yang dapat menolak," kali ini suaranya seperti gemetar.
"Jodoh sama dijodohin itu beda lo, May!" jawabku dengan suara tegas!
"Memangnya Senja dijodohin, Tan?" Matanya menatap tajam kearahku.
"Tante kira, begitu!" lanjutku.
"Terus, mengapa Senja mau?" Dia kembali menyorotkan mata tajamnya kearahku.
"Tante juga kurang tau! Yang Tante tau begitu!"
Aku melihat air matanya luruh. Gadis ini tidak mungkin kubiarkan bersedih. kudekap ia dalam dekapan paling nyaman. Sehingga tak ada lagi gundah yang harus ia simpan.
"Eh, kok nangis!" ucapku sambil menghapus airmata yang gugur.
"Lalu, perempuan itu mengandung anak siapa, Tan?" Bibirnya semakin gemetar.
"Mahesa!" jawabku singkat!
Mahesa adalah adik Senja. Dia menghilang pada saat keluarga wanita meminta pertanggung jawaban atas perilakunya. Jika tidak segera dinikahkan maka Mereka akan menuntut kepada pihak kepolisian.
Demi nama baik keluarga, Senja diharuskan menikahi wanita yang tengah hamil itu. Senja tidak ada lagi pilihan lain karena sejatinya Senja memang anak yang paling penurut. Berbeda jauh dengan Mahesa yang menganggap hidup dalam genggamannya.
"Gila! ini ide gila, Tan," Dia menautkan kedua alis keningnya.
"Ya itu jalan satu-satunya!"
"Senja benar-benar sudah miskin harga diri!"
Mayola kembali tenggelam dalam dekapanku. Kali ini tangisnya lebih deras.
"Sudah, May!" Dia masih menenggelamkan diri.
"Senja jahat, Tan. Padahal sebelum kabar pernikahan ini dia sangat sering ngabarin aku. Dia juga sudah berjanji buat nemuin aku di kampung. Tetapi nyatanya undangan yang membuat aku bertemu dengannya." ucapan itu dia ucapkan dengan getaran hebat yang melintas sampai ke hatiku.
Aku sangat tau bagaimana rasanya kecewa. Di khianati oleh seseorang yang menamainya cinta sejati. Sakit! sangat sakit.
"Sudah, Sudah!" Aku menenangkannya. Dengan suara yang juga gemetar menahan kecewa.
"Aku mau pulang, Tan," ucapnya yang membuat ku mengiba. Rasanya belum lepas rinduku.
"Menginaplah disini, May! Semalam saja." ucapku memelas.
"Lain kali saja ya, Tan," Dia menarik tanganku lalu menciumnya.
"Kenapa tidak sekarang saja? Belum lepas rasanya rindu ini untuk Mayola." Aku kembali memelas.
"Tidak bisa, Tan. Papa sendirian dirumah! Tidak ada yang merawatnya dan memberinya obat!" Dia berjalan menuju lantai bawah. Aku mengikuti langkahnya untuk menghantarkannya sampai ke depan rumah.
Langkah sengaja kupercepat karena mendung di wajah sendu Tante Rukminin tidak bisa kubendung. Aku tahu sangat berat untuknya melepaskan kepergianku, rindu yang menjalar ditubuhnya juga sampai kesekujur tubuhku.
Dia memelukku pada saat kami sampai ke depan gerbang. Nafasnya terengah matanya memerah. Sore yang cerah ini membuat langkahku seakan tertahan disini.
"Hati-hati di jalan," ucapnya sambil memegang pundakku.
Dia menciumku, kemudian melepasku berlalu. Kutinggalkan ketidakpastian yang menjadi bumerang kehancuran hatiku. Langkah demi langkah seakan bertambah beban di tubuhku.
***
Pov Mayola
Aku kembali menoleh ke belakang. Dia masih setia melambaikan tangan dan air mata yang masih bercucuran.
"Aku pergi, Tan! Tidak ada lagi yang kucari disini," batinku meringis.
Janin yang hidup di rahim Mery itu telah merenggut kebahagiaanku. Dia telah mengambil Senja dariku. Mengapa harus Senja?
"Dasar pria bodoh!" kutukku dalam hati. Tidak terasa tangisku juga ikut serta mengucur dengan derasnya.
Aku berjalan kaki menuju jalan besar. Tidak seberapa jauh aku berjalan, melintas taxi untuk aku tumpangi. Tangan sengaja ku lambaikan agar ia berhenti.
Untuk pulang sengaja aku naik taxi saja sebab jika ingin memesan travel sepertinya akan menunggu beberapa saat. Taxi berwarna biru ini mulai melaju mengikuti arahanku.
"Kenapa kok cemberut, Neng?" tanya Mang Supir.
Aku bergeming karena ingin beristirahat memikirkan hati yang perih. Belum lagi memikirkan omongan Tante Ana waktu di pesta tadi.
"Derita demi derita selalu mendatangiku. Kapan aku bahagia Tuhan?" hatiku kembali merintih.
Pandangan sengaja kubuang keluar. jendela mobil. Pepohonan pinggir jalan seperti mengejekku yang tengah membawa pilu. Kupejamkan mata tetapi pikiranku tetap berkelana membawa merana.
"Aku harus kuat, bukankah aku bukan tipe wanita yang mudah menyerah," rintihku .
Laju taksi tidak lagi kuhiraukan biarlah dia membawaku dengan luka menganga. Pulang mungkin akan mengobati dan menjadi penawar rasa sakit.
"Neng! Neng! Sudah sampai," Ucap Mang supir membangunkan tidurku.
Dari luar jendela mobil, sudah terlihat langit kelam hari sudah mulai malam. Aku melaju turun dari taksi setelah memberikan beberapa lembar uang.
Aku menatap pintu rumah yang masih terbuka lebar. Diruang tamu, duduk Papa sembari menunggu kepulanganku.
"Assalamualaikum, Pa," ucapku sembari masuk kedalam rumah.
"Waalaikumsalam, eh sudah pulang!" jawabnya.
"Iya, Pa." Aku meletakkan tas mini yang tadi kusandang lalu duduk di sebelah Papa.
"Gimana acaranya?" tanya Papa.
Aku mematung. Tidak ada yang kudapat dari acara pernikahan sahabat yang kucintai itu. Kecuali sakit yang sangat perih ini. Aku sangat membenci hal ini. Hati tulus yang kuberi tidak ia sadari.
"Kok diem? Kamu capek pasti. ya sudah kamu pergi mandi dulu,"
Aku mengangguk kemudian berlalu meninggalkan Papa yang duduk sendirian diruang tengah. Sepi adalah kata yang akrab untuk keluarga ini, aku sudah terlanjur berada ditengahnya.
Aku berjalan menuju kamar untuk segera mandi. Setelah selesai aku langsung merebahkan diri.
"Kamu terlalu naif, Senja," gumamku dalam hati. Kutahan air yang ingin mengalir tetapi itu tak mungkin. Derasnya sudah mengucur hingga aku tertidur.
***
Silau yang menerobos jendela itu memancar ke wajahku. Hari ini aku sudah bertekad untuk membuang segala sedih. Sudah kuikhlaskan Senja berbahagia dengan wanita pilihan adiknya. Wanita yang tengah mengandung keponakan nya. Ah, hubungan yang sangat rumit dab membuat sakit.
Sesaat kemudian aku dikejutkan oleh teriakan nyaring yang tidak asing.
"Mayola! Mayola!" Aku sudah hapal betul suara itu. Dia Elsa pemilik suara nyaring yang rada serak basah.
Elsa adalah tetanggaku, dia memang terkadang akrab berteriak dari kejauhan karena rumah kami bersebelahan.
"Mayola!" teriakan itu terdengar semakin keras.
Aku memegang kepala karena tidak terbiasa bangun tidur dengan cara dikagetkan. Mataku pejam kemudian terlihat di depan pintu kamar Elsa sudah berdiri dengan wajah cemas.
"May, Papamu jatuh di halaman rumah, aku tidak kuat mengangkatnya sendirian," Aku sangat terkejut lalu membuka mata dengan paksa.
Aku dan Elsi kemudian berlari menuju halaman. Papa memang terbiasa menghirup udara pagi di halaman depan. Entah apa yang membuat kursi rodanya kehilangan keseimbangan lalu ia terjatuh.
"Papa!" segera kuberlari kearahnya. Elsa pun ikut serta. Kami mengangkat tubuh Papa yang terbaring tak berdaya.