Part 2

1123 Kata
Pov Mayola Seketika, air mata merebak tanpa aba-aba. Alirannya begitu deras menyesakkan dadaku. Tante Ana yang aku kenali dulu tidak mungkin berkata sekasar itu. Apa salahku? Apa salah mamaku?  "Tamu-tamu terhormat, coba kalian lihat, anak lont* ternama hadir di sini," teriak Tante Ana yang membuat semua pasang mata di sana melihat ke arahku. Aku sangat malu ingin rasanya aku meremuk bibir merah Tante Ana dengan tangan gemetarku. Tangisku masih terus mengucur, Lukaku semakin menganga saat pasang mata yang hanya melihat tadi ikut serta mengeluarkan suara. "Jijik!" ucap salah satu dari mereka yang tidak aku kenali wajahnya. Aku enggan menatap siapapun yang ada di sana. "Ada apa ini?" Suara Senja, benar ini suara Senja. Aku juga tidak berani menatapnya. Aku berdiri dari kursi tempat aku terduduk tadi. Hatiku berbisik "Pulanglah, tempat ini tak layak untuk menampung perempuan hina sepertimu!" Aku melangkah dengan lari kecil. Senja mengejarku lalu menarik tanganku. Aku terus berlari hingga sampai ke pagar depan. Hatiku yang remuk bagai tertusuk-tusuk tidak sanggup lagi berada di tempat terkutuk itu. Senjaku telah menjadi milik orang dan aku menjadi bahan hinaan. "Untuk apa kamu mengejarku?" tanyaku pada Senja. "Kamu jangan terlalu mendengarkan mulut beracun Tante Ana," jawabnya menenangkanku. "Kamu tidak berada diposisiku, makanya dengan mudah kamu berucap demikian," terangku dengan d**a masih menggebu-gebu angkara. "Berhenti, Mayola!" pintanya. Namun aku terus kukuh dengan langkah acuh. "Berhenti!" bentaknya yang membuat langkahku tidak lagi terpacu. "Apa lagi Senja? Mengapa?" tanyaku dengan linangan air mata kembali mengucur. kali ini lebih deras karena semakin kuat tekanan dalam d**a. "Kamu itu tamuku, bukan tamu tante Ana," jawabnya. membuat hatiku semakin hancur. Iya, aku tamu di pernikahannya. pernikahan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, seandainya dia mengetahui sesak yang kutahan sebelum berangkat ke pestanya. Dia tidak akan paham, tidak akan pernah berpihak pada cinta angin yang kutepuk sendiri. Dengan tangan sebelah aku menepuk angin tanpa balas. Langkahku terhenti ketika sampai di depan halaman rumah lamaku, aku memandang rumah yng tidak lagi terawat. Halaman bersimbah sampah, warna cat yang semakin memudar. Disini menyimpan kenangan indah tetapi pahit jika kukenang kembali. Keindahan dulu hanyalah semu, seandainya Senja dapat memahami rasaku selama ini. Dadaku kembali naik turun menahan remuk.  "Mayola!" Senja juga turut berhenti mengikuti langkahku. Aku dan Senja masih terpaku menatap tempat itu, halaman rumah yang menjadi tempat kami bermain sewaktu kecil kini dipenuhi semak belukar, tumbuhan akar. "Apalagi Senja?" tanyaku sambil mengusap sisa air mata. "Kembali kerumahku, May! Aku mohon," pintanya dengan wajah memelas. "Apa yang kauharap dengan hadirku ini, Senja?" tanyaku dengan luka semakin menganga. "A-aku mencintaimu, teman kecilku!" dengan lidah kelu dia berucap. Mataku terbelalak memandang kearahnya, apa yang sedang merasukinya? Bukankah dia baru saja memperistri seorang wanita cantik? Bukankah dia juga telah menabur benih di rahim wanita itu? "Jangan gila, Senja," ucapku sambil melangkah mundur menjauh darinya. "Iya, Aku gila, Mayola!" ucapnya dengan muka memerah. "Apa yang terjadi sebenarnya?" batinku bertanya. "Aku gila, ha-ha." Dengan tawa paksa dia mencoba menyembunyikan sesuatu dariku. Seketika airmatanya jatuh. "Apa maksudmu?" tanyaku. "Aku menikahi wanita itu sama seperti menggali kubur sendiri, May. Hatiku telah mati," jawabnya yang membuatku semakin bingung. "Aku terpaksa menikahi wanita yang sedang mengandung itu, demi menjaga marwah keluarga yang terpandang ini," jawabnya dengan tatapan nanar, tangannya menunjuk ke arah rumahnya. Sedihnya tidak bisa ia sembunyikan. Aku masih tidak mengerti dengan semua yang terjadi. Aku terduduk di trotoar pinggir jalan, Mata sembabku tidak henti-hentinya mengucurkan kesedihan. Senja melangkah kembali ke rumahnya, meninggalkanku sendiri meratapi pilu yang menjalar disekujur tubuh. Badan ini tak tuah lagi untuk hidup, Aku ingin pulang ke pangkuanmu Tuhan. Aku ingin pulang .... Aku masih diam terduduk lemas, punggungku membungkuk sambil memeluluk lutut. Mata sudah lelah menyemburkan air, hatiku diporak-porandakan keadaan rumit yang tidakku mengerti. Dengan keyakinan yang mantap aku mengangkat tubuh lalu melangkah meninggalkan segala duka yang menjalar dalam diriku. Akan tetapi, langkahku tertahan tatkala suara perempuan paruh baya memanggilku dengan sangat lembut. "May-Mayola!" sapanya, lalu berjalan mendekatiku. Aku memandang empunya suara, mataku tertuju pada wajah teduh perempuan bersuara lembut itu. "Tante Rukminin!" aku tersenyum lalu memeluk erat sebagai pelepas dahaga rindu yang telah lama ia pendam. Tante Rukminin adalah tetangga depan rumah lamaku. Aku dan Senja sudah dianggap seperti anak sendiri oleh tante Rukminin. Dahulu dia mempunyai anak seusiaku tapi kecelakaan naas telah merenggut nyawa anaknya pada saat berumur 2 tahun. Begitulah yang sering ia ceritakan pada kami. Tidak hanya itu, berita mandul yang ia terima seakan telah mengambil dunianya. Kasih sayangnya padaku dan Senja menjadi pelipur. Penyemangat hidupnya. Dia seakan menyaksikan bagaimana Aku dan Senja selalu bersama-sama. "Mau kemana, May?" tanya tante Rukminin padaku. Dia sepertinya menangkap raut kesedihan dibalik air mukaku. Mungkin dia sudah menebak bahwa pernikahan Senjalah yang menjadi penyebabnya. "Mau pulang, Tan," Jawabku singkat. "Mampirlah kerumah Tante sebentar, sudah lama tante menyimpan rindu ini untuk Mayola!" pintanya membuatku merasa sungkan untuk menolak. Aku mengangguk lalu mengekor di belakang tante Rukminin, rumahnya tidak jauh hanya berjarak beberapa meter dari tempat tadi aku berdiri. Tante Rukminin membuka pagar halamannya menuju pintu utama. Keadaan rumah tante Rukminin sudah berbeda, Rumah yang dulu di cat warna merah muda sekarang sudah berubah menjadi warna abu tua. Halamannya masih tumbuh, tumbuhan bunga-bunga nan indah. "Ayo masuk, May!" pintanya. Aku langsung mengikuti aba-aba dari tante Rukminin. Langkah lemahku mulai menyusuri ruang keluarga. "Kamu di sini dulu, tante ke kamar bentar ya!" titah tante Rukminin lalu melangkah menaiki anak tangga menuju kamar. Mataku masih memandang interior rumah yang tidak banyak perubahan, masih sama. Hanya saja perkara warna cat rumah yang ikut serta berubah. Sekian menit aku menunggu, muncullah Tante Rukminin. Rupanya dia habis ganti baju. Tante Rukminin membawa sesuatu di tangannya, berukuran kotak tetapi agak besar. Aku menebak itu adalah sebuah album foto. "May, kamu mau makan dulu?" Tante Rukminin berjalan menuju dapur. Tanpa menjawab, aku kembali mengekor dibelakangnya. "Ini tadi tante masak gulai udang, kesukaanmu kan?" tanyanya dengan senyum merekah. Dengan hati gundah aku terpaksa membalas senyum itu. "Aku masih kenyang, Tan," jawabku berusaha menyembunyikan lapar. Padahal, aku sama sekali belum mengisi perutku dengan nasi. Hanya menyantap hidangan ringan di rumah Senja tadi. "Udah makan saja, kamu gak rindu sama masakan tante?" lagi-lagi tante Rukminin mampu membaca raut mukaku. Dia mengambil piring lalu menyendok nasi dan memasukkan gulai udang kesukaanku ke dalamnya. Dia menyodorkan piring itu padaku. "Makan!" titahnya lagi. "Sejak kapan kamu malu makan di rumah tante? Dahulu Mayola selalu datang bawa piring kosong kesini karena rindu masakan tante. Lah, semenjak pindah kok berubah," godanya dengan senyum tipis dari bibirnya. Aku mengambil piring tadi lalu menyantap hidangan yang tersaji. Benar saja, resep dari masakan itu mampu membawaku kembali ke masa lalu. Masa lalu di mana aku lebih akrab dengan Tante Rukminin dibanding mamaku. Aku yang lebih sering bercerita tentang apa pun itu kepada Tante Rukminin. Kali ini, mungkin dengan bercerita pada tante Rukminin adalah jalan keluar terbaik menurutku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN