"Bi Keyra pulang!" suara khas Keyra menggelegar di seluruh ruangan.
"Eh, sudah pulang ya, mau Bibi buatkan sesuatu?"
"Nggak usah," jawab Keyra yang langsung direspon dengan gelengan. Gadis itu beranjak menaiki tangga.
Keyra melempar tasnya di sofa dekat meja belajar dan melepas seragamnya menyisakan singlet hitam putih dengan celana pendeknya. Ia membaringkan tubuh langsingnya sambil memainkan laptop kesayangannya. Sepertinya ia sudah tertular virus dari sahabatnya, ia jadi ketagihan dan pada akhirnya nonton drama Korea menjadi sebuah kebiasaannya.
Tokk tokk tokk
Keyra menghela nafas berat, baru juga 5 menit sudah ada yang mengganggu saja. Kerya membukakan pintu kamarnya malas, ternyata Bi Siti yang mengetuk.
"Ada apa Bi?" tanyanya.
"Anuu itu dibawah ada cowok cariin Nak Keyra."
Keyra tampak mengernyit, "Cowok? Siapa Bi?"
"Aduhh siapa ya tadi, Bibi lupa namanya. Tapi cakep loh pengen bibi bawa pulang hehe"
Keyra menggeleng "Masyaallah Bi, inget anak suami di kampung dong," ucap Keyra mengingatkan.
"Eh bibi khilaf, yaudah ditemuin dulu saja. Sayang loh kalo cogan dianggurin, kalau gitu bibi ke belakang dulu," pamit Bi Siti.
Setelah Bi Siti pergi, Keyra kembali masuk kedalam kamar untuk mematikan laptop. "Ck, ganggu waktu gue aja." rutuknya dalam hati.
Keyra pun turun ke bawah. Ia terkejut saat mengetahui ternyata Kevin lah yang datang. "E-elo?! Ngapain lo disini??"
Tak kunjung menjawab Kevin malah memandangi Keyra dengan kesan...terpesona? Yahh bisa jadi karna Keyra memang masih berpakaiannya seperti tadi, mungkin membuatnya tergoda?
“Anjir ini cewek lumayan juga” batin Kevin tertegun melihat penampilan Keyra yang terlihat sangat cantik dan sexy?
”Nggak! Nggak boleh vin! Lo gak boleh terpesona! Cuma satu bulan habis itu putusin dia, iya satu bulan!” tekadnya dalam hati.
"Budeg apa b***t lo?" tukas Keyra lagi.
“Eh, mampus gue!”
"Emm.. gue mau ngajak lo jalan" ucap Kevin mencoba menormalkan suasana.
"Wait, darimana lo tau rumah gue? Jangan-jangan lo penguntit?!" Keyra mengintrogasi.
"Lo pacar gue, so gue tau semua tentang lo" ujarnya percaya diri. Padahal Kevin hanya mengetahuinya karena tak sengaja membaca formulir Keyra waktu itu.
Keyra menyipitkan matanya mengamati setiap inchi dari cowok itu. Apakah dia ini stalker? Atau penguntit? Tapi yasudahlah, Keyra mengedikkan bahunya acuh.
"Sorry gue sibuk," cueknya lalu meninggalkan ruang tamu begitu saja.
"Gue mau traktir lo makan sepuasnya."
Ucapan Kevin berhasil membuat langkah Keyra terhenti. Dengan cepat kilat Keyra langsung duduk disamping Kevin. Jika sudah berhubungan dengan makanan Keyra memang mudah terpancing.
"Jadi lo beneran mau traktir gue nih?" tanya Keyra dengan mata berbinar dan senyum merekah dibibir.
“Tadikan jutek, kenapa sekarang malah senyum kegirangan? Bodo amatlah.” batin Kevin.
Untungnya ia sempat membaca formulir Keyra yang jatuh waktu itu. Ia jadi mengetahui hobby Keyra, disana tertulis kalau gadis itu sangat suka makan. Hahh, hobby macam apa itu??
"Iya udah cepetan siap-siap! Sebelum gue berubah pikiran!" tegas Kevin.
"Yess!" Keyra langsung lari kegirangan sampai-sampai kakinya tersandung sofa karna sangat excited. Untung saja dengan sigap Kevin langsung memegang tubuh Keyra yang hampir jatuh. "Rada kalem dikit napa," tegur Kevin. Keyra mengacuhkan ucapanya dan segera lari ke atas untuk bersiap-siap.
“Pokoknya gue harus bikin dia bener-bener percaya sama gue” Kevin mengukir senyum liciknya.
•••••
Mobil Kevin memasuki area parkiran kafe ternama di Jakarta, yang sebenarnya masih aset milik keluarga Alexander. Ia berjalan lebih dulu, sedangkan Keyra mengekor dibelakang. Semua pandangan tertuju padanya. Keyra bisa mendengar kaum wanita yang sedang berdesas-desus membicarakannya karena bersanding dengan Kevin.
"Gatel deh tangan gue pengen nabok," dumel Keyra.
"Ha? Apa?" Kevin melihat ke arahnya.
"Nggak papa," dusta Keyra.
Sesampainya di dalam mereka duduk berdampingan, sebenarnya tadi Keyra duduk berhadapan dengan Kevin, namun cowok itu memaksa untuk duduk disampingnya. Keyra pun tak menolak, dari pada ngancurin moodnya Kevin nanti malah gak jadi ditraktir kan gaswatt.
"Heh Vin, gue makannya banyak. Gak papa nih?"
Kevin mengangguk singkat. Hatinya sedikit bahagia mendengar Keyra memanggil namanya. Kemudian ia memanggil pelayan untuk memesan makanan. "Saya pesan chicken steak, sama minumnya orange juice." pelayan itu mengangguk setelah selesai mencatat pesanan Kevin.
"Mbaknya pesan apa?" tanya pelayan itu.
"Chicken steak satu, habis itu nasi goreng, ayam bakarnya jangan lupa, pastanya juga, terus burger king-nya sama kentang goreng. Minumnya samain aja, buat penutupnya puding aja, makasih."
"Doyan apa laper?" gumam si pelayan.
"Mbaknya bilang apa tadi?!" tanya Keyra ngegas.
"Eh, e-enggak, kalau gitu silahkan ditunggu pesanannya, permisi." ucap pelayan itu lalu pergi.
"Dasar perut karet," Kevin tertawa jahil.
"Yee..biarin! Lagian kalo makan di tempat mewah kayak gini seporsi isinya cuma seupil doang mana bisa gue kenyang. Salah siapa sok-sokan traktir gue di tempat kek gini, lo traktir gue di ketoprak pinggir jalan aja gue udah seneng, dapet banyak bikin kenyang lagi." cerocos Keyra kelewat polos.
Kevin tak percaya ternyata selain cantik dan kaya, Keyra juga tak merasa gengsi untuk makan di pinggiran jalan?
"Khusus buat kita, disini semua gratis," ucap Kevin yang diiringi tatapan bingung Keyra.
"M-maksud lo?"
"Tuh," Kevin memajukan dagunya menunjuk sesuatu. Keyra mengikuti arah pandang Kevin, dan membaca sebuah tulisan Alexander's.
“oh jadi ni kafe milik keluarga Alexander? Pantes dia berani traktir gue banyak! Pinter juga dia.” batinnya.
Kevin bertopang dagu memperhatikan wajah ayu Keyra. Semua ekspresinya membuat Kevin tersenyum, terlebih lagi sikap Keyra saat ini yang tengah salting tak jelas karena kevin terus memperhatikannya. Tak lama setelah itu makanan mereka pun datang, dengan semangat 45 Keyra langsung menyantapnya dengan sangat lahap, Kevin yang melihatnya hanya terkekeh pelan.
"Sayang?" panggil Kevin.
"Uhukk uhukk.." Tak menyangka panggilan itu membuat Keyra tersedak hebat. Dengan wajah memerah, gadis itu menyeruput air yang menjadi pahlawannya disaat seperti ini.
"b**o, kalo gue mati keselek gimana?!" sarkasnya cepat.
"Gue salah ya? Gue kan cuma manggil lo,"
"Udah deh! Jangan manggil gue sayang! Gue bukan cewek lo." peringat Keyra.
"Lo. Cewek. Gue" tekan Kevin.
"Ngotot banget sih?! Gue bukan cewek lo!"
"Kalo gue bilang, lo cewek gue ya lo cewek gue. Gue gak terima penolakan," ucap Kevin marah.
Keyra menunduk dan menghela nafas. Sebenarnya Keyra belum pernah pacaran sebelumnya, ia tidak tahu bagaimana caranya pacaran, ia tidak mengerti apa itu cinta, kalau orang bilang cinta itu bisa membuat hati sakit. Karena itulah ia menolak Kevin.
“Nih anak ngotot banget. Dia serius gak ya? Apa sebaiknya gue coba dulu aja? Eh tapi kalo dia cuma mainin gue gimana?” Keyra berpikir keras.
"Kenapa lo seyakin itu pacaran sama gue?" Keyra menatap Kevin.
Kevin mengangguk paham, ia menggenggam tangan Keyra untuk membuat gadis itu semakin yakin padanya. "Gue cinta sama lo bukan karena alasan apapun. Gue gak niat buat bangun rasa itu sama lo karena rasa itu dateng tanpa permisi. Dan saat rasa itu ngendaliin hati gue, gue gak tau harus berbuat apa. Kalo lo tanya 'kenapa' tentang hadirnya rasa itu, sorry gue gak tau jawabannya. Dan menurut gue cinta itu nggak butuh alasan. Kalo cinta itu butuh alasan, maka saat alasan itu hilang, cinta juga akan hilang bersamanya." Dan hasilnya mata Kevin bisa meyakinkan jika cowok itu serius.
Percayalah, Kevin sungguh pintar bersilat lidah. Keyra pun hampir tak berkedip mendengar jawaban Kevin yang begitu dalam. "Ra, gue janji gue gak bakal ninggalin lo, gue bakal ngelindungin lo, jagain lo, jadi orang pertama buat lo," lanjutnya.
Beberapa saat lalu Nabilla pernah mengancam Kevin untuk tidak memainkan hati Keyra, katanya Keyra tak pernah pacaran sebelumnya karena takut sakit hati. Awalnya Kevin merasa tak tega mempermainkan Keyra, tapi kemudian Kevin berpikir lagi pasti akan lebih seru jika ia bisa mempermainkannya.
"Oke, fine. Kita pacaran. Tapi lo harus inget sama janji lo. Lo udah masuk di kehidupan gue, dan hidup gue bukan untuk main-main."
Kevin tersenyum puas lalu memeluk tubuh Keyra. Aktingnya berhasil. Kini ia tinggal membuat Keyra jatuh cinta padanya sedalam mungkin. Sedangkan pikiran keyra masih sibuk memikirkan keputusan yang diambilnya, apakah benar atau salah?
•••••
Setelah menurunkan Keyra di depan rumahnya, Kevin langsung berpamitan untuk pulang. "Dadah Sayang." ucap Kevin melambaikan tangannya.
"Hati-hati," balas Keyra.
Setelah mobil Kevin sudah tidak terlihat lagi, Keyra segera masuk kedalam rumahnya. Diam-diam ia mengukir senyum dibibirnya. Entah kenapa ia jadi merasa senang sekarang.
Gadis itu mendudukkan pantatnya di sofa ruang keluarga. Jika diingat-ingat lagi, tadi sebelum pulang ke rumah, Kevin sempat mengajakknya jalan-jalan ke pasar malam. Disana Keyra bersenang-senang dan menikmati suasana pasar malam. Jujur, saat itulah Keyra mulai merasakan bagaimana rasanya bahagia.
Mulai dari dirinya yang berkali-kali tertawa hanya karena candaan receh ala Kevin, makan arumanis berdua, dibelikan es krim, mencoba berbagai permainan, bahkan Kevin rela mengulang-ulang sebuah tantangan hanya untuk mendapatkan boneka sthich warna pink yang Keyra suka. Padahal Keyra sempat menyuruh Kevin berhenti karena sudah beberapa kali gagal namun tetap saja Kevin itu keras kepala. Dan pada akhirnya, sekarang boneka itu berada di genggamannya.
Keyra terus memperhatikan boneka itu dan mengelusnya pelan, "Baiklah, gue bakal coba buka hati gue buat lo," lirihnya.
Walau masih sedikit ragu sih, tapi di sisi lain Keyra merasa senang karena rasa kesepian yang ia alami sedikit berkurang, setidaknya ia bisa melupakan kesedihannya sejenak.
"Wahh, kayaknya lagi ada yang lagi berbunga-bunga nih," celetuk Bi Siti meletakkan teh hangat di depan Keyra.
"Eh, bibi ngagetin aja deh," Keyra menunduk malu karena ketahuan senyum-senyum sendiri.
"Yang tadi itu pacarnya Nak Keyra ya? Itu cowok yang tadi kesini kan? " Bi Siti edisi kepo.
"Ya gitu deh Bi, yang Keyra ceritain waktu itu," Bi Siti mengangguk paham.
"Udah lama bibi nggak lihat Nak Keyra seneng kayak gini, yaudah kalo gitu bibi mau beres-beres lagi di belakang."
"Oke Bi, jangan capek-capek ya," ucap Keyra sambil nyengir kuda.