Keyra menendang-nendang ban mobilnya yang mendadak bocor saat dalam perjalanan ke sekolah. Sungguh menyebalkan sekali.
"Anjirr ini ban pake acara bocor segala lagi ahhh! Mana udah jam segini, someone help me please!" Keyra berdecak pinggang.
Ciiitttt..
Sebuah motor sport berhenti disamping Keyra yang membuatnya sedikit was-was. Pasalnya semua yang dikenakan cowok itu serba hitam. Refleks Keyra melangkahkan kakinya ke belakang beberapa langkah. Ia takut, bagaimana jika itu perampok? penculik? psycopath? atau penjahat kelamin? Semua pikiran buruk berngiang di kepala Keyra.
"Ngapain masih disini?" cowok itu melepas helm memperlihatkan wajah tampannya.
"Lo siapa?" tanya keyra bingung.
"Emang lo gak kenal gue?" cowok itu menunjuk wajahnya sendiri.
"Kalo gue kenal, ngapain juga gue tanya, dodol!" sarkas Keyra cepat.
"Eh iya-iya slow gak usah ngegas juga. Gue Aldo, temennya Kevin pacar lo." ucap cowok itu memperkenalkan diri.
Keyra bernafas lega, untunglah bukan penculik atau apapun. Melainkan Aldo temannya Kevin, eh? tapi kok gue gak pernah tau ya sama ni cowok? Efek kurang bergaul juga sih.
"Ban lo kempes ya? Nebeng gue aja," tawarnya.
"Hah? Emang gak papa?"
"Lah emang kenapa? Lo mau telat ke sekolah?" Keyra menggeleng dengan cepat.
"Kalo gitu cepet buruan naik. Kalo nggak gue tinggal nih," Aldo mengancam.
"Yaudahdeh gue nebeng lo, biar mobil gue sopir yang ngurus." kata Keyra pasrah, dari pada telat.
Keyra segera naik ke atas motor. Aldo tampak mengukir senyum kemenangannya dibalik helm hitamnya itu. Motor Aldo melaju membelah jalan kota Jakarta yang lumayan ramai.
•••••
Saat ini Kevin CS sudah sampai di sekolahan beberapa menit yang lalu. Mereka melangkahkan kakinya beriringan di koridor yang ditemani jutaan pujian dari mulut kaum perempuan.
"Vin, cewe lo tuh," tunjuk Dava.
Kevin dan Gilang mengikuti arah pandang Dava, mereka mendapati Keyra dan Aldo yang berjalan berjalan bersama sambil bercakap-cakap.
“Hah Aldo?” batin Kevin.
"Hooh, itu Rara kan? Kok dia bisa sama Aldo?" sahut Gilang.
Kevin tak mengeluarkan kata apapun, dia hanya diam dan mengamati. Walaupun ia menjadikannya pacar hanya karena taruhan, hatinya sedikit merasa tak rela melihat Keyra tertawa bersama orang lain.
"Haha apaan sih lo, garing tau ga! Eh btw makasih ya udah nebengin gue," ujar Keyra.
"Jihh garing tapi kok ketawa? Iya sama-sama." Aldo menyeriangi.
Tak sengaja mata Keyra bertemu dengan manik mata milik Kevin. Mereka saling bertatapan sejenak, namun Kevin langsung mengalihkannya.
“Apaan tuh?!nglirik doang? nyapa kek! dia beneran anggep gue pacar gak sih?! Dikira status alay kalih ahh! Taulah, bodo amat!” omel Keyra dalam hati.
Ia berjalan menghentak-hentakan kakinya. Tak memperdulikan Aldo yang masih tertinggal dibelakang. Didepan kelas Keyra bertemu dengan Nabilla yang sedang komat kamit gak jelas.
"Hai Keyra," sapa Nabilla tersenyum lebar.
"Kenapa lo?" tanya Keyra simple.
"Tadi Dava jemput gue. Aaaaaa romantis pake BGT pokoknya!" seru Nabilla kegirangan. Dia tak henti-hentinya mengucapkan berbagai kalimat pujian untuk Dava. Membuat Keyra bosan mendengarnya.
"Sebenernya hubungan lo sama Dava apa?" Keyra mengajak Nabilla bicara dari pada harus terus mendengarkan ocehan gak jelas Nabilla.
"Gue juga gak tau, hts mungkin?"
"Suruh Dava nembak dong. Kalo lo udah jadi pacarnya Dava kan lo punya hak buat marahin dia kalo deket-deket sama cewek, secara dia kan rada playboy."
"Eh, gitu ya?"
"Yaiyalah Nabillaaa sayang, lemot sekali kamu! Dah yuk masuk, tuh Bu Anya dah dateng." ajak Keyra begitu melihat Bu Anya berjalan menuju kelasnya.
"Do, tadi lo berangkat sama Rara cantiknya Kevin ya?" tanya Gilang asal begitu Aldo masuk dalam kelas.
"Iya, kenapa?" jawab Aldo, "Lo nggak cemburu kan, Kev?" Aldo beralih menatap Kevin.
"Ya nggaklah! Dia kan cuma taruhan gue, mana mungkin gue suka sama cewek kayak dia." sahut Kevin mantap Aldo agar percaya.
"Bagus deh. Lo harus bikin dia jatuh cinta sama lo,"
"Sebenernya alesan lo jadiin dia bahan taruhan apa sih? Dan kesannya lo kayak maksa banget?" tanya Kevin.
"Hooh, Kan kasian bidadari gue" timpal Gilang.
"Hoah hooh mulu lo!" Dava menjitak kepala Gilang.
"Sakit anjir!" Gilang mengelus-elus kepalanya.
"Lo semua bakal tau alesannya nanti." ujar Aldo lalu memainkan handphone-nya.
"Horor banget kalimat lo," ucap Dava bergidik. "Hooh," timpal Gilang lagi membuat Dava kembali menjitak kepalanya.
“Pasti ada sesuatu” batin Kevin.
Tak ada percakapan lagi diantara mereka karena guru yang terkenal killer itu sudah memasuki kelas Kevin dan suasana kelas menjadi sunyi mencekam.
Saat bell istirahat sudah berbunyi nyaring, semua murid berbondong-bondong menuju tempat favorit mereka, kantin, untuk mengisi perut atau hanya sekedar nongkrong saja. Kevin, Gilang, dan Dava berjalan keluar kelas, namun tiba-tiba seseorang perempuan berteriak lalu bergelayut manja di lengan kevin.
"Astojim ni cabe-cabean!" pekik Dava kaget.
"Cabe-cabean palalu!" sambar Mauren, gadis bermakeup yang terang-terangan mengejar-ngejar Kevin.
"Lepasin tangan lo dari tangan gue!" ucap Kevin risih.
"Sayang, kok kamu gitu sih? Jangan galak-galak dong sama aku." kata Mauren centil.
"Bodo amat!" Kevin langsung melepaskan tangannya dari Mauren dan pergi.
"Mampus lo!" Dava menertawakan Mauren.
"Diem lo!" sungutnya.
"Salah sendiri deketin cogan temperman kayak Kevin. Prinsipnya kan senggol gampar." Gilang berceloteh.
"Awas lo berdua!" ketus Mauren yang hampir menangis. Habis sudah ia dibully Dava dan juga Gilang.
"Bodo," seru Gilang. Lalu dua cowok itu berlari mengejar Kevin, meninggalkan Muren yang masih memanyunkan bibirnya.
“Gue gak boleh biarin ini” batinnya.
Disisi lain, Nabilla sedang terburu-buru mengikuti langkah Keyra. "Buruan napa Bill, jalan kok kayak siput! Laper nih perut gue," ucap Keyra menepuk-nepuk perutnya.
"Hehh! mana ada siput yang jalannya cepet gini. Lagian lo gak sabaran amat sih. Makanan di katin juga gak akan habis dalam sekejap kalik."
"Terserah lo aja Bill!" Keyra semakin mempercepat langkahnya.
Akhirnya Keyra dan Nabilla sudah sampai di kantin. "Meja pojok ya Bil! Gue yang pesen makanan."
"Oke," Nabilla berjalan ke meja yang ditunjuk Keyra.
Setelah Keyra datang membawa makanan, mereka mulai menikmati makanan mereka sambil menggosip ria.
BRAKK.!!
Keyra menoleh siapa yang berani menggebrak meja dan mengganggu acara makannya. Ia mendapati ada 4 orang siswi yang menatapnya penuh kebencian.
“kagak sakit apa ya?” batin Keyra.
Nabilla berdiri namun tangannya sudah dicekal oleh Keyra, Nabilla menatap mata Keyra seolah Keyra berbicara 'Biar gue aja,'. Nabilla pun duduk kembali.
"Lo Keyra?!" cewek itu menunjuk wajah Keyra.
“itu mata apa bola pingpong?” batin Keyra lagi. Ia membaca name tag cewek itu bertuliskan yang Mauren.
"Tuli kalik tuh bocah," ucap salah seorang temannya.
"Oke, gue maklumin kalo lo itu tuli plus bisu. Gue cuma heran aja sama lo, kenapa cewek model cabe-cabean kayak lo bisa ngegoda Kevin sampe dia mau jadi pacar lo, apa lo gak punya harga diri?" Mauren tersenyum miring dengan tangan terlipat di d**a.
“Hellooooo, lo gak punya kaca ya dirumah?Lo ngaca dong! Liat penampilan lo, yang cabe-cabean itu lo apa gue?!” pikir Keyra.
Keyra pikir dengan membiarkannya akan membuat mereka pergi, ternyata tidak. Keyra tidak akan tinggal diam kalau harga dirinya dilecehkan. "Lah lo sendiri siapa? Dateng kesini langsung ambil kesimpulan kalok gue yang goda. Dan yang gak punya harga diri itu lo, main labrak orang seenak jidat tanpa bukti. Waras lo?" balas Keyra enteng.
Keyra mengerti sekarang, tujuan Kevin memacarinya adalah untuk membuat hidupnya tak tenang. Ia menyesal sudah percaya pada Kevin.
"Gue peringatin lo jangan deket-deket sama Kevin atau lo terima akibatnya!" ancam Mauren.
"Emang gue pikirin?" jawab Keyra acuh.
Mauren yang merasa kesal langsung mengambil es jeruk di meja dan menyiramkannya pada Keyra. Untunglah Keyra bisa menghidar secepat mungkin.
"Upsss... mau nyiram yaaa? Gak kena tuh, kasian banget. Jangan cari gara-gara deh sama gue" ejek Keyra. Mendengar ada ribut-ribut, siswa siswi yang ada disana mulai memperhatikan mereka.
"Dasar cewek bar-bar!!"
Mauren mengangkat tangannya hendak menapar Keyra, namun ditahan oleh seseorang. "K-kevin?" ucap mauren terbata.
"Lo lagi lo lagi! Ngapain lo bikin rusuh disini?!"
"Lepasin. Kamu jangan ikut campur Vin, ini urusan aku sama dia." Mauren berusaha melepaskan tangannya.
"Lo gak denger apa gak paham? Oh..apa lo udah gak ngerti lagi sama bahasa manusia? Waktu itu gue udah bilang, siapapun yang ganggu pacar gue bakal berurusan sama gue!" bentak Kevin membuat Mauren merasa takut hingga tak berani berkutik.
Setelah itu Kevin langsung menghampiri Keyra dan membawanya pergi. Yang tersisa disana tinggal Mauren CS, Nabilla, Gilang, dan Dava.
"Apa lo?!" bentak Nabilla saat mendapati Mauren yang memperhatikannya.
"Cabut girls!" Mauren mengintruksi pada teman-temannya.
Gilang dan Dava pun duduk di depan Nabilla. "Hai Bill, lagi apa?" tanya Dava sok basa basi.
"Pfftt... lo buta ya? Jelas-jelas lagi makan masih aja lo tanyain," Gilang sampai cekikikan, menurutnya pertanyaan Dava sangatlah tidak berfaedah.
"Diem lu tong! Gue gibeng juga nih!" ucap Dava kesal, Nabilla pun hanya tertawa melihat teman-teman Kevin yang konyol ini.
"Lo ngapain pakek bawa gue pergi segala? Padahal gue udah gemes pengen sleding kepala tuh cewek yang namanya Laurier..eh..Laurent ah siapa lah itu pokoknya, gak penting juga gue nginget namanya, kayak merek pembalut aja." celoteh Keyra panjang lebar.
"Udah ngomongnya?"
"Ihhhh kok lo ngeselin sih kayak badakk!" Keyra mengercutkan bibirnya.
Kevin terkekeh kemudian menarik tangan Keyra untuk duduk disampingnya. Mereka sedang berada di taman belakang sekolah yang jarang didatangi orang.
Angin yang berhembus kencang membuat rambut Keyra ikut menari-nari. Kevin memiringkan tubuhnya menghadap Keyra dan menyelipkan anak rambut Keyra ke belakang telinganya, dan saat itu juga Keyra menoleh. Hidung mancung Keyra hampir saja menyentuh hidung kevin, mengingat jarak wajah mereka yang sangat dekat. Manik mata mereka saling beradu tatap macam adegan-adegan yang ada dalam drama korea. Mereka larut dalam pikirannya masing-masing.
“Anjirrr kenapa jantung gue pake dugem segala sih!” batin Keyra.
Sepersekian detik kemudian Kevin menggelengkan kepalanya, keduanya langsung saling memalingkan wajah dan kembali dalam alam sadar mereka.
“Nggak Vin nggak boleh! Dia cuma taruhan! Lo buat dia jatuh cinta sama lo, tapi lo gak boleh jatuh cinta sama dia!”
"Lo jadiin gue pacar karena lo pengen buat hidup gue gak tenang kan? Ngaku lo!" Keyra membuka bicara dengan menatap lurus kedepan.
"Gak Ra, gue serius sama lo. Gue beneran suka sama lo." ujar Kevin bersikeras.
"Gombal receh lo gak mempan sama gue!" tukasnya.
"Oke, lo ikut gue sekarang. Gue mau kasih lo bukti kalo gue serius." Kevin menarik tangan Keyra, gadis itu hanya mengernyit bingung dan pasrah. Kevin membawa Keyra ke parkiran sekolah. Ia pun memasukan tasnya dan tas Keyra ke dalam mobil mikil Kevin.
"Masuk." Kevin membukakan pintu mobil untuk Keyra.
"Ogah! Lo mau bawa gue kemana? Lo tau gak ini masih jam sekolah!"
"Lo gak denger tadi? guru-guru bakalan rapat sampe pulang sekolah. Udah lo gak usah banyak ngomong, lo turutin aja perintah gue."
Keyra tetap kekeh tidak mau, "Nggak ah! Ntar lo apa-apain gue lagi!" Keyra menatap Kevin penuh kecurigaan.
“Astaga nih cewek!”
Kevin pun langsung mendorong paksa tubuh Keyra untuk masuk ke dalam mobilnya. Setelah berhasil, ia segera berjalan memutari mobilnya dan duduk dikursi kemudi samping keyra.
"Lo mau bawa gue kemana sih?!"
"Gue mau...."
"Mau apa?? Wah gila, lo mau culik gue ya? turunin gue sekarang! Gue gak-mmphh Kev mphh lep-.. mphh asin!" Keyra berkata tidak jelas karena mulutnya ditutup dengan tangan Kevin. Kevin pun melepas tangannya dari mulut Keyra.
"Heuhhhh," Keyra menghela nafas karena kekurangan udara saat Kevin membekap mulutnya.
"Lo jorok banget sih, onta! Tangan lo asin tau gak!"
"Syutt, mending lo diem duduk manis disamping gue atau gue apa-apain lo" Kevin mengancam.
Keyra mendadak bungkam mendengar ucapan Kevin. Ia memilih diam daripada Kevin berbuat macam-macam padanya. keyra menutup mulutnya dan mengarahkan pandangannya ke luar jendela.
"Kalo dibilangin tuh dijawab bukan malah didiemin," ujar Kevin menoleh sebentar ke arah Keyra.
Keyra menarik nafasnya dalam-dalam, mencoba untuk bersabar. "Udah deh jangan kayak emak-emak, dijawab salah didiemin salah. Gak usah disahutin lagi!" sergahnya cepat dan ia kembali melihat ke luar jendela.
Setelah itu hanya suara alunan musik dari radio yang terdengar. Keduanya sama-sama menikmati alunan musik yang masuk dalam indera pendengaran masing-masing. Keyra sempat menoleh kearah Kevin sejenak, memperhatikan wajah cool Kevin saat sedang menyetir. Kevin, cowok pertama yang berhasil membuat Keyra bingung dengan perasaannya sendiri.
“anjir ke gep!” batin Keyra. Secepat mungkin ia segera memalingkan wajahnya ke jendela lagi. Tanpa Keyra ketahui, sebuah senyuman terukir di bibir Kevin.
"Gak usah malu-malu kalo mau liat muka gue yang tampan mempesona ini, lo kan pacar gue, masak malu sih sama pacar sendiri." Kevin terkekeh.
“Kan, gr deh tuh anak” batin Keyra.
"Eh tunggu!" pekik Keyra saat menyadari jalanan disekitarnya. "Loh, ini kan.. kita mau bandara ya?! Jadi lo beneran nyulik gue?!" tudingnya cepat.
"Lo ngelawak ya? Mana ada untungnya gue nyulik lo, mending gue nyulik abang bakso depan rumah gue, biar bisa makan bakso tiap hari."
Mendengar itu, Keyra memutar bola matanya malas dan memutuskan melihat ke luar jendela lagi.
"Percaya aja sih sama gue, gue gak apa-apain lo." kata Kevin.
Seperti dugaan Keyra, mereka benar-benar berada di bandara. Keyra terus merengek minta pulang karena kakinya yang sudah pegal-pegal. Sudah satu jam mereka menunggu disana dan yang ditunggu-tunggu bahkan belum muncul juga. Padahal, keyra sendiri tidak tau siapa yang ditunggu.
"Lama banget. Dikata gue gak capek apa." Keyra mengeluh, sedangkan Kevin masih sibuk dengan ponselnya.
"Vin, lo mainan hp mulu, gedek gue liatnya. Gue capek nih," ujar Keyra mulai jengah.
"Sabar ya Sayang, sebentar lagi pasti dateng kok." sahut Kevin tanpa melirik. Keyra langsung menyaut hp dari tangan Kevin, "Sayang palalu peyang!"
"Ra, balikin gak. Sama pacar nggak boleh nakal,"
"Gak," Keyra menggeleng.
"Udah sini balikin!" Kevin merebut kembali ponselnya.
Keyra mendengus, "Makanya lo kasih tau gue apa alasan kita kesini, dan siapa orang yang lo tunggu? Kenapa juga harus ngajak gue?" tanya Keyra beruntun.
"Gue mau kasih lo bukti, kita kesini jemput bokap nyokap gue, gue ajak lo karena gue mau kenalin lo ke mereka." jelasnya.
Deg!
“kenalan sama orang tuanya?” batin Keyra.
Tiba-tiba Keyra merasa panik sekaligus senang. Jantungnya bekerja tidak beraturan. Panik karena tak ada persiapan sama sekali. Dan senang karena cowok itu serius dengannya. "Vin, tap-.."
"Gak ada penolakan." potong Kevin dengan cepat.
"Gini deh, gue aku'in kalo lo serius. So ngenalinnya lain kali aja, okey" Keyra berusaha menolak.
Kevin tertawa, "Lo kenapa sih takut banget gue kenalin ke bokap, nyokap?" Keyra tak menjawab. "Ra, tenang aja kalik, gue cuma mau kenalin ke orang tua gue. Bukan mau ngelamar lo,"
“Dasar demit! Siapa juga yang berpikir mau dilamar!” dumel Keyra.
"Gue takut ketemu orang tua lo," terang keyra.
"Nggak papa Ra, mereka nggak makan lo kok." Kevin terkekeh.
"Ishh, nggak gitu!"
"Ya terus?"
"Gue nggak ada persiapan!"
Kevin kembali terkekeh, "Kenapa harus ada persiapan? Diseriusin amat?" godanya.
"Gak tau ah! Lama-lama gue bisa gila ngomong sama lo." Keyra menghentakkan kakinya kesal.
"Nah itu mereka!" Kevin langsung menarik tangan Keyra, sontak membuat gadis itu kaget.
"Mom, Dad, Kevin kangen!" Kevin beralih memeluk dua orang paruh baya itu.
Mereka saling berpelukan melepas rasa rindunya satu sama lain. Mereka bercakap-cakap, entah apa yang mereka bicarakan hingga mengundang gelak tawa diantaranya.
“Keluarga yang bahagia” keyra tersenyum iri.
"Banana boat gue.." seorang laki-laki datang sambil menyeret kopernya.
"Bang Dirga? Gila gue kangen banget sama lo, Bang!" Kevin memeluk laki-laki itu. "Kok lo balik ke indo sih? Bukannya lo kuliah disana?" tanya kevin.
"Iya, gue udah mutusin buat nglanjut S2 gue disini. Ketemu lagi deh sama adek laknat gue satu ini." Ia menepuk-nepuk kepala Kevin.
Keyra merasa jadi orang asing disini, seperti orang yang enggak penting. Eh, bukannya emang gak penting? Kenapa harus merasa penting di kehidupan Kevin?
"Wahh, siapa perempuan cantik ini?" celetuk Ria membuat semua pandangan tertuju pada Keyra.
"Astaga gue lupa," Kevin menepuk jidatnya. "Mom, Dad, Bang, kelain ini pacar Kevin." Kevin merangkul bahu Keyra.
"E-eh saya Keyra Tante, Om, Bang." Gadis itu tersenyum kikuk lalu menyalami semuanya.
"Wah pantes aja Kevin milih kamu, rupanya calon menantu momy luar biasa cantik." puji Ria.
Keyra nampak tersenyum malu sedangkan Kevin berdecak. Keyra? Perempuan luar biasa cantik? Sepertinya Kevin harus membelikan kaca mata untuk sang mommy. Dan mommy bilang, calon mantu? Cinta aja nggak. Tapi jika dilihat dari gerak geriknya, sepertinya mommy menyukai Keyra.
"Yaudah sekarang kita pulang ya. Ngobrolnya disambung dirumah aja. Daddy pengen istirahat." ujar Jonathan, papa Kevin.
"Oiya, tadi Kevin juga udah suruh Pak Edi kesini. Mungkin lagi di parkiran. Kalo gitu Kevin mau nganter Keyra pulang dulu." Kevin menyalami Ria dan Jonathan begitu juga dengan Keyra. "Bang, lo ikut gue aja." ajak Kevin.
"Lo pikir gue rela lo jadiin obat nyamuk? Ogah!" tolak Dirga mentah-mentah.
"Yaudah sih. Bye semua." Kevin melambaikan tangan.
•••••
"Bokap lo masih kayak dulu ya? Tua-tua ganteng, tapi keceh." celetuk Keyra terkekeh begitu mengingat saat pertama kali ia melihat Jonathan datang ke sekolahnya. Kevin tertawa mendengar ucapan Keyra. Tiba-tiba...
Kruyukk~~~~~
"Anjirr malu-maluin… suara perut gue!" gumam Keyra sambil memegangi perutnya dan berharap semoga Kevin tak mendengarnya.
"Ternyata lo laper? Kenapa nggak bilang?" Kevin tertawa geli. Pipi Keyra mendadak bersemu merah.
"Yaudah gue traktir lo makan" ucap Kevin yang membuat Keyra langsung mengangguk semangat. Kevin segera menancapkan gasnya mencari restoran terdekat.
—DI RESTORAN—
"Thanks ya, lo udah traktir gue," ucap Keyra sambil melahap makanannya.
"Sans aja," jawab Kevin. "Setdah pelan-pelan napa makannya, gak ada bagus-bagusnya sama sekali, lo itu cewek." Kevin mengomentari tata cara makan Keyra.
"Biarin, ngapain juga harus jaga image depan pacar sendiri." ucapnya tak peduli. "Btw makasih sarannya,"
“Ni cewek gue katain malah dibilang saran. Tapi bagus deh, nggak gampang tersinggung.” batin Kevin.
"Tadi kenapa lo berangkat sama Aldo?" tanya Kevin.
"Oh..tadi ban mobil gue bocor, terus Aldo lewat. Dia nawarin gue nebeng, yaudah gue iyain aja. Mayan cogan."
"Gak usah muji cowok lain depan gue. Dasar cewek ganjen." Kevin ketus.
"Ish kok jahat sih," Keyra mengercutkan bibirnya.
Lalu Kevin memangil waiters untuk membayar makanannya, ia menoleh pada Keyra yang masih manyun-manyun gak jelas.
"Gak usah gitu, makin keliatan jelek." Kevin berdiri dan menarik tangan Keyra.
Keduanya masuk dalam mobil. Dengan kecepatan sedang, mobil Kevin kembali membelah jalan kota Jakarta yang masih setia macet.
"Mulai besok gue jemput lo," ucapnya memecah keheningan. Keyra menoleh, "Gak perlu."
"Gue maksa," kekeh Kevin.
"Gue gak mau,"
"Harus mau!" Keyra menghela nafas pasrah, mana mungkin ia bisa menolak cogan keras kepala macam Kevin.
"Huhh, terserah." pasrahnya. Kevin pun menarik senyum kemenangannya.
Mobil kevin berhasil berhenti dengan mulus di pekarangan rumah Keyra. "Ra udah sampe," ucap Kevin.
Namun saat ia menoleh ke samping, ternyata Keyra sedang tidur dengan kepala tersandar di kaca mobil. Ia yakin posisi seperti itu sangatlah tidak enak. Kevin segera keluar dari mobil dan mengendong tubuh Keyra ala bridal style. Ia menekan bell rumah, tak lama kemudian Bi Siti membukakan pintu.
"Loh, Nak Keyra kenapa, Den?" tanya Bi Siti cemas.
"Nggak papa Bi, cuma ketiduran aja."
"Owalah, kalo begitu tolong bawakan ke kamarnya, mari saya antar."
Kevin membaringkan tubuh Keyra di kasur dan menarik selimut agar Keyra tak kedinginan. Wajahnya terlihat cantik saat tidur.
"Nice dream," ucapnya lalu keluar dari kamar Keyra. Saat hendak pulang Bi Siti mencegah Kevin. "Tunggu Den,"
"Ada apa Bi? Panggil Kevin aja." kata Kevin santai.
"Baiklah Nak Kevin. A-anu Bibi cuma mau minta tolong jangan pernah buat Nak Keyra sedih ya," ucapnya memohon.
Kevin terkekeh, "Ya gak mungkin lah Bi, saya nggak akan sakitin pacar saya sendiri."
“Dia gak akan sedih selama dia gak tau alasan gue yang sebenernya” batin Kevin.
"Oiya maaf, orang tuanya kemana Bi? Kok setiap kesini, saya nggak pernah lihat mereka ya?" tanya Kevin bingung. Bi Siti menunduk, kemudia ia mulai menceritakan tentang segala kesedihan majikannya itu. Kevin sampai tak menyangka jika Keyra memiliki beban seberat itu
"Nak Keyra memang nakal di sekolahan. Tapi berbeda jika dirumah, ia suka melamun dan menangis diam-diam. Tapi kemarin Bibi liat Nak Keyra jadi lebih ceria setelah pergi sama Nak Kevin. Jadi saya mohon jangan buat Nak Keyra sedih"
Kevin terdiam, ia mulai paham alasan kenapa Keyra menjadi badgirl disekolah. Ia tidak tahu jika sisi gelap Keyra ternyata seperti ini. Bukankah dia sudah keterlaluan?
Selepas mengantar Keyra pulang kerumah, Kevin segera masuk ke kamarnya dan mandi. Membersihkan badannya yang sudah terasa sangat lengket. Setelah selesai mandi, Kevin membaringkan tubuhnya di kasur ukuran king size-nya, tak butuh waktu yang lama ia sudah tertidur pulas, mungkin karena sangat lelah.
-Kevin POV-
Pukul 22.00
Anjay ni cacing di perut, pake demo segalam jam segini. Gue bangun dan langsung turun ke dapur cari makanan. Gue buka kulkas cuma ada cemilan makanan ringan, tapi gak papalah, lumayan buat ganjel.
Gue duduk didepan tv sambil makan cemilan. Gue masih terus kepikiran sama omongan Bi Siti tadi. Arhgg..! kenapa gue jadi keterusan ngerasa gak tenang gini sih.
"Gue gak tega, apa gue jujur aja ya?" pikir gue.
"Eh...jangan deh, bisa-bisa gue diamuk lagi. Terus nanti dia mikir gue cowok apaan, tukang mainin hati cewek? Tunggu...bukannya gue emang lagi mainin hati dia ya? Arghh..pusing pala gue. Gara-gara Aldo nih!" Gue ngomong-ngomong sendiri depan tv, kayak orang gila.
"Duhh pake seret segala lagi, efek ngomongin orang kalik ya?" Gue pun langsung ngambil minuman kaleng soda, setelah berhasil gue buka, gue minum pelan-pelan, gue nikmatin dong rasa demi rasa disetiap tenggukannya.
"Doorrr!!" seru Bang Dirga ngagetin gue.
Byuuurrrrrrrr~
Yah nyemprot deh ke muka ganteng abang gue. Masih gantengan gue ding.
"ANJENGGG..." teriak Bang Dirga sambil ngelap mukanya.
"Abang kamprett.. lo ngagetin gue tau gak. Untung nggak gue jitak nih." Gue kesel lah, masa pas lagi minum dikagetin, kan bahaya kalo gue mati gak wajar. Bisa-bisa Bang Dirga gantiin posisi gue sebagai cowok tertampan keluarga Alexander.
"Gak punya dosa banget sih lo. Duhh, muka gue jadi terkontaminasi kan sama air liur lo, jorok."
"Yaiyalah, gue kan masih suci. Emangnya lo penuh desah, eh.. dosa. Lagian lo ngapain sih disini, ganggu aja."
Bang Dirga noyor kepala gue. "Adaww! Sakit Njing." ucap gue spontan.
"Lo yang ngapain sendirian disini? Malem-malem gini. Jangan-jangan lo mau nonton bokep diem-diem ya?! Ngaku lo."
Gue pun jitak balik kepala abang gue. "Bokep gigi lo soang! Gue laper Nyet, makanya gue makan disini." dia megangi kepalanya yang habis gue jitak.
"Oh.." ucapnya lalu ikutan makan cemilan gue.
"Lo sendiri ngapain masih kluyuran, bukannya tidur."
"Kepo lo." singkat Bang Dirga.
"Semerdeka lo ae Bang. Btw lo mau lanjut kuliah dimana?" tanya gue.
"Universitasnya Om Herman. Biar deketan sama sekolah lo." jawabnya.
"Hah? Ngapain? Gue udah gede ya. Gue perlu lagi dianter jemput sama lo."
"Idihh gr lu tong, gue juga ogah kalik nganter jemput lo."
"Ya terus?"
"Biar bisa liat dedek dedek gemez. Siapa tau ada yang nyantol satu." jelas abang gue dengan muka sok gantengnya. Pengen gue gampar bolak balik.
"Dasar jomblo kurang belaian." Apa otak Abang gue jadi geser ya gara-gara gue jitak tadi?
"Eh cewek lo suruh ngenalin temennya ke gue dong," pinta Bang Dirga.
"Heuhh, gak penting banget. Emang setelah lo putus dari Viona lo belum pacaran lagi?" tanya gue dan Abang gue hanya menggeleng.
"Kenapa tiba-tiba pengen cari cewek?"
"Demi mengakhiri kesendirian gue di malam minggu."
"a***y, sa ae lu ketumbar" gue tertawa. Setelah itu gue sama Abang gue sama-sama diem liatin tv sambil ngemil.
"Bang, gue pengen curhat," ucap gue.
"Lo kira ini lapak curhat?"
Asem, jawaban Bang Dirga ngeselin batt dah..emang harus sabar punya Abang g****k kayak dia.
"Haha, canda elah sensian amat lo. Yaudah gih cerita." Bang Dirga nepuk-nepuk pundak gue.
"Didengerin beneran gak nih?" gue memastikan, daripada di php, kan sakit.
"Iya buruan,"
Disitu gue langsung cerita semua uneg-uneg yang ada di kepala gue. Pas gue udah selesai cerita, kepala gue malah dijitak lagi sama si k*****t.
"Sakit woi! Dikira pala gue ini besi apa?" gerutu gue sambil megang kepala.
"Lo gila, kasihan si Keyra jadi bahan taruhan, inget perasaan orang lah. Cewek cantik kayak dia lo mau mainin hatinya, mending buat gue aja" sengaknya.
"Paan sih lo. Iya-iya, gue ngaku salah. Gue juga nggak nyangka ternyata dia punya masalah seberat itu. Terus ini gue harus gimana? Gue bingung,"
"Ya gimana, lo harus terima akibatnya, lo turutin ucapan pembantunya si Keyra. Jangan sampai lo nambah beban hidup dia cuma karena taruhan."
Degg!
“Beban hidup?”
"Tapi Bang, kalo gue bilang yang sebenernya... Gue bisa dibunuh hidup-hidup sama dia" gue gak bisa bayangin segimana ngamuknya dia kalo gue bilang yang sebenernya.
"Itu sih derita lo, cepat atau lambat Keyra juga bakalan tau. Lagian lo tuh harusnya belajar yang bener biar pinter, lah ini malah mainin perasaan cewek. Udahlah, gue ngantuk. Bai.” sahut Bang Dirga lalu pergi.
"Woi Bang! Ini gue gimana?!" teriak gue ngeliat Bang Dirga yang udah naikin tangga. Bukannya ngasih saran kek malah ceramahin gue. Dasar Kelabang! Main pergi aja, belum selesai curhat juga.
•••••
Keesokan paginya Kevin terburu menuju rumah Keyra, kalau saja Abangnya tadi tidak menggedor-gedor pintu kamarnya, mungkin ia masih tertidur pulas di atas ranjang. Di jalanan Kevin melajukan motornya secepat mungkin, tidak memperdulikan orang-orang yang mengoceh karena ia kebut-kebutan.
Dan saat sudah sampai di rumah Keyra, ternyata gadis itu sudah menunggunya di depan gerbang dengan muka asamnya. Seperti habis makan permen asem.
"Gak usah kek gitu mukanya. Cepetan keburu telat." Kevin memerintah.
"Ck, lo yang ngaret b**o. Pokoknya kalo telat ini gara-gara lo ya!" Keyra merasa jengkel.
"Nggak usah ngomel, Nih pake," Kevin menyodorkan helm pada Keyra. Keyra pun memakai helm yang diberikan Kevin.
"Naik," titah Kevin.
"Iya sabar." jawab Keyra lalu naik ke motor Kevin.
Sebelum Kevin melajukan motornya, ia menarik kedua tangan Keyra agar melingkar di pinggangnya. Keyra mengernyitkan dahi bingung.
“Eh ni anak ngapain?!” batinnya.
"Pegangan, biar gak jatuh" kata Kevin lalu melajukan motornya.
“a***y, kenapa gue deg-degan gini sih” batin Keyra lagi.
Mereka sampai di sekolah tepat pukul 07.30, dalam artian mereka terlambat 30 menit. Kevin memberhentikan motornya di depan gerbang sekolah. Keyra pun panik dan langsung turun dari motor Kevin.
"Yah telat, mampus gueeeee. Aduh! Pak Suki, bukain dong gerbangnya! Vin gimana iniiii. Mana pagi ini harus ngumpul tugas sejarah."
Keyra sudah berteriak sambil berusaha melompat-lompat di depan gerbang. Kevin hanya menatapnya dengan wajah santai. "Vin, kok lo tenang gitu sih?! Kita telat woi. TELAT."
"Ya terus? Orang udah ditutup juga gerbangnya."
"Pake nanya lagi, lo cari cara kek biar kita bisa masuk. Ini salah lo juga!" Keyra kesal memanyunkan bibirnya dan duduk di depan gerbang, mirip seperti gembel. Kalau bukan karena tugas sejarah ia tidak akan sepanik ini.
Kevin menatap Keyra, entah kenapa tiba-tiba ia jadi tersenyum geli melihat tingkahnya. "Ikut gue!" seru Kevin.
Tanpa banyak bicara, Keyra mengikuti langkah Kevin. Entah mau dibawa kemana, ia mengikut saja. Ternyata Kevin membawanya ke belakang sekolah. Mereka berhenti didepan sebuah tembok.
"Naik," katanya.
"Naik? Tembok setinggi ini, mana bisa Kevinnnnn." rengek Keyra.
"Gue bantuin naik, pas lo udah diatas gue nyusul. Terus ntar gue bantuin lo turun."
Dengan segala kepasrahannya, Keyra mengikuti perintah Kevin. Begitu Keyra sudah berada di atas, Kevin segera naik dan berhasil menuruni tembok. Keyra masih berada di atas, menatap ngeri ke bawah.
"Buruan turun. Betah amat disitu?"
"Serem Vin,"
Meskipun Keyra suka berbuat onar dan kadang galak sama semua orang, tetap saja dia perempuan. Ada beberapa hal yang membuatnya takut. Apa jadinya jika dia jatuh? Lalu mati dengan mengenaskan?
Kevin menatapnya jengah, rasanya ia ingin meninggalkan gadis itu. Tapi ia tak sejahat itu, bagaimana pun juga dia adalah pacarnya. Kalau kenapa-kenapa, Kevin yang harus bertanggung jawab bukan?
“Udah deh, lompat aja nanti gue tangkep. Buruan!”
“Iya-iya gue loncat nih. Tapi ditangkep beneran ya, awas aja kalo nggak! Gue cekik lo!” ancam Keyra. Kevin yang mendengar itu hanya memutar bola matanya.
Gadis itu pun mulai menghitung, “Siap-siap lo, gue mau loncat nih. Bismillah, satu.. dua.. tigaa… AAAAAAAA!!”
“EHHH TUNGGU DUL—…”
GUBRAKK!
Kevin belum sempat berada di posisi siapnya tapi Keyra udah main loncat aja. Akibatnya mereka sama terjatuh. Keyra jatuh menindih tubuh Kevin. Haha, empuk sih tapi kasian Kevin. Sedangkan Kevin, ia meringis karena tertimpa tubuh Keyra yang lumayan berat.
Keyra membuka matanya saat ia tak merasakan rasa sakit sedikitpun. Dan ia menyadari kalau ternyata ia berada diatas tubuh Kevin. Jarak mereka sangat dekat. Keyra terdiam sesaat, seolah ia sedang terhipnotis oleh wajah Kevin.
"Woi, ngapain bengong? Berat anjir. d**a lo nempel sama d**a gue nih, geli tau gak! Buruan bangun." ujar Kevin menyadarkan Keyra. Gadis itu pun segera bangun dari posisinya.
Saat kesadarannya sudah kembali, Keyra langsung menginjak kaki Kevin sekuat tenaganya. "Dasar cowok m***m!" Keyra menyumpah serapahi Kevin.
"Heh enak aja lo ngatain gue cowok m***m. Bilang makasih Kek."
"Hm. Makasih. Untung gue gak kenapa-kenapa" sahut Keyra.
"Iyalah, lo sih enak jatuhnya empuk. Lah gue??"
"Ya itu derita lo." Setelah mengucapkan kalimat itu Keyra pun segera pergi meninggalkan Kevin yang masih meringis kesakitan.
"Dasar cewek aneh! Udah ditolongin juga. Sakit anjirr," gerutunya.
"Nyebelin! Dasar m***m! Ngapain juga dia pake ngomong kayak gitu!" Keyra ngomel-ngomel sendiri mengingat kejadian tadi.
Kevin yang berjalan di belakang Keyra pun menggelengkan kepalanya pelan. Ada apa dengan gadis itu? Kenapa dia berbicara sendiri? Apakah dia sudah gila? Pantas saja dia tidak tahu caranya berterimakasih.
Mereka berjalan dalam diam. Tiba-tiba, terdengar deheman seseorang. Langkah mereka terhenti lalu beralih menatap ke asal suara. Disana Pak Deni menatap mereka dengan tajam.
"Mampus, Pak Deni" ucap Keyra menahan nafas saat melihat Pak Deni berjalan mendekat. Keyra melirik Kevin sekilas, wajahnya terlihat datar. Rasanya ia ingin memukul kepala Kevin, bisa-bisanya ia sesantai itu.
"Kalian telat?"
"Enggak Pak, kita cuma kesiangan." jawab Kevin.
"Sama aja dodol," sahut Keyra.
"Tumben kalian telat," Pak Deni menaikkan sebelah alisnya.
"Namanya juga manusia Pak, pasti pernah salahkan?" Keyra berbicara.
"Kalau begitu, sekarang kalian bersihkan sampah-sampah yang ada di taman belakang sekolah."
"Yahh Pak jangan gitu dong, serem ah. Disana kan sepi bikin merinding gitu. Ngepel lantai aja deh Pak."
"Yaudah, kalau gitu kalian silahkan ngepel setiap koridor di sekolah ini."
"ENGGAK PAK! Dia aja yang ngepel. Saya bersihin taman aja." sambar Kevin cepat.
"Dasar kalian ini banyak nawarnya. Kalau begitu hukuman saya tambah. Habis bersihin taman, sepulang sekolah kalian rapihkan buku di perpustakaan." tegas Pak Deni kemudian pergi.
Keyra dan kevin saling melempar tatapan tajam. "Ini semua gara-gara lo," ketus Kevin.
"Kok gue sih? Lo yang lelet bawa motornya. Kan jadi telat, mana dihukum kek begini. Sebel gue tuh."
"Harusnya lo berterimakasih karna gue mau jemput lo. Lah ini malah pakek diinjek segala, dikira gak sakit apa? Untung lo pacar gue, kalo bukan udah gue lempar ke laut biar dimakan hiu."
"Lah, kan lo sendiri yang pengen jemput gue. Lagian wajar gue injek kaki lo, siapa suruh m***m! Udah ah, pusing gue." Keyra melangkahkan kakinya menuju taman belakang sekolah, diikuti oleh Kevin dibelakangnya