Hukuman

3061 Kata
"Sebel deh ahh!" keluhnya lagi sambil mencabuti rumput. Sebenernya sejak tadi Kevin sudah mendengarkan semua keluh kesah yang Keyra ucapkan dari saat pertama kali mulai melaksanakan hukuman sampai sekarang. Ia masih terus membiarkan gadis itu berbicara sendiri. Keyra tak sadar jika ada sesuatu yang menempel di sepatunya. Kemudian ia merasa aneh dan sontak menoleh. "AAAAAAAA!!!!" pekiknya histeris saat melihat seekor kodok menempel disepatunya. Spontan ia loncat dan memeluk lengan Kevin dengan sangat erat membuat dedaunan kering ditangan Kevin beterbangan kemana-mana. "Heh, lo kenapa sih?!" "A-ada kodok kevinnnn! Gue takut!!!!" teriaknya ketakutan jijik, meski masih memeluk lengan Kevin. "Kodok sanaaaaaa gue benci sama lo. Kodok jelek, jangan deket-deket ihhh. Lo budeg ya...huaaaa!!" Keyra semakin jingkrak-jingkrak saat kodok itu bergerak mendekat. "Bhahaha, badgirl tapi sama kodok aja takut," Kevin terbahak, lalu kakinya bergerak untuk menendang kodok itu jauh-jauh. Setelah kodok itu pergi, Keyra mengembuskan nafasnya merasa lega dan terdiam beberapa saat. "Masih betah meluk lengan gue?" Sontak Keyra langsung melepaskannya, "Paan sih, gue refleks tau." hardiknya. Kevin terkekeh, kemudian ia berjalan mendekat ke arah Keyra. Keyra yang menyadari itu langsung berjalan mudur tapi ketika dia mundur, ada pohon. 'Loh, sejak kapan ni pohon ada disini? Aduhh!!' seru Keyra dalam hati. "L-lo mau apa?" Kevin tak menjawab, lalu ia menatap intens kedua manik mata Keyra. Ada rasa berdesir di hati ketika ia menatap matanya, rasanya hati Kevin merasa tenang. Tapi kali ini ia juga merasakan perasaan yang aneh, seakan bisa membuatnya merinding aneh saat berdekatan seperti ini. Keyra juga merasakan hal yang sama, saat ini hatinya jadi berdebar lebih kencang karena ditatap oleh Kevin. Keyra semakin merapat ke pohon sedangkan Kevin semakin mendekati dirinya. 'Huwaa!!! Dia mau ngapain sih??? Kok ngedeket gini?? Jangan-jangan dia mau cium gue..OMG...!' batinnya. Keyra pun memejamkan matanya karena takut. “Hahaha... ni anak malah merem lagi... dikira gue mau nyium dia kali” "Aduh, lo gak usah merem gitu. HAHAHA! Gue cuma mau ngambil daun di atas kepala lo." tukas Kevin lalu memundurkan dirinya. Saat mendengar itu, Keyra pun langsung membuka matanya. "Oh, gue kira lo mau mesumin gue kayak tadi" tutur Keyra sok jaim padahal tadi ia sempat berpikir kalau kevin akan menciumnya. Kevin menyentil kuat kening Keyra, "Otak lo kalo ngomong gak ada benernya. Musti dirukiyah deh kayaknya" "Ihhhh sakitt" rintihnya. "Uluh uluhh sakit ya? Mana yang sakit mana??" Kevin langsung mengusap kening Keyra yang kena sentilan tadi dengan lembut. “Dia kesambet demit apa nih?? Kenapa tiba-tiba lembut gini? Gue gak ngerti dah sama sikap lo yang selalu berubah-ubah, Vin. Disaat sikap lo gini, gue jadi makin bingung sama perasaan gue sendiri” "Masih sakit?" Keyra menggeleng. "Yaudah, ayo ke kantin!" Kevin mengambil tas merka lalu menarik tangan Keyra. Keyra tak memberontak, karena dia juga sudah merasa lapar. Bell istirahat berbunyi membuat Nabilla, Dava, dan Gilang sudah berada kantin. "Lo cari tempat gih, biar gue yang pesen," ucap Dava pada Gilang. "Ouhh..Bang Dava coucwit deh," Gilang menyenggol pelan bahu Dava, membuatnya bergidik dan Nabilla hanya terkekeh. Dava memutar bola matanya melihat kekonyolan Gilang dan langsung pergi memesan makan. Lalu Nabilla dan Gilang berjalan ke bangku yang kosong. "Bil, Dava makin ganteng ya?" celetuk Gilang berniat menggoda Nabilla. Nabilla mendongak, "Lah, emang dasarnya Dava ganteng. Kenapa lo? Wah jangan-jangan lo....??? Yahh saingan gue nambah deh." Nabilla langsung terkekeh. "Najis Bil najisss" sarkasnya cepat. Tak lama kemudian Dava datang dengan nampan yang berisikan makanan. Lalu mereka semua menyantapnya. "Eh, si Keyra mana ya? Kok gak nongol-nongol dari tadi. Apa dia gak masuk?" tanya Nabilla. "Oiya, si Kevin juga gak kelihatan batang hidungnya dari tadi. Ye kan?" Gilang menyenggol lengan Dava. "Iya" Dava mengangguk sambil menyendok baksonya. "Misi misi, cogan mau lewat!" seru Kevin yang baru datang. Banyak yang berteriak histeris karena Kevin menggandeng tangan Keyra. Membuat Keyra menghela nafas. Mereka pun ikut duduk bersama Dava, Gilang, dan Nabilla. "Keyra?? Gue kira lo gak berangkat, lo habis dari mana?" tanya Nabilla cepat. "Iya, kenapa bisa barengan gitu?" timpal Dava. "Kita telat, terus dihukum sama Pak Deni." jawab Kevin. "Emang telat berapa menit sih, sampe gak dibolehin masuk kelas??" Gilang bertanya. "30 menit" kini keyra yang menjawab. "Busett, 30 menit??! Hebat lo, budidayakan bro." Gilang menepuk pundak Kevin. Kevin tak memperdulikannya, lalu beralih menatap Keyra. "Lo mau makan apa? Biar gue pesenin." tanya Kevin perhatian, sedangkan teman-temannya tersenyum geli dibuatnya. "Nasi goreng, cilok, sama minumnya es jeruk aja.” jawab Keyra. Kevin pun beranjak untuk memesan makanan. Setelah beberapa menit, Kevin datang membawa makanan. Mata Keyra langsung berbinar dan melahapnya dengan cepat, yang melihat tingkahnya hanya menggeleng. Mereka pun makan bersama. "Sayang kalo makan tuh pelan-pelan, sini aku suapin." Kevin merebut sendok Keyra dan langsung menyuapinya. Keyra hendak protes namun ia urungkan. "Duhh nyamuk amat kita guys," sindir Nabilla. "Sok romatis banget lo Vin," cibir Dava. "Tau tuh, dulu aja suka berantem kalo ketemu." Dava menjitak kepala Gilang, "Lo gimana sih?? Kan tak kenal maka tak sayang." Dava terkekeh. "g****k! sakit woii" Gilang mengusap kepalanya. Kevin dan Keyra pun hanya menggeleng. Tiba-tiba Nabilla jadi menundukan kepalanya lesu sambil mengudak-udak sisa kuah baksonya. "Yang udah kenal lama malah gak sayang-sayang," gumam Nabilla. Tanpa sadar semua orang mendengar kalimatnya. Karena suasana jadi hening, Nabilla pun mendongakan kepalanya. Semua tatapan tertuju pada dirinya. "Apa?" ucap Nabilla polos. Sedetik kemudian tawa Keyra langsung pecah, ia tertawa sekencang-kencangnya bahkan banyak pengunjung kantin yang memperhatikan dirinya. Dan mungkin ini adalah pertama kalinya Keyra tertawa seperti ini setelah sekian lamanya. “Akhirnya gue bisa liat lo ketawa” batin Kevin. "Hahahaa, sabar ya Bil sabar." Keyra menepuk-nepuk pundak Nabilla. "Dav, Nabilla ngode tuh. Gak peka amat jadi cowok elah. Kasian dah sahabat gue lu gantungin mulu. Kalo lo gak mau, gue kasih aja nih Jaenab ke tukang seblak perempatan jalan, wkw." Nabilla langsung menyubit lengan Keyra karena merasa malu Keyra berucap begitu pada Dava. Nggak sakit sih cubitannya, palingan yahh cuma ungu-ungu janda gitu. "Mampus lo," Kevin ikut tertawa. "Gue tikung juga nih Nabillanya. Ye gak Bill?" Gilang mengedipkan matanya pada Nabilla. Dava yang tau itu langsung menyikut perut Gilang. "Dasar jomblo!" "Lo juga jomblo, Nyet!" "Gak. Bentar lagi gue sama Nabilla!" sungut Dava. "Makanya gercep o'on. Keburu disamber orang." balas Gilang. "Oke, bener! Bill, aku sayang kamu. Kamu juga kan? Bill, ayo kita pacaran." Dava tersenyum menatap Nabilla. Gadis itu menghembuskan nafas lega. "Bil, jawab tuh" Keyra menyenggol Nabilla. "Gak usah Bil, sama Aa' Gilang aja," Gilang menggoda Nabilla dan langsung ditatap tajam Dava. "Bill??" "Eh iya, Billa mau kok pacaran sama Dava!" Nabilla mengangguk malu. "YESSS!" Dava berteriak heboh. "Yaelah! Pada pasangan. Dedek gimana Bang," ujar Gilang menyandarkan kepalanya di pundak Kevin. Kevin langsung menoyor kepalanya kuat. "Najis lu ah! Jauh-jauh sono dari gue!" "Jahatt, kok kamu kasar sih mas. Aku tuh lagi baper," Gilang memukuli bahu Kevin dengan gaya centilnya. "b**o! Pantes gak ada cewek yang mau sama lo. Tingkah lo kayak cabe beneran." ledek Dava. "Tau. Pacaran sama tiang listrik aja sono," timpal Keyra membuat semuanya tertawa. "Nasib jomblo gini amat, yaelah. Gue lompat dari gedung sekolah juga nih.." "Sono!" seru mereka bersamaan lalu tertawa. Semuanya tertawa dan Gilang pun ikut tertawa. Semoga saja tidak ada yang menganggu kebahagiaan mereka, iya semoga saja. Selepas memanjakan perut di kantin, kini saatnya Keyra dan Nabilla kembali ke kelas mereka. "Bill, gue kebelet nih. Gue mau ke toilet dulu," ujar Keyra. "Gue temenin!" seru Nabilla. "Gak usah. Lo langsung ke kelas aja, kalo udah ada guru bilangin gue lagi di toilet." kata Keyra lalu pergi meninggalkan Nabilla. Gadis itu pun mendengus kemudian melanjutkan langkahnya menuju kelas. Di toilet, Keyra berdiri di depan cermin lalu membasuh wajahnya. Ia menatap dirinya sendiri. "Delio Kevin Alexander, pacar pertama gue yang nggak gue harapin sama sekali. Tiba-tiba datang di kehidupan gue dan hampir buat jantung gue selalu jedar jedor gak jelas disaat tertentu." "Gereget gue liat sikap lo yang selalu berubah-ubah, Vin. Kadang cuek, ketus, lembut, nyebelin, romantis, ahhh ya gitulah. Apa jangan-jangan lo itu power ranjes? Aduhh sebenernya perasaan gue ini kenapa sih." Setelah lama ia mengoceh sendiri dengan bayangannya di cermin, Keyra membenarkan dasinya yang terlihat sedikit miring. Lalu ia pun membuka pintu toilet dan hendak keluar. Namun langkahnya terhenti karena melihat ada seseorang yang berdiri didepan pintu toilet. "Aldo..." Keyra mengernyit bingung. "Halo, Keyra" sapanya tersenyum. "Ngapain lo disini?" "Eumm ngapain ya? Lo maunya gue ngapain?" jawab Aldo malah balik nanya. 'apaan coba maksudnya??' batin Keyra "Gila lo, Minggir gue mau ke kelas." Aldo menarik tangan Keyra yang hendak pergi. Kemudian ia mendekatkan bibirnya ditelinga Keyra. "You have to feel my misery" bisiknya. Tubuh Keyra langsung menegang saat mendengar bisikan Aldo, merasa kaget sekaligus bingung. “hahh?? penderitaan? Maksudnya???” tanya Keyra dalam hati. Kemudian Aldo tertawa, "Hahaha, gak usah serius gitu. Gue bercanda kok." jelasnya terlihat santai. Keyra bernafas lega, ternyata cuma bercanda. " Haha. Gue kira apaan, abis lo ngomongnya bikin merinding sih." Keyra mencoba tertawa. "Kalo gitu gue balik ke kelas dulu ya. Dahh, cantik!" Aldo mengedipkan matanya sembari melambaikan tangan kemudian pergi. “we just wait for the right time” Aldo sambil tersenyum miring. ••••• -XII MIPA 4- Terlihat semua murid tengah sibuk berkutat dengan alat tulisnya sambil memperhatikan penjelasan guru di depan. Terkecuali Dava, bukannya memperhatikan ia malah sibuk memainkan game di handphone-nya dari bawah meja. "Ternyata matematika gampang juga ya, kalo kita perhatiin dengan serius. Pantesan lo suka banget matematika." bisik Gilang pada Kevin. Kevin pun tersenyum cerah. "Nyet, perhatiin tuh! Jangan mainan hp mulu." Gilang menyenggol lengan Dava. "Paan sih? Percuma juga gue perhatiin, gak bakalan paham gue nya." ketus Dava tanpa menoleh. "Dava! kenapa kamu melihat ke bawah terus? Ada apa dibawa??" cetus Bu Tari tiba-tiba. Dava terkejut mendengarnya dan hampir saja ia menjatuhkan handphone-nya. Kevin dan Gilang menertawainya pelan. "E-eh anu Bu.. ituu s*****a nenek moyang saya kejepit resleting, makanya saya ngeliat kebawah terus." jawaban Dava berhasil membuat semua murid lainnya tebahak. Sungguh alasan yang tak masuk akal bukan? "Semuanya diam!" sentak Bu Tari. Hening seketika. "Kamu ini ngaco ya. Sekarang kamu kerjakan soal no 5 di papan tulis, cepat!" perintah Bu Tari. Dava yang terlihat panik tetap maju dan mencoba mengerjakan soal itu. Ia sama sekali tak tahu cara mengerjakannya, bahkan ia baru melihat soal yang seperti itu. Akibatnya Dava hanya berdiri mematung saja didepan kelas. "Kevin, coba kamu bantu Dava." kata Bu Tari. Kevin segera maju dan mengerjakan soal itu dengan mudahnya. Semua siswa terperangah melihat kemahiran Kevin mengerjakan soal yang mereka anggap itu sangat sulit. Bahkan Bu Tari juga memuji Kevin karena jawabannya tepat. "Good Job, Kevin. Lalu kenapa kamu malah menyia-nyiakan kesempatan ikut olimpiade matematika??" "Males," Bu Tari menghela nafas pelan mendengar jawaban Kevin yang sangat singkat, padat, dan jelas itu. Kadang ia berpikir, apakah keturunan Alexander sifatnya memang begini?. Tak jauh beda seperti saat ia mengajar kakaknya Kevin dulu. "Ya sudah, kalian berdua boleh duduk" Tak lama setelah itu bell pulang sekolah pun berbunyi. Semua murid bersorak gembira dan segera mengemas barang-barangnya. "Baiklah anak-anak, kita sambung di pertemuan selanjutnya. Kalau begitu kalian boleh pulang." ujar Bu Tari lalu meninggalkan kelas. Saat Kevin cs berjalan keluar dari kelas ternyata sudah ada Keyra dan Nabilla yang menunggu didepan kelas mereka. "Eh ayang beb, pulang yukk!" ajak Dava yang langsung diangguki semangat oleh Nabilla. "Key gue duluan ya!" pamit Nabilla sambil melambaikan tangan. Keyra pun tersenyum dan membalas lambaian tangan Nabilla. Setelah Nabilla dan Dava pergi, Keyra beralih menatap Kevin. "Yukk.." ajak Keyra. "Kemana?" jawab Kevin. "Ke perpustakaanlah, gimana sih!" "Ke KUA aja gimana?" goda Kevin. Keyra sempat tersenyum kecil kemudian memalingkan wajahnya ke samping menyembunyikan pipinya yang merona. Entah kenapa gombalan receh Kevin mampu membuatnya jadi blushing seperti ini. Apakah dia baper??? Kevin terkekeh, "Nggak usah diumpetin gitu. Pipi lo udah kayak kepiting rebus tuh,"ia mencubit kedua pipi Keyra dengan gemas, sedangkan yang dicubit hanya diam membeku. Keyra tak percaya jika ada laki-laki lain yang mencubiti pipinya selain papanya dulu. "Ehem, gak usah mesra-mesraan gitu. Masih ada gue disini" Gilang berasa jadi patung pancora. "Ganggu lo. Lagian ngapain masih di situ? Balik sono." usir Kevin. "Naseb jomblo emang nyesek nyesek nyosss gini yak, yaudah gue balik dulu, males ngliatin orang pacaran." Setelah itu Kevin menarik tangan Keyra, oh bukan.. lebih tepatnya menggandeng tangan Keyra. Keduanya sama-sama berjalan menuju perpustakaan karena masih mempunyai utang satu hukuman lagi. Keyra sedang fokus menata rak buku yang lumayan berantakan, ya kalian taulah bagaimana anak sekolah sini jika sudah meminjam maka akan mengembalikannya di sembarang tempat. Mungkin jika ada kamera pasti Keyra sudah melambaikan tangannya sejak dari tadi. "Ra, bantuin naruh di rak atas dong," ucap Kevin yang sedang memunggungi Keyra sambil mengulurkan buku. Keyra langsung menerimannya dan menaruh di tempat yang dimaksud Kevin. Saat Kevin memberikan uluran ke dua, ia merasa tak ada respon dari cewek itu. Kevin membalikan badannya, ia terkekeh saat melihat Keyra sedang jinjit-jinjit karena saking tidak sampainya untuk meletakkan buku itu. Tanpa aba-aba, Kevin berdiri dibelakang Keyra dan langsung mengangkat badan Keyra. Bukannya naruh buku, justru Keyra malah diam. Dia kaget karena badannya tiba-tiba diangkat oleh Kevin. Hening seketika... Keyra menoleh ke arah Kevin, wajah mereka berjarak sangat dekat sekali. Bahkan Kevin bisa merasakan hembusan nafas keyra yang mulai sudah tidak beraturan. Mau gak mau, terjadilah adegan saling tatap seperti di taman belakang sekolah waktu itu. Mata Kevin tertuju pada mata Keyra yang hitam pekat namun sangat indah itu. Lagi-lagi ia merasakan perasaan aneh itu. Keyra masih sibuk dengan pikirannya. Ia baru sadar jika wajah tampan kevin ini ternyata melebihi Lee Min Hoo.....menurutnya. "Pangeranku..?" tanpa disadari Keyra mengucapkan kata itu. Kevin menahan tawanya lalu menurunkan tubuh Keyra. "Pangeranku?" ulang Kevin sengaja untuk menggoda Keyra. Apakah ia mengucapkannya dengan sengaja atau tidak sengaja? "Ah, pangeranku? Siapa pangerannya? Mana? Ganteng gak? tanya Keyra kelabakan sambil menolehkan kepalanya ke seluruh arah. Kevin tertawa kencang melihat tingkah Keyra. Bagaimana tidak? Tingkahnya yang salah tingkah itu membuatnya imut dilihat. "Lucu banget ya emang?" Keyra menatap Kevin dengan sebal. "Iyalah lucu, elo gemesin gitu." Kevin kembali tertawa. Keyra merutuki ucapannya didalam hati. Bisa-bisanya ia berucap seperti itu? Oh, ayolah Keyra kau ini kenapa? Alhasil Kevin jadi ketawain lo habis-habisan kan. Lalu Keyra melihat ada tumpukan kertas HVS disampingnya, sebuah ide terlintas di otak cantiknya itu. Ia menyumpal mulut Kevin dengan kertas itu saat sedang menertawainya. "Hahaha, makan tuh kertas! Enak kan? Mau lagi?" kini giliran Keyra yang menertawai Kevin. "Eh anjirr, dikira mulut gue lobang tikus apa?? Wah bener bener gak bener nih! Sini Ra, jangan kabur lo" Kevin berlari mengejar keyra yang sudah melongos duluan. "Ahahaaa makanya jangan rese. Sini kejar kalo bisa!" Keyra menjulurkan lidahnya. "Awas aja kalo ketangkep huh!" Mereka terus kejar-kejaran di koridor tanpa memperdulikan sebagian murid yang masih ada kegiatan ekstrakurikuler d sekolah. Mereka menatapnya iri. Kevin terus berusaha mengejar Keyra dengan gencar layaknya tom & jerry. GUBRAK.!! "Awhhh..!" Keyra meringis. Ia memengangi lututnya yang terasa perih. Tak berdarah sih, hanya sedikit tergores saja. Namun itu terasa sakit bukan? Kevin membelalak kaget melihat Keyra tersungkur di lantai. Ia segera membantu keyra untuk berdiri. "Ampun dah Ra, makanya jangan lari-lari! Lo kira ini pilem india? Jatoh kan jadinya!" ketus Kevin menatap Keyra dengan nada khawatir. "Yaelah, udah jatoh juga masih aja diomelin. Ini gara-gara lo juga tauk.." "Iya-iya gue minta maaf," Kevin berjongkok membenarkan ikatan tali sepatu Keyra. "Aaa so sweatt!" pekik para wanita di lapangan. "Aaa Kevin romantis banget dah, kapan gue digituin.." Semua pekikan menjijikan itu masuk kedalam gendang telinga Keyra, membuatnya jengah. Lalu ia menatap horor ke arah lapangan membuat para wanita yang memuji Kevin langsung bungkam. Enak saja, sudah tau ada ceweknya masih aja ngrebutuin pacar orang. Bagaimanapun juga Kevin itu pacarnya. Ia tak suka dengan ucapan mereka tadi. Astaga, sejak kapan Keyra jadi cemburu begini? HAH cemburu?? Yang benar saja. Ok, sepertinya ia sudah mulai tak waras. "Masih sakit?" Kevin bangkit lalu mengusap pelan kepala Keyra. "Dikit," "Mau pulang?" Keyra mengangguk lalu Kevin menggenggam tangan Keyra. "Tapi mampir beli es krim dulu." pinta Keyra melas dan Kevin langsung mengangguk nurut. Akhirnya motor Kevin berhenti dengan mulus di kedai es krim dekat taman. Lalu keduanya turun dari motor. "Kenapa nggak beli di mall aja?" tanya Kevin, Keyra menggeleng. "Kenapa? Lagian isini lebih murah, rasanya sama enaknya kok kayak di mall." Kevin mengangguk paham, ternyata Keyra bukanlah orang yang suka menghambur-hamburkan uang. Ia bersyukur atas itu. "Yaudah yuk!" Keyra menarik tangan Kevin untuk mengantri. Saat sedang mengantri, Kevin melihat segerombolan anak laki-laki yang sedang menongkrong sambil terus memperhatikan Keyra. Kevin tau kemana arah mata mereka melihat. Tentu saja ke arah paha Keyra, roknya yang bisa dibilang memang sangat pendek membuat paha putih nan mulus Keyra terekspos kemana-mana. Sebuah rejeki nomplok bagi para pria yang melihatnya, termasuk Kevin sendiri. Tapi untung saja Kevin bisa mengendalikan sifat bejatnya itu. Ia tak akan merusak seorang perempuan sebelum menghalalinya...ciahhh. Kevin yang tadinya berdiri di sebelah kanan Keyra pindah jadi di sebelah kiri Keyra dan langsung merangkul pinggang Keyra posesif. Sejurus kemudian ia bisa mendengar keluhan para lelaki itu saat tontonan gratis mereka terhalang oleh Kevin. "Ada apa?" tanya Keyra yang bingung atas sikap Kevin yang tiba-tiba begini. "Gak ada apa-apa," Keyra hanya ber-oh-ria dan kembali fokus mengantri. Saat sudah tiba gilirannya Keyra segera memesan. "Bang, es krim stroberinya dua ya pakai toping stroberi campur coklat di atasnya." "Neng Keyra kan?" tebak abang itu. "Eh, masih ingat saya Bang?" "Iyalah. Masa saya lupa sama Neng, Neng kan langganan saya dulu. Ini pacarnya ya?" "Iya Bang ini pacar saya, Kevin." Kevin hanya tersenyum saat diperkenalkan Keyra. "Wah, inisialnya sama ya. Ganteng Neng pacarnya." entah kenapa Kevin merasa bulu kuduknya berdiri. Keyra hanya tersenyum, lalu Abang itu membuatkan es krim pesanannya. "Dua es krim kesukaan Neng Keyra!" seru si Abang menyerahkan es krim pesanannya. Setelah Kevin membayarnya mereka baranjak dari sana dan mencari tempat duduk. Keduanya duduk di bangku taman yang bewarna putih itu sambil menikmati es krimnya masing-masing. "Udah gede makannya jangan belepotan kayak anak kecil!" tutur Kevin mengelap bibir keyra dengan jarinya. Keyra memberhentikan aktivitasnya dan terbengong. Ternyata dibalik sifatnya yang ketus dan galak itu Kevin juga memiliki sifat yang lembut dan perhatian. Duh Kevin, gue baper nih lama-lama! "Udah ah, apaan sih!" Keyra menepis tangan kevin, ia tau pipinya sedang merona saat ini. "Kok apaan sih? Gue bersihin tuh dari daripada ntar dirubungin semut. Dan masih mending gue bersihinnya pake tangan bukan pake bibir." "m***m!" Kevin terkekeh. "Lain kali kalo pake rok jangan yang kependekan," peringatnya. "Kenapa?" Keyra menoleh. "Lo gak paham?" Keyra menggeleng, Kevin mendengus. "Gue gak suka berbagi milik gue sama orang lain." cakap Kevin blak-blakan. Lihatlah, pipi Keyra kembali bersemu merah seperti tomat. Ia bahkan berpikir, sejak kapan Kevin jadi posesif begini? Bikin gemes dah. Setelah melahap habis es krimnya keyra membuang bekas wadah es krim ke tempat sampah lalu kembali duduk di samping Kevin. Matanya tertuju pada sebuah pemandangan yang membuat hatinya merasa iri. Terlihat seorang anak kecil bersama dua orang paruh baya sedang bermain bersama sambil tertawa bahagia. Seolah ia jadi teringat masa-masa saat keluarganya masih utuh dulu. "Lo liatin apa?" tanya Kevin. Keyra diam tak bergeming. Kemudian Kevin mengikuti arah pandang Keyra. “Gue paham sekarang” batin Kevin. Sebuah cairan bening mengalir membasahi pipi Keyra, ia benar-benar merasa sangat sedih. "Heyy, jangan nangis" Kevin mengusap air mata Keyra yang mengalir lalu menyandarkan kepala Keyra di pundaknya. "Hikss..gu gue-" "Syuttt jangan nangis. Lo masih punya gue disini. Gue gak akan tinggalin lo." 'Tuh kan! Argghh.. kenapa gue jadi lemah gini kalo liat dia nangis?? Jujur, gue gak tega. Oke, untuk sementara gue bakal berusaha bikin lo ngak sedih lagi,' ucap Kevin dalam hati. Keyra merasa sedikit tenang, pundak Kevin yang atletis membuat Keyra betah berlama-lama untuk menyandarkan kepalanya di sana. 'Nyaman' pikirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN