2 Minggu kemudian...
Kevin semakin hari semakin dekat dengan keyra dan selalu memberinya perhatian membuat Keyra semakin nyaman dengan Kevin. Perlahan Keyra benar-benar mengakui kalau ia jatuh cinta sungguhan pada Kevin. Baginya Kevin adalah orang yang selalu ada untuknya. Dan belakangan ini entah kenapa Keyra merasa sudah tidak kesepian lagi.
Sedangkan Kevin, awalnya ia sangat membenci Keyra, karena itulah ia menjadikannya taruhan. Namun dengan seiring berjalannya waktu, Kevin mulai merasakan sesuatu yang aneh. Berkali-kali Kevin menampik perasaan itu tapi tidak bisa. Sejak ia tahu semua permasalahan Keyra, Kevin selalu berusaha membutanya agar tidak bersedih dan merasa kesepian lagi. Dan dari situlah Kevin mulai merasa ada sesuatu yang tumbuh di dalam hatinya ketika melihat Keyra. Mungkin kah Kevin jatuh cinta pada Keyra?
CEKLEK!
Pintu rumah terbuka dan menampilkan sosok pria tampan nan gagah disana. Keyra mengukir senyum bahagianya.
"AAAAAAAA aku seneng banget kamu dateng!" Keyra langsung bergelayut manja di lengan Kevin.
"Hai Sayang," Kevin mengacak rambut Keyra.
"Huh tumben manggilnya sayang?"
"Emang nggak boleh ya?"
"Nggak, wleek!" Keyra menjulurkan lidahnya.
"Yaudah besok aku cari sayang aku yang lain aja."
"Ihhhh kamuuu!" Keyra mengercutkan bibirnya.
"Haha, nggak deng cuma bercanda tauk"
"Hmm, kamu ngapain ke sini? Perasaan aku nggak ngundang kamu,"
"Yaudah aku pulang lagi." Kevin berbalik badan hendak melangkah.
"EHHH JANGAAN." Ia menarik tangan Kevin.
"Haha, gabakal lahh lagian siapa juga yang rela ninggalin bidadari cantik kaya gini" ia menyentil hidung Keyra dengan gemas.
"Gomball dasaarr woo.." Keyra senyum-senyum salting.
"Beneran sih woo.." Lalu Keyra menarik tangan Kevin masuk kedalam rumah dan menyuruhnya duduk di sofa ruang tamu.
"Sepi amat, orang rumah kemana?"
"Oh ituu, Bibi pulang kampung karna anaknya sakit. Terus kalo Pak Maman aku suruh nganterin Bibi ke kampungnya." jelas Keyra.
"Jadi kamu sendirian?" Keyra mengangguk. Sekali lagi Kevin mengamati seisi rumah, kesan pertama yang ia dapat adalah sepi.
"Kamu pasti tanya-tanya kenapa gak ada orang tua aku di rumah kan?" Kevin tersenyum tipis menatap Keyra.
"Emang sebenernya ada apa sih, Ra?" Kevin menatap Keyra, menunggu. Sebenarnya ia tak ingin membahas masalah ini sebab akan membuat gadisnya merasa sedih. Walaupun ia sudah tahu semuanya, ia ingin dengar dari mulut Keyra sendiri.
"Kalo belum mau cerita gapapa," Kevin berucap lagi, membuat Keyra menoleh menatap Kevin serius.
Keyra menghela nafas pelan dan membenarkan posisinya senyaman mungkin. "Jadi Vin, dulu itu aku punya keluarga yang harmonis, mama dan papa sayang sama aku. Namun sayangnya itu semua berubah sejak..." Keyra menelan ludahnya, sesak rasanya harus mengingat kejadian masa lalu yang sama sekali tak ingin diingat.
"Sejak?"
"Sejak mama meninggal saat aku kelas 1 SMA Vin. Ternyata selama ini mama nyembunyiin rasa sakitnya dari aku dan papa . Sampai mama masuk rumah sakit yang terakhir kalinya pun aku sama papa baru tau kalo mama punya sakit jantung," raut wajah Keyra berubah sedih.
"Setelah kepergian mama, papa aku tetep sibuk dengan pekerjaannya, dia semakin berubah, pulang selalu larut malam bahkan kadang dalam keadaan mabuk, dia jadi uring-uringan sendiri dan mulai kasar sama aku, dia jadiin aku sebagai pelampiasannya, dia selalu bentak-bentak aku, aku sebagai anak cuma bisa nangis liat sikap papa aku yang berubah, seakan aku gak mengenal papa aku sendiri."
"Aku marah dan kesel, aku selalu ngebantah semua ucapan papa dan mulai bersikap gak sopan terus jadi bandel seperti sekarang. Itu karena aku pengen dapet perhatian dari papa, hikss"
Keyra menangis sesenggukan, rasa kecewa, marah, dan rindu tersirat di wajahnya. Kevin masih setia mendengarkan Keyra bercerita.
"Dan yang terakhir, papa pergi ke Jerman buat ngurisin bisnisnya, aku ditinggal sendirian Vin, setelah mama meninggal papa juga malah ikutan pergi, sampe sekarang pun dia belum balik. Ketika semua anak bisa merasakan kasih sayang seorang ayah aku malah ditelantarin sama papa aku sendiri hikss, miris banget."
Kevin mendekap erat tubuh Keyra hingga wajah cantiknya mencium d**a bidang Kevin. Keyra menangis dipelukan Kevin, terlalu berat menahan rindu pada sosok ayah yang bahkan sosok itu mungkin tak merindukannya. Kevin tahu ini sangat berat bagi Keyra.
'sekali lagi maaf, karena udah jadiin lo taruhan. Sebagai permintaan maaf gue janji gak bakal ninggalin lo,' ujar Kevin dalam hati.
"Kamu gak sendirian Ra, ada aku disini. Jadi ini alasan kenapa nakal di sekolahan, apa gak ada cara lain? gak harus jadi bad girl juga kan humm..?"
Keyra mendongak dan melepaskan pelukannya, "Semua udah aku coba tapi gak ada yang berhasil,"
"Terus mau sampai kapan kamu begini?"
"Entah. Sampai papa sadar mungkin, tapi aku bakal berusaha ngerubah sikap aku demi kamu." Keyra mencoba tersenyum, ia tak ingin terlihat lemah didepan orang yang ia sayangi.
Sayangi?? Ya, entah sejak kapan Keyra sudah mencintai Kevin dan tak mau kehilangan dirinya.
"Nggak ada orang tua yang nggak peduli sama anaknya Ra, mungkin keadaan yang mendesak papa kamu buat pergi ninggalin kamu. Dia itu kerja, dia cari uang, supaya kebutuhan kamu terjamin. Itu berarti papa kamu masih mikirin kamu, Ra. Dia sayang sama kamu. Jangan benci dia, coba buat maafin dia."
"Iya Vin, sayangnya papa nggak pernah mikirin perasaan aku, dia cuma mikirin uang dan uang. Aku udah coba gak benci dia, ngomong itu emang gampang tapi ngelakuinnya gak semudah itu." Keyra memalingkan wajahnya dari Kevin.
"Ra, aku tau emang gak mudah, semua orang juga punya masa lalu. Seburuk apa pun masa lalu, itu tetap masa lalu, yang bisa kita lakukan sekarang adalah ngejalanin yang ada saat ini."
Keyra kembali menatap Kevin sambil tersenyum, "Thanks, udah nyemangatin aku, Vin. Aku sayang kamu. jangan pernah tinggalin aku."
"Aku juga sayang sama kamu, iya aku janji." Keyra kembali memeluk erat tubuh kevin.
"Udah ya gak usah melow-melow lagi, sekarang kita cari makan. Rasanya cacing-cacing di perut aku lagi pada mewek nih gara-gara kagak dikasih makan." canda Kevin membuat suasana diantara mereka kembali menghangat.
"Hahaha bisa aja, Iya juga sih kenapa tiba-tiba kita sok melow gitu ya?" jawab Keyra diiringi tawanya.
Keyra beranjak dari sofa yang didudukinya dan berlalu menuju dapur. Kevin mengikuti langkah gadis itu. Keyra membuka kulkas, disana terdapat beberapa bahan masakan yang mungkin bisa digunakan untuk mengisi perut mereka.
"Mau ngapain?" tanya Kevin melihat Keyra yang mengeluarkan beberapa bahan masakan.
"Ya masaklah, pokoknya malam ini kita makan disini." putus Keyra.
"Gak usah masak deh, kita atau makan diluar aja atau mau pesen? Takutnya nanti aku malah keracunan lagi makan masakan kamu." kata Kevin meremehkan.
"Eh.. nggak ya Vin kamu itu sesekali harus makan masakan sehat ala princess Keyra yang cantik jelita ini. Jangan yang instan mulu, aku gak mau nanti punya suami penyakitan... ngrepotin tau gak." oceh Keyra yang mulai memotong-motongi sayuran.
"Cieee udah ada planning sampe sana ya," Kevin terkekeh, ia menyandarkan badannya di depan kulkas.
"Ishh apaan sih! Diem deh, orang jelek dilarang berisik."
"Cie cie ada yang ngambek ni ye, colek dulu ahh biar kagak ngambek"
"Aaaa Vin stop, geli ih. Jangan ganggu aku lagi masak." Kevin masih mencolek-colek pinggang Keyra.
"Vin please! Diem atau ikut aku potong sekalian tangan kamu!" tukas Keyra mengintimidasi.
"Hehe iyadeh.. ternyata seorang badgirl bisa masak juga ya?" Kevin tak percaya.
"Gimana keliatannya aja." Keyra lalu melanjutkan acara masaknya. "Lagian dimana-mana cewek itu harus bisa masak. Kalo nanti aku udah jadi istri kamu dan nggak bisa masak, terus nikah buat apa? ML doang? Masakan istri itu bisa bikin suami tambah cinta." celoteh Keyra membuat Kevin mengukir senyumannya.
"Sekarang udah pinter ya gomblain pacar. Coba aja kalo aku punya sayap, pasti udah terbang,"
"Yahh jangan terbang dong. Kalo kamu terbang aku disini sapa siapa?" sahut Keyra.
"Tuhh kan makin pinter gombalinnya" Keyra hanya tersenyum lebar sampai deretan gigi putihnya terlihat.
"Sini aku bantuin masak," Kevin hendak memegang pisau namun ditepis oleh Keyra.
"Nggak perlu. Mending kamu duduk aja deh. Aku nggak yakin kamu beneran mau bantuin aku."
"Emang mau masak apa?"
"Tumis kangkung sama ayam goreng. Gimana?"
"Mau mau!" sambut Kevin riang. Sudah lama lidahnya tidak mengecap makanan ndeso tapi nikmat itu.
"Aku serius, yakin gak mau dibantuin?" tanya Kevin lagi.
Keyra menggeleng, "Ntar kalau kamu bantuin, malah kacau rasanya. Kalo kamu nggak mau duduk, cukup diem aja disitu temenin aku. Jangan ngoceh mulu!"
Kevin mengendus pasrah daripada nanti malah kena semprot macan garang, ia lebih memilih diam disamping Keyra dan menyaksikan kelihaian gadisnya dalam memasak.
Tahap demi tahap Keyra lakukan dengan baik. Sambil menunggu tumis kangkungnya matang, Keyra beralih menggoreng ayam. Kevin dapat mencium aroma masakan keyra yang berhasil membuat perutnya kembali bergemuruh. Sepertinya Kevin akan semakin kagum pada Keyra, ia pandai memasak ditambah lagi pemikirannya yang cukup dewasa.
"Harum banget aromanya," komentar Kevin sambil mengendus-endus. "Pacar aku emang pinter masak!" pujinya tulus.
Pujian Kevin melambungkan perasaan Keyra. Ayam yang sedang digoreng Keyra nyaris saja melompat dari wajan saking salah tingkahnya karena dihadiahi pujian. "Finally!" ucap Keyra senang ketika masakannya sudah jadi.
Ia segera memindahkannya di piring saji. Makanan telah siap dihidangkan, Keyra membawanya ke meja makan dibantu dengan Kevin. Lalu mereka menyeret kursi masing-masing dan duduk berhadapan.
"Eitt, Mau ngapain??!" Keyra menepis tangan Kevin yang hendak mengambil ayam.
Kevin menaikan satu alisnya menatap Keyra. Apakah ia tak boleh ikut menikmati makanannya? Yang benar saja! Bukankah tadi dia sendiri yang bilang ingin memasak untuk dirinya?
"Kamu pimpin do'a dulu, baru kita makan." tegur Keyra.
Kevin berangsur senang, ia semakin merasa kagum dengan Keyra. Mengetahui sifat Keyra yang seperti ini, menurutnya panggilan seorang 'bad girl' tidaklah cocok untuk Keyra sandang.
Setelah mereka sudah puas menikmati makan malamnya, Keyra segera mengambil piring-piring kotor dan membawanya ke wastafel. Kevin mengikut di belakang. "Biar aku bantuin." kata Kevin
Fine, kali ini Keyra tak bisa menolaknya. "Yaudah kamu ngeringin sama nyusun aja, biar aku yang cuci."
Mereka mulai berbagi tugas sambil sesekali bermain busa sabun yang menimbulkan gelak tawa di dapur. Kevin menyukai kebersamaan ini hingga Kevin berhenti hanya untuk menatap Keyra yang tertawa lepas di sampingnya.
Rasa bersalahnya seolah hilang begitu saja ketika melihat gadisnya tertawa, sebuah kebahagiaan yang hakiki melihat Keyra tertawa riang. Rasanya Kevin tak ingin memudarkan tawa itu dari wajah cantik Keyra. Bagaimana jadinya jika Keyra tahu tentang taruhan itu?
•••••
"Kevin pulang!" teriak Kevin memasuki rumahnya dengan senyuman tersungging di wajahnya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Ria dan Jonathan bersamaan, mereka sedang duduk di ruang tengah. Kevin terkekeh lalu mencium pipi mommy nya dan ikut duduk bersama mereka.
"Darimana kamu jam segini baru pulang?" tanya Ria menyelidik.
"Biasa Mom ngapelin pacar. Kevin kan sekarang udah gak jomblo lagi nggak kayak Bang Dirga." Kevin tersenyum cerah dan menyenderkan tubuhnya di sofa.
"Oh ya, ngomong-ngomong Bang Dirga kemana Mom? Tumben nggak keliatan batang hidungnya sama sekali." Kevin mengamati sekitar.
"Abang kamu nginep di rumah temennya." Kini Jonathan berucap dan Kevin hanya ber-oh-ria.
"Kamu sudah yakin berpacaran dengan gadis itu?" tanya Jonathan setelah menyeruput kopinya.
Kevin mengernyit karena tiba-tiba daddy nya membahas soal Keyra. Sedangkan Ria menatap suaminya bingung. Yakin nggak yakin sih, karena dulu tujuan awal Kevin berpacaran dengan Keyra hanya untuk taruhan. Tapi lambat laun Kevin merasa tidak ingin jauh-jauh dari Keyra.
"Kok ngomongnya gitu emang ada apa, Dad?" Ria bertanya.
"Kata Pak Burhan (kepala sekolah Pelita Jaya) dia adalah anak yang suka berbuat ulah di sekolahan. Daddy jadi ragu"
Ria beralih menatap Kevin, "Apa itu benar, Kevin??"
“Jadi Daddy udah cari tahu tentang Keyra?” batinnya.
Kevin bisa melihat raut wajah mommy nya yang seperti sedang kecewa mengetahui itu. "Mom, Dad, dia gadis yang baik kok. Dia punya alasan melakukan itu semua."
"Kalau begitu ceritakanlah alasan itu"
"Iya, ceritakanlah Nak" desak Ria.
Kevin mengambil nafas dalam-dalam sebelum akhirnya bercerita. Sebenarnya Kevin tidak sopan karena menceritakan permasalahan keyra pada orang lain, tapi Kevin terpaksa melakukannya. Sepertinya hati Ria mulai tersentuh mendengarkan cerita dari Kevin.
"Kasihan dia," ujar Ria di akhir cerita Kevin.
"Hmm...rupanya begitu ya, yasudah kalau gitu jaga dia baik-baik jangan sampai kamu menambah beban hidupnya." Jonathan menasehati.
“Shitt! Kenapa omongan Dady persis kayak yang diucapin Bang Dirga waktu itu. Bikin gue galau aja.” rutuk Kevin.
"Iya-iya. Yaudah Kevin ke atas dulu. Good night Mom, Dad!" Kevin beranjak menaiki tangga.
•••••
Pagi ini Keyra berjalan menyusuri koridor sekolah dengan headset terpasang di telinganya. Berusaha menulikan pendengarannya dari cibiran para siswi disekitarnya. Walaupun tak mendengar, ia bisa melihat dengan matanya.
Keyra sama sekali tidak perduli dengan mereka, membuang-buang waktu saja. Toh mereka akan capek sendiri. Lagipula ini adalah resiko berpacaran dengan Kevin yang notabenenya most wanted dambaan siswi satu sekolahan.
Keyra terus melanjutkan langkahnya sambil bersenandung menikmati alunan musik yang merambat masuk di gendang telinganya. Tak terasa ia sudah sampai didepan kelasnya.
"Masih pagi udah mesra-mesraan aja Neng, Bang. Persis kayak monyet lagi gelanjutan di pohon pisang lo, Bill. Haha.." ejek Keyra berakhir dengan gelak tawanya, ia melepaskan headset yang ia pakai.
"Ihh Sayang, masak aku dikatain monyet sih. Emang mirip ya sama muka aku?" rengek Nabilla manja.
"Nggak kok Sayang, si Keyra nya aja tuh yang baper liatinnya. Ngiri kalik karena nggak diapelin sama Kevin" Dava menyolek dagu Nabilla. Nabilla tersenyum lebar.
"Sembarangan lo. Anti baper-baper club gue mah." sahut Keyra.
"Alay lo Key. Kayak Gilang hahaha" celetuk Nabilla.
"Wah-wah apaan nih?! Kenapa gue dibawa-bawa." protes gilang yang baru datang.
"Eh Gilang?" Nabilla nyengir tanpa merasa bersalah. "Tumben, dalam rangka apa lo ke kelas gue?"
"Gue tau! Lo pasti lagi ngegebet anak kelas gue kan? Hayo ngaku lo" tebak Keyra.
"Haha, mana ada cewe yang mau sama cowok modelan kayak si Gilang." Dava tertawa mengejek.
"Diem lo, Kunyuk. Lagian gue tuh masih pengen menikmati masa jomblo gue." sombong Gilang.
"Helehh.. bilang aja lo kagak laku." tukas Keyra.
"Tau tuh, lo jomblo udah dari kapan?" tanya Nabilla.
"Udah dari lahir Gilang jomblonya, Bill." sahut Dava.
"Jahatt! Jomblo ngamuk nih!"
"Haha, udah guys, kasihan sahabat gue kalo dibully mulu." sambung Dava.
"Ya terus lo ngapain ke sini Lang?" Nabilla kembali bertanya.
"Oh ini.. Kevin nitipin makanan ini buat Keyra. Katanya buat lo sarapan." Gilang menyodorkan paper bag yang ia bawa pada Keyra.
"Emang dia kemana? Kenapa malah dititipin sama lo?" Keyra berbalik menanya.
"Dia lagi ngumpul sama anak-anak basket, ada hal penting yang harus diomongin."
"Ngomongin soal tanding besok ya?" sambar Dava.
"Tanding?" sahut Keyra dan Nabilla hampir bersamaan.
"Iya, jadi besok sekolahan kita bakal tanding sama SMA Ganesa." jelas Gilang, yang lainnya mengngguk paham.
Dava dan Gilang berpamitan untuk kembali ke kelasnya karena bell masuk sudah bunyi. Setelah itu Keyra dan Nabilla pun sama-sama masuk kedalam kelas.
Keyra mengeluarkan buku pelajarannya, begitu juga dengan Nabilla. Saat ia menaruh paper bag dari Kevin di laci meja, tangannya memegang sebuah kertas. Keyra mengerutkan keningnya, perasaan ia tak pernah meninggalkan benda apapun di dalam laci. Bahkan ia selalu memastikan lacinya kosong sebelum pulang sekolah. Jadi tidak mungkin kertas itu sampah miliknya.
Keyra mengambil kertas itu, ternyata ada coret-coretan disana. Ia mulai membacanya, siapa tau ada jejak sang pemilik sampah itu. Jika benar ada ia akan mengembalikan sampah itu pada pemiliknya dan menyuruhnya membuang sendiri ke tempat sampah. Namun kening Keyra mengerut saat membaca tulisan itu, wajahnya terlihat tegang dan serius, ternyata itu bukanlah sekedar coretan.
"Lo kenapa Key? Itu apa?" tukas Nabilla sambil menunjuk membuat Keyra tersentak.
Ia segera meremas kertas itu dan menyembunyikannya dari Nabilla. "E-eh, gapapa kok Bill. Ini ada orang iseng buang sampah di laci gue."
"Ohh.." Nabilla mangut-mangut percaya dan kembali memfokuskan perhatiannya pada guru di depan kelas. Keyra bernafas lega, untung saja sahabatnya itu percaya-percaya saja.
's****n!' umpat Keyra dalam hati.
•••••
Sampai saat ini mood Keyra juga belum membaik. Mungkin karena kertas teror s****n itu yang tak tahu siapa pengirimnya.
"Key, awas jangan ngelamun. Kesambet setan baru tau rasa lo." Nabilla menyenggol bahu keyra.
"Hah..ehh a-apa?" tanyanya cengo.
"Ra, kamu kenapa sih kok kayak orang linglung gitu? Terus tuh bakso kenapa dianggurin biasanya langsung ditilep." tanya Kevin disamping keyra.
"Gue heran lo ngelamunin apasih? Tubuh lo disini tapi pikiran lo disana," sambung Gilang.
"Entahlah, mood gue jelek hari ini." Keyra berdiri dan beranjak meninggalkan kantin.
"Ra, mau kemana?" Kevin berlari menyusul Keyra.
"Si Keyra kenapa?" Tanya Dava pada Nabilla. Nabilla mengedikkan bahunya.
"Mau ke kelas? Aku anterin." kata Kevin.
Keyra tak menjawab ucapan Kevin, ia malah mendengus melihat tatapan tajam nan sinis para siswi yang menuju padanya karena Kevin sedang menggandeng tangannya.
"Kevin kok pakek gandeng segala sih."
"Bukan muhrim. Lepas itu heh!"
"Kevin kok mau sih sama si cabe."
"Selera most wanted disini rendahan ternyata."
Awalnya Kevin acuh dengan semua cibiran yang ia dengar, namun kalimat terakhir itu berhasil membuatnya berhenti melangkah.
Rendahan katanya? Siapa yang terima gadisnya dibilang rendahan? gak ada.!
"Jaga omongan lo!" Kevin berbalik badan. Ia mendapati seorang siswi dengan rok pendek dan baju super ketat hingga lekuk tubuhnya terlihat begitu jelas. Polesan dibibir yang terkesan menjijikan baginya, dan bedak yang mungkin ia pakai selusin perhari. Jadi siapa yang rendahan disini?
"Kenapa? Gue ngomong fakta kalik." perempuan itu berjalan mendekat.
"Apa untungnya jadian sama cewek bar-bar kayak gini iyuhhh, gue saranin mending sama gue, penampilan gue lebih perfect, body gue lebih OK dan beda jauh sama cewek model tampang kayak dia," ujarnya.
"See.. bahkan sekarang lo yang terlihat rendahan!" ketus Kevin.
"Guee??! Cewek yang lo gandeng itu yang rendahan! Dipelet apaan sih sampe segitu nempelnya?" kata Mauren.
Kevin menatap sengit wanita ondel-ondel yang ada didepannya ini, cewek b***h yang udah ngatain Keyra rendahan.
"Sok cantik! Mikir sono sama dosa lo yang numpuk, pamer badan! Biar apa? dilihat banyak orang? Ck..lebih rendahan dari pengemis!" semprot Kevin sakratis.
Keyra hanya menatap dua orang yang sedang berdebat itu, ia bungkam melihat Kevin yang sangat membelanya dari gadis penggoda yang sedari tadi mengatainya rendahan.
"Eh.. lo!" ia menujuk wajah Keyra. "Berdukun dimana lo, masih jaman ya pakek pelet-peletan segala?! Dasar cabe murahan!"
Kevin mengangkat tangannya hendak menampar pipi Mauren, namun pergelangan tangannya dicekal oleh Keyra. Lalu Keyra menurunkan tangan Kevin perlahan, ia maju satu langkah didepan Kevin.
"Lo!" pekik Keyra menunjuk wajah Mauren.
"Besok-besok kalo pakek lipstik ngaca! Udah kayak drakula habis minum darah! Gak malu diliatin banyak cowok gans disini?! Untung Kevin gak demen sama tampang macem lo!"
"Yuk Sayang anterin ke kelas." ucap Keyra pada Kevin.
Kevin tersenyum kemudian mengangguk, ia hampir lupa jika Keyra adalah seorang badgirl di sekolahan, sehingga ia bisa setegas ini pada seseorang. Sebelum melangkah Keyra kembali berbalik dan berjalan mendekati Mauren.
Plakk!
"Itu buat lo yang udah ngatain gue rendahan!" tuturnya penuh penekanan. Kevin menatap tak percaya pada tingkah yang gadisnya perbuat.
Mauren meringis kesakitan sambil memegangi pipinya yang terasa panas. Disisi lain, Mauren sedang mengutuk Keyra. Ia berjanji akan membalas perbuatan keyra yang sudah mempermalukannya lebih kejam lagi.
"Tunggu aja tanggal mainnya, Keyra!" seringai devil muncul dibibirnya.
Kevin masih menggandeng tangan mungil Keyra, tak habis-habisnya ia menyungging senyum di wajahnya.
"Kamu gila?" tanya Keyra tiba-tiba.
"Kamu ngatain aku gila?"
"Abisnya kamu senyum-senyum sendiri, kan aku jadi takut."
Kevin langsung mencubit pipi Keyra. Enak saja orang setampan dirinya dibilang gila. Hanya orang gila seperti Keyra yang menyebutnya gila. Dan Keyra memang gila. Kalau Kevin yang gila, lalu kenapa dia mau berpacaran dengan orang gila seperti Kevin? Nah kan, siapa yang gila sekarang?
•••••
Keyra kembali menengok jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Ishh Kevin mana sih?? Ambil mobil doang lamanya minta ampun!"
Keyra menghentak-hentakan kakinya kesal, sudah 15 menit ia menunggu Kevin di depan sekolahan namun yang ditunggu tak kunjung datang. Ditambah lagi paparan panas matahari yang membuatnya mulai merasa gerah.
Jika saja ia tidak lupa mengisi bensin mobilnya, ia tak akan berangkat sekolah dengan kendaraan umum dan berakhir seperti ini. Sebenarnya Keyra ingin pulang naik taxi atau bus tetapi Kevin memaksanya pulang bersama karena takut terjadi sesuatu dengan Keyra. Sangat berlebihan bukan?
Tinn tinn..
Terdengar suara klason mobil yang membuat keyra menoleh dan tersenyum cerah. Namun seketika senyum itu memudar, saat ia mengetahui itu bukanlah mobil Kevin. Keyra yakin itu bukan mobil Kevin tapi kenapa mobil itu berhenti tepat didepannya?
Setelah kaca mobil terbuka, Keyra bisa melihat siapa laki-laki tampan yang mengemudikan mobil itu."Bang Dirga?"
"Hai cantik" sapanya lalu keluar dari mobil.
"Abang kok sampe sini?"
"Kampus gue deket sini, tadi pas gue lewat gak sengaja ngeliat lo lagi ngedumel, yaudah gue samperin."
"Owalahh" jawab Keyra sambil mengikat rambutnya kebelakang.
“cantik emang” batin Dirga.
"Nungguin jemputan ya? Nebeng gue aja." tawar Dirga.
"Nggak deh Bang, makasih. Gue lagi nungguin Kevin kok. Duhh lama amat sih." Keyra tersenyum lalu mengercutkan bibirnya. Dirga terkekeh, menurutnya Keyra terlihat lebih imut saat begitu.
Tinn tinn tinn tinnn!
Seseorang membunyikan klakson mobil dengan tak sabaran, Keyra dan Dirga menoleh pada mobil yang berhenti dibelakang mobil Dirga. Saat orang itu keluar dari mobil, Keyra ataupun Dirga sama-sama memutar kedua bola matanya malas.
"Bang mobil lo gue tendang juga nih, ngalangin jalan gue tau gak!" omel Kevin.
"Paan sih lo, gaje." sarkas Dirga.
"Tunggu, lo ngapain disini? Sama pacar gue lagi. Jangan bilang lo lagi cari dedek gemes yang lo bilang waktu itu, dan dia adalah pacar gue? Wah tega lo Bang nikung adek sendiri." cerocos Kevin panjang lebar, rasanya Dirga ingin menyumpal mulut adiknya itu dengan sepatu.
"Sini Ra, jangan deket-deket Bang Dirga. Dia rada nggak waras." Kevin menarik tangan Keyra.
"Gak waras gigi lo beranak, orang gue cuma kasian liat cewek lo sendirian tadi." Dirga menjitak kepala Kevin.
"Adaww sakit b**o!"
"Berani ya ngomong kasar sama gue,"
"Tapi lo kan juga sering ngomong kasar."
"Kapan? gaada!" bantah Dirga.
"Adaa! Pas lo lagi main ML. Lo absen tuh seisi kebun binatang." Dirga nggak terima Kevin bilang dia pernah ngomong kasar.
"ML apa? gue kan masih suci" pikiran Dirga udah jauh, dia mikirin yang iya-iya. Dia kira maksud Kevin itu making lope. Ya walaupun bener sih.
"Gunduk! ML mobile legends, bukan yang lain. Dasar Abang m***m!"
'kakak adek sama-sama m***m' Keyra terkekeh merasa terhibur oleh perdebatan mereka.
"Apaan sih? kan maksud gue, gue masih suci gak pernah main ML." sahut Dirga santai.
"Sok suci! Join grup bokep aja bilangnya suci"
Dirga cengengesan, emang bener soalnya hehe. "Udahlah, gue cabut duluan. Bye Key!" setelah itu Dirga masuk kedalam mobil. Keyra sempat melambaikan tangannya sebelum mobil Dirga melaju.
"Kalian lucu" Keyra tertawa kecil.
"Abaikan. Udahlah buruan masuk." Kevin membukakan pintu mobil. Ketika keduanya sudah memakai sabuk pengaman Kevin segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kenapa gak bilang kalo besok kamu tanding basket?" tanya Keyra melirik kevin disampingnya.
"Kenapa juga harus bilang sama kamu? Kamu mau jualan aqua?" Kevin terkekeh.
Tuh kan, emang dasarnya Kevin itu nyebelin. Dikasih perhatian malah dikatain mau jualan aqua. "Aku tuh pacar kamu, apa aku nggak berhak tau? Kalo aja tadi Gilang nggak bilang mungkin besok aku bakal jadi satu-satunya cewe bodoh yang gak tau kalo pacarnya mau tanding."
"Bukannya pasangan kekasih itu harusnya nggak saling menyimpan rahasia? Seremeh apa pun rahasia yang kamu sembunyiin dari aku, itu tandanya kamu masih ragu sama aku Vin. Apa sebenernya kamu itu nggak sayang sama aku?" Wajahnya terlihat sedih, matanya sudah berkaca-kaca.
Kevin menatap Keyra merasa bersalah, ia tak menyangka Keyra menganggap serius candaannya dan telah membuat gadisnya sedih hampir menangis.
"Ra aku sayang sama kamu kok, jangan nangis dong. Aku tadi tu cuma becanda. Sebenernya aku juga mau ngasih tau kamu dari kemarin tapi aku lupa. Jangan nangis, aku nggak bisa liat kamu sedih" ujar Kevin memohon, tangan kanannya masih memegang stir mobil sedangkan yang kiri digunakan untuk mengusap pipi Keyra.
"Bener cuma lupa?"
"Iya bener, Sayang" Kevin mengelus kepala Keyra.
"Yaudah aku minta maaf, aku jadi nuduh kamu yang nggak-nggak" Keyra menundukkan kepalanya.
"Iya gak papa kok. Makasih udah perhatian sama aku."
Keyra tersenyum senang menatap Kevin. Lalu ia mengerahkan jari kelingkingnya pada Kevin. "Janji ya jangan ada rahasia diantara kita." ujarnya kembali bersemangat.
Deg!
Hati Kevin rasanya ingin berhenti berdetak. Ia sedikit terlonjak saat mendengar penuturan Keyra. Bagaimana ia bisa berjanji, sedangkan ia sendiri sedang menyimpan rahasia yang bahkan bisa membuat hubungan mereka rusak.
"Janji," Kevin menyatukan jari kelingking miliknya dan milik Keyra.
•••••
-Keyra POV-
"Makasih ya udah nganterin aku pulang." Gue nyengir manis ala gue.
"Gak usah sok manis gitu. Udah sono masuk terus mandi. Jangan lupa makan."
Anjir dikatain sok manis lagi, emang manis kalik, mata kamu kemana sih Vin. "Ck, iya iya bawel!" gue langsung balik badan dan pergi.
"Tunggu," Kevin narik tangan gue.
"Kenapa?"
"Nggak mau peluk aku dulu?" Pftt, gak ada angin gak ada hujan kenapa tiba-tiba dia minta peluk? Apa jangan-jangan dia nyesel karena udah ngatain gue sok manis, hihhii.
"Emang boleh??"
"Nggak,"
Njirrr!. Pengen gue gampar rasanya.
"Karena aku yang bakal meluk kamu."
Gue tercengang ketika Kevin langsung peluk tubuh gue. Gue bisa hirup aroma parfum ditubuhnya yang bisa ngebuat gue kangen setiap saat.
Vin, lo tau nggak sih. Semenjak lo hadir, gue jadi punya warna baru dalam hidup gue. Malam gue yang biasanya gue isi dengan kesedihan, sekarang rasa-rasanya gue gak bisa isi lagi dengan kesedihan itu. Karena ada lo disisi gue, lo yang selalu kasih gue perhatian, lo yang selalu ada saat gue butuh bantuan lo.
CUP~
Astaga dia cium kening gue! sumpah demi apa dia nyium gue? Gue nggak mimpikan? Eehh, kok gue seneng banget gini? Yaiyalah seneng! Ini pertama kalinya Kevin cium gue omg!
"Yaudah aku balik dulu." Kali ini Kevin berucap lembut. Dia masuk kedalam mobilnya setelah ngacak-acak rambut gue.
"Hati-hati!" gue lambaiin tangan gue.
Setelah mobil Kevin pergi, gue masuk kedalam sambil senyum-senyum sendiri megangin kening gue. Rasanya gue gak pengen cuci muka hari ini haha.
Ketika gue mau buka pintu, ada sesuatu dibawah yang menarik perhatian gue. Sebuah surat berpita merah? Siapa yang ngirim??
Gue ambil kertas itu dan gue tarik pitanya lalu muncullah kalimat demi kalimat yang mulai membuat gue merasa gak tenang.
To: Keyra
TUNGGU PEMBALASAN GUE! GUE AKAN HANCURIN HIDUP LO BEBERAPA HARI LAGI. JANGAN HARAP LO BISA LARI DARI GUE!!!
"Teror lagi?? Hahh apaan sih? Segala pakek neror, dia pikir gue takut apa sama surat murahan begini? s****n!"
Sekarang mood gue bener-bener hilang. Siapa dia berani ngancem gue? b*****t! Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di kepala gue. Mungkin saat ini gue harus lebih waspada dan ekstra hati-hati. Dan sekarang berbagai macam pertanyaan pun bersarang di kepala gue.
•••••
"Dav, pinjem hp lo dong." Gilang yang saat ini tengah berbaring di kasur Kevin menepuk pelan bahu Dava.
"Mau ngapain lo?" tanya Dava seraya menyerahkan ponselnya pada Gilang.
"Hubungin biro jodoh, demi mengakhiri masa jomblo gue." Candaan Gilang membuat Dava melempar Gilang dengan guling. Kevin hanya menatap mereka sambil menggelengkan kepalanya.
Kevin menghela nafas kasar. Ia membaringkan tubuhnya di karpet yang ada di bawah tempat tidurnya. Matanya menatap langit-langit kamar. Entah kenapa tiba-tiba saja ia memikirkan Keyra.
'Kayaknya gue beneran suka sama lo' batinnya.
Tak lama kemudian handphone Kevin bergetar menandakan ada panggilan masuk. Ternyata Aldo yang memanggilnya.
"Hallo." jawab Kevin.
"Hallo bro, tadi kenapa gak ikut latihan sama anak-anak? Udah tau besok kita tanding."
"Ada urusan."
"Urusan apa? Nganter jemput korban taruhan lo? Perasaan gue cuma suruh lo jadi pacarnya bukan supirnya."
"Korban apaan? Ngaco lo!"
"Haha lo lupa? Keyra itu kan korban taruhan lo sama gue."
"Sorry... setelah gue pikir-pikir, kayaknya gue gak bisa lanjutin taruhan lo itu, gue gak mau nyakitin hati dia"
"Kenapa? Katanya lo gak bakal suka sama dia. Ck, terserah lo deh. Yang pasti rencana gue bakal tetap berlanjut meskipun sekarang lo jadi pelindungnya."
"Maksud lo apa?! Jangan macem-macem sama cewe gue!" Kevin mengepalkan tangannya.
"Haha.. Lo gak tau aja kenapa gue pilih dia sebagai taruhan kita. Itu karena gue benci sama dia! Gue akan bikin hidup dia hancur!" jelas Aldo.
"Dan satu lagi, gue saranin lo harus banyak berdo'a dari sekarang. Gue gak jamin Keyra bakal maafin lo setelah dia tau semuanya nanti."
"b*****t! Mau lo apa hah!"
"Nanti lo juga bakal tau. Tunggu aja permainan dari gue."
Tutt tutt...
Sambungan diputus sepihak oleh Aldo.
Kevin mengacak rambutnya frustasi, ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Kevin tidak mau jika Keyra pergi meninggalkannya yang sudah mulai memiliki rasa cinta.
"ANJINGG!!"
"Astaga, Kevin ngumpat?" Dava menoleh saat mendengar Kevin mengumpat.
"Gak baik atuh Mas. Ada apa sih?" sambung Gilang. Kevin mengusap wajahnya gusar lalu menggeleng.
"Udah sih cerita aja. Gue tau lo lagi ada pikiran" ucap Dava disusul anggukan oleh Gilang.
"Hallo para bangsatwann! Raja ganteng datang membawa sedekah untuk rakyat jelata." heboh Dirga yang baru saja masuk di kamar Kevin.
"Ngagetin! Peak lo dasar. Nggak usah teriak-teriak bisa gak?" sewot Kevin.
"Hehe, bawaan dari lahir" Dirga menggaruk kepalanya.
"Dari mana sih lo, kucel amat muka lo kek gembel." ucap Kevin lagi. Dava dan Gilang tertawa melihat penampilan Dirga.
"Kek gembel ya gue? Gue tuh habis muter-muter cari makanan buat ngasih makan curut-curut gue ini. Yaudahlah gue pergi aja, nggak dihargain juga!"
"Eitt, baperan amat sih Bang. Maklumin aja, Adek lo lagi galau tuh mangkanya ngasal jeplak. Siniin makanannya." Gilang menarik kresek yang dibawa Dirga lalu membukanya.
"Wihh pizza! Bagi dong gue juga laper elah." Dava hendak merebutnya namun disangkal oleh Gilang.
"Nggak. Kita dengerin Kevin curhat dulu." ucapnya.
"Gue nggak ngomong mau curhat Nyet!" Kevin melolot kearah Gilang.
"Tinggal ngomong doang apa susahnya sih. Gak ada gunanya juga lo pendem sendiri. Siapa tau kita bisa bantu." sahut Dirga.
"Nah, bener!" timpal Dava.
Kevin menghela nafas pasrah, sepertinya saat ini ia memang butuh teman curhat. Lalu ia mulai meceritakan apa yang sedang mengganggu pikirannya.
"b**o, itu artinya lo beneran jatuh cinta sama dia!" Dirga menanggapi dengan cepat.
"Gue gak nyangka njirr haha. Lo sendiri yang bilang gak bakal suka sama Keyra. Bilangnya, ini-itu. Bukan tipe, bla...bla...bla. Coba ngaca sekarang!" Gilang tertawa.
"Diem lo monyong!" Kevin langsung menyumpal mulut Gilang dengan pizza.
"Slow bro gak usah tensin gitu, kita-kita dukung hubungan lo sama Keyra kok." Dava terkekeh. Kevin hanya mendengus.
"Yoi. Eh btw, emang rencana si Aldo itu apa? Kenapa dia segitunya sama Keyra? Apa mereka berdua pernah punya masalah sebelumnya?" celetuk Dirga membuat semuanya nampak berpikir.
"Gue gak tau, yang gue takutin dia bakal berbuat macem-macem sama Keyra." Kevin sedikit khawatir.
"Mendingan mulai sekarang lo harus bener-bener jagain Keyra deh. Lo tau sendiri kan Aldo orangnya kayak gimana," kata Gilang yang langsung diangguki Kevin.
'Fix, gue udah gak bisa ngelak lagi. Gue emang jatuh cinta sama lo. Gue bakal jadi malaikat pelindung lo,' batin Kevin.