Hari ini sekolah membebaskan para siswa dari pelajaran dan menyuruh mereka untuk menyemangati anggota Tim basket. Sebentar lagi pertandingan basket antara SMA Pelita Jaya dan SMA Ganesa akan segera dimulai.
Dan sejak tadi Kevin tak henti-hentinya menyuruh ini itu pada Keyra, mulai dari beliin aqua, pegangin handuk, bawain ransel, duduk di tempat duduk pemain dan masih banyak lagi. Sejujurnya ia ingin menyusul Nabilla, Dava, dan Gilang di area penonton tapi itu mustahil. Mau sampe nangis darah sekalipun Kevin tetap tidak akan menijinkannya.
"Ra, kamu jangan kemana-mana dan tetep disini. Awas aja kalo kabur pas aku tanding." peringat Kevin.
"Iyaaa, bawel banget sih"
"Do'a in aku kek biar menang, soalnya doa pacar suka mujarab."
"Siapa bilang, yang ada do'a ibu paling mujarab."
"Kan kamu bakal jadi calon ibu dari anak-anak aku." Kevin nyengir. Masih ada waktu 30 menit sebelum pertandingan dimulai, itulah mengapa Kevin menghampiri Keyra, hitung-hitung mencharger baterai dalam dirinya.
"Gombal mulu kamu, udah sana tim kamu lagi latihan tuh. Mereka cape-cape latihan kamu malah enak-enakan disini. Gak kasihan apa," sindirnya.
Kevin menghela nafas, "Semangatin dong, biar tambah semangat."
"Males ah."
Kevin mendesah kecewa, "Yaudah gak papa. Kamu disini aja aku udah bahagia kok. Aku latihan dulu ya," ia berdiri dan melangkahkan kakinya ke lapangan.
"Sayang!!" Kevin berbalik ketika mendengar Keyra memangilnya sayang.
"Semangat ya! Jangan malu-maluin nama sekolah. Pokoknya kamu harus menang, kalo kamu menang aku kasih kamu hadiah," ujar Keyra dengan senyum tulus menghiasi wajahnya.
Hadiah?? Seketika Kevin langsung merasa bersemangat, ia mengacungkan dua jempolnya pada Keyra dan kembali berjalan menuju lapangan.
Kini Tim basketnya sedang sibuk dijelaskan strategi untuk menang oleh guru pelatihnya, Pak Rafli. Kevin mendengarkan arahan dari guru sambil sesekali menatap Keyra yang duduk sendirian di bangku pemain.
"Hai cantik," sapa seorang laki-laki yang menggunakan seragam basket tapi berbeda. Sepertinya dari sekolahan lain.
"Hmm," jawab Keyra malas.
"Kamu anak Pelita Jaya?"
"Liat sendiri lah. Gue pakek seragam sini berarti iya!" jawabnya ketus.
"Ohh, kenalin gue Felix, kapten basket SMA Ganesa," perkenalan Felix diakhiri dengan uluran tangan.
"Keyra," jawab gadis itu.
Disisi lain, Kevin sedang menetralisir rasa panas dingin yang bergejolak ditubuhnya karena melihat interaksi antara dua orang itu.
"Sendirian aja disini? Gak gabung sama temen-temen lo?" tanya Felix.
"Suka-suka guelah. Masalah buat lo??" sahut Keyra sedikit meninggikan nada bicaranya. Keyra merasa risih dengan cowok yang tidak ia kenal ini.
"Jangan galak-galak, makin keliatan cantik loh. Udah punya pacar?"
"Peluit udah bunyi, tanding sana! Gak penting!" usir Keyra.
'Alqueena Keyra Alicia' Felix membaca nam tag di seragam Keyra. Lalu ia pun pergi menghampiri tim basketnya dan memulai pertandingan. Para penonton yang sebagian besar cewek selalu berteriak-teriak saat melihat pangeran mereka mulai menguasai lapangan, siapa lagi kalau bukan Kevin.
Keyra sebenarnya juga agak terkesima dengan penampilan Kevin seperti itu. Bagaimana tidak, jika Kevin sudah memegang bola maka bisa dipastikan 90% masuk. Belum lagi gaya cowok itu yang terbilang cool, jelas saja cewek-cewek pada mupeng liatnya, alias muka pengen.
Kevin masih memantul-mantulkan bola basket sambil menghindari serangan lawan. Ia berpapasan dengan cowok yang tadi mengobrol dengan Keyra. Siapa lagi kalau bukan Felix.
"Jauhin cewek gue!" desis Kevin.
"Cewek?? Ohh.. jadi dia cewek lo?" jawab Felix sambil mencoba merebut bola yang dikendalikan Kevin.
Felix adalah teman seangkatan Kevin saat masih SMP. Bukan teman akrab hanya sekedar kenal saja, tapi ia tau betul bagaimana sifat dan kelakuan Felix sewaktu SMP.
"Cewek lo seksi," ucap Felix menekan pada kata seksi agar mancing emosi Kevin.
"Bacot!"
Kevin mendorong bahu Felix dengan badannya. Untung saja Felix bisa menjaga keseimbangannya agar tidak jatuh. Saat dipikir sudah ada celah, Kevin langsung berlari menuju ring sang lawan dan melakukan lay up. Walau di depannya ada yang menghadang, ia bisa melewatinya dengan gesit. Kevin berhasil memasukan bola kedalam ring. Point pertama dicetak oleh SMA Pelita, Keyra bertepuk tangan kagum baru berapa menit Kevin sudah bisa mencetak point.
"Etdah buset... makin kenceng aja mereka teriaknya." dumel Keyra sambil menutup telinga.
"Besok pada nggak bisa ngomong tuh para alayers, abis suaranya"
Tak terasa SMA Pelita sudah mencetak 3 nilai sedangkan SMA Ganesa masih 2. Lagi-lagi sekolahan Keyra memenangkan pertandingan. Di sisi kanan lapangan terdengar riuh sorakan kemenangan, sedangkan di sisi kiri lapangan pun juga masih setia sorak sorai namun tak seramai tadi, setidaknya sorakan mereka bisa membuat anggota tim basket mereka tidak terlalu merasa sedih dengan kekalahannya.
"Kemenangan ini buat kamu, Ra!" teriak Kevin dari tengah lapangan.
Semua murid terkejut melihat Kevin berteriak. Keyra pun sama namun segera memasang kembali wajah santainya. Kevin datang dengan raut wajah bahagianya karena ia sangat menantikan hadiah yang dijanjikan keyra. Persis seperti anak TK yang akan dibelikan balon. Keyra pun menyodorkan handuk dan minuman pada Kevin.
"Lap-in dong, Ra" pinta Kevin sebelum menengguk minumannya.
"Manja" kata Keyra sambil mengelap keringat di wajah Kevin. Saat Kevin berkeringat seperti ini ia terlihat lebih tampan 10x lipat, membuat Keyra melting menatapnya.
"Widihh selamat bro!" pekik Dava menepuk pundak Kevin.
"Yoi, lo keren tadi," timpal Gilang. Begitu pertandingan selesai, Nabilla, Dava, dan Gilang langsung menyusul Kevin dan Keyra di lapangan.
"Selamat ya, Vin. Lo kapten terdebest deh pokoknya." puji Nabilla.
"Iya thanks, Bill." Kevin tersenyum.
"Oh ya, Ra katanya kamu mau ngasih aku hadiah. Mana??" tagih Kevin.
"Mau hadiah?" Kevin mengangguk.
"Sini deketan" suruh Keyra, Kevin mengernyit bingung lalu maju satu langkah mendekati Keyra.
"Lebih deket lagi," Kevin mengangguk mengikuti perintah Keyra.
"Masih kurang deket Kevinnn.."
Tiga orang tadi menatap Keyra dan Kevin secara bergantian. Mereka penasaran dengan apa yang akan dilakukan Keyra.
"Lagi!" pinta Keyra.
Kevin pun maju terus dan berhenti ketika hidung keyra hampir menyentuh d**a bidang miliknya. Keyra mendongak sambil tersenyum manis sedangkan Kevin menatap Keyra dengan alis terangkat satu seolah bertanya mana hadiahnya. Kemudian Keyra berjinjit dann...
CUP~
Nabilla, Dava, dan Gilang terkejut melihat adegan didepannya. Gilang yang melongo, Dafa yang tak berkedip, dan Nabilla yang langsung panik mencari handphone-nya.
"Momen langka nih. Harus diabadikan!" Nabilla terkekeh.
Setelahnya 5 detik Keyra melepaskan bibirnya yang menempel di pipi mulus Kevin. Ini adalah kali pertamanya Keyra mencium seseorang cowok, ditempat umum pula. Jika sudah sampai seperti ini tandanya Keyra sudah mantap dengan pilihan hatinya.
Tanpa disadari mereka berdua menjadi pusat perhatian di lapangan. Tak jarang orang-orang yang mengambil gambar mereka. Keyra yakin perbuatannya ini akan mengakibatkan dirinya menjadi trending topik selama beberapa minggu kedepan.
Lalu bagaimana dengan Kevin? Bolehkah ia berjoget ria disini sekarang? Jujur saja, ia baper dengan apa yang dilakukan Keyra. Menciumnya ditempat umum dan tanpa memperdulikan pekikkan tak mengenakan dari siswi lain. Fix! Ia benar-benar jatuh cinta dengan taruhannya sendiri. Kevin langsung memeluk lama tubuh Keyra, merasakan ketenangan saat berada didekatnya.
"Vin udah dong peluknya. Gak malu apa diliatin banyak orang?" Keyra berusaha melepas pelukannya.
"Ehem, serasa dunia milik berdua ya!" cibir Gilang.
Kevin pun mengurai pelukannya beralih menatap Gilang, "Ngrusak suasana aja lo!"
"Tau tuh, jomblo emang gitu Vin. Buang aja ke kali" timpal Dava.
"Si Lutung bukannya nyariin gue pacar malah pengen buang gue ke kali! t*i ah." kesal Gilang.
"Udah sih! Mending kita pergi aja, dari pada ganggu mereka disini," urai Nabilla.
"Key, gue sama dua tikus ini duluan ya. Kalian lanjut aja haha" pamit Nabilla sambil menyeret Dava dan Gilang. Mereka pun pergi.
"Gih ganti baju, aku mau ke toilet dulu." ujar Keyra.
Kevin pun mengangguk kemudian mengacak rambut Keyra. Setelah menggendong tasnya, Keyra berbalik dan berlalu pergi. Namun secarik kertas jatuh dari tas Keyra tanpa sepengetahuan gadis itu. Tangan Kevin pun terulur untuk mengambil kertas itu.
"Buat apa coba Rara nyimpen kertas kucel kayak gini di tas?" gumam Kevin santai. Namun sepersekian detik kemudian Kevin membelalakkan matanya tak percaya ketika membaca isi kertas itu.
To: Keyra
TUNGGU PEMBALASAN GUE! GUE AKAN HANCURIN HIDUP LO BEBERAPA HARI LAGI. JANGAN HARAP LO BISA LARI DARI GUE!!!
Kevin mengepalkan tangannya kuat, "b******k! Siapa yang berani-beraninya neror cewek gue!"
"Udah sejak kapan dia kena diteror kayak gini? Kenapa gue gak tau? Dan kenapa dia nggak kasih tau gue?? Dia bodoh apa gimana? Kalo sampe dia kenapa-kenapa gimana? Arhghh.."
Kevin menghela nafas, suasana hatinya sedang bercampur aduk, rasa kecewa dan marahnya beradu menjadi satu.
"Ternyata gini ya rasanya kalo orang yang kita sayang nyembunyiin rahasia dari kita. Berasa nggak nggak dianggep."
•••••
Sesampainya di toilet, Keyra membasuh wajahnya dengan air yang baru saja mengucur dari keran yang ia nyalakan. Terkadang ia senyum-senyum sendiri mengingat kejadian tadi, mungkin jika ada orang lain yang melihatnya mereka akan menganggap Keyra sudah gila.
Setelah mengeringkan tangannya, Keyra berjalan keluar dari toilet. Mungkin menyusul Kevin bukanlah ide yang buruk. Ia memelankan langkahnya saat berpapasan dengan segerombolan cowok yang sedang berjalan di koridor dan ternyata itu adalah, anak Ganesa.
"Mau kemana cantik?" goda salah satu dari mereka.
Keyra tak menjawab dan terus melanjutkan langkahnya namun kini Felix menghalangi jalannya, Keyra ke kiri Felix ikut ke kiri, Keyra ke kanan Felik juga ikut ke kanan.
"Ck, mau lo apa sih?!" ucapan Keyra hanya dibalas dengan senyuman oleh Felix. Entah senyuman macam apa itu, Keyra tak bisa mengartikannya.
Keyra mengernyit bingung saat segerombolan cowok itu langsung pergi begitu saja setelah mendapat tatapan dari Felix, semacam isyarat mungkin? Dan sekarang hanya tersisa Keyra dan Felix di sana.
Kebetulan sekolah sudah sepi karena setelah pertandingan selesai, para siswa lebih memilih langsung pulang dan memanjakan dirinya di rumah.
"Gue anter pulang ya cantik," godanya.
"Sorry, gue gak tahu siapa lo. Minggir, gue buru-buru, pacar gue udah nunggu." sinis Keyra berlalu pergi.
"Sombong banget sih? Jadi pengen cium deh," ucap Felix lalu menarik pergelangan tangan Keyra.
"Eh..lo ngapain?! Lepasin gue" gadis itu meronta. Tapi Felix tidak mendengarnya, ia tetap berjalan sambil menarik tangan Keyra, tenaga cowok itu sangat kuat.
"Lo mau bawa gue kemana? Lo mau culik gue hah!" teriaknya meskipun sia-sia.
Felix melepaskan tangan Keyra saat mereka sudah sampai di taman belakang sekolah, Felix sengaja mencari tempat yang sepi. Banyak pepohonan yang mengintari halaman ini namun hampir tidak ada tumbuhan bunga bunga, ditambah lagi desiran angin yang menerpa kulit semakin membuat Keyra merinding.
"Lo mau apain gue hah!" Felix tak menggubris perkataan Keyra, lalu ia mendorong tubuh Keyra hingga mepet ke tembok. Felix mendekati Keyra dengan tatapan tajam dan menunjukan senyum bejatnya ke arah Keyra.
"Heh lo mau ngapain, hah? Lepasin gue! Tolong... tolongg...!" teriak Keyra.
"Mau minta tolong sama siapa? hah? disini gak ada siapa-siapa, Sayang." Felix menyeringai.
's**l!' batin Keyra.
"Jangan macem-macem, lepasin gue, gue janji ntar gue kasih lo duit yang banyak."
"Gue gak butuh duit. Gue cuma mau lo," Felix membelai rambut Keyra.
Keyra tak bisa bergerak karena Felix telah mengunci tubuhnya, ia memejamkan mata saat merasakan tangan kekar Felix sedang menjalari lehernya. Tak terasa air mata sudah mengalir di pipinya.
"Hey, jangan nangis dong Sayang. Kita kan mau sen—"
Bugh.!
Felix tersungkur di atas tanah karena seseorang telah memukulnya. Darah segar mengalir dari sudut bibir Felix.
"A-aldo?" ucap Keyra tebata.
-Flashback On-
Seorang cowok berjalan santai di koridor sekolah dengan tangan yang dimasukan ke dalam saku celana sambil mengunyah permen karet. Entah berapa balon yang sudah ia letupkan dari permen tersebut.
Dia adalah Aldo. Dalam perjalanannya menuju parkiran, Aldo melewati taman belakang sekolah dan melihat ada dua orang sedang berduaan. Aldo berhenti sejenak dan terus memperhatikan mereka sampai tiba-tiba Aldo melihat seseorang yang sepertinya ia kenal. Ternyata benar ia mengenali orang itu, dia adalah Keyra.
Tapi sedang apa dia disini? Dan bukankah itu Felix si kapten Ganesa? Aldo pun mulai bertanya-tanya dan akhirnya ia mengambil posisi sembunyi yang aman untuk mencari tahu apa yang sedang mereka lakukan disana. Sampai akhirnya Aldo bisa mendengar percakapan mereka.
"Jangan macem-macem, lepasin gue, gue janji ntar gue kasih lo duit yang banyak." ucap Keyra, Felix tertawa sumbang.
"Gue gak butuh duit. Gue cuma mau lo," Felix membelai lembut rambut Keyra.
Aldo merasa terhibur melihat Keyra yang sangat ketakutan. Pasalnya saat ia mengirim teror pada Keyra, ia tak pernah melihat reaksi Keyra yang sangat ketakutan seperti ini. Ia melihat Felix yang mulai bersikap kurang ajar pada keyra dan sepertinya Keyra tidak bisa melawan.
"Bantuin gak ya?" gumam Aldo. "Ah, ngapain juga gue bantuin mangsa gue." Aldo mengedikan bahunya acuh lalu kembali berjalan.
"Eh tapi..." Aldo berhenti melangkah dan berbalik.
"Gue tolongin aja deh. Kayaknya bakal lebih seru kalo gue kesana." senyum miring tercetak di bibirnya. Aldo berjalan menghampiri keduanya setelah membuang permen karet yang ia kunyah.
Bugh.!
Felix tersungkur di atas tanah karena Aldo telah memukulnya. Darah segar mengalir dari sudut bibir Felix.
-Flashback Off-
"A-aldo?" ucap Keyra terbata.
Belum sempat Felix berdiri, Aldo sudah menarik kerah baju Felix dan memberinya pukulan lagi. Kepala Felix sudah terasa pusing akibat hantaman dari Aldo, ia tidak bisa membalas perbuatan Aldo.
"Pergi dari sini atau gue laporin ke pihak sekolah lo!" tegas Aldo kemudian mendorong tubuh Felix.
"s****n! Awas lo." Felix bangkit kemudian pergi sambil memegangi wajahnya yang memar.
"Key? Lo gapapa kan?" tanya Aldo memegang bahu Keyra.
"Ng-nggak papa," jawabnya masih menangis. "Tenang aja lo aman kok, dia udah pergi."
"Makasih," ucap Keyra sambil mengusap air mata. Aldo mengangguk lalu mengelus kepala Keyra.
Bugh.!
Kevin berhasil memukul Aldo yang sudah berani menyentuh pacarnya. Aldo sedikit terhuyung saat mendapat pukulan dari Kevin di wajahnya. Kevin beralih menatap Keyra yang habis menangis.
"Ra, kamu kenapa nangis? Kamu diapain sama dia?! Kenapa tangan kamu sampe merah gitu??" Kevin melihat pergelangan tangan Keyra yang memerah akibat cekalan Felix. Belum sempat Keyra menjawab, Kevin sudah mengambil tindakan dengan gegabah.
"b******k!"
Bugh.!
Kevin kembali memukul Aldo lagi, kali ini dibagian perut, "Lo gangguin cewe gue kan hah?!"
"Vin! Udah stop! Dia nggak ganggu aku" Keyra berusaha menarik tangan Kevin namun gagal karena Kevin sudah mencengkram kerah seragam Aldo.
Aldo sengaja tidak melakukan perlawanan karena itu akan menguntungkan baginya, dimana Keyra akan memihaknya daripada Kevin.
"Astaga Aldo!!" pekik Keyra panik, ia langsung menghampiri Aldo yang tersungkur di tanah dan membantunya berdiri.
"Kamu apaan sih, Vin! Gak usah pakek nonjok segala bisa gak sih?" bentaknya.
"Ra, kok kamu malah bentak aku sih?! Jelas-jelas dia udah ganggu kamu."
"Udahlah Key, gue gak papa kok," lirih Aldo yang langsung dihadiahi tatapan tajam Kevin.
"Udah gimana? Jelas-jelas dia tuh salah udah mukul lo!" tukas Keyra.
"Oh.. jadi sekarang kamu lebih belain dia dari pada aku?" sahut Kevin.
Keyra menghela nafasnya, "Vin aku udah bilang, Aldo enggak gangguin aku."
"Terus kalian ngapain berduaan ditempat sepi kayak gini!" Kevin mengeraskan rahangnya, kesabarannya sudah habis, ia memutuskan pergi tanpa menunggu jawaban dari Keyra.
Keyra menahan tangan Kevin, "Vin kamu salah paham. Aku nggak bermaksud—.."
"Apa? bilang aja kamu udah berpaling ke dia kan?" tuduh Kevin.
"Kamu ngomong apa sih, aku udah bilang kamu salah paham, Vin."
"Salah paham apa lagi Ra? Udah jelas dia tadi pegang-pegang kamu dan kamu masih bilang nggak ganggu? Oh atau kamu kesenengan dipegang dia? Ternyata kamu nggak jauh beda sama cewek lainnya Ra." ucap Kevin tajam. Emosi telah menguasai kesadarannya.
Keyra menatap Kevin tak percaya, ucapan Kevin yang melecehkan berhasil membuat hatinya sakit. Kevin menganggap dirinya sebagai cewek rendahan yang senang disentuh banyak cowok.
"Dan tentang teror itu, kenapa kamu nggak bilang sama aku? Terus apa gunanya aku disini sebagai pacar kamu. Kamu sendiri yang bilang nggak akan ada rahasia diantara kita. Munafik!" lanjutnya. Keyra tercengang.
Aldo tersenyum puas melihat perdebatan dua orang di depannya. Ingin sekali Aldo membongkar rahasia Kevin tentang taruhan itu namun ia berpikir ulang, tak akan seru jika Keyra mengetahuinya sekarang.
'Ke-kenapa Kevin bisa tau?’ batin Keyra.
Keyra menarik nafas dalam-dalam berusaha menahan rasa sakit hatinya, air matanya perlahan kembali mengalir membasahi pipi.
"Udah puas belum ngehina aku? Mumpung aku masih disini. Ternyata seburuk itukah penilaian kamu sama aku Vin?" Kevin tersentak, apalagi ketika melihat tatapan terluka Keyra.
"Asal kamu tahu, tadi Aldo yang nolongin aku karena aku digangguin sama Felix. Kalo nggak ada Aldo, aku nggak tau kejadiannya bakal gimana. Mungkin aku udah diapa-apain. Dan tentang teror itu.. aku sengaja nggak kasih tahu kamu dulu. Karena aku pikir itu cuma orang iseng, aku nggak mau buat kamu khawatir."
Damn it..! Ucapan Keyra berhasil menohok hati Kevin.
"Ra... aku—"
Kevin hendak meraih tangan Keyra namun dengan cepat Keyra berbalik dan meninggalkan Kevin. Kevin menatap nanar punggung Keyra yang kian menjauh.
"See? Lo terlalu kepancing emosi, bro. Tapi thanks,lo udah ngasih gue celah." Aldo tersenyum penuh kemenangan sambil menepuk pundak Kevin, lalu ia pergi mengejar Keyra.
"b******k!" umpat Kevin.
Ia mengepalkan tangannya kuat lalu meninjukannya pada dinding tembok. Tak peduli seberapa sakit yang ia rasakan di tangannya. Intinya Kevin sangat menyesali perbuatannya yang telah menuduh Keyra.
Seharusnya ia tidak terpancing emosi. Seharusnya ia tidak mengatai gadisnya murahan apalagi munafik. Seharusnya ia mau mendengarkan penjelasan Keyra. Seharusnya ia bisa bersabar menunggu Keyra bercerita dengan sendirinya. Dan yang seharusnya diawasi sekarang adalah lelaki b******k yang bernama Aldo itu.
"Arghh...!!" Kevin mengacak-acak rambutnya frustasi. Entahlah.. banyak kata seharusnya yang belum sempat Kevin lakukan.
•••••
"Thanks udah nganterin gue pulang, Al" ujar Keyra kemudian turun dari mobil Aldo. "Gue minta maaf atas kejadian tadi. Lo jadi luka gini," kata Keyra dengan raut tak enak hati.
"Iya gapapa kok,"
"Jangan lupa habis itu lo kompres luka lo, kalo perlu lo olesin pakek salep sekalian, biar kagak infeksi." tutur Keyra lembut.
“hmm gak papa gue harus babak belur gini gara-gara Kevin s****n itu, yang penting rencana gue berhasil, gue harus bikin yakin Keyra dan gue akan jadi musuh dalam selimutnya. Gue akan hancurin hidup lo KEYRA!” Aldo terkekeh dengan perkataannya dalam hati.
"Sans aja.. kalo gitu gue balik ya, udah mau Maghrib."
"Hati-hati dijalan!" Keyra melambaikan tangannya sebelum Aldo pergi. Setelah itu Keyra masuk kedalam rumah.
Suasana Rumah Keyra sangat sepi, hanya ada dia seorang diri. Bi Siti dan Pak Maman belum pulang dari kampung, mungkin beberapa hari lagi. Tunggu, memangnya sejak kapan rumahnya ini ramai? Haha. Sampai Harry Styles balikan sama Taylor Swift pun mustahil.
Keyra segera masuk ke kamarnya dan mandi, membersihkan badannya sudah terasa sangat lengket. Setelah selesai mandi Keyra turun menuju dapur untuk memasak makan malam.
Hanya nasi goreng menu malam ini, ia sedang malas mengerjakan sesuatu yang berat. Keyra melehap nasi gorengnya sambil menonton acara televisi. Handphone-nya terus bergetar membuat ia jengah. Sejak tadi Kevin terus menelfonnya dan mengirimi banyak pesan yang berisikan kata maaf. Keyra hanya melirik dan tak berniat merespon Kevin. Ia masih kesal dengan Kevin yang seenaknya mengatainya murahan. Setelah mencuci piring Keyra naik ke atas lalu membaringkan dirinya di kasur.
AlqueenaK.A
Cepetan kerumah gue dong, gue pengen curhat.
SEND.
Menit demi menit Keyra masih menunggu kedatangan Nabilla. Walau mungkin dia nggak akan datang seenggaknya dia bales Line gue dong. Tiba-tiba HP-nya bergetar menandakan Line masuk, langsung saja Keyra membukanya dan itu dari Nabilla.
JeNab
Di depan komplek..
Jawaban singkat namun mampu membuat kemampuan lari Keyra sangat cepat. Belum sampai Nabilla mengetuk pintu, Keyra lebih dulu membuka pintu jadi tanpa repot Nabilla harus mengetuk pintu.
"Lo kok lama banget sih, Bill" Keyra langsung menarik Nabilla masuk.
"Sorry gue baru liat Line lo, gue tadi lagi konsen nonton drakor."
"Yeee ellu mahh. Yaudah ke kamar gue yuk gue mau cerita sama lo"
Setelah sampai di kamar, baru saja Keyra menutup pintu melihat Nabilla sudah duduk di kasur sambil membuka laptopnya dan ingin kembali menonton drakor. Dengan sigap Keyra merebut laptop Nabilla lalu meletakkannya di meja belajar.
"Loh Key kok diambil sih, siniin dong gue mau nonton nih!" mungkin kali ini permintaan Nabilla tidak terkabulkan.
"Bil, gue nyuruh lo kesini buat dengerin gue cerita."
"Hehehe tapi gue gak bisa-"
"Ya.. Ya.. Yaa gue tau lo gak bisa jauh dari drakor. Tapi demi sahabat lo masak lo gak bisa sih Bil," potong Keyra.
"Okee, lo mau cerita apa?"
"Gue berantem sama Kevin"
"Kenapa? Kok bisa?"
"Tadi pas gue mau balik gue digangguin sama Felix, kapten basket SMA Ganessa. Bayangin aja, gue hampir di grepe-grepein sama dia un-"
"Apa?! Digrepein?! Tapi lo gapapa kan, lo masih perawan kan Key?!" pekik Nabilla membollak-balikkan badan Keyra.
"Ishh, apaan sih gue belum slesai ngomong Bil, astaga!"
"Hehe, abisnya gue panik. Yaudah lanjutin.."
Keyra mendecak lalu melanjutkan ucapannya, "Jadi tadi gue ditolongin Aldo, tapi pas Kevin dateng dia ngiranya Aldo yang mau grepe-grepein gue. Dia salah paham, malah nuduh gue yang nggak-nggak udah gitu gue dicap murahan, gimana nggak sakit hati gue Bil."
Selesai bercerita Keyra menatap Nabilla yang terdiam sambil menatapnya balik. "Si ogeb! Gue gak lagi dongengin anak supaya tidur. Gue udah capek ngomong dan lo cuma mau diem?"
"E-eh... kalo menurut gue sih Key, itu masih wajar ya Kevin ngomong gitu, secara dia lagi dalam keadaan emosi, gak cuma Kevin doang semua orang pun kalo lagi emosi pasti ngomongnya asal ceplos."
"Terus gue harus gimana?"
"Saran gue sih lo maklumin aja. Toh nanti dia juga bakal minta maaf. Pokoknya ya Key, lo harus selesaiin masalah lo secara bijak dan dewasa."
"Gue dan Dava juga pernah ngalamin kok masalah yang terjadi sama lo. Gue butuh tekad untuk merendahkan ego gue dan nyesuaiin dengan sifat Dava. Hal yang bisa gue tolerir ya gue tolerir. Intinya, dinginin kepala dulu dan bicarain baik-baik berdua, jangan pake emosi apalagi langsung ambil keputusan sepihak."
Keyra membaringkan tubuhnya disamping Nabilla seraya menghela nafas, ia menatap langit-langit kamarnya. Nabilla memang orang yang bisa Keyra andalkan disaat-saat seperti ini.
"Lo selalu bijak dalam menyikapi masalah Bill. Dava beruntung dapetin lo."
Nabilla tersenyum malu mendengar pujian Keyra. Keyra adalah sahabatnya sejak SMP, ia akan selalu siap menjadi tempat Keyra bercurhat.
"Ada sesuatu yang nggak lo tau Bill.." Keyra mengembalikan posisinya menjadi duduk.
Nabilla mengernyit tak paham akan maksud Keyra. Alisnya terangkat satu bermaksud meminta penjelasan. Kemudian Keyra mengambil sesuatu didalam tasnya, hanya ada satu kertas yang dapat ia temukan. Keyra mengernyit, seingatnya tadi ada dua kertas. Dimana kertas yang satunya lagi? Apa jangan-jangan...
'Ahh pantes aja dia bisa tau,' batin Keyra menebak.
Lalu Keyra memberikan kertas itu pada Nabilla.
"Apa?!" itulah kata pertama yang terlontar dari mulut Nabilla setelah membaca isinya.
"Yang satunya lagi mungkin ada sama Kevin. Makanya dia bisa tau."
"Jadi Kevin juga baru tau?" Keyra menghela nafas lalu mengangguk pelan.
"Gue belum sempet ngasih tau, tapi dia keburu tau duluan. Ya gitulah pokoknya.."
"Pantes dia marah sampe ngatain lo segala. Serem amat sih hidup lo Key, sampe kena teror segala. Gue jadi khawatir sama lo."
PRANGG..!
Keyra dan Nabilla terlonjak kaget mendengar suara keras itu, mereka saling berpandangan.
"I-itu suara apa Key?" tanya Nabilla takut.
"Entahlah.. kayak benda pecah. Mungkin kucing, kita cek yuk."
Keyra beranjak sambil menarik tangan Nabilla. Nabilla terpaksa mengikuti Keyra dari belakang sambil memegang kaos Keyra. Dengan hati-hati Keyra memimpin jalan menuju dapur. Bahkan ia membawa tongkat kasti untuk berjaga-jaga.
"Kalo misalnya itu maling gimana? Balik ke kamar ajalah Key, gue takut nih.."
"Bawel lo ahh, badan doang gede.. nyali gak seberapa"
"Maksud lo gue gendut gitu?" cebik Nabilla.
"Sttt diem!" desis Keyra.
Pecahan piring berserakan disepanjang dapurnya dan ada jejak kaki yang memang tidak terlihat jelas tapi Keyra bisa melihatnya karena lantai dapurnya gelap. Jantungnya berdebar-debar. Ia mengalihkan pandangannya pada jendela yang terbuka lebar. Setahunya ia dirumah sendiri tapi kenapa jendela bisa terbuka? Apa karena angin?
"Key... sini! Lo harus baca ini." Nabilla menemukan sesuatu diantara pecahan piring.
'Lagi?' batin Keyra.
"Bill gue rasa orang ini kayaknya nggak main-main. Salah gue apa sih sampe dia benci banget sama gue,"
Nabilla langsung memeluk tubuh Keyra agar sahabatnya itu merasa tenang. Kadang ia berpikir, apakah orang tua Keyra tau tentang hal ini? Harusnya papanya ada disini sekarang, menjadi pelindung dan tidak membiarkan anaknya merasa ketakutan seperti ini.
"Mulai sekarang lo harus hati-hati. Gue akan kasih tau anak-anak supaya mereka bisa bantu cari tau siapa pelakunya. Kalo lo takut dirumah sendirian lo bisa nginep ditempat gue sampe pembantu lo pulang."
"Thanks Bill, gue pasti bisa jaga diri kok."